study kasus 2

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Proses pembelajaran adalah aktifitas belajar yang dilaksanakan oleh peserta diklat dan mengajar dilaksanakan oleh guru (pendidik). Selain itu mengajar adalah suatu aktifitas mengorganisasi (mengatur) lingkungan sebaik-baiknya dan menggabungkannya dengan peserta diklat sehingga terjadi interaksi.
Selama proses pembelajaran berlangsung interaksi antara guru (pengajar) dengan peserta diklat harus dapat diciptakan kondisi kelas semaksimal mungkin agar tujuan yang diinginkan dapat terlaksana.
Didalam proses pelaksanaan proses pemelajaran, peserta diklat yang melakukan proses pemelajaran tersebut banyak mengalami kesulitan serta menghadapi berbagai macam masalah salah satunya adalah masalah motivasi untuk belajar. Hal ini terjadi karena adanya hal-hal serta kondisi yang memaksa peserta diklat tersebut tidak termotivasi untuk perkembangan sikap dan kepribadiannya dalam proses pemelajaran. Faktor penyebab dari permasalahan diatas bisa timbul baik dari dalam diri peserta diklat maupun dari luar diri peserta diklat. Dimana, faktor yang berasal dari dalam diri peserta diklat yaitu pribadi peserta diklat secara psikologi, adanya tingkah laku yang disebabkan oleh faktor keturunan atau potensi-potensi dari organisme serta pengalaman belajar yang pernah dilalui sebelumnya.
Selanjutnya, faktor yang berasal dari luar diri peserta diklat bisa disebabkan oleh lingkungan yang kurang kondusif, suasana dan situasi kelas, alat dan media pendidikan yang tidak mendukung, dan sebagainya.
Berdasarkan uraian diatas yang telah dipaparkan diatas, penulis sengaja mengangkat permasalahan ini sebagai penulisan studi kasus dengan judul”Peningkatan Motivasi Belajar Siswa II E 2 Dalam Belajar Melakukan Pekerjaan Dasar Perbaikan Peralatan Penunjang Di SMK N 1 Pariaman Semester Januari – Juni 2008”
B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang tersebut, maka penulis mengidentifikasi masalah yang terjadi yaitu dalam mengikuti proses pembelajaran peserta diklat banyak mengalami permasalahan baik yang datang dari luar maupun dari dalam diri peserta diklat itu sendiri. Salah satunya yaitu mengenai kurangnya motivasi dalam belajar.

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang ada, maka studi kasus ini dibatasi pada permasalahan rendahnya motivasi peseta diklat kelas II E 2 SMKN 1 Pariaman Tahun Ajaran 2007 / 2008 dalam mata diklat Melakukan Pekerjaan Dasar Perbaikan Peralatan Penunjang

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka penulis merumuskan permasalahan yaitu faktor-faktor apa yang melatar belakangi rendahnya motivasi peserta diklat II E 2 SMKN 1 Pariaman dalam mengikuti proses pembelajaran .

E. Tujuan Penulisan
Penulisan studi kasus ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari serta mengungkapkan kasus-kasus yang timbul didalam proses pemelajaran, agar nantinya diperoleh suatu gambaran atau informasi tentang apa yang melatar belakangi penyebab rendahnya motivasi peserta diklat dalam proses pembelajaran pada mata diklat Melakukan Pekerjaan Dasar Perbaikan Peralatan Penunjang.Dengan begitu maka dapat dicari alternatif pemecahan masalahnya, sehingga kasus yang serupa tidak terulang lagi dimasa yang akan datang pada kompetensi yang sama ataupun berbeda.
F. Manfaat Studi Kasus
Manfaat dari laporan studi kasus ini adalah :
1. Sebagai pengetahuan bagi penulis mengenai interaksi yang perlu terjalin didalam kegiatan proses belajar dan mengajar
2. Untuk menambah wawasan bagi penulis dan para guru agar mampu memecahkan masalah atau kasus yang ditemui.
3. Sebagai masukan bagi pihak – pihak yang terkait dalam bidang kependidikan.
4. Informasi bagi para guru dan pendidik lainnya tentang pentingnya interaksi guru dengan guru dan antar sesama siswa serta guru dengan siswa.
5. Sebagai bahan acuan bagi calon – calon guru atau pendidik bagaimana interaksi yang baik yang perlu terjalin dalam proses belajar mengajar

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu proses aktifitas. Setiap individu akan mengalami proses perubahan tingkah laku bila dilaksanakan kegiatan belajar. Perubahan tingkah laku ini relatif permanent dan terjadi akibat latihan dan pengalaman. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Oemar Hamalik (1989, Hal 21) bahwa “ Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan ”.
Belajar merupakan proses dasar dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitas individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Suatu aktifitas dan prestasi hidup manusia tidak lain adalah hasil dari belajar. Belajar itu bukan sekedar pengalaman. Belajar adalah proses dan bukan hasil. Oleh karena itu belajar berlangsung secara aktif dan integratif dengan menggunakan berbagai bentuk kegiatan untuk mencapai suatu tujuan.

