SISTEM PERCEPATAN KELAS (AKSELERASI) BAGI SISWA YANG MEMILIKI KEMAMPUAN DAN KECERDASAN LUAR BIASA

Oleh: Herry Widyastono*
 Dr. Herry Widyastono, Peneliti Madya bidang Pendidikan pada Balitbang Depdiknas. Saat ini juga sebagai dosen pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, serta Konsultan Sistem Percepatan Kelas (Akselerasi) pada Yayasan Masjid Panglima Besar Sudirman, Cijantung – Jakarta Timur.
________________________________________
Abstrak
Selama ini, strategi penyelenggaraan pendidikan bersifat klasikal-massal, memberikan perlakuan yang standar (rata-rata) kepada semua siswa, padahal setiap siswa memiliki kebutuhan yang berbeda. Akibatnya, siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di bawah rata-rata, karena memiliki kecepatan belajar di bawah kecepatan belajar siswa lainnya, akan selalu tertinggal dalam mengikuti kegiatan belajar-mengajar; sebaliknya, siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di atas rata-rata, karena memiliki kecepatan belajar di atas kecepatan belajar siswa lainnya, akan merasa jenuh, sehingga sering berprestasi di bawah potensinya (under achiever).
Agar siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa dapat berprestasi sesuai dengan potensinya, diperlukan pelayanan pendidikan yang berdiferensiasi, yaitu pemberian pengalaman pendidikan yang disesuaikan dengan kemampuan dan kecerdasan siswa; dengan menggunakan kurikulum yang berdiversifikasi, yaitu kurikulum standar yang diimprovisasi alokasi waktunya sesuai dengan kecepatan belajar dan motivasi belajar siswa.
Pelayanan pendidikan yang berdiferensiasi dengan menggunakan kurikulum yang berdiversifikasi dapat diimplementasikan melalui penyelenggaraan sistem percepatan kelas (akselerasi). Dengan sistem percepatan kelas (akselerasi), siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa diberi peluang untuk dapat menyelesaikan studi di SD kurang dari 6 tahun (misalnya 5 tahun), di SLTP dan SMU masing-masing kurang dari 3 tahun (misalnya 2 tahun), dengan menyelesaikan semua target kurikulum tanpa meloncat kelas.
Penyelenggaraan sistem percepatan kelas (akselerasi) bagi siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa merupakan salah satu strategi alternatif yang relevan; di samping bertujuan untuk memberikan pelayanan pendidikan sesuai dengan potensi siswa, juga bertujuan untuk mengimbangi kekurangan yang terdapat pada strategi klasikal-massal.
A. Latar Belakang
Pada hakikatnya, ditinjau dari aspek kemampuan dan kecerdasan, siswa dapat dikelompokkan kedalam tiga strata, yaitu: yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di bawah rata-rata, rata-rata, dan di atas rata-rata. Siswa yang berada di bawah rata-rata, memiliki kecepatan belajar di bawah kecepatan belajar siswa-siswa pada umumnya. Sedangkan siswa yang berada di atas rata-rata, memiliki kecepatan belajar di atas kecepatan belajar siswa-siswa lainnya.
Bagi siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan rata-rata, selama ini diberikan pelayanan pendidikan dengan mengacu pada kurikulum yang berlaku secara nasional, karena memang kurikulum tersebut disusun terutama diperuntukkan bagi anakanak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan rata-rata. Sementara itu, bagi siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di bawah rata-rata, karena memiliki kecepatan belajar di bawah siswa-siswa lainnya, diberikan pelayanan pendidikan berupa pengajaran remidi (remedial teaching), sehingga untuk menyelesaikan materi kurikulum membutuhkan waktu yang lebih panjang dari siswa-siswa lainnya. Sedangkan bagi siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di atas rata-rata, meskipun memiliki kecepatan belajar di atas kecepatan belajar siswa-siswa lainnya, belum mendapat pelayanan pendidikan sebagaimana mestinya. Bahkan, kebanyakan sekolah memberikan perlakuan yang standar (rata-rata), bersifat klasikal dan massal, terhadap semua siswa, baik siswa di bawah rata-rata, rata-rata, dan di atas rata-rata, yang sebenarnya memiliki kebutuhan berbeda. Akibatnya, siswa yang di bawah rata-rata, akan selalu tertinggal dalam mengikuti kegiatan belajar-mengajar yang berlangsung; sebaliknya, siswa yang di atas rata-rata, akan merasa jenuh karena harus menyesuaikan diri dengan kecepatan belajar siswa-siswa lainnya.
