sekoalh dengan kurikulum asing

Sekolah-Sekolah dengan Kurikulum Asing

 

Banyak sekolah di Indonesia yang mengadopsi kurikulum negara-negara maju. Dengan embel-embel sekolah internasional atau sekolah nasional plus, mereka menjanjikan pendidikan yang lebih maju dibanding sekolah-sekolah umum lainnya. Guru-guru asing pun didatangkan.

Sering kita dengar istilah sekolah international, sekolah nasional plus, sekolah standar nasional, dan sekolah standar internasional. Masing-masing punya ciri tersendiri. Tidak banyak masyarakat yang tahu arti dari masing-masing istilah tersebut. Bahkan, ada sekolah yang memasang embel-embel tertentu tetapi sebenarnya standarnya tidak memenuhi.
Di beberapa kota ada sekolah yang menyebut dirinya sekolah internasional. Modalnya cuma punya satu bule dan pelajarannya memakai bahasa Inggris. Tentu saja hal ini menyalahi aturan. Sebab, pendirian sekolah internasional tidaklah mudah. Banyak kriteria yang harus dipenuhi. Izinnya juga langsung dari menteri pendidikan nasional.
Salah satu contoh sekolah internasional adalah Surabaya International School (SIS) di Citra Raya International Village, Surabaya. Sekolah ini berdiri pada 1971 dengan nama American Consulate School. Sejak 1977, sekolah ini berubah menjadi Surabaya International School. “Memang diperuntukkan bagi warga asing di Surabaya,” ujar Hj Hestyawati S., business manager SIS.
Sekolah yang didirikan melalui Keputusan Mendiknas Nomor 04201/Q/77 ini mendapat akreditasi dari Western Association of School and College, sebuah lembaga akreditasi internasional yang berada di Amerika. Saat ini siswa pribuminya juga mulai ada, meski jumlahnya sangat sedikit. Saat ini sekolah ini memiliki 230 siswa, mulai dari Preparation (Pra TK) hingga grade 9 (setara SMA).
Untuk anak Indonesia, syarat pendaftarannya juga tidak mudah. Anak Indonesia yang ingin bersekolah di SIS harus mendapat surat rekomendasi dari Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) di Jakarta. Selain itu, masih ada persyaratan administratif seperti paspor, kartu susunan keluarga (KSK) dan akta kelahiran.
Sebagai sebuah sekolah internasional, kurikulum yang diberikan untuk anak-anak itu tentu bukan kurikulum Indonesia. Di SIS tidak diajarkan pendidikan agama dan PPKn. Bahasa Indonesia justru menjadi salah satu pelajaran bahasa asing. “Kurikulum dan sistem kami mengacu pada kurikulum Amerika,” kata Hesty.

Di negeri Paman Sam itu, menurut Hesty, tak ada kurikulum baku yang ditentukan oleh pemerintah. Setiap sekolah mengembangkan kurikulum sendiri sesuai dengan kemampuan dan minat siswa. Oleh sebab itu, di sana tak ada ujian akhir yang bersifat nasional. “Demikian juga di SIS. Lulusan kami hanya menerima ijazah berdasarkan ujian yang kami buat sendiri,” jelasnya.

Lalu, bagaimana nasib lulusan SIS? Dengan kurikulum yang berbeda dengan sekolah-sekolah di Indonesia, tentu tidak mudah bagi anak-anak SIS untuk pindah sekolah. Itu disadari betul oleh pihak sekolah. “Siswa kami orientasinya meneruskan sekolah ke luar negeri. ”

Sekolah lainnya yang menyebut diri sebagai sekolah internasional adalah Singapore National Academy (SNA) yang terletak di kawasan Pondok Maspion. Sesuai dengan namanya, sekolah ini jelas menggunakan kurikulum Negeri Singa itu. Tidak hanya soal ujiannya yang harus diimpor dari Singapura. “Text book (buku paket, Red) yang kami gunakan, sama persis dengan yang digunakan anak-anak di Singapura,” jelas Lye Weng Hon, principal (kepala sekolah).

Berdasarkan kurikulum Singapura, ujian akhir secara nasional dilakukan saat lulus sekolah dasar. Ujiannya bernama PSLI (Primary Level Leaving Examination). “Kami sudah mendapat akreditasi untuk menyelenggarakan ujian itu di sini,” kata Sophy Alim, general manager.