B. Motivasi Belajar
Belajar merupakan kegiatan sehari-hari bagi siswa. Kegiatan itu ada yang dilakukan di sekolah, rumah dan bahkan di mana saja. Ditinjau dari segi guru, kegiatan belajar siswa tersebut ada yang dirancang dalam desain instruksional seperti mengerjakan tugas-tugas belajar sekolah. Di samping itu ada juga kegiatan belajar yang tidak termasuk rancangan guru. Artinya siswa belajar karena keinginan sendiri.
Selanjutnya menurut Sardiman (2005:75) menyatakan bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.
Menurut Hamalik (2004:158) pada awalnya terjadi ketegangan psikologis, lalu menjadi suasana emosi. Perubahan ini mungkin bisa dan mungkin juga tidak. Kita dapat melihatnya dalam perbuatan. Seorang terlibat dalam suatu diskusi, karena dia merasa tertarik pada masalah yang akan dibicarakan maka suara akan timbul dan kata-katanya dengan lancar dan cepat akan keluar.
Dari pendapat para ahli di atas, dapat diketahui bahwa motivasi merupakan komponen penunjang yang sangat penting demi kelancaran terlaksananya proses belajar. Selain sebagai energi penggerak motivasi juga dapat dijadikan sebagai pengarah dalam setiap aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa.
Motivasi menurut Hamalik (2004:158) adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Ada 3 unsur motivasi yang saling berkaitan yaitu: (1) Motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi, (2) Motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan affective arousa,(3) Motivasi ditandai dengan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan.

Untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, menurut Dimyati dan Mudjiono (1999:62) hal-hal yang harus diperhatikan guru adalah:
1). Guru menggunakan metode secara bervariasi.
2). Guru menggunakan media sesuai dengan tujuan belajar dan materi yang diajarkan.
3). Guru menggunakan gaya bahasa yang tidak monoton.
4). Guru mengemukakan pertanyaan-pertanyaan membimbing.

Motivasi menurut Sardiman (2005:89:90) ada motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari dalam diri secara mutlak berkait dengan aktivitas belajarnya. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar seperti metode pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran.
Menurut Hamalik (2004:161) bahwa motivasi mendorong timbulnya kelakuan dan mempengaruhi serta mengubah kelakuan. Fungsi motivasi adalah: (1) Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan, (2) Motivasi berfungsi sebagai pengarah, (3) Motivasi berfungsi sebagai penggerak.
Dari pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar dan mengarahkan aktivitas siswa pada tujuan belajarnya yang berasal dari adanya pemberian rangsangan-rangsangan dalam belajar yang diberikan oleh guru seperti penggunaan media pembelajaran dan metode pembelajaran sehingga dapat melakukan kegiatan belajar lebih banyak dan lebih cepat dan hasil belajar pun menjadi lebih baik.
Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa untuk meningkatkan keaktifan siswa, guru harus mampu memperbaiki motivasi belajar siswa. Motivasi belajar merupakan suatu usaha untuk menjadikan kondisi-kondisi tertentu yang bisa menimbulkan kemauan siswa untuk melakukan sesuatu.

BAB III
ANALISIS MASALAH

A. Pengertian Masalah
Masalah adalah suatu kendala yang menghambat tecapainya tujuan yang diinginkan atau dengan kata lain masalah adalah perbedaan antara keinginan dengan kenyataan. Masalah akan sering kita jumpai dan harus dihadapi. Untuk itu guru (pendidik) harus benar-benar memperhatikan proses pemelajaran. Proses pemelajaran yang baku biasanya menemukan banyak permasalahan. Dimana permasalahan-permasalahan tersebut harus dianalisis oleh guru (pendidik) dan dilakukan penanggulangannya atau alternative pemecahan permasalahan, sehingga dengan demikian tujuan pemelajaran dapat tercapai.

