STUDI PEMBERDAYAAN SLTP TERBUKA BANYU ANYAR KABUPATEN PROBOLINGGO JAWA TIMUR

Oleh: Drs. Nurdin Ibrahim, M.Pd. *

Abstrak
Pada tahun 1979 pemerintah telah merintis SLTP Terbuka di Lima propinsi. Sampai tahun 2002 jumlah SLTP Terbuka telah berkembang menjadi 3.483 lokasi. Namun dalam perkembangannya, kemajuan SLTP Terbuka yang satu berbeda dengan SLTP yang lain. Untuk itu perlu dicari upaya-upaya untuk meminimalkan perbedaan-perbedaan antara SLTP tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data tentang aspirasi dan motivasi siswa dan orang tuanya dalam menyelesaikan pendidikan di SLTP Terbuka. Penelitian ini dilaksanakan pada akhir Oktober 2002 di SLTP Terbuka Banyu Anyar, Probolinggo Jawa Tengah.
Penentuan lokasi ditetapkan dengan tehnik purposive sampling, dengan kriteria bahwa SLTP Terbuka yang bersangkutan mempunyai siswa minimal 100 orang dan setiap propinsi hanya satu lokasi.
hasil penelitian menunjukkan bahwa:
a. Aspirasi orang tua menyekolahkan anaknya cukup tinggi. Namun motivasi siswa untuk menyelesaikan pendidikan di SLTP Terbuka relatif rendah.
b. Secara umum pengelolaan SLTP Terbuka Banyu Anyar belum berjalan sebagaimana yang di harapkan.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu pola yang disepakati dalam pelaksanaan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun adalah SLTP Terbuka. Pada tahun pelajaran 1994/1995 diresmikan 297 SLTP Terbuka baru di berbagai daerah kabupaten/kota, sehingga jumlah semula 59 lokasi menjadi 356 sekolah. Kemudian setiap tahun jumlah SLTP Terbuka baru bertambah sesuai dengan kemampuan keuangan negara. Pada tahun pelajaran 1999/2000 jumlah SLTP Terbuka telah mencapai 3.483 sekolah. Pendirian SLTP Terbuka selalu diawali dengan suatu studi kelayakan sebagai dasar apakah suatu SLTP Reguler layak diserahi tambahan tugas untuk melayani siswa-siswa yang kurang beruntung, karena berbagai faktor ekonomis ataupun geografis menyebabkan mereka tidak dapat belajar secara tatap muka di SLTP Reguler. Sebenarnya hasil studi kelayakan yang dilakukan telah menunjukkan bahwa semua SLTP Terbuka akan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
Mengamati pertumbuhan SLTP Terbuka ada dua hal penting yang perlu dicatat. Pertama, sebenarnya semua SLTP Terbuka mulai beroperasi dengan modal awal yang sama. Meskipun demikian setelah berjalan beberapa tahun, ternyata perkembangan dari masing-masing SLTP Terbuka tidaklah sama, bahkan dalam pertumbuhannya terdapat keragaman yang mencolok. Ada SLTP Terbuka yang kemajuan dan perkembangannya sangat mengesankan, ada yang sekedar bertahan sebagaimana semula ketika berdiri, namun ada pula yang menunjukkan penurunan baik dalam jumlah siswa maupun mutu lulusannya. Kedua, acuan untuk menyelenggarakan SLTP Terbuka, sebenarnya sudah ada dua buah buku panduan yang telah diterbitkan oleh Direktorat SLTP sebagai bekal beroperasi, yaitu Buku Panduan Manajemen Umum dan Buku Panduan Manajemen Umum SLTP Terbuka yang berlaku untuk semua SLTP Terbuka yang ada. Meskipun demikian, mengingat letak lokasi SLTP Terbuka sangat beragam kondisi sosial ekonomis dan geografisnya maka dalam melaksanakan kedua panduan tersebut tentu saja diperlukan adanya kreatifitas dari masing-masing sekolah untuk mengembangkan sendiri manajemen pembelajaran di sekolahnya.
Dalam rangka otonomi pendidikan dan pemberdayaan sekolah maka pemberian otonomi kepada pengelola pendidikan di tingkat sekolah merupakan salah satu opsi yang akan dikembangkan lebih lanjut. Untuk mendukung otonomi pendidikan tersebut , Direktorat SLTP telah dan sedang mengembangkan skema pemberian block grant kepada sekolah termasuk SLTP Terbuka. Pemberian block grant dimaksudkan tersusunnya suatu model pemberdayaan SLTP Terbuka dalam rangka menghasilkan lulusan yang memadai. Untuk mem-peroleh model pemberdayaan yang sesuai maka perlu dilaksanakan studi lapangan terhadap beberapa SLTP sebagai sasaran pemberian pemberdayaan.
Permasalahan dalam studi ini adalah bagaimana aspirasi orang tua dan motivasi siswa SLTP Terbuka ? Bagaimana sistem pelayanan pendidikan pada SLTP Terbuka untuk menekan tingkat putus sekolah yang tinggi.
B. Tujuan
Secara umum studi ini bertujuan untuk mencari strategi pemberian block grant dalam memberdaya-kan SLTP Terbuka.
Secara khusus studi ini bertujuan untuk memperoleh data tentang:
a. aspirasi orang tua dan motivasi siswa SLTP Terbuka yang putus sekolah;
b. sistem pelayanan pendidikan pada SLTP Terbuka sebagai upaya untuk menekan jumlah putus sekolah yang relatif tinggi.