Jadi, siswa di sana tak perlu terbang ke Singapura jika ingin menempuh ujian PSLI. Namun, walaupun PSLI merupakan ujian nasional, siswa SNA tetap tak wajib menempuhnya. “Biasanya, siswa hanya menempuhnya untuk mengetahui standar kemampuan mereka,” sambung Sophy. Dan biasanya, siswa yang sekolah di sana adalah mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke Singapura.

Untuk sekolah nasional plus beda lagi. Salah satunya adalah IPH (Intan Permata Hati), sekolah Kristen nasional plus yang menyelenggarakan pendidikan dari playgroup hingga SMP.

Menurut Denny, finance manager IPH, kurikulum yang digunakan di sekolahnya tetap menggunakan kurikulum nasional. Hanya, bahasa pengantar di sekolah ini adalah bahasa Inggris. Sebagian siswa di IPH adalah anak-anak ekspatriat yang ada di Indonesia. Ada siswa dari Thailand, Korea Selatan, Amerika Serikat, India, Jepang, dan Vietnam. “Tapi mayoritas tetap siswa dari Indonesia,” kata Denny

Untuk menunjang status sebagai sekolah nasional plus, IPH juga menggunakan tenaga pengajar dari luar negeri. Beberapa guru direkrut dari Filipina dan Amerika Serikat. Tahun ini, kata Denny, IPH merekrut guru dari India.

IPH juga menjalin kerja sama dengan Nambour Christian College (NCC) Australia. Dengan kerja sama ini, siswa IPH bisa meneruskan studi di NCC tanpa down grade (turun kelas). “Misalnya di IPH selesai kelas 4, jika pindah ke NCC bisa langsung kelas 5, tanpa harus tes maupun mengulang di kelas 4 lagi,” jelasnya

Keuntungan lain dari kerja sama ini sekolah bisa tukar menukar guru maupun siswa dengan mudah. “Selain itu, kami juga saling adopsi kurikulum maupun teknik mengajar,” tambahnya.

Kasi Kurikulum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur Choirul Anam mengatakan, sebenarnya Depdiknas tidak punya kriteria sekolah nasional plus. Hal itu, kata Choirul Anam merupakan pengembangan kurikulum yang dilakukan sekolah masing-masing. “Kebetulan jumlah sekolah yang menyebut diri sekolah nasional plus cukup banyak,” katanya.

Jenis yang terbaru, kata Choirul Anam, justru Sekolah Standar Nasional (SSN). Ini khusus bagi SMP. Depdiknas telah menunjuk masing-masing dua sekolah di tiap Kabupaten/Kota, untuk menjadi SSN. Di Surabaya, SMPN 1 termasuk salah satu sekolah yang ditunjuk menjadi SSN. “Sekolah ini dijadikan acuan sekolah lain di daerahnya,” kata Choirul Anam.

SSN berbeda degan Sekolah Nasional Plus. Kepala Dinas Pendidikan Surabaya Drs Sahudi MPd menjelaskan ada persyaratan khusus untuk menjadi SSN. Misalnya, guru-guru di sekolah tesebut harus memiliki sertifikat mengajar. Fasilitas dan sarana sekolah juga harus memadai. “Yang paling penting prestasi nasional harus pernah diraih dalam jumlah tertentu,” jelasnya.

Satu lagi, yakni Sekolah Standar Internasional (SSI). Menurut Sahudi, setelah menjadi SSN, sekolah harus mengejar status SSI. Caranya, sekolah harus mendapat akreditasi dari lembaga akreditasi internasional. “Bahasa pengantar di SSI juga memakai bahasa Inggris,” katanya. (tomy c. gutomo)

Sumber : Jawa Pos (17 Februari 2005)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

‘Pendidikan Internasional’, Bagaimanakah Maknanya?

http://artikel.us/art05-67.html

Belum hilang dari ingatan kita tentang peledakan bom di depan Kedubes Australia 10 September lalu, kembali kita didera oleh peledakan bom yang meski bukan terjadi di negara kita, namun meledaknya persis di depan Kedubes RI di Paris. Kembali nama Indonesia dikaitkan dengan “bom”. Mungkin juga ada yang mengkaitkannya dengan isu terorisme di Indonesia.

Lantas apa hubungannya dengan judul tulisan ini? Jelas ada kaitannya, karena siapapun pelaku pemboman itu pastilah orang yang terdidik. Entah dengan sistem pendidikan yang bagaimana, dan dengan tujuan pendidikan yang seperti apa.

Apalagi menjelang pembetukan kabinet di hari-hari terakhir ini, muncul beberapa nama dijagokan sebagai menteri, dalam hal ini Menteri Pendidikan. Siapapun beliau yang terpilih nantinya, yang pasti sudah lolos fit and proper test oleh presiden, tidaklah perlu diperdebatkan. Yang penting sekarang adalah bagaimana kita meningkatkan mutu pendidikan di negara kita, sehingga kita mempunyai manusia yang berkualitas dan memiliki rasa kepedulian akan sesama yang tinggi. Sehingga nantinya takkan ada lagi pelaku pemboman yang berasal dari warga negara Indonesia yang ironisnya mengakibatkan korban duka bagi bangsanya sendiri.

Dulu, menteri pendidikan selalu diidentikkan dengan perubahan kurikulum. Setiap ada pergantian kabinet dan perubahan jajaran menteri, pastilah akan diikuti oleh perubahan kurikulum. Namun, dengan dicanangkannya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) diharapkan bahwa kurikulum pendidikan tidak akan selalu berubah dan berubah.

KBK sendiri masih agak dirisaukan oleh beberapa pendidik. Bukan karena KBK-nya, namun sosialisasinya yang masih dianggap kurang bergema. Tugas para pendidik sekarang adalah memahami arti KBK sesungguhnya dan sebenar-benarnya sehingga para pendidik akan mampu mengimplementasikan sistem tersebut ke dalam pembelajaran dengan para anak didiknya.

Namun tugas mendidik bukan hanya ada di beban para pendidik (guru) saja, semua lapisan masyarakat, lingkungan kecil (keluarga) dan pemerintah mengambil peranan dalam mendidik anak bangsa.

Pendidikan Internasional.

Belakangan ini muncul tren di beberapa sekolah yang mengklaim dirinya menerapkan pendidikan internasional. Dengan mengadopsi kurikulum asing dan mendatangkan para pengajar dari negara asal kurikulum, sekolah-sekolah ini berani menyebutkan bahwa kurikulum mereka berkualitas pendidikan internasional.

Sebenarnya standar pendidikan internasional bukan sekedar pendidikan yang menggunakan bahasa internasional. Bukan hanya pada kulitnya. Harusnya pendidikan internasional bukan melulu mempromosikan penggunaan bahasa asing. Pendidikan internasional harus dimaknai dengan pendidikan yang menjadikan anak didiknya berpikir secara terbuka dan internasional, open and international minded. International minded dimana di dalamnya para anak didiknya kelak akan menjadi manusia yang ‘berwarga negara internasional’ atau istilahnya sebagai global citizen. Jadi pendidikan internasional bukan sekedar kulit belaka, namun lebih pada esensi yang terletak di dalamnya, dalam pembelajarannya.

Dalam pendidikan internasional, kurikulum yang diterapkan boleh-boleh saja kurikulum nasional, tetapi di dalamnya disisipkan pendidikan untuk ber-internasional. Artinya, anak didik dijejali dengan pendidikan akan hidup dalam suasana damai di dunia, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian, diberikan makna perdamaian internasional, dan arah kehidupan yang lebih baik. Bentuk pendidikan semacam ini bukan dalam tingkat pendidikan teori, namun harus diterapkan secara nyata.

Dalam four pillars of education in UNESCO, ada empat dasar pendidikan, yakni: Learning to Know (Belajar untuk mengetahui); Learning to Do (Belajar untuk bertindak); Learning to Be (Belajar untuk menjadi (seseorang); dan Learning to Live Together (Belajar untuk hidup bersama). Empat dasar ini adalah pegangan kita dalam penerapan semua kurikulum pendidikan di negara kita.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah sistem pendidikan kita sudah mengacu ke sana? Apakah dengan dicanangkannya sistem baru, Kurikulum Berbasis Kompetensi, kelak akan muncul manusia Indonesia yang berbudi luhur dan berpikiran internasional? Semua ini pekerjaan rumah kita bersama.

Program Dasar Organisasi Internasional Baccalaureate/ IB-PYP (International Baccalaureate-Primary Years Programme)

Adalah PYP-Primary Years Programme, program yang berasal dari organisasi internasional Baccalaureate yang non-profit dan bermarkas di Jenewa. Ada lima belahan dunia sebagai anak cabang IBO (International Baccalaureate Organization), dan Indonesia masuk belahan wilayah Asia Pasifik yang bermarkas di Singapura. Program ini sudah diimplementasikan oleh lebih dari 1500 sekolah di lebih dari 115 negara. PYP didesain untuk anak didik usia 3-12 tahun, yakni setara dengan pra-sekolah/ TK dan tingkat dasar/ SD. Selain PYP, IBO mempunyai program MYP (Middle Years Programme) untuk para didik seusia SMP dan SMU (11-16 tahun); dan Diploma untuk usia 16-18 tahun.

Di Indonesia telah banyak sekolah yang menerapkan program ini. Khususnya yang berada di kota-kota besar, mulai dari Medan, Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya dan Bali. Program ini bukan hanya diimplementasikan di sekolah-sekolah dengan seting internasional saja tetapi bisa juga diterapkan di sekolah-sekolah berseting berbeda. Bahkan di Australia, program ini juga diterapkan di sekolah milik pemerintah. Kebanyakan sekolah di Indonesia yang menerapkan program PYP adalah yang dulunya mengidentifikasikan dirinya dengan label Sekolah National-Plus. Meskipun sampai kini masih banyak juga yang memperkenalkan diri sekolahnya dengan sebutan Sekolah National-Plus. Program PYP benar-benar program berstandar internasional dalam arti yang sesungguhnya, karena dalam program ini selain menerapkan pelajaran Bahasa Inggris sebagai satu dari mata pelajarannya, Bahasa Ibu, dalam hal ini Bahasa Indonesia- bila diterapkan di Indonesia, masih harus dipakai. Anak didik harus tetap dikenalkan dengan budaya local dan harus tetap diajak berpikir tentang apa yang ada di sekitar lokalnya. Namun pada saat bersamaan, program ini membuat anak didik untuk berpikir secara internasional dengan cara mengajak mereka untuk peduli akan situasi yang ada di dunia luar – Act locally, think globally. Juga dengan cara mengajarkan kepada anak didik adanya perbedaan di antara sesama, dan dengan cara menerapkan profil-profil manusia yang mengarah ke dalam kehidupan yang lebih baik.

Profil siswa PYP adalah yang ‘berpengetahuan (knowledgeable); punya rasa ingin tahu (inquirer) yang berani mengambil resiko (a risk-taker); yang peduli (caring) namun tetap berprinsip (principle); pemikir sejati (thinker) yang berpikiran terbuka (open minded); seimbang secara fisik-mental-rohani (well-balanced); mampu berkomunikasi (communicator); juga bisa berefleksi (reflective).

Dalam PYP, pelajarannya terintegrasi (dengan sebutan interdisciplinary) dengan halus. Antara pelajaran Bahasa (baik Bahasa Indonesia dan Inggris), Pendidikan Sosial dan Ilmiah, Seni dan Ketrampilan dan Pendidikan Jasmani terjalin korelasi yang baik karena tersusun dengan adanya unit pembelajaran. Ada enam unit yang dipelajari para siswa di tingkat level yang berbeda dalam satu tahun ajaran, mulai dari membahas diri kita sebagai manusia sampai dengan pembahasan tentang kehidupan kita di bumi untuk berbagi dan menjaga sumber-sumber kekayaan alam yang terbatas ini dengan sesama. Enam unit tersebut adalah Who We Are/ Siapa Diri Kita, Where We Are In Place and Time/ Dimana Kita Pada Tempat dan Waktu Tertentu, How We Express Ourselves/ Bagaimana Kita Mengekspresikan Diri Kita, How The World Works/ Bagaimana Dunia Bekerja, How We Organize Ourselves/ Bagaimana Kita Mengatur Diri Kita dan How We Share The Planet/ Bagaimana Kita Berbagi Planet.

Dalam pembelajaranya, PYP menggunakan semua yang ada di kelas (baik guru maupun teman) dan di luar kelas (keluarga dan lingkungan) sebagai sumber-sumber belajar. Jadi sumber belajar bukan terbatas pada buku saja. Seringkali lingkungan yang tidak kita duga sebagai sumber belajar, dapat menjadi sumber belajar yang menakjubkan. Contoh nyata adalah ketika pembahasan unit How We Express Ourselves, tentang tata cara berkomunikasi baik dengan atau tanpa kata-kata, maka pada kesempatan tersebut para peserta didik diajak mengunjungi teman-teman yang kekurangan (yang tidak dapat mendengar dan berbicara / tuna rungu-tuna wicara dan juga yang tidak dapat melihat – tuna netra). Dalam interaksinya dengan para siswa yang kekurangan ini, selain belajar tentang bagaimana berkomunikasi dalam bentuk yang berbeda, para siswa PYP secara tidak langsung belajar bagaimana menerima perbedaan dan kekurangan sesama. Secara langsung dan nyata, semua siswa (baik yang kekurangan dan yang tidak) belajar berbagi dalam makna yang sesungguhnya. Mereka berbagi rasa, berbagi cerita dan tentu saja berbagi pengalaman.

‘Pengalaman adalah guru yang terbaik’. Demikian kata pepatah. Namun benarlah juga, karena para siswa yang duduk di bangku sekolah dasar adalah mereka yang masih muda dan segar dalam menghadapi dan menjalani hidup. Dengan berpengalaman langsung, maka arti pembelajaran menjadi lebih signifikan dan bermakna.

PYP dan KBK

PYP menggunakan sistem KBK. PYP menempatkan anak didik sebagai subjek pembelajaran. Bukan sebagai objek. Anak didik ditempatkan pada tingkat paling atas. Students as the center of learning. Anak didik juga harus berperan aktif. Anak didik diajak ke dalam seting pembelajaran yang terdesain untuk melihat kemampuan dan kompetensi siswa secara individu, karena setiap siswa adalah berbeda. Every child is unique.

PYP dan KBK sama-sama menerapkan activity-based learning/ pembelajaran berdasar kegiatan. Sehingga tugas para siswa adalah aktif ‘bekerja’ untuk mendapatkan pengetahuan, menemukan konsep dan mengasah ketrampilan, tanpa melupakan nilai-nilai perilaku/ attitudes.

Sama. PYP dan KBK juga sama-sama mempunyai tujuan mendidik peserta didik menjadi manusia sesungguhnya, yang mempunyai kemampuan individu yang tangguh dan mampu memecahkan masalah (problem solver) tanpa harus menunggu diberi, juga manusia yang tidak meninggalkan sisi-sisi nilai kemanusian (profil kemanusian) yang terbuka dan berpikiran secara internasional.

Di dalam PYP ada istilah ‘inquiry based learning’ yaitu pembelajaran berdasarkan inquiry. Kata inquiry bermakna ‘suka mencari tahu’. Penerapannya dalam kegiatan belajar-mengajar adalah para peserta didik diajak untuk mempunyai rasa penasaran akan hal-hal yang belum diketahuinya melalui pembelajaran yang aktif dan terseting dalam suasana penelitian/ riset sederhana. Anak didik akan diajak untuk berpikir, dan mengalami sendiri. Dengan melakukan sendiri, maka para peserta didik akan lebih mampu memaknai arti pembelajaran yang sesungguhnya. Inquiry – suka mencari tahu dengan belajar – ini bisa dilaksanakan dalam KBK.
Untuk memiliki sifat suka belajar, para peserta didik harus ditempatkan ke dalam suasana yang aman, nyaman dan menyenangkan. Suasana yang enjoy-ful, fun but healthy adalah suasana kelas seting PYP dan KBK. Siswa akan senang belajar. Belajarnya bukan karena terpaksa, karena harus menghafal isi halaman buku, dan bukan hanya karena akan ada ulangan pada keesokkan harinya, tetapi mereka benar-benar senang belajar. Para siswa ini nantinya akan menjadi manusia yang senang belajar sepanjang hidupnya (life-long learners). Ini adalah harapan kita semua, bukan?

Peranan para pendidik di konsep pendidikan internasional

Dalam penerapannya di kurikulum, KBK bisa masuk ke dalam semua kegiatan pembelajaran. Kurikulum (yang) Berdasarkan Kemampuan siswa wajib dilihat para pendidik sebagai dasar melangkah ke tingkat selanjutnya. Dalam arti, setiap individu tidak sama. Ada yang cepat dalam hal menangkap makna pembelajaran, namun ada pula yang lambat. Ada yang mempunyai gaya belajar yang unik, misalnya suka mendengar daripada menulis, maka para pendidik wajib mengenali gaya belajar ini. Ada juga siswa yang enggan melakukan kegiatan karena merasa kemampuannya sudah lebih daripada teman-temannya, maka sekali lagi tugas para pendidk untuk mengakomodasi setiap perbedaan dan keunikan para anak didiknya di kelas.

Cara atau strategi yang diterapkan dalam PYP dan KBK adalah sama. Yakni hubungan yang terjalin antara para pendidik dan para anak haruslah hubungan yang erat dan sehat. Perlu digarisbawahi bahwa para pendidik bukanlah orang yang mengetahui segala tentang ilmu pengetahuan, bukan pula orang yang harus ditakuti (namun dihormati), tetapi peran para pendidik adalah sama dengan para anak didik, yakni mereka sama-sama pembelajar. Demikian sebaliknya, anak didik wajib terbuka dan berani bertanya kepada para pendidik tentang apa yang hendak diketahuinya.

Para pendidik wajib memberi kesempatan kepada anak didik untuk mengutarakan ide atau pemikirannya. Ada siswa yang sangat terbuka, karena memang sudah demikian personality-nya, namun ada pula siswa yang introvert. Maka para pendidik wajib sabar menunggu dan memandu.

Tugas para pendidik dan anak didik di seting KBK adalah sebagai pembelajar yang sama-sama aktif, baik secara individu maupun secara kelompok. Adakalanya kegiatan individu berjalan dengan baik, karena sudah terseting dari awal dalam suasana yang mendukung. Misalnya dalam suasana kelas yang harmoni dengan adanya peraturan kelas yang ditaati oleh semua anggota kelas. Namun ada kalanya, rencana kegiatan belajar tidak berjalan sesuai harapan. Semua ini wajar-wajar saja. Baik dalam PYP maupun KBK, semua proses pembelajaran wajib dimaknai. Bukan hanya melihat pada product atau hasil akhirnya saja, namun process over product pun penting untuk direfleksikan. Maka pendidikan yang membuat siswa yang memiliki pemikiran terbuka dan internasional, harus tetap tentu diterapkan- makna sesungguhnya pendidikan internasional.

Peranan para pendidik di kelas adalah sebagai pembimbing, fasilitator/ pemandu, motivator dan juga sebagai penilai kemampuan siswa. Di sisi lain, peranan pendidik adalah sebagai pendisain dan pelaksana kurikulum, dan tentu saja sebagai manajer kelas dan anak didik.

Dalam pendidikan internasional, para pendidik harus pandai menyelipkan nilai-nilai kemanusian ke dalam semua mata pelajaran dan dalam semua kegiatan secara berkelanjutan. Kegiatan yang dirancang haruslah sedemikian rupa sehingga anak didik tidak hanya belajar ilmu, namun juga belajar nilai.

Tugas ini tentu saja bukan tugas ringan. Apalagi dengan adanya keterbatasan pengetahuan dan pemahaman kita sebagai manusia, namun alangkah baiknya bila kita saling berbagi. Berbagi dalam segala informasi dan pengetahuan, sehingga semua yang kita ajarkan kepada para peserta didik benar-benar yang bermakna.

Dengan belajar sendiri (membaca maupun berdiskusi) maupun mengunjungi sekolah-sekolah yang sudah menerapkan KBK, maka diharapkan semua pendidik memiliki pemahaman serupa tentang KBK. Sehingga ‘pendidikan internasional’ bukan sekedar di kulit belaka, namun bisa diterapkan ke dalam semua level sekolah yang ada di seluruh nusantara.

 

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s