SAINS ISLAM DALAM PERSPEKTIF SEJARAH

Perspektif Islam tentang Ilmu Pengetahuan dan Sains
Diantara fenomena sosial yang mencengangkan dalam sejarah adalah bahwa sebuah masyarakat Arab yang buta huruf pada awalnya dan terisolir secara kultural dari dua peradaban besar Romawi dan Persi, mampu berubah total dan mewariskan sebuah peradaban besar setelah berjaya selama kurang lebih satu milenium (1000 tahun).

SAINS ISLAM DALAM PERSPEKTIF SEJARAH
Perspektif Islam tentang Ilmu Pengetahuan dan Sains
Diantara fenomena sosial yang mencengangkan dalam sejarah adalah bahwa sebuah masyarakat Arab yang buta huruf pada awalnya dan terisolir secara kultural dari dua peradaban besar Romawi dan Persi, mampu berubah total dan mewariskan sebuah peradaban besar setelah berjaya selama kurang lebih satu milenium (1000 tahun). Sebagai bagian dari kejayaan tersebut, pencapaian dalam bidang sains, dan juga teknologi, menjadi prestasi tersendiri dalam sejarah peradaban umat manusia. Diantara faktor-faktor utama yang mendorong itu semua adalah bersumber dari ajaran Islam itu sendiri.
Dalam hal ini, sebagaimana diungkap oleh Al Hassan & Hill, kemajuan peradaban Islam merupakan dampak positif ideologi Islam sebagai sebuah agama. Tak dapat dipungkiri bahwa peran agama Islam sangat mencolok dalam kebangkitan perdaban Arab. Tanpa Islam mungkin pencerahan semacam itu tidak akan terjadi. Lebih jauh, Stanton menjelaskan, bahwa pandangan Islam terhadap sains sebagaimana berkembang pada masa klasik dan dirumuskan pada penghujung masa tersebut, dapat dijelaskan dengan asumsi-asumsi berikut : penelitian ilmiah terikat oleh dua prinsip; kesatuan dan hirarki. Tak ada wujud yang tidak berhubungan dengan secara fisik ataupun simbolik dengan setiap benda lain di jagad raya, dan hubungan ini ditentukan melalui satu hirarki yang berlandaskan agama.
Dalam pengertian luas dapat dikatakan bahwa setiap aktivitas para intelektual musloim berasal dari sumber ajaran Islam, yaitu Al Qur’an. Para ilmuwan Islam tersebut memiliki rasa haus yang sangat besar terhadap ilmu pengetahuan karena didorong semangat keagamaan mereka. Baik astronom, ahli matematika, ahli kimia atau fisika, mereka bekerja untuk mengagungkan Tuhan dan memperjuangkan Islam seperti halnya mereka memadukan dan kemudian mengambil saripati sains yang berasal dari Yunani, Persia dan India. Dalam hal ini Al Qur’an lah yang menjadi sumber inspirasi mereka.
Peran Islam (dalam hal ini Al Qur’an) sebagai sumber inspirasi bagi pencapaian kejayaan sains dapat dijelaskan sebagai berikut. Dimensi dari manusia yang pertama kali disentuh oleh Islam adalah akalnya. Keunggulan kompetitif Adam AS terhadap makhluk lainnya yang diberikan oleh Allah SWT ketika penciptaannya yang pertama, sekaligus sebagai faktor kelaikannya dalam memegang amanah khilafah adalah akalnya. Hal ini tergambar pada ayat tentang penciptaan Adam AS berikut :
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama benda seluruhnya kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman,”Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar”.
Begitu pula, ketika Allah SWT berkenan menutup mata rantai kenabian dan risalah samawi dengan menurunkan Islam sebagai agama terakhir dari Rasul Muhamad SAW sebagai Rasul terakhir, Ia memberinya Kitab Suci Al Qur’an, dimana ayat pertama yang diturunkan sebagai pengukuhan kenabiannya adalah berkaitan dengan pemfungsian akal dengan landasan nilai ketuhanan.