METODOLOGI
Studi ini dilakukan pada akhir bulan Oktober 2001 di SLTP Terbuka Banyu anyar. Penentuan lokasi SLTP Terbuka dilakukan dengan teknik purposif, yaitu SLTP Terbuka yang mempunyai siswa berjumlah sekitar seratus orang dan jumlah siswanya di atas 150 orang.

Pengumpulan data dilakukan melalui survei lapangan dengan menggunakan instrumen berupa angket, pedoman wawancara, dan pedoman studi dokumen. Sumber data diperoleh melalui berbagai responsen yang jumlahnya 22 orang, meliputi Kepala/Wakil Kepala Sekolah, Guru Bina 4 orang, Guru Pamong 2 orang, siswa yang masih aktif 6 orang, siswa putus sekolah 3 orang, dan orang tua siswa 6 orang.

HASIL PENELITIAN
A. Profil SLTP Terbuka Banyu Anyar
SLTP Terbuka Banyu Anyar merupakan salah satu SLTP Terbuka di Kabupaten Probolinggo Jawa Timur. SLTP Terbuka ini berinduk pada SLTP Negeri I Banyu Anyar. SLTP Terbuka Banyu Anyar pada tahun 1999/2000 mempunyai siswa 211 orang terdiri dari kelas I = 90 siswa, kelas II = 69 siswa, dan kelas III = 52 siswa. Dalam tahun 2000/2001 siswanya menurun menjadi 179 orang, terdiri dari kelas I = 85 siswa, kelas II = 66 siswa, dan kelas III = 28 siswa, sedangkan tahun 2001/2002 menurun lagi menjadi 146 orang terdiri dari kelas I = 56 siswa, kelas II = 50 siswa, serta kelas III = 41 siswa.