Akibat lebih lanjut, sekitar 30% siswa SMU (di Jakarta) yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berprestasi di bawah potensinya (under achiever) (Yaumil, 1991). Demikian pula, 20% siswa SLTP dan 22% siswa SD (di Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, dan Kalimantan Barat) yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa, beresiko tinggal kelas karena nilai rata-rata raportnya untuk semua mata pelajaran pada catur wulan 1 dan 2 kurang dari 6 (Herry, dkk., 1997).
Berkenaan dengan hal tersebut, dipandang perlu adanya sistem percepatan kelas bagi siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa. Bagi siswa sekolah dasar yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa, diberi peluang dapat menyelesaikan studinya kurang dari 6 tahun, misalnya 5 tahun atau bahkan 4 tahun, seperti yang sudah dilakukan oleh Sekolah Dasar Negeri Percobaan (SDNP) Kompleks Universitas Negeri Jakarta (UNJ) selama beberapa tahun terakhir. Demikian pula, untuk siswa SLTP dan SMU; bagi yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa, diberi peluang untuk dapat menyelesaikan studinya kurang dari 3 tahun, misalnya 2 tahun, seperti yang sudah dilakukan oleh SLTP dan SMU Lab. School UNJ. Sebaliknya, bagi siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di bawah rata-rata, diberi peluang untuk dapat menyelesaikan studi lebih lama dari siswa-siswa lainnya.
Hal ini sejalan dengan amanat Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), yang tertuang dalam Garis-garis Besar Haluan Negara tahun 1999, bahwa arah kebijakan pendidikan antara lain adalah melakukan pembaharuan sistem pendidikan termasuk pembaharuan kurikulum, berupa diversifikasi kurikulum untuk melayani keberagaman peserta didik. Selanjutnya, sejalan pula dengan amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN), yang menegaskan bahwa warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus {pasal 8 ayat (2)}; dan setiap peserta didik mempunyai hak menyelesaikan program pendidikan lebih awal dari waktu yang ditentukan (pasal 24 butir 6).
B. Landasan Konseptual
1. Batasan
Sebelum lahir UUSPN, di Indonesia terdapat istilah gifted, talented, genius, dan berbakat, yang diinterpretasikan kurang seragam, masing-masing orang memiliki konotasi yang beragam. Namun, ada kecenderungan yang sama bahwa istilah-istilah dimaksud diperuntukkan bagi seseorang yang memiliki kemampuan dan kecerdasan yang melebihi orang-orang pada umumnya yang sebaya dengannya. Berkenaan dengan hal tersebut, pemerintah memberi istilah warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa {UUSPN pasal 8 ayat (2)} untuk menangkap arti dari istilah-istilah gifted, talented, genius, maupun berbakat.
Kecerdasan berhubungan dengan kemampuan intelektual, sedangkan kemampuan luar biasa tidak hanya terbatas pada kemampuan intelektual (Moegiadi, 1991). Jenis jenis kemampuan dan kecerdasan luar biasa yang dimaksud dalam batasan ini meliputi bidang: (1) intelektual umum dan akademik khusus, (2) berpikir kreatif produktif, (3) psikososial/ kepemimpinan, (4) seni/kinestetik, dan (5) psikomotor.
Penafsiran terhadap UUSPN di atas sejalan dengan salah satu definisi yang lazim digunakan di Amerika Serikat, yaitu: Gifted and talented are those identified by profesionally qualified persons who by virtue of outstanding abilities are capable of high performance. These are children who require differentiated educational programs and/or services those normally provided by the regular school program in order to realize their contribution to self and society. Children capable of high performance may not have demonstrated it has high achievement, but can have potensial in any of the following areas singly or in combination: (1) general intelectual ability, (2) specific academic aptitude, (3) creative or productive thinking, (4) leadership ability, (5) visual and performing arts, and (6) psychomotor ability (Marland, 1972).
Jadi terminologi kemampuan dan kecerdasan luar biasa sebenarnya sejalan dengan gifted and talented seperti yang tersirat pada definisi the US Office of Education.
Sementara itu, penelitian terhadap tokoh-tokoh yang mendapat pengakuan dan penghargaan karena prestasi dan sumbangan-sumbangan mereka yang kreatif, ternyata selalu memiliki tiga kelompok ciri yang saling berpautan (Renzulli, 1981), yaitu memiliki: (1) kemampuan/inteligensi, (2) kreativitas, dan (3) tanggung jawab atau pengikatan diri terhadap tugas (task commitment) di atas rata-rata. Inteligensi yang tinggi saja belum cukup untuk menentukan kemampuan dan kecerdasan luar biasa; demikian pula, kreativitas tanpa pengikatan diri terhadap tugas belum menjamin prestasi unggul. Oleh karena itu, interaksi antara ketiga ciri tersebut merupakan unsur yang esensial dan ketiga-tiganya sama pentingnya dalam menentukan kemampuan dan kecerdasan luar biasa seseorang.