Dengan demikian, baik pada awal penciptaan manusia maupun pada penutupan risalah samawi, Allah SWT telah memberikan semua yang dibutuhkan manusia untuk menunaikan tugasnya sebagai khalifah melalui proses belajar mengajar yang menghasilkan pengetahuan. Isi pengajaran atau muatan ilmu pengetahuan itu sebagiannya disampaikan melalui wahyu, dan sebagiannya lagi melalui proses belajar mengajar di sepanjang kehidupannya. Bahkan, banyak ditegaskan dalamAl Qur’an pula, bahwa fenomena penolakan terhadap agama Allah (dalam bentuk kemusyrikan ataupun kekufuran) disamping dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, tapi untuk sebagiannya dan yang paling mendasar disebabkan oleh kelemahan dalam pemfungsian akal.
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah “ mereka menjawab”(tidak) tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari perbuatan nenek moyang kami” meskipun nenek moyang itu tidak mengetahui sesuatu apapaun dan tidak mendapat petunjuk.
Perkembangan Sains dalam Masa Keemasan Sejarah Islam
Peran para saintis dan ilmuwan muslim pada masa pertengahan tercatat dalam tinta emas sejarah peradaban manusia. Dalam karya monumentalnya Introduction to History of Science, George Sarton melakukana pembagian bab bukunya secara kronologis dan memberi nama setiap bab menurut nama ilmuwan yang paling berpengaruh pada setiap periode yang dibahas. Pada setiap periode 50 tahun, selama masa pertengahan abad ke-2 H (ke-8 M) hingga pertengahan abad ke-5 H (ke-11 M) judul setiap bab diambil dari nama ilmuwan muslim yang semuanya berjumlah tujuh bab. Ada “Masa Al-Khawarizmi” , “Masa Al Biruni” , dan seterusnya. Dari buku Sarton tersebut, Al Hassan & Hill menemukan sekitar seratus nama ilmuwan besar muslim beserta karya-karya utamanya.
Para ilmuwan muslim tersebut memberikan kontribusi dan peran signifikan bagi bangkitnya sebuah peradaban Islam yang mana sumbangan para ilmuwan muslim tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bidang, yaitu :
1. Menterjemahkan peninggalan bangsa Yunani dan menyebarkannya sedemikian rupa, sehingga dapat dikenal luas di dunia Barat seperti sekarang ini.
2. Memperluas pengamatan dalam lapangan ilmu kedokteran, obat-obatan, astronomi,ilmu kimia, ilmu bumi, dan ilmu tumbuh-tumbuhan.
3. Menegaskan sistem desimal dan dasar-dasar aljabar
Pada abad pertengahan, ketika manusia Eropa berada dalam keadaan tidur panjang akibat pengaruh dogma-dogma agama, maka kebudayaan Islam pada masa Abbasiyah berada pada puncak keemasannya. Zaman keemasan Islam tersebut ditandai dengan kemajuan pesat ilmu matematika yang membangun mode matematika baru dengan memperkenalkan sistem desimal. Filosof muslim Al Khawarizmi yang mengembangkan trigonometri dengan memperkenalkan teori sinus dan cosinus, tangent dan cotangent. Ilmu Fisika menampilkan Fisikawan asal Baghdad, Musa Ibnu Sakir dan putra-putranya Muhammad, Ahmnad, dan Hasan, yang mengarang Kitab Al Hiyal, yang menggambarkan hukum-hukum mekanika dan problem stabilitas. Ibnu Al Haitham (965-1039) yang mengarang kitab Al Manazhir, yang membuktikan hukum refraksi cahaya.
Bidang astronomi, pada awalnya menerjemahkan karya-karya di bidang astronomi klasik pada masa Bani Umayyah dan dilanjutkan pada zaman Bani Abbasiyah awal. Ibnu Habib al Fazari merupakan ilmuwan muslim pertama yang menerjemahkan karya Ptolomaeus, Almagest. Begitu pula, Nasiruddin Al Tusi (1201-1274), yang membangun observatorium di Maraghah, dan sangat terkenal di barat karena karya-karyanya dalam bidang astronomi dan pengembangan observatoriumnya. Dia mengkritik Ptolomaeus dan sekaligus menawarkan model planet baru yang disebut “Tusi Couple” dan menghasilkan table-tabel astronomi terakurat yang mempengaruhi karya Nicolaus Copernicus, Johannes Kepler dan Tycho Brache pada abad ke 15 dan 16.