B. Metode Mengungkapkan Masalah
Adapun metode yang penulis gunakan untuk mengungkapkan permasalahan Belajar Peserta Diklat Kelas II E 2 SMKN 1 Pariaman Tahun Ajaran 2007 / 2008 dalam mata diklat Melakukan Pekerjaan Dasar Perbaikan Peralatan Penunjang:
1. Observasi atau pengamatan langsung
Didalam proses pemelajaran, penulis selalu berusaha untuk mengamati proses yang terjadi. Selain itu, penulis juga berusaha menemukan permasalahan atau kendala-kendala yang sering dihadapi oleh peserta diklat.
2. Melalui wawancara
Setelah proses pemelajaran, penulis juga melakukan pendekatan pada peserta diklat baik secara individu maupun secara berkelompok. Hal ini penulis lakukan untuk mengetahui proses pemelajaran yang telah berlangsung serta permasalahan-permasalahan ataupun kendala-kendala yang dirasakan atau yang dihadapi oleh peserta diklat. Dari wawancara tersebut penulis memperoleh suatu gambaran atau informasi tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh peserta diklat tersebut.

C. Faktor-Faktor Penyebab Timbulnya Masalah Serta Akibatnya
Berdasarkan hasil observasi, dan wawancara yang telah penulis lakukan pada peserta diklat maka dapat dirumuskan faktor-faktor penyebab timbulnya masalah rendahnya motivasi peserta diklat dalam belajar, yakni :
1. Kurangnya kompetensi guru dalam mengajar.
Kompetensi guru dalam mengajar merupakan salah satu faktor utama yang dapat mempengaruhi hasil belajar peserta diklat.. Kompetensi ini menyangkut mengenai penyajian materi pembelajaran, penguasaan kelas, penggunaan media pembelajaran dan mengevaluasi hasil belajar peserta diklat. Jika seorang guru kurang memiliki kompetensi dalam mengajar akan menimbulkan permasalahan bagi peserta diklat.
2. Proses pembelajaran yang terlalu lama.
Proses pembelajaran yang terlalu lama akan menyebabkan peserta diklat bosan berada di dalam kelas, apalagi dengan suasana kelas yang kurang menyenangkan bagi peserta diklat, sehingga siswa sering minta izin keluar pada saat kegiatan pemelajaran berlangsung dengan alasan Peserta diklat tersebut ingin kebelakang (buang air), Peserta diklat tersebut ke kantin karena ingin makan karena peserta diklat tersebut belum sempat untuk sarapan pagi, Peserta diklat tersebut tidak suka dengan materi yang sedang diajarkan oleh guru (pendidik)/penulis atau tidak punya keinginan untuk belajar
3. Jarangnya peserta diklat yang memiliki literatur atau buku sumber.
Literatur atau buku sumber adalah bahan informasi yang sangat penting untuk dimiliki oleh setiap peserta diklat yang akan digunakan sebagai bahan penunjang didalam proses pemelajaran. Dengan tidak adanya peserta diklat yang memiliki literatur atau buku sumber maka pengajaran hanya terpusat pada apa yang diajarkan oleh guru (pendidik) dan peserta diklatpun akan merasa kesulitan didalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru (pendidik).
4. Hari pembelajaran yang bertepatan dengan libur nasional, ujian nasional, dan yang lainnya sehingga waktu efektif pembelajaran menjadi berkurang. Hal ini membuat guru (pendidik) terpaksa memadatkan materi sehingga peserta diklat banyak yang kurang mengerti dengan materi yang diberikan.
5. Guru jarang memberikan teguran atau hukuman bagi peserta diklat yang sering minta izin keluar dan datang terlambat sehingga menyebabkan para peserta diklat tidak takut untuk mintak izin keluar masuk dan terlambat masuk ke dalam kelas.
6. Aktifitas peserta diklat diluar sekolah yang juga menuntut waktu yang cukup banyak seperti membantu orang tua membuat waktu belajar dirumah baik melengkapi catatan, menghafal dan membuat tugas tersita untuk bekerja.