2. Karakteristik
Anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa memiliki ciri-ciri: (1) membaca pada usia lebih muda, (2) membaca lebih cepat dan lebih banyak, (3) memiliki perbendaharaan kata yang luas, (4) mempunyai rasa ingin tahu yang kuat, (5) mempunayi minat yang luas, juga terhadap masalah orang dewasa, (6) mempunyai inisiatif, dapat berkeja sendiri, (7) menunjukkan keaslian (orisinalitas) dalam ungkapan verbal, (8) memberi jawaban jawaban yang baik, (9) dapat memberikan banyak gagasan, (10) luwes dalam berpikir, (11) terbuka terhadap rangsangan-rangsangan dari lingkungan, (12) mempunyai pengamatan yang tajam, (13) dapat berkonsentrasi untuk jangka waktu panjang, terutama terhadap tugas atau bidang yang diminati, (14) berpikir kritis, juga terhadap diri sendiri, (15) senang mencoba hal-hal baru, (16) mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis yang tinggi, (17) senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan-pemecahan masalah, (18) cepat menangkap hubungan sebabakibat, (19) berperilaku terarah pada tujuan, (20) mempunyai daya imajinasi yang kuat, (21) mempunyai banyak kegemaran (hobi), (22) mempunyai daya ingat yang kuat, (23) tidak cepat puas• dengan prestasinya, (24) peka (sensitif) dan menggunakan firasat (untuisi), dan (25) menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan (Martinson, 1974).
Melihat ciri-ciri tersebut, terkesan seakan-akan siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa hanya memiliki sifat-sifat yang positif. Sebetulnya tidak demikian. Sebagaimana anak pada umumnya, anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa mempunyai kebutuhan pokok akan pengertian, penghargaan, dan perwujudan diri. Apabila kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, mereka akan menderita kecemasan dan keragu-raguan. Jika minat, tujuan, dan cara laku mereka yang berbeda dengan peserta didik pada umumnya, tidak memperoleh pengakuan, maka mereka walaupun memiliki kemampuan dan kecerdasan yang unggul akan mengalami kesulitan. Hal ini nyata dari daftar yang disusun oleh Seagoe (dikutip oleh Martinson, 1974) yang menunjukkan bahwa ciri-ciri tertentu dari siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa dapat atau mungkin mengakibatkan timbulnya masalah-masalah tertentu, misalnya: (1) Kemampuan berpikir kritis dapat mengarah ke arah sikap meragukan (skeptis), baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain; (2) Kemampuan kreatif dan minat untuk melakukan hal-hal yang baru, bisa menyebabkan mereka tidak menyukai atau lekas bosan terhadap tugas-tugas rutin; (3) Perilaku yang ulet dan terarah pada tujuan, dapat menjurus ke keinginan untuk memaksakan atau mempertahankan pendapatnya; (4) Kepekaan yang tinggi, dapat membuat mereka menjadi mudah tersinggung atau peka terhadap kritik; (5) Semangat, kesiagaan mental, dan inisiatifnya yang tinggi, dapat membuat kurang sabar dan kurang tenggang rasa jika tidak ada kegiatan atau jika kurang tampak kemajuan dalam kegiatan yang sedang berlangsung; (6) Dengan kemampuan dan minatnya yang beraneka ragam, mereka membutuhkan keluwesan serta dukungan untuk dapat menjajaki dan mengembangkan minatnya; (7) Keinginan mereka untuk mandiri dalam belajar dan bekerja, serta kebutuhannya akan kebebasan, dapat menimbulkan konflik karena tidak mudah menyesuaikan diri atau tunduk terhadap tekanan dari orang tua, sekolah, atau temantemannya. Ia juga bisa merasa ditolak atau kurang dimengerti oleh lingkungannya; (8) Sikap acuh tak acuh dan malas, dapat timbul karena pengajaran yang diberikan di sekolah kurang mengundang tantangan baginya.
Selain itu, berdasar penelitian Herry (1993), mereka juga suka mengganggu teman-teman sekitarnya, karena mereka lebih cepat memahami materi pelajaran yang diterangkan guru di depan kelas ketimbang teman-temannya. Dengan diterangkan sekali saja, mereka telah dapat menangkap maksudnya, sedangkan siswa yang lain masih perlu dijelaskan lagi; dus mereka banyak waktu terluang, sehingga apabila kurang diantisipasi oleh gurunya, akan digunakan untuk mengadakan aktivitas sekehendaknya (usil), misalnya mencubit atau melemparkan benda-benda kecil/kapur ke teman-teman sekitarnya.
Masalah-masalah di atas dapat terjadi karena mereka belum mendapat pelayanan pendidikan yang memadai (tidak disadarinya). Apabila teman-teman sekelas mereka memiliki tingkat kemampuan dan kecerdasan yang relatif sama (homogen), hal di atas tidak akan terjadi.
Untuk menghindari sifat-sifat yang kurang baik ini, perlu diupayakan untuk memberikan kepuasan rokhaniah yang bermanfaat, yaitu melalui pelayanan pendidikan yang sesuai dengan kemampuan dan kecerdasannya agar mereka dapat memanifestasikan potensinya yang masih latent, yakni sebagaimana ciri-ciri mereka seperti dikemukakan di atas. Berdasarkan berbagai hasil penelitian, potensi unggul peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa tidak akan begitu saja muncul tanpa stimulasi yang sesuai. Salah satu stimulasi yang sesuai adalah memberikan pelayanan pendidikan yang berdiferensiasi, yaitu pemberian pengalaman pendidikan yang disesuaikan dengan kemampuan dan kecerdasan peserta didik (Ward, 1980).
3. Program Pendidikan
Di negara-negara maju, terdapat berbagai jenis program pendidikan yang dilakukan untuk siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa (Getls dan Dillon, dalam Hallahan dan Kaufman, 1982), antara lain yaitu: (1) sekolah musin panas di negeri dengan empat musim, (2) pendidikan dasar tidak berjenjang, (3) diterima lebih awal di perguruan tinggi, (4) pelajaran-pelajaran perguruan tinggi bagi siswa-siswa setingkat sekolah menengah, (5) mata-mata pelajaran di sekolah menengah dan kreditnya diakui di perguruan tinggi, (6) kelas-kelas khusus untuk mata pelajaran tertentu yang ada dalam kurikulum, (7) kelas-kelas khusus pada semua mata pelajaran yang ada dalam kurikulum, (8) seminar-seminar hari Sabtu, (9) pengelompokan berdasar kemampuan, (10) pengayaan di kelas-kelas biasa, (11) guru tamu, (12) penambahan mata pelajaran, (13) tugas-tugas kelompok dan tugas-tugas ekstra kurikuler, (14) wisata karya, (15) pelajaran-pelajaran khusus melalui televisi, (16) program pelajaran biasa setengah hari, dan program pengayaan setengah hari lainnya, (17) percepatan, (18) sekolah-sekolah khusus, (19) program konsultasi, (20) bimbingan/tutorial, (21) belajar mandiri, (22) pertukaran pelajar, (23) peningkatan yang luwes (misalnya anak SD mengambil pelajaran di SMP, dsb.), (24) penempatan siswa pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, (25) program pemberian penghargaan, (26) program kegiatan yang ditawarkan lembaga nonsekolah, seperti museum, perpustakaan, dan (27) kurikulum khusus.
Dari sekian banyak bentuk program pendidikan yang dapat dipilih, terdapat tiga jenis program yang terbanyak dilaksanakan, yaitu: (1) Sistem Pengayaan, yakni pembinaan siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa dengan penyediaan kesempatan dan fasilitas belajar tambahan yang bersifat pendalaman, setelah yang bersangkutan menyelesaikan tuigas-tugas yang diprogramkan untuk anak-anak lainnya; (2) Sistem Percepatan, yakni tu pembinaan siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa dengan memperbolehkan yang bersangkutan naik kelas secara meloncat (eksaltasi), atau menyelesaikan program reguler dalam jangka waktu yang lebih singkat (akslerasi); (3) Pengelompokan Khusus, yakni pembinaan siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa dengan cara yang bersangkutan dikumpulkan dan diberi kesempatan secara khusus sesuai dengan potensinya. Pengelompokan biasanya didasarkan pada kemampuan dan kecerdasan, dan dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk, antara lain: (a) kelas khusus, (b) sekolah khusus, (c) pertemuan khusus, sebelum dan sesudah jam sekolah, serta (d) program di luar kelas reguler pada jam belajar (Clark, 1983).
Betapapun, pemilihan bentuk program pendidikan bagi siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa akan selalu tergantung tidak hanya pada individuindividu yang terlibat, melainkan juga pada situasi dan kondisi lingkungan tempat program akan dilaksanakan. Di samping itu, juga tidak dapat dilihat lepas dari suatu pertimbangan segi politis dan ekonomis, sejauh mana sesuai dengan kebijaksanaan pendidikan, dan sejauh mana mudah dan murah pelaksanaannya.
Berdasar pertimbangan-pertimbangan tersebut, tampaknya berbagai pihak, baik pengambil keputusan di lingkungan Ditjen Dikdasmen Depdiknas maupun pelaksana di lapangan (yayasan/sekolah) lebih condong untuk menerapkan program akselerasi. Hal ini telah dilakukan di SDNP UNJ, SLTP Lab. School UNJ, SLTP Sudirman Jakarta, SMU Lab School UNJ, SMU Al Azhar Cikarang-Bekasi, dan SMUN 8 Jakarta.
C. Landasan Filosofis
Penyelenggaraan sekolah unggul, termasuk di dalamnya sistem percepatan kelas (akselerasi) didasari filosofi yang berkenaan dengan: (1) hakikat manusia, (2) hakikat pembangunan nasional, (3) tujuan pendidikan, dan (4) usaha untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut (Depdikbud, 1994).
Pertama, manusia sebagai makluk Tuhan Yang Maha Esa telah dilengkapi dengan berbagai potensi dan kemampuan. Potensi itu pada dasarnya merupakan anugerah kepada manusia yang semestinya dimanfaatkan dan dikembangkan, tidak disia-siakan. Peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa, sebagaimana anak pada umumnya, juga mempunyai kebutuhan pokok akan keberadaannya (eksistensinya). Apabila kebutuhan pokoknya tidak terpenuhi, mereka akan menderita kecemasan dan keragu-raguan. Jika potensi mereka tidak dimanfaatkan, mereka akan mengalami kesulitan walaupun potensial (Utami Munandar, 1982).
Di samping memiliki persamaan dalam sifat dan karakteristiknya, potensi tersebut memiliki tingkat dan jenis yang berbeda-beda. Pendidikan dan lingkungan sepatutnya berfungsi untuk mengembangkan potensi tersebut agar menjadi aktual dalam kehidupan, sehingga berguna bagi orang yang bersangkutan, masyarakat, dan bangsanya, serta menjadi bekal untuk menghambakan diri kepada Tuhan. Dengan demikian, usaha untuk mewujudkan anugerah potensi tersebut secara penuh merupakan konsekuensi dari amanah Tuhan.
Kedua, dalam pembangunan nasional, manusia merupakan sentral, yaitu sebagai subyek dan sekaligus obyek pembangunan. Untuk dapat memainkan perannya sebagai subyek, maka manusia Indonesia dikembangkan untuk menjadi manusia yang utuh, yang berkembang segenap dimensi potensinya secara wajar, sebagaimana mestinya.
Pelayanan pendidikan yang kurang memperhatikan potensi anak, bukan saja akan merugikan anak itu sendiri, melainkan akan membawa kerugian yang lebih besar bagi perkembangan pendidikan dan percepatan pembangunan di Indonesia (Utami Munandar, dalam Herry, 1991). Hal ini disebabkan karena negara akan kehilangan sejumlah tenaga terampil yang sangat bermanfaat dalam pencapaian tujuan pembangunan secara menyeluruh. Pendidikan nasional mengemban tugas dalam mengembangkan manusia Indonesia sehingga menjadi manusia yang utuh dan sekaligus merupakan sumberdaya pembangunan.
Ketiga, pendidikan nasional berusaha menciptakan keseimbangan antara pemerataan kesempatan dan keadilan. Pemerataan kesempatan berarti membuka kesempatan seluas-luasnya kepada semua peserta didik dari semua lapisan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan tanpa dihambat perbedaan jenis kelamin, suku bangsa, dan agama. Akan tetapi, memberikan kesempatan yang sama (equal oppornity), pada akhirnya akan dibatasi oleh kondisi obyektif peserta didik, yaitu kapasitasnya untuk dikembangkan.
Untuk mencapai keunggulan dalam pendidikan, diperlukan intensi bukan hanya memberikan kesempatan yang sama, melainkan memberikan perlakuan yang sesuai dengan kondisi obyektif peserta didik. Perlakuan pendidikan yang adil pada akhirnya adalah perlakuan yang didasarkan pada kemampuan dan kecerdasan peserta didik.
Sementara itu, dipandang dari segi demokrasi, sebenarnya setiap anak, apakah ia menonjol, biasa, atau kurang kemampuan dan kecerdasannya, harus diberi kesempatan sepenuhnya untuk mengembangkan dirinya sampai ke batas kemampuan dan kecerdasannya (Terman, 1979).
Dengan dmikian, justru peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa yang sampai sekarang selalu mendapat kesempatan yang sangat kurang untuk mengembangkan kemampuan dan kecerdasannya dengan sebaik-baiknya, karena mereka belum menerima pelayanan pendidikan yang sesuai dengan taraf kemampuan dan kecerdasannya yang menonjol itu (Andi Hakim Nasoetion, 1982). Di pihak lain, memperlakuan secara sama setiap peserta didik yang berbeda kemampuan dan kecerdasannya merupakan perlakuan yang tidak berkeadilan.
Keempat, dalam upaya mengembangkan kemampuan peserta didik, pendidikan berpegang kepada azas keseimbangan dan keselarasan, yaitu: keseimbangan antara kreativitas dan disiplin, keseimbangan antara persaingan (kompetitif) dan kerjasama (kooperatif), keseimbangan antara pengembangan kemampuan berpikir holistik dengan kemampuan berpikir atomistik, dan keseimbangan antara tuntutan dan prakarsa.
D. Penyelenggaraan Sistem Percepatan Kelas (Akselerasi)
Upaya peningkatan mutu pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait satu sama lain. Faktor-faktor tersebut merupakan sub-sistem dalam sitem pendidikan/persekolahan. Bila ingin mengembangkan sub-sistem tertentu, menuntut perubahan atau penyesuaian pada sub-sistem yang lain.
Bila pendidikan bagi siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa dikembangkan untuk mencapai keunggulan dalam keluaran (output) pendidikannya, maka untuk mencapai keunggulan tersebut, sedikitnya terdapat 8 faktor lainnya yang perlu diarahkan untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut. Faktor-faktor itu meliputi: (1) masukan (input, intake), (2) kurikulum, (3) tenaga kependidikan, (4) sarana-prasarana, (5) dana, (6) manajemen, (7) lingkungan, dan (8) proses belajar-mengajar, yang dapat digambarkan secara diagramatis seperti di bawah ini (Herry, 1999).

Pertama, masukan (input, intake) siswa diseleksi secara ketat dengan menggunakan kriteria tertentu dan prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan. Kriteria yang digunakan adalah: (a) prestasi belajar, dengan indikator: angka raport, Nilai Ebtanas Murni (NEM), dan/atau hasil tes prestasi akademik, berada 2 standar deviasi (SD) di atas Mean populasi siswa; (b) skor psiko-tes, yang meliputi: inteligency quotient (IQ) minimal 125, kreativitas, tanggung jawab terhadap tugas (task qommitment), dan emotional quotient (EQ) berada 2 SD di atas Mean populasi siswa; (c) kesehatan dan kesemaptaan jasmani, jika diperlukan.
Kedua, kurikulum yang digunakan adalah kurikulum nasional yang standar, namun dilakukan improvisasi alokasi waktunya sesuai dengan tuntutan belajar peserta didik yang memiliki kecepatan belajar serta motivasi belajar lebih tinggi dibandingkan dengan kecepatan belajar dan motivasi belajar siswa seusianya. Dalam hal ini, misalnya untuk menyelesaikan studi di SD, yang biasanya memakan waktu 6 tahun, terdiri atas 18 catur wulan, setiap tahun terdiri atas 3 catur wulan; dipercepat menjadi 5 tahun, tahun pertama terdiri atas 5 catur wulan dan tahun kedua 4 catur wulan, kemudian tahun ketiga, empat, dan lima masing-masing terdiri atas 3 catur wulan. Atau bisa juga dipercepat menjadi 4 tahun, tahun pertama terdiri atas 5 catur wulan, tahun kedua 5 catur wulan, tahun ketiga 4 catur wulan, dan tahun keempat 4 catur wulan.
Reguler Akselerasi (Model 1) Akselerasi (Model 2)
Tahun 1
Tahun 2
Tahun 3
Tahun 4
Tahun 5
Tahun 6 Cw 1 Cw 2 Cw 3
Cw 4 Cw 5 Cw 6
Cw 7 Cw 8 Cw 9
Cw10 Cw11 Cw12
Cw13 Cw14 Cw15
Cw16 Cw17 Cw18 Cw 1 Cw 2 Cw 3 Cw 4 Cw 5
Cw6 Cw 7 Cw 8 Cw 9
Cw10 Cw11 Cw12
Cw13 Cw14 Cw15
Cw16 Cw17 Cw18 Cw 1 Cw 2 Cw 3 Cw 4 Cw 5
Cw 6 Cw 7 Cw 8 Cw 9 Cw10
Cw11 Cw12 Cw13 Cw14
Cw15 Cw16 Cw17 Cw18
Demikian pula, untuk menyelesaikan studi di SLTP atau SMU, yang biasanya memakan waktu selama 3 tahun, terdiri atas 9 catur wulan, setiap tahun 3 catur wulan; dipercepat menjadi selama 2 tahun, setiap tahun terdiri atas 4,5 (empat setengah) catur wulan; atau tahun pertama 5 catur wulan dan tahun kedua 4 catur wulan.
Reguler Akselerasi
Tahun 1
Tahun 2
Tahun 3 Cw 1 Cw 2 Cw 3
Cw 4 Cw 5 Cw 6
Cw 7 Cw 8 Cw 9 Cw 1 Cw 2 Cw 3 Cw 4 Cw 5
Cw6 Cw 7 Cw 8 Cw 9
Ketiga, tenaga kependidikan. Karena siswanya memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa, maka tenaga kependidikan yang menanganinya-pun terdiri atas tenaga kependidikan yang unggul, baik dari segi penguasaan materi pelajaran, penguasaan metode mengajar, maupun komitmen dalam melaksanakan tugas.
Keempat, sarana-prasarana yang menunjang, yang disesuaikan dengan kemampuan dan kecerdasan siswa, sehingga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan belajar serta menyalurkan kemampuan dan kecerdasannya, termasuk bakat dan minatnya, baik dalam kegiatan kurikuler maupun ekstra kurikuler.
Kelima, dana. Untuk menunjang tercapainya tujuan yang telah ditetapkan perlu adanya dukungan dana yang memadai, termasuk perlunya disediakan insentif tambahan bagi tenaga kependidikan yang terlibat, berupa uang maupun fasilitas lainnya.
Keenam, manajemen, bersangkut paut dengan strategi dan implementasi seluruh sumberdaya yang ada dalam sistem sekolah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu, bentuk manajemen pada sekolah dengan sistem kelas percepatan, harus memiliki tingkat fleksibilitas yang tinggi, realistis, dan berorientasi jauh ke depan. Dengan demikian, pengelolaannya didasari oleh komitmen, ketekunan, pemahaman yang sama, kebersamaan antara semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ini.
Ketujuh, lingkungan belajar yang kondusif untuk berkembangnya potensi keunggulan menjadi keunggulan yang nyata, baik lingkungan dalam arti fisik maupun sosial-psikologis di sekolah, di masyarakat, dan di rumah.
Kedelapan, proses belajar-mengajar yang bermutu dan hasilnya selalu dapat dipertanggungjawabkan (accountable) kepada siswa, orang tua, lembaga, maupun masyarakat.
E. Kesimpulan dan Rekomendasi
1. Kesimpulan
Berdasar uraian di muka, dapat dirumuskan kesimpulan di bawah ini.
a. Perlunya perhatian khusus kepada peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa adalah selaras dengan fungsi utama pendidikan, yaitu mengembangkan potensi peserta didik seoptimal mungkin.
b. Pengembangan potensi peserta didik, memerlukan strategi yang sistematis dan terarah. Sementara itu, strategi pendidikan yang ditempuh selama ini, termasuk kurikulum yang ada, memberikan perlakuan yang standar (rata-rata) kepada semua peserta didik yang sebenarnya berbeda kemampuan dan kecerdasannya. Strategi ini relevan dalam konteks pemerataan kesempatan, akan tetapi kurang mampu menunjang usaha mengoptimalkan pengembangan potensi peserta didik, mengingat bahwa setiap individu memiliki perbedaan kemampuan dan kecerdasan.
c. Potensi unggul peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa tidak akan begitu saja muncul tanpa stimulasi yang sesuai. Salah satu stimulasi yang sesuai adalah melalui pemberian pelayanan pendidikan yang berdiferensiasi, yaitu pemberian pengalaman pendidikan yang disesuaikan dengan kemampuan dan kecerdasan peserta didik; dengan menggunakan kurikulum yang berdiversifikasi, yaitu kurikulum standar yang diimprovisasi alokasi waktunya sehingga sesuai dengan kecepatan belajar dan motivasi belajar siswa.
d. Pelayanan pendidikan yang berdiferensiasi dengan menggunakan kurikulum yang berdiversifikasi dapat diimplementasikan melalui penyelenggaraan sistem percepatan kelas (akselerasi). Dengan sistem percepatan kelas, siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa diberi peluang untuk dapat menyelesaikan studi di SD kurang dari 6 tahun (misalnya 5 tahun atau 4 tahun), di SLTP dan SMU masing-masing kurang dari 3 tahun (misalnya 2 tahun), dengan menyelesaikan semua target kurikulum tanpa meloncat kelas.
e. Penyelenggaraan sistem percepatan kelas (akselerasi) bagi siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa merupakan salah satu strategi alternatif yang relevan, karena siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa mimiliki kecepatan belajar dan motivasi belajar di atas kecepatan dan motivasi belajar siswa lainnya. Strategi alternatif ini di samping bertujuan untuk memberikan pelayanan pendidikan sesuai dengan potensi siswa, juga bertujuan untuk mengimbangi kekurangan yang terdapat pada strategi klasikal-massal. Dengan adanya strategi alternatif ini, tidak berarti peningkatan mutu pendidikan untuk peserta didik secara klasikal-massal diabaikan, melainkan perbedaannya terletak pada intensitas dan ekstensitas perhatian yang diberikan kepada peserta didik disesuaikan dengan kondisinya.
2. Rekomendasi
Berdasar kesimpulan di atas, dapat disusun rekomendasi di bawah ini.
a. Pemerintah, dalam hal ini Depdiknas, perlu mengadakan pilot-project penyelenggaraan kelas percepatan bagi peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa. Pilot-project dapat dilakukan di SD, SLTP, dan SMU, di salah satu kabupaten/kotamadya di mana terdapat siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa dalam jumlah yang cukup signifikan. Biasanya, secara alami, siswa-siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa cenderung mengumpul di sekolah-sekolah favorit.
b. Bila pada kabupaten/kotamadya tertentu terdapat siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa dalam jumlah yang cukup signifikan, maka kabupaten/kotamadya tersebut dapat menyelenggarakan sistem percepatan kelas (akselerasi) di SD, SLTP, dan SMU, minimal satu sekolah untuk setiap satuan pendidikan. Sehinga setiap siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa yang berada di kabupaten/kotamadya tersebut mempunyai peluang untuk mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan potensinya.
c. Bila pada propinsi tertentu terdapat siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa dalam jumlah yang sangat signifikan (sangat banyak), maka propinsi tersebut dapat menyelenggarakan Sekolah Khusus dengan sistem percepatan kelas (akselerasi) bagi siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa.
Pustaka Acuan
Andi Hakim Nasoetion. Anak Berbakat dan Kemungkinan Menemukannya di Indonesia. Jakarta: C.V. Rajawali, 1982.
Clark, Barbara. Growing Up Gifted. Colombus Ohio: Charles E. Merril Publishing Company, 1983.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pengembangan Sekolah Unggul. Jakarta: Depdikbud, 1994.
Hallahan Daniel P & M. James Kauffman. Exceptional Children. New Jersey: Prentice- Hall Inc. Englewood Cliffs, 1982.
Herry Widyastono. Kinerja Guru Sekolah Dasar: Studi Korelasional antara Bakat Skolastik, Kreativitas, dan Motivasi Berprestasi, dengan Kinerja Guru Sekolah Dasar dalam Mengajar Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Tahun Ke-5, No. 020, Desember 1999.
Herry Widyastono, dkk. Profil Peserta Didik yang Memerlukan Perhatian Khusus dan yang Berkesulitan Belajar di Sekolah Dasar. Jakarta: Pusbang Kurrandik Balitbang Depdikbud, 1997.
Herry Widyastono, dkk. Profil Peserta Didik yang Memerlukan Perhatian Khusus dan yang Berkesulitan Belajar di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Jakarta: Pusbang Kurrandik Balitbang Depdikbud, 1997.
Herry Widyastono. Kurikulum Plus: Satu Alternatif Program Pembelajaran bagi Anak Unggul. Surakarta: Jurnal Rehabilitasi dan Remediasi No. 14 Th. 5, Januari – April 1996.
Herry Widyastono. Pendidikan bagi Siswa Berbakat: Mungkinkah Diselenggarakan di Indonesia? Surakarta: Jurnal Rehabilitasi dan Remediasi No. 6 Th. 2, Juli – September 1993.
Herry Widyastono. Penyelenggaraan Sekolah Unggul: Landasan Yuridis, Filosofis, dan Konseptual. Jakarta: Program Pascasarjana IKIP Jakarta, 1993.
Herry Widyastono, dkk. Rancangan Pengembangan Pendidikan bagi Peserta Didik yang Memiliki Kemampuan dan Kecerdasan Luar Biasa. Jakarta: Pusbang Kurrandik Balitbang Depdikbud, 1991.
Yaumil A. Achir. Bakat dan Prestasi. Jakarta: Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia, 1991.
Martinson, R.A. The Identification of the Gifted and Talented. California: Ventura, 1974.
Marland. Education of the Gifted and Talented. Washington: U.S. Government Printing Office, 1972.
Moegiadi. Perhatian Khusus terhadap Peserta Didik Berbakat. Jakarta: Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional, 1991.
Renzulli, J.S., S.M. Reis, & L.H. Smith. The Revolving Door Identification Model. Connecticut: Creative Learning Press, 1981.

Pos ini dipublikasikan di informasi, informatika, pendidikan, sosial. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s