Bidang ilmu kimia menampilkan Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan Al Kufi dari Kufah yang memiliki laboratorium di Damaskus untuk melakukan percobaan kimia dan mengembangkan prosedur-prosedur kimiawi yang bertahan lama. Dalam bidang ilmu kedokteran, Ar Razi merupakan ahli medis muslim pertama yang memimpin Rumah Sakit Rayy dekat Teheran dan kemudian juga memimpin Rumah Sakit di Baghdad. Ar Razi juga menulis buku tentang diet, farmakologi, dan lain-lain. Buku medis lainnya, ditulis oleh Ali Ibnu Abbas Al Ahwazi (940), Kitab Al Malaki, tentang teori dan praktek medis. Salah seorang jenius muslim terbesar dalam bidang kedokteran adalah Ibnu Sina yang mengarang buku teks dalam bidang medis yang diberi nama Al Qanun, kemudian hair menjadi buku standar sewlama 500 tahun di dunia Islam dan Eropa. Ibnu Sina juga meneliti tentang masalah anatomi dan kesehatan anak.
Dalam bidang Geografi, para ilmuwan muslim mengembangkan jarum magnetik untuk dipergunakan dalam navigasi dan penemuan kompas, sehingga mereka berjasa dalam penemuan pulau-pulau baru dan rute lingkar laut Asia, Afrika dan Eropa. Mereka membangun kapal di pabrik-pabrik yang disebut Dar al-Shina’ah (arsenal = gudang senjata) dan setiap kapal memiliki ahlinya yang dinamakan an amir al –bahr (admiral = laksamana). Para ilmuwan muslim ini memakai metode baru untuk menemukan rute perjalanan mereka melalui tata letak bintang dan peta perjalanan laut. Para petualang muslim menjelajahi Cina, Jepang, India, Asia Tengara dan Samudra India, dan Eropa termasuk Skandinavia, Irlandia, Jerman, Perancis dan Rusia. Pada abad ke sembilan ahli geografi muslim, Ahmad Ibnu Ya’qub Al Ya’qubi menggambarkan perjalanannya dalam Kitab Al Buldan, sedangkan Ubaidullah Ibnu Abdullah Ibnu Khurd Dhabah (825-912) mempublikasikan bukunya Al Masalik wa al Mamalik (Garis Edar dan Kerajaan).
Banyak kalangan di dunia Islam beranggapan Abu Raihan Al Biruni (hidup kira-kira 973-1051) termasuk ilmuwan terbesar. Dia mengadakan perjalanan ke Persia dan India dan mencatatkan pengalamannya dalam beberapa seri. Manuskripnya yang berjudul India merupakan hasi pengamatan terbaik tentang agama dan kultur Hindu, yang terkenal pada abad-abad pertengahan baik di Eropa maupun di Timur Tengah. Dia juga menulis buku standar tentang astronomi yang digunakan di lembaga-lembaga pendidikan Islam dan kemudian menjadi bagian dari paket empat bidang studi (quadrivium) di sekolah-sekolah Latin. Sebagai ilmuwan multidisipliner sejati dia menulis karya-karya ilmiah dalam bidang Fisika, matematika, geografi, ilmu pertambangan, astronomi dan astrologi. Sayid Hossein Nasr (1986) menyebutkan karya Al Biruni mencapai 184 judul.
Ali Kattani (1984) menengarai bahwa kemajuan ummat Islam pada masa itu lantaran didiukung oleh oleh semangat sebagai berikut:
1. Universalism; dimana pengembangan sains dan teknologi mengatasi sekat-sekat kesukuan, kebangsaan, bahkan keagamaan
2. Tolerance; dimana sikap tenggang rasa dalam pengembangan sains dan teknologi dimaksudkan untuk membuka cakrawala di kalangan ilmuwan, sehinggga perbedaan pendapat dipandang sebagai pemicu ke arah kemajuan
3. International Character of the Market; dimana pemasaran terhadap hasil-hasil sains dan teknologi merupakan suatu wahana untuk menjamin kontinuitas aktivitas ilmiah itu sendiri, karenanya pasar yang bersifat internasional sangat dibutuhkan
4. Respect for Science and Scientist; dimana penghargaan yang tinggi dalam arti setiap temuