sistem SKS

SISTEM BELAJAR KEBUT SEMALAM, CUMA BIKIN PUSING!
Anak cenderung jadi grusah-grusuh sehingga merasa tak nyaman. Emosi yang mengganggu ini lambat laun akan berpengaruh pada kemampuan berpikir dan
juga fisiknya.
Istilah SKS atau Sistem Belajar Kebut Semalam sudah dikenal sejak dulu. Maksudnya, anak hanya membuka buku pelajaran saat akan ada ulangan/ujian esok harinya. Kalau tidak ada, ya, dia akan santai-santai saja.
SKS jelas akan merugikan karena kapasitas kemampuan anak untuk belajar terbatas. Sepintar apa pun anak jika materi yang harus dipelajarinya terlampau banyak, maka yang dipelajari hanya hal-hal yang di permukaan saja. “Mungkin anak jadi hafal, tapi sebenarnya ia tidak memahami materi pelajarannya tersebut,” kata Dra. Farida Kurniawati, M.Sp.Ed.
Dengan SKS, anak juga dihadapkan pada waktu belajar yang terbatas. Oleh karena itu, secara psikologis ia jadi merasa diburu-buru waktu. Dampak lain, timbul perasaan tak menyenangkan untuk menghadapi ujian besok karena ia merasa gagal menguasai materi. Perasaannya jadi tak santai, tegang, khawatir, waswas, takut, konsentrasinya pun jadi tidak fokus. Emosi diri yang tak mendukung tersebut akhirnya berpengaruh pada fisik. Anak merasa badannya kurang fit, pusing, dan sebagainya. Ujung-ujungnya, ia malah bisa benar-benar jatuh sakit. “Akhirnya anak merasa kurang nyaman. baginya belajar bukan suatu hal yang menyenangkan tapi malah menyebalkan. Apalagi jika hasil ulangan/ujian yang didapat tak seperti yang diharapkan. Jadi akan seperti lingkaran setan yang berkutat seputar masalah itu saja.”
TIGA PENYEBAB
Lalu apa penyebab anak memiliki cara belajar SKS ini. Menurut Farida yang bekerja pada Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, penyebabnya bisa dikaitkan dengan tiga faktor, yakni:
* Kebiasaan belajar anak
Cara belajar anak tergantung pada kebiasaan yang diterapkan orang tua di rumah. Jika orang tua tidak menerapkan disiplin belajar dengan baik, jangan heran kalau cara belajar anak jadi berantakan. Bagaimanapun juga, peran orang tua untuk membentuk pola belajar bagi anak usia sekolah masih sangat besar.
Lantaran itu, saran Farida, terapkan disiplin belajar sedini mungkin. Caranya, dengan selalu mengingatkan anak untuk belajar sesuai jadwal belajarnya. Dengan disiplin seperti ini, anak akan cinta belajar. Ia melihat setiap tugas belajar bukan sebagai suatu beban tapi sebagai kewajiban yang harus dipenuhi. Karena sudah cinta otomatis anak akan melihat belajar sebagai suatu kebutuhan.
* Tujuan anak belajar
Ada dua tujuan anak belajar. Pertama, untuk sekadar mendapatkan hasil atau output tertentu, seperti nilai. Kedua, anak belajar karena memang suka dengan pengetahuan yang dipelajarinya. Tujuan kedualah yang tentunya paling ideal. Jika motivasi belajarnya murni karena cinta pengetahuan, berarti ia tak perlu didorong-dorong untuk itu. Anak akan berinisiatif belajar dengan tekun dan disiplin.
Berkaitan dengan ini, Farida mengimbau jangan sampai orang tua salah mengarahkan tujuan tersebut. Anak yang selalu dituntut mendapat nilai bagus di setiap ujian, bisa-bisa hanya akan menghargai hasil akhir berupa nilai tapi tidak menghargai prosesnya. Untuk itu, imbau Farida, tanamkan kecintaan belajar tanpa terlalu menekankan pada hasil. Buatlah anak mengerti bahwa untuk mendapatkan sesuatu perlu suatu proses, yang tidak terjadi secara otomatis atau sekejap begitu saja. Untuk mendapatkan hasil ulangan/ujian yang baik, umpamanya, perlu belajar secara bertahap, baik ada atau tidak ada ujian.
Yang sering terjadi, orang tualah yang lupa menghargai proses. Mereka baru melontarkan pujian jika nilai yang diperoleh anak saat ulangan/ujian sesuai standar yang diinginkan. Akhirnya anak juga tertular selalu berorientasi pada hasil. Padahal, lanjut Farida, sebaiknya setiap langkah yang sudah dijalankan anak mesti diberi penghargaan. Dengan begitu, apa pun hasilnya, anak merasa tetap dihargai karena ia sudah berusaha. Hal ini akan mendorong anak untuk mencoba dan mencoba lagi setiap kali menemukan kegagalan. “Misalnya anak sudah belajar tapi hasil yang didapat tak sesuai harapan atau keinginan orang tua, ya anak tak perlu dimarahi. Tetap beri penghargaan dengan mengatakan bahwa ia sudah berupaya belajar dengan baik tapi hasil yang diperoleh belum maksimal.”
* Pola pendidikan di sekolah
Peran sekolah sangat penting dalam mempengaruhi sistem belajar anak. Ini termasuk peran guru dalam membantu anak mencintai materi pelajaran yang disampaikan di sekolah. Di sinilah pentingnya kreativitas guru; bagaimana seorang guru dapat membuat proses pembelajaran menjadi suatu yang tidak menjemukan murid. Bagaimana ia dapat membuat sebuah teori tak sekadar berupa kata-kata hafalan saja, tapi juga dipahami anak. Idealnya, guru harus bisa membuat mata murid terbuka sehingga mengerti mengapa ia harus capek-capek mempelajari suatu pelajaran. Untuk itulah antusiasme dan rasa ketertarikan guru terhadap pelajaran tertentu perlu ditularkan pada murid.
Intinya, metode pengajaran yang baik akan membuat anak tertarik untuk belajar. Ini berarti murid tak harus menerima pelajaran hanya dengan duduk diam di kursi, tapi bisa dengan cara bermain, menonton VCD dan lainnya. Otomatis ia akan menjalani proses belajar dari awal dengan baik; dari mulai mendengarkan penjelasan guru hingga mengembangkan rasa ingin tahunya sendiri dengan mencari bahan-bahan untuk menambah pemahaman materi tersebut. “Karena selalu menelaah materi yang didapat dan mengaitkannya dengan keseharian, ketika ada ulangan/ujian, anak akan selalu siap. Secara tidak langsung ia jadi sering belajar dan cukup paham akan materi pelajarannya.”
PENTINGNYA MANAJEMEN WAKTU
Menurut Farida, cara belajar anak dengan sistem kebut semalam ini masih bisa diubah seiring dengan bertambahnya usia. Berikut caranya:
* Bantu anak untuk mengatur dan menata waktunya dengan baik.
Konkretnya, bantu anak membuat jadwal kegiatannya; kapan waktu untuk bermain, waktu dengan keluarga, waktu belajar dan waktu-waktu untuk melakukan kegiatan lainnya. Semuanya itu harus diatur secara seimbang.
* Perlu pengawasan
Orang tua jangan sekadar membantu membuatkan jadwal kegiatan lalu melepas begitu saja. Anak tetap perlu dipantau dan diawasi agar dapat menaati jadwal yang telah disepakati. Jadi selalu ingatkan dia jika waktu belajarnya tiba.
* Terlibat saat anak belajar
Kadar keterlibatan orang tua berbeda-beda, tergantung usia anak. Anak kelas 1-4 SD bisa dibantu belajar dengan melakukan tanya jawab. Atau orang tua dapat membantu anak menyiapkan buku yang perlu dibawa ke sekolah keesokan hari. Sementara anak yang sudah agak besar bisa diajak mengobrol/ menanyakan materi pelajaran dan kesiapan si anak menghadapi pelajaran esok hari. Orang tua memang harus sedikit demi sedikit mengurangi bantuan dan melepaskan ketergantungan anak padanya. “Keterlibatan orang tua saat anak belajar dapat menghindari cara belajar seperti SKS karena orang tua selalu tahu tugas-tugas anak di sekolah.”
Dengan pola belajar yang teratur, anak akan merasa lebih tenang secara emosional. Ia juga lebih percaya diri dan berkonsentrasi dalam menyelesaikan tugas serta soal-soal ujian. Keadaan emosi yang baik ini tentu akan berpengaruh juga pada kemampuan berpikir yang akan semakin lancar.
Dedeh Kurniasih. Foto: Ferdi/nakita

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s