Siswa-siswa tersebut tersebar pada 10 buah TKB yang hampir semuanya pada Madrasyah Ibtidaiyah dan Pondok Pesantren dengan rata-rata berjarak 7 km dari SLTP Induk, sedangkan TKB yang terdekat berjarak 0,5 km dan TKB terjauh 16 km. Rincian jumlah siswa dan jarak tiap TKB ke SLTP Induk dapat dilihat pada Tabel 1 berikut:
Namun jarak tempat tinggal siswa dengan TKB rata-rata 0,5 km dengan jarak terjauh satu km. Sebagian dari siswa SLTP Terbuka Banyu Anyar berasal dari kecamatan-kecamatan di luar kecamatan Banyu Anyar.
Setiap TKB dibina oleh seorang guru pamong. Dari 10 orang guru pamong 7 orang lulusan Madrasyah Aliyah (setingkat dengan SLTA), seorang berijazah S1 pendidikan Matematik, seorang berijazah S1 Dakwah, dan seorang lagi lulusan D2 pendidikan Agama Islam. Jumlah guru binanya sebanyak 15 orang, yang terdiri dari 11 orang lulusan S1, 2 orang lulusan D3 dan 2 orang lagi lulusan D2. Dari semua guru bina tersebut belum ada lulusan pendidikan Sejarah, Geografi, dan Fisika. Sebagai guru bina mata pelajaran Sejarah dibina oleh lulusan S1 Bahasa Indonesia, mata pelajaran Geografi dibina oleh lulusan S1 Tarbiyah dan mata pelajaran Fisika dibina oleh guru lulusan D2 Elektronika.
Menurut data dari Kepala Sekolah, SLTP Terbuka Banyu Anyar mempunyai modul siswa yang cukup. Jumlah modul yang tesedikit adalah modul biologi (sebanyak 228 set) dan yang terbanyak adalah modul Matematika (sebanyak 579 set). Rata-rata jumlah modul untuk mata pelajaran lain sebanyak 450 set. Untuk menunjang pembelajaran dengan modul pada SLTP Terbuka Banyu Anyar juga ditunjang dengan sarana dan prsarana pembelajaran lain. SLTP Terbuka Banyu Anyar mempunyai OHP, sepeda motor, ruang keterampilan, perpustakaan, dan laboratorim IPA yang masing-masing satu buah. Selain itu sekolah ini dilengkapi dengan 956 buah kaset Bahasa Inggres dan 60 set buku pengayaan. Semua sarana dan prasarana pembelajaran tersebut dalam kondisi baik. Namun yang disayangkan sepeda motor dikuasai dan dipergunakan sepenuhnya oleh kepala sekolah. Hampir tidak pernah digunakan oleh guru untuk melaksanakan tutorial ke TKB-TKB.

Dalam tahun 2000/2001 TKB Hikmathul Hasanah tidak lagi mempunyai siswa sehingga ditutup, pada hal seharusnya masih mempunyai siswa kelas III sebanyak 17 orang. Dalam tahun 2001/2002 TKB Darus Salam yang ditutup karena tidak ada siswa lagi. Sebaliknya pada tahun 1999/2000 muncul TKB baru pada Ponpes Nazhatul Tholibin dengan siswa kelas I sebanyak 6 orang dan pada tahun 2000/2001 berdiri lagi TKB baru pada Ponpes Al-Amin dengan jumlah siswa kelas I sebanyak 28 orang.
Jumlah siswa yang putus sekolah dalam tahun 1999/2000 sebanyak 75 orang dengan rincian kelas I = 24 orang, kelas II = 37 orang, dan kelas III = 14 orang. Data ini belum termasuk siswa kelas III pada TKB Hikmathul Hasanah. Dalam tahun 2000/2001 jumlah siswa putus sekolah sebanyak 57 orang, terdiri dari kelas I = 21 orang, kelas II = 25 orang, dan kelas III = 11 orang Berdasarkan data dari Sekolah, sebagian siswa SLTP Terbuka tidak mempunyai NEM SD karena mereka berasal dari pondok pesantren yang tidak mengikuti EBTANAS tetapi mengikuti ujian persamaan SD.
Berdasarkan data kehadiran siswa yang dilaporkan Wakil Kepala Sekolah dalam bula Juli tahun 20001/2002 rata-rata sekitar 15% dan dalam bulan Agustus pada tahun yang sama sekitar 10%. Namun menurut Wakil Kepala Sekolah data kehadiran siswa pada kegiatan pembelajaran di TKB pada umumnya tidak dilaporkan dan Sekolah Induk tidak mempunyai data yang valid. Hal ini didukung pula oleh data yang dilaporkan oleh guru pamong yang mengatakan bahwa jumlah siswa yang tidak hadir pada belajar mandiri di TKB sekitar 30%. Data kehadiran yang dilaporkan di atas berdasarkan data kehadiran siswa pada saat pelajaran Tutorial atau tatap muka. Pada SLTP Terbuka ini kegiatan tatap muka dilakukan seluruhnya di TKB dengan sistem guru kunjung dan pada umumnya guru bina tidak mengarsipkan jumlah kehadiran siswa setiap tatap muka. Menurut guru pamong, siswa tidak hadir di TKB dengan alasan repot dan bekerja membantu orang tua di rumah.
B. Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan pembelajaran di TKB
Berdasarkan data dari guru pamong dalam kegiatan belajar di TKB rata-rata siswa yang tidak masuk 30%. Lama siswa belajar di TKB 3 sd 4 hari dalam seminggu, dan lama belajar setiap hari 90 s.d. 180 menit. Siswa diberi kebebasan untuk memilih modul mata pelajaran yang dipelajari di TKB setiap harinya. Hal ini ditunjang pula oleh fakta bahwa pada TKB yang diwawancarai tidak mempunyai jadwal pembelajaran mandiri di TKB. Sebagai acuannya adalah jadwal pembelajaran melalui tatap muka. Seperti disebutkan di atas bahwa di SLTP Terbuka ini sepenuhnya melakukan pembelajaran tatap muka di TKB atau tatap muka guru kunjung. Menurut guru pamong walaupun jadwal pembelajaran mandiri tidak ada, namun kadang-kadang waktu belajar mengaji pada sore hari di langgar siswa juga diberi kesempatan untuk membawa modulnya untuk dipelajari pada sela-sela belajar mengaji.

Berdasarkan data dari Kepala Sekolah, pada SLTP ini mempunyai 60 set buku pengayaan, namun menurut guru pamong buku pengayaan tersebut tidak diberikan ke TKB-TKB. Hal ini tidak menjadi masalah karena tidak satu pun siswa mampu menyelesaikan modul-modulnya dalam satu caturwulan dengan hasil belajar yang memadai. Walaupun demikian mata pelajaran-mata pelajaran yang bisa diselesaikan dalam satu caturmulan adalah semua mata pelajaran kelompok IPS, Pendidikan Agama dan Biologi, sedangkan mata pelajaran Fisika, Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia tidak dapat diselesaikan dalam waktu satu caturwulan.

Dalam pelaksanaan tes akhir modul, menurut guru pamong hanya beberapa modul saja yang diadakan tes akhir modul untuk semua mata pelajaran. Walaupun demikian guru Pamong tidak dapat menunjukkan kumpulan nilai tes akhir modul untuk semua mata pelajaran. Bila ada kesulitan siswa dalam mempelajari modul, guru pamong menyampaikan kesulitan tersebut kepada guru bina ketika datang ke TKB untuk melakukan tatap muka guru kunjung.
2. Kegiatan Pembelajaran Tatap Muka
Seperti disebutkan di atas, kegiatan pembelajaran tatap muka dilakukan dengan guru kunjung untuk semua TKB. Jadwal pembelajaran tatap muka disusun untuk satu catur wulan dalam 14 minggu hari efektif dan dalam satu minggu dialokasikan 6 jam pelajaran dalam sehari. Dalam tiap minggu hanya sehari untuk kegiatan dipergunakan pelajaran tatap muka. Mata pelajaran yang paling banyak jam pelajaran tatap mukanya adalah Matematik dengan alokasi 13 jam pelajaran, kemudian Bahasa Inggris 12 jam pelajaran, Fisika 11 jam pelajaran, Bahasa Indonesia 8 jam pelajaran, Biologi 6 jam pelajaran, Sejarah dan Geografi masing-masing 5 jam pelajaran, serta mata pelajaran PPKn, Pendidikan Agama, Ekonomi, Kertakes, Penjaskes, dan Mulok masing-masing 4 jam pelajaran. Menurut guru bina alokasi jumlah jam pelajaran tatap muka tersebut didasarkan tingkat kesulitan mata pelajaran dan jumlah TKB yang akan didatangi dalam setiap minggu. Kalau dibandingkan jumlah TKB yang harus dilayani maka setiap hari ada 4 orang guru bina yang mendatangi dua TKB kecuali pada hari Senin dan Saptu masing-masing hanya satu TKB.

Menurut guru bina, jumlah siswa yang absen pada waktu tatap muka rata-rata 20%, yang tertinggi ketika tatap muka pelajaran Fisika sebesar 30% dan mata pelajaran Geografi dan Bahasa Inggris sebesar 10%. Tingginya angka absensi pada waktu tatap muka dan belajar mandiri di TKB faktor yang utama adalah rendahnya motivasi belajar siswa dan factor kedua disebabkan oleh siswa yang bekerja membantu orang tua. Angka absensi pada tatap muka dan belajar mandiri ini setiap tahunnya rata-rata selalu sama.
Seandainya siswa datang ke SLTP Induk, mereka menghabiskan waktu tempuh sekitar 1 sd. 1,5 jam perjalanan dengan berjalan kaki. Bila menggunakan mobil umum atau ojek motor sekitar 0,5 jam tetapi mereka harus mengeluarkan ongkos Rp. 5.000,- sekali jalan, bahkan untuk TKB yang terjauh harus mengeluarkan ongkos Rp. 15.000,- untuk pulang pergi dengan menggunakan ojek motor.
Menurut guru bina, hampir semua mata pelajaran tidak selesai dibahas dalam tiap caturwulan. Mata pelajaran yang bisa diselesaikan untuk dibahas hanya PPKn. Oleh karena itu untuk mengejar daya serap kurikulum atau modul maka dilakukan dengan cara mengajar seperti biasa dengan menggunakan metode ceramah. Akibatnya pelaksanaan tes akhir modul dan akhir unit tidak dapat dilaksanakan sesuai direncanakan. Sebagian besar mata pelajaran hanya dilakukan tes akhir caturwulan yang dilakukan bersama-sama dengan siswa SLTP Induk dengan soal tes yang sama. Kegiatan pengayaanpun hampir tidak dilakukan sama sekali. Walaupun demikian rata-rata nilai EBTANAS murni siswa SLTP Terbuka tidak terlalu jauh dengan NEM SLTP Induk. Rata-rata NEM SLTP Terbuka Banyu Anyar dapat di lihat pada tabel 2 berikut ini:
C. Aspirasi Orang Tua Siswa Terhadap Pendidikan
Aspirasi orang tua siswa SLTP Terbuka terhadap pendidikan relatif tinggi. Mereka ingin melanjutkan pendidikan anaknya ke sekolah lebih tinggi bila anaknya telah tamat dari SLTP Terbuka, misalnya ke Madrasyah Aliyah Negeri (MAN). Hal ini ditandai pula bahwa orang tua siswalah yang menyuruh anaknya memasuki SLTP Terbuka, mengingat di desa atau di daerah sekitar mereka tidak ada SLTP atau sekolah lain yang sederajat. Mereka menginginkan anaknya lebih pintar atau lebih tinggi pendidikannya dari orang tuanya yang sebagian besar orang tua siswa SLTP Terbuka ini tidak tamat Sekolah Dasar.
Mereka menyekolahkan anaknya ke SLTP Terbuka disebabkan oleh faktor geografis dan ekonomi. Kebetulan ada SLTP Terbuka yang tidak perlu membayar dan bisa belajar berkelompok di dekat tempat tinggalnya maka satu-satunya pilihan untuk menyekolahkan anaknya di SLTP Terbuka. Orang tua siswa memperoleh informasi SLTP Terbuka berasal dari pembicaraan orang-orang di sekitarnya dan sumber dari anaknya sendiri. Jarak tempat tinggal siswa dengan TKB sekitar 10 menit berjalan kaki. Mereka juga mengatakan bersedia untuk datang ke SLTP Induk bila diundang untuk membicarakan pendidikan anak-anak mereka. Mereka juga berpendapat bahwa sekolah pada SLTP Terbuka sama saja dengan sekolah lain yang sederajat dengan SLTP Terbuka.
D. Motivasi Belajar Siswa di SLTP Terbuka
Berdasarkan data dari siswa, mereka tidak hadir pada kegiatan belajar di TKB apabila mereka sakit. Pada hari-hari biasa mereka selalu hadir, apalagi jarak rumah dengan TKB hanya 10 s.d. 30 menit jalan kaki. Pernyataan siswa ini didukung oleh data bahwa pada bulan sebelum studi ini dilakukan semua siswa menyatakan selalu hadir terutama pada waktu belajar di TKB Apabila ke SLTP Induk mereka harus naik ojek dengan ongkos rata-rata Rp. 5.000,- satu kali jalan.
Menurut siswa umumnya mereka tahu tentang SLTP Terbuka dari guru pamong yang merangkap sebagai guru pada tingkat MI. Tetapi ada beberapa siswa mengetahui keberadaan SLTP Terbuka dari teman. Mereka masuk ke SLTP terbuka karena beberapa hal, yaitu tidak harus membayar uang sekolah, masih dapat membantu orang tua bekerja sambil sekolah, tempat belajar dekat dengan rumah, dan tidak harus seragam sekolah bila belajar di TKB. Namun faktor yang paling menarik siswa masuk ke SLTP Terbuka adalah karena dekat dengan rumah dan tidak perlu pakai seragam. Pernyataan ini didukung oleh pendapat siswa yang putus sekolah.
Menurut siswa, sistem belajar di SLTP Terbuka kurang menarik terutama pada waktu belajar mandiri dengan modul. Apalagi pada waktu belajar mata pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika. Hal ini diungkapkan oleh lebih dari sebagia besar siswa. Sebaliknya untuk mata pelajaran Pendidikan Agama, PPKn, IPS, dan Bahasa Indonesia sebagian besar siswa menyatakan senang untuk mempelajarinya. Untuk mata pelajaran IPA sebagian siswa menyatakan senang dan sebaliknya sebagian lagi menyatakan kurang menyenangkan. Walaupun demikian semua siswa menyatakan senang dengan cara guru bina mengajar, teman-teman sekelas, dan belajar di TKB.
Seperti aspirasi orang tua mereka, bahwa siswa SLTP Terbuka ingin menjadi orang yang pintar. Namun karena berbagai kendala sosial ekonomi, mereka ada yang putus di tengan jalan atau drop out. Mereka keluar dari sekolah hanya karena malas atau ingin mencari pekerjaan. Hal ini diungkapkan oleh siswa yang drop out. Mereka drop out pada kelas II dan kelas III. Sejak masuk SLTP Terbuka mereka malas belajar. Mereka belajar kadang-kadang saja. Walaupun orang tua mereka sanggup membiayai mereka sampai ke sekolah yang lebih tinggi dan keinginan mereka menjadi orang pintar, mereka tetap saja tidak mau kembali ke bangku sekolah atau malas melanjutkan pendidikannya. Hal ini diungkapkan oleh semua siswa yang telah drop out dari SLTP Terbuka. Pada waktu masih menjadi siswa SLTP Terbuka mereka senang mempelajari mata pelajaran Pendidikan Agama, Ilmu Pengetahuan Sosial, PPKn. Namun sebaliknya mata pelajaran seperti Matematika, Bahasa Inggris, dan IPA merupakan mata pelajaran yang kurang disenangi oleh siswa. Mata pelajaran-mata pelajaran tersebut bukan saja merupakan mata pelajaran kurang disenangi melaikan juga mata pelajaran yang dianggap sulit bagi siswa SLTP Terbuka yang masih aktif bersekolah.

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Pengelolaan SLTP Terbuka Banyu Anyar Probolinggo belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Hal ini ditandai oleh (a) pelaksanaan pembelajaran mandiri di TkB tidak dijadwalkan sehingga siswa bebas memilih mata pelajaran yang akan dipelajari setiap hari, (b) Pada waktu pendaftaran siswa baru, sekolah tidak memperhatikan STTB SD atau MI yang telah dimiliki siswa, sehingga sekolah tidak mempunyai data yang valid tentang NEM SD/MI siswa SLTP Terbuka.
2. Aspirasi orang tua untuk menyekolahkan anaknya cukup tinggi, namun motivasi siswa untuk menyelesaikan pendidikan relatif rendah. Hal ini ditandai oleh tingginya angka absensi siswa setiap kegiatan belajar di TKB maupun belajar melalui tatap muka serta alasan siswa yang drop aut disebabkan oleh perasaan malas belajar.
3. Apabila diberikan pemberdayaan dengan memberikan beasiswa kepada siswa tidak akan membantu meningkatkan hasil belajar siswa. Namun dimungkinkan untuk mengurangi angka drop out dan atau meningkatkan persentase kehadiran siswa pada kegiatan belajar.
4. Hasil belajar siswa akan meningkat apabila pemberian beasiswa didukung oleh perbaikan menejemen sekolah, pemberian honor dan traspor guru bina dan pamong yang memadai, dan siswa SLTP Terbuka yang diterima betul-betul telah tamat belajar dari SD atau MI.