D. Pemecahan Masalah
Ada beberapa upaya atau cara yang sering digunakan guru (pendidik) untuk merangsang motivasi peserta diklat dalam proses pemelajaran. Diantaranya adalah memberikan penghargaan, persaingan atau kompetisi, hadiah dan hukuman, serta pemberitahuan tentang kemajuan peserta diklat. Namun pada pembahasan studi kasus ini terdapat beberapa cara yang akan penulis tempuh untuk meningkatkan motivasi yang akan mendorong peserta diklat didalam proses pembelajaran. Adapun cara-cara penulis tempuh antara lain :
1. Menyajikan setiap materi pelajaran dengan jelas, teratur dan terarah
2. Menyajikan bentuk media-media pembelajaran yang menarik sehingga peserta diklat tidak bosan dalam mengikuti pembelajaran.
3. Memberikan jobsheet dengan cara mempraktekkan jobsheet tersebut. Dan mewajibkan kepada peserta diklat untuk mempunyai buku pegangan dalam proses pemelajaran, kalaupun tidak bisa membeli disarankan untuk meng-copy punya teman atau guru yang bersangkutan disamping untuk meningkatkan minat baca peserta diklat
4. Memberikan kesempatan kepada peserta diklat untuk bertanya dan memberikan jawaban dari pertanyaan siswa tersebut dengan jelas sehingga peserta diklat mengerti dengan materi yang diajarkan.
5. Memperhatikan kegiatan-kegiatan yang dikerjakan siswa dan memberikan perhatian yang sama terhadap seluruh peserta diklat.
6. Menilai tugas gambar yang diberikan disetiap akhir pembelajaran, sehingga peserta diklat termotivasi untuk menggambar di dalam kelas.
7. Menjadikan absen kehadiran sebagai salah satu aspek penilaian..
8. Memberikan tugas atau pekerjaan rumah (PR).
9. Memberikan teguran kepada peserta diklat yang suka meribut dikelas, apabila tidak mengindahkan peringatan yang diberikan sampai tiga kali peserta diklat tersebut disuruh belajar diluar.
10. Memanggil peserta diklat yang bersangkutan untuk menghadap kekantor, diluar jam pemelajaran untuk diberikan peringatan akan dampak yang akan ditimbulkan akibat perbuatannya.
11. Peserta diklat tidak diperbolehkan keluar kelas sewaktu proses pemelajaran berlangsung, mengatur peserta diklat keluar masuk kelas dengan cara bergantian.
12. Memberikan teguran dan hukuman kepada peserta diklat yang datang terlambat dalam mengikuti proses pembelajaran.
13. Memberikan pengertian dan pengarahan kepada peserta diklat akan pentingnya mengulang kembali pelajaran di rumah.
14. Memberikan pengarahan kepada peserta diklat agar membagi waktu untuk belajar, bermain, dan bekerja membantu orang tua.
15. Memberikan pengarahan kepada peserta diklat tentang keadaan saat ini yang menyebabkan kurangnya sarana dan prasarana untuk belajar sehingga dengan demikian diharapkan peserta diklat tidak memiliki pikiran negatif terhadap sekolah dan siswa termotivasi untuk menggambar dangan sarana dan prasarana secukupnya.
Dari solusi yang diberikan penulis kepada peserta diklat yang bermasalah tersebut, mungkin akan bisa membantu peserta diklat agar termotivasi didalam proses pemelajaran.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah melakukan penulisan studi kasus ini maka penulis mengambil suatu kesimpulan tentang permasalahan yang telah dipaparkan diatas antara lain sebagai berikut :
1. Peserta diklat tersebut kurang memiliki keinginan untuk belajar.
2. Aktifitas peserta diklat diluar sekolah terlalu banyak sehingga tugas yang diberikan oleh guru tidak selesai tepat waktunya.
3. Pengelolaan kelas oleh guru yang masih kurang .
4. Kurangnya penggunaan media dalam pembelajaran.
5. Pihak sekolah kurang tegas dalam menerapkan disiplin.

B. Saran
Adapun saran-saran yang dapat diberikan antara lain :
1. Memberikan bimbingan dan arahan kepada peserta diklat tersebut tentang pentingnya belajar dan dampak yang ditimbulkan bila malas belajar.
2. Guru (pendidik) harus bisa melakukan berbagai cara atau pendekatan untuk pengulangan permasalahan yang dialami oleh peserta diklat.
3. Interaksi antara guru (pendidik) dengan peserta didik lebih ditingkatkan lagi.
4. Meningkatkan disiplin sekolah.
DAFTAR PUSTAKA

Dimyati dan Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Hamalik, Oemar. 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Masidjo, Ign. 1995. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa Disekolah. Yogyakarta: Kanisius.
Prayitno. 1973. Pengantar Psikologi Pendidikan Padang: Proyek MFPT Padang.
Sardiman, A.M. 2005. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Slameto. 1995. Belajar Dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Winkel, W.S 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT Gramedia Widia Sarana.

Pos ini dipublikasikan di informatika, kesehatan, pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s