Tak Ada Guna Sekolah Unggul dengan Kurikulum yang Sama

Pengamat pendidikan Dr. Mochtar Buchori mengemukakan, gejala munculnya sekolah plus atau sekolah unggulan berlatar belakang pada keinginan untuk memberikan pendidikan lebih baik daripada pendidikan di sekolah-sekolah yang standar. Namun, menurut Buchori, bila sekolah unggulan itu mempergunakan kurikulum yang ada, atau dengan memberikan tambahan sana-sani, tidak akan menyelesaikan persoalan.
Buchori melihat adanya kesalahan dalam kurikulum nasional yang telah diterapkan secara harafiah di semua sekolah di Tanah Air. Kurikulum yang ada saat ini, menurut dia, tidak memberikan anak didik wawasan regional dan global tetapi hanya memberikan wawasan nasional yang sempit.
“Saya kira persoalannya bukan menambah ini atau itu karena ini bukan masalah kuantitatif tetapi masalah kualitatif. Jadi penyelesaiannya tidak bisa dilakukan secara tambal sulam,” kata mantan rektor IKIP Muhammadiyah Jakarta itu kepada Kompas di Jakarta, Senin (5/2), menanggapi persoalan program sekolah unggulan yang dikembangkan pemerintah dan ditiru oleh sejumlah konglomerat.
T: Apa sebenarnya yang melatarbelakangi pemerintah dan sejumlah pengusaha besar mendirikan sekolah plus, sekolah elite, ataupun SMA unggulan?
J: Gejala ini timbul dari keinginan untuk memberikan pendidikan yang lebih baik daripada pendidikan yang dilakukan sekolah-sekolah biasa yang standar. Tamatan sekolah unggulan diharapkan dapat merebut tempat di perguruan-perguruan tinggi ternama, tidak hanya di tingkat nasional tapi juga internasional. Jadi anak harus menguasai bahasa Inggris dengan baik, tahu sejarah bangsanya sendiri, dan mengapresiasi ekspresi-ekspresi seni. Semua itu tidak diberikan sekolah-sekolah yang ada saat ini.
Sekolah yang ada saat ini mendidik anak berbahasa Indonesia yang benar saja tidak bisa. Bahasa Inggris juga tidak bisa. Pengetahuan sains dan teknologinya capet-capet (samar-samar). Pengetahuan sejarah tidak punya. Persoalan sekolah bermutu bukan pada wadahnya tetapi lebih pada programnya. Hakikat sekolah unggul adalah pendidikan yang bermutu (quality education).
T: Dalam masyarakat masih ada pro-kontra tentang sekolah unggul. Apakah pendidikan yang ada sekarang ini secara umum tidak memberikan peluang munculnya pendidikan yang bermutu?
J: Kenyataannya memang begitu. Ada orang yang tidak setuju berdirinya sekolah unggul atau sekolah elite. Alasannya dengan sekolah yang ada saat ini pun, banyak lulusan SMA di Indonesia yang diterima di universitas-universitas di luar negeri. Hasilnya pun baik. Namun itu merupakan perkecualian. Yang bisa berbahasa Inggris adalah mereka yang sejak SMP telah mengikuti les. Lainnya, jangankan berebut tempat di luar negeri. Di dalam negeri pun kalah bersaing ketika memperebutkan tempat di perguruan tinggi negeri. Hanya berapa persen yang memenuhi persyaratan dan lolos.
Lulusan SMA sekarang berbahasa tidak bisa. Bahasa Indonesia pun tidak. Mereka tidak pernah dilatih berbicara dan menulis akibatnya mereka tidak bisa berpidato atau menulis dengan baik. Kunci kemampuan berbahasa adalah latihan-latihan. Kurikulum yang ada sekarang tidak memberikan peluang untuk itu.
Sejarah nasional yang diberikan hanya sejarah perjuangan bangsa. Padahal sejarah nasional bukan hanya sejarah perjuangan bangsa. Rambu-rambu itu diberikan agar jangan sampai pelajaran sejarah menggerogoti konstelasi politik yang telah ada. Ini yang ditakutkan sehingga pelajaran sejarah dikonsentrasikan pada sejarah perjuangan bangsa.
T: Sekolah-sekolah unggulan yang ada saat ini tetap diwajibkan mengikuti kurikulum yang ada. Paling-paling yang mereka lakukan memberikan tambahan jam pelajaran. Apakah ini sudah bisa dikatakan sebagai pendidikan yang bermutu?
J: Saya kira itu tidak menyelesaikan persoalan. Masalahnya bukan kuantitatif tetapi kualitatif. Kurikulum sekarang mata pelajaran menulis dan membaca pun tidak ada. Jadi kalau jam pelajarannya ditambah tetap tidak ada gunanya. Sekolah-sekolah unggulan seharusnya diberi kebebasan yang lebih besar dalam melaksanakan kurikulum. Saya tahu persis dalam prakteknya sekolah-sekolah elite yang didirikan swasta memiliki program yang jauh berbeda dengan kurikulum nasional tapi tidak ditegur.
Sekolah-sekolah bermutu di negara maju, sekalipun kurikulumnya satu tetapi silabusnya berbeda-beda. Ada silabus untuk anak yang sangat pintar, normal, atau minimal. Sekolah yang baik adalah sekolah yang memperhatikan perbedaan individual sehingga yang pintar tidak terhambat, sebaliknya yang normal tidak tersengal-sengal mengikuti yang pintar. Mereka memperoleh ijazah yang sama tapi bobotnya berbeda. Sekolah yang baik dan bermutu memberikan sistem pilihan kepada murid-muridnya. Seorang yang sangat berbakat dalam musik, misalnya, dapat mengambil paket yang lebih banyak dan mendalam dalam bidang musik, seperti komposisi, instrumentasi, maupun vokal.
T: Apakah untuk sekolah-sekolah unggulan perlu diberi kelonggaran yang lebih besar dalam melaksanakan kurikulum?
J: Kurikulum nasional memang satu. Namun masalahnya apakah kurikulum itu harus disebutkan secara detail atau cukup garis-garis besarnya saja. Kurikulum tidak lain adalah jalan. Jadi bisa menetapkan tujuannya saja, jalannya terserah, atau disebutkan pula nama-nama jalan yang harus dilalui. Masalahnya birokrasi tidak mempercayai kemampuan guru-guru. Soal utamanya adalah apakah mereka cukup melaksanakan kurikulum secara mendetail atau cukup diambil jiwanya saja. Namun birokrasi menghendaki kurikulum yang diimplementasikan secara harafiah, sampai-sampai guru tidak mempunyai kesempatan melatih muridnya berbicara dan menulis.
(wis)

Pos ini dipublikasikan di pendidikan, sosial. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s