DAFTAR PUSTAKA
AECT. 1979. Definition and Terminology Educational Technology: A Glossary of Terms. Washinton DC: Association for Educational Communication and Technogy.
Andriani, Durri. 1999. Manajemen Sistem Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh. Jakarta: SEAMOLEC-PUSTEKKOM.
Depdikbud. 1993. Kepmen Dikbud No. 060/U/1993 Tentang Kurikulum Pendidikan Dasar.
…………, 1999. Panduan Managemen Sekolah. Jakarta: Dikmenum Ditjen Dikdasmen.
Depdiknas, 2001, SLTP Terbuka selayang Pandang, Dit. Pendidikan Lanjutan Pertama.
Haryono, Anung. “Sistem Belajar Terbuka dan Sistem Belajar Jarak Jauh” Teknologi Komunikasi Pendidikan. Ed. Yusufhadi Miarso. Jakarta: CV. Rajawali. .
Miarso, Yusufhadi. 1995. Pengenalan SLTP Terbuka. Makalah disampaikan Dalam Penataran Guru Bina. Jakarta: Pustekkom Dikbud.
Perry, Walter dan Grevill Rumble. 1087. A Short Guide to Distance Education. Cambridge: International Extention College.
Pidarta. 1990. Perencanaan Pendidikan Partisipatori. Jakarta: Rineka Cipta.
Sadiman, Arief S., David Saligman, R. Rahardjo. 1995. The Open Junior Secondary School: An Indonesian Case Study. Jakarta: UNDP-UNESCO. Indonesian Project.
Soemantrie, Hermana. 2000. “Hasil Belajar IPS dan Beberapa Faktor Pasikologis yang Mempengaruhi Hasil Belajar IPS di SLTP”. Disertasi. Jakarta: Pascasrjana UNJ.

Pos ini dipublikasikan di kesehatan, komunikasi, pendidikan, teknologi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s