“Self-Transcendence”, Sebuah Pencarian Keotentikan Diri Wilhelmus Gonsalit Saur

sumber : https://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/25/opini/1837115.htm

ARTIKEL ”Spiritualitas Perkotaan” tulisan Anto Dwiastoro (Kompas, 28/5/2005) mengundang refleksi mendalam akan eksistensi kemanusiaan kita dalam budaya kota, budaya kapitalis, di hadapan Allah.

GERALD May (Addiction and Grace: Love and Spirituality in the Healing of Addiction, New York: Harper San Francisco, 1988) berkeyakinan bahwa semua manusia memiliki hasrat akan Allah sejak lahir. Hasrat ini merupakan kerinduan terdalam dan harta yang paling berharga pada manusia. Kita mungkin menamai hasrat ini dengan bahasa yang berbeda: kerinduan akan keutuhan, keharmonisan, atau pemenuhan. Akan tetapi, di balik hasrat-hasrat itu ada suatu kerinduan akan cinta, untuk mencintai dan dicintai, dan untuk semakin dekat dengan Sang Sumber Cinta.

Kerinduan ini adalah hakikat roh manusia untuk berelasi dalam cinta, berelasi secara pribadi. Dalam arti ini, kerinduan akan yang transenden-imanen sekaligus merupakan sebuah kerinduan akan keotentikan diri. Tepatlah apa yang dikatakan Tony Baggot (Spirituality, Vol 2, No 5, 1996) bahwa perziarahan ke dalam diri sebenarnya merupakan perziarahan ke dalam Allah. Di sanalah kita bertemu muka dengan Allah, di mana segala ilusi dan kepalsuan lenyap dalam benaman cinta tanpa syarat (unconditional love) dari Allah.

Bernard Lonergan, filsuf dan teolog, dalam bukunya Method in Theology (1975) menulis bahwa manusia mencapai keotentikannya dalam transendensi diri (self-transcendence). Transendensi diri berarti suatu gerak melampaui apa yang telah dicapai. Suatu gerak dari yang kurang baik menjadi baik dan dari yang baik menjadi lebih baik.

Namun, ide transendensi diri ini berbenturan dengan penafsiranan realisasi diri atau aktualisasi diri manusia modern yang lebih berciri egois and self-centered. Terhadap hal ini Walter E Conn dalam bukunya The Desiring Self: Rooting Pastoral Counseling and Spiritual Direction in Self-Transcendence (1998) menilai secara kritis akan ide realisasi diri (self-realisation) atau aktualisasi diri (self-actualisation) dalam masyarakat modern dengan ide penyangkalan diri (self-denial) dalam agama-agama.

Ia menegaskan bahwa melalui transendensi diri, pribadi tidak dikorbankan, tetapi direalisasikan dalam kemanusiaannya yang otentik. Perealisasian diri yang sejati dalam pencarian akan makna, kebenaran, nilai dan cinta akan menolak segala bentuk dorongan egoisme yang berpusat pada diri sendiri (self-centered).

Ini mensyaratkan bahwa seseorang harus mengosongkan diri, bahkan kehilangan diri demi pelayanan cinta bagi sesama. Dalam terang transendensi diri, aktualisasi diri yang otentik bukan merupakan hasil sebuah usaha untuk memenuhi hasrat-hasrat pribadi, melainkan dari sebuah gerak yang melampaui diri untuk membawa kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain.

Realisasi diri yang sejati dan pemenuhan diri yang otentik merupakan hasil dari transendensi-diri. Maka transendensi diri adalah suatu respons yang efektif terhadap hasrat dari roh manusia terhadap makna, kebenaran, nilai, dan cinta.

Namun, hasrat untuk transendensi diri ini terbentur oleh unsur tidak sadar (unconscious) dalam diri manusia. Luigi M Rulla (lihat David Couturier. ”The Capacity to Promote Justice,” Human Development 6/3, 1985) berkeyakinan bahwa unsur tidak sadar (unconscious) dapat memengaruhi kapasitas kita untuk menginternalisasikan nilai (value) dan sikap (atitude).

Pengaruh unsur tidak sadar ini melahirkan inkonsistensi-inkonsistensi dalam hidup keseharian, antara diri ideal (ideal self) dan diri aktual (actual self). Hal ini dengan jelas terungkap dalam artikel ”Absurditas Intelektual” Yasraf Amir Piliang (Kompas, 26/5/2005). Ia menulis, ”Tidak masuk akal melihat aneka tindakan para akademisi dan intelektual ini yang seakan ’bodoh’, tanpa pertimbangan akal sehat dan perhitungan rasionalitas, sehingga menciptakan semacam absurditas intelektual-intellectualis absurditas”. Ini membuktikan bahwa ”modal intelektual” tidak menjadi jaminan utama untuk menjadi pribadi yang integral dan otentik. Siapa pun kita, entah dosen, pemimpin agama, politikus, pejabat negara, para menteri, wakil presiden dan presiden; orang kaya maupun orang miskin, terkena oleh pengaruh hukum unsur tak sadar (uncounscious) ini. Maka tepat apa yang dikatakan Ahmad Syafii Maarif bahwa kita masih tertatih-tatih dalam upaya memperbaiki masa depan bangsa ini akibat belum satunya antara kata dan laku (Kompas, 1/6/2005).

Pendidikan bukan hanya soal kemampuan untuk menguasai informasi, teknologi, melainkan suatu kemampuan untuk menginternalisasikan nilai dalam kehidupan. Proses penginternalisasian nilai ini perlu menyentuh unsur-unsur tidak sadar (uncounscious) dalam tiap pribadi sehingga ia mampu secara bebas untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya serta untuk mengenal distorsi-distorsi kesadarannya.

Pendidikan mesti membantu orang untuk memperluas wilayah kesadarannya (counscious) dan mempersempit wilayah tak sadar (uncounscious) sehingga mampu untuk memilih nilai yang sejati. Unsur tak sadar ini sangat memengaruhi kita dalam proses mengalami, memahami, menilai, dan mengambil keputusan. Unsur tak sadar sering mengaburkan kemampuan kita untuk memilih kebaikan yang sejati dan kandas pada ”yang tampaknya baik” karena dipengaruhi oleh tuntutan kebutuhan-kebutuhan (needs) yang melekat pada diri kita sebagai manusia. Misalnya kebutuhan akan rasa aman bisa memaksa orang untuk korupsi, mencontek, manipulasi, atau membunuh orang lain, dan lain-lain.

Tantangan untuk mentransendensikan diri bisa semakin rumit dalam kehidupan masyarakat kota. Ada begitu banyak kemungkinan untuk kehilangan integritas dan keotentikan diri. Gaya hidup kota di zaman ekonomi yang berciri kapitalis tanpa sadar telah membentuk suatu ”pola pikir kapitalis” yang menekankan kebutuhan akan kesuksesan, kekayaan, persaingan, kontrol, dan kuasa. Ini menjadi suatu kebutuhan baru yang dicari dan diidamkan banyak orang. Tanpa sadar perilaku orang pun terbentuk dalam sistem kebutuhan ini. Orang berlomba mengejar sukses, popularitas, dan kekuasaan tanpa memperhitungkan nilai lain dan orang lain. Itulah kebutuhan yang sedang dan terus dipromosikan secara jelas yang merasuk-masuk ke alam kesadaran kita yang sebenarnya memiliki distorsi-distorsi yang merongrong hakikat dan martabat manusia sebagai pribadi dan kelompok.

Akibatnya, nilai manusia diukur berdasarkan kesuksesannya, kekayaannya, kekuasaannya, dan kepopulerannya. Manusia dilihat bukan dari hakikat dan martabatnya, melainkan dari fungsi (function) dan perbuatan (doing). Maka relasi dengan sesama lebih berciri subyek-obyek, relasi kepentingan, relasi bisnis. Cara orang berkomunikasi pun berciri subyek-obyek, monolog, bukan dialog yang menuntut suatu syarat penghargaan terhadap yang lain pada inti kemanusiaannya. Cara berkomunikasi seperti ini hanya menciptakan pembodohan, kompromi, dan ketergantungan, padahal tindakan komunikasi bisa menjadi suatu sarana transendensi diri, transformasi diri dan pencerahan.

Relasi-relasi subyek-obyek ini terus menerobos masuk dalam kehidupan relasi kemanusiaan kita, dalam keluarga, sekolah, pekerjaan, dan pemerintahan. Manusia dilihat sebagai obyek, seonggok daging yang tidak memiliki perasaan dan pikiran. Ia dipandang sebagai ”yang umum” dan bukan ”yang unik”. Relasi kita lebih berciri ”umum” daripada pribadi. Akibatnya, manusia teralienasi dari dunia sekitarnya dan dirinya sendiri. Ia mengalami krisis identitas. Ia hidup tanpa identitas. Ia mencari identitasnya dalam kekuasaan, kekayaan, popularitas. Ia menjadi ”hamba” dari hasratnya sendiri.

Bersamaan dengan itu, budaya pasar terus menawarkan kebutuhan-kebutuhan baru dan gaya hidup baru mempermainkan manusia yang bingung kehilangan identitas diri ini. Fantasi untuk menjadi kaya dan berkuasa mengiring orang untuk terlibat dalam kolusi, korupsi, dan berbagai jenis manipulasi lainnya. Dalam arti ini, semua kita yang hidup dalam ”cara pikir kapitalis” amat rawan dan rapuh untuk tergoda menghancurkan integritas dan keotentikan diri.

Ketika ia teralienasi dari dirinya sendiri dan dari masyarakat, ia mencari dasar keberadaannya. Ia mencoba mencari dalam agama-agama, tetapi di sana ia juga teralienasi dari kehidupan agama yang sering berciri legalistik dan ”obyektif”, di mana sang pribadi ini tidak bisa menempatkan pengalaman kemanusiaannya yang rumit dan kompleks. Agama dengan ciri legalistik dan ”obyektif” ini lebih mencari kepuasan diri dan keamanan diri daripada berziarah bersama mereka yang lagi bingung dalam pencarian makna kehidupan yang rumit dan kompleks.

Kecendrungan agama sebagai institusi untuk memberi jawaban terhadap pertanyaan eksistensial manusia sering tidak banyak membantu karena tidak mau mendengar. Orang-orang ini tidak dihadapi secara pribadi, melainkan dihadapi dengan berbagai doktrin dan ajaran suci lainnya.

Yang dicari manusia dalam situasi ”krisis” ini adalah hubungan yang bersifat pribadi, di mana harkat dan martabatnya dihargai dan dirangkul. Mereka ingin didengarkan, bukan dihakimi sebagai makhluk yang unik dan pribadi. Relasi yang baik dengan sendirinya membawa penyembuhan dan pencerahan. Kekosongan inilah yang memungkinkan orang untuk mencari dasar keberadaannya dalam Allah (imanen dan transenden) dan memaknai kehidupannya secara baru dalam terang pengalaman perjumpaan pribadi dengan-Nya. Perjumpaan dengan Sang Pribadi yang Lain ini akan mentransendenkan cara ia memahami dirinya, orang lain, dan alam sekitarnya termasuk cara beragamanya.

Bernard Lonergan menyebut pengalaman perjumpaan yang intim ini sebagai being in love with God. Pengalaman ini membawa orang pada suatu pertobatan atau transendensi diri, suatu pertobatan yang lahir dari relasi cinta. Dalam relasi yang intim ini kebaikan yang terpendam akan mengalir dengan sendirinya karena ia telah menemukan identitas dirinya di hadapan Allah sebagai Subyek, yang unik dan khas.

Hubungan pribadi dengan Allah itu mengantar ia menemukan kembali identitas dirinya yang sejati di hadapan Allah. Dalam doa (meditasi atau kontemplasi) ia menemukan siapa Allah sebenarnya dan siapa dirinya. Dalam pergumulan relasi pribadi dengan Allah itu ia memperbarui gambarannya (image) akan Allah dan gambaran dirinya sendiri dan bersedia untuk menanggung konsekuensi dari keintiman relasi itu.

Relasi cinta itu melahirkan penyerahan (surrender) total kepada Allah dan kesediaan untuk menerima diri dan realistis dalam hidup. Penolakan terhadap realitas kemanusiaan kita yang kaya akan potensi untuk bertumbuh dan sekaligus rapuh dan mudah terpecah akan melahirkan ilusi-ilusi yang menggerogoti keotentikan diri.

Ilusi-ilusi yang kita bangun dalam ”cara berpikir kapitalis” melahirkan kepribadian-kepribadian yang palsu. Kita membangun diri dalam bayangan yang rapuh dan membiarkan ilusi itu mengilas kita sendiri. Kita seperti orang yang kehilangan identitas diri dan mengembara dalam pencarian yang tiada hentinya di luar diri. Sebenarnya kita dibelenggu oleh hasrat kekuasaan, popularitas, dan kekayaan yang tidak mengantar kepada keotentikan diri (true self).

Kembalilah ke kedalaman dirimu, dan di sana Allah akan berkisah tentang cinta dan hasrat-Nya untukmu dan hasratmu untuk dirimu sendiri, untukNya, sesama dan alam sekitarnya.

Wilhelmus Gonsalit Saur Penulis Sedang Belajar dalam Bidang Spiritual Direction (Bimbingan Rohani) di Melbourne College of Divinity, Melbourne

 

Pos ini dipublikasikan di informatika, kesehatan, komunikasi, pendidikan, sejarah, sosial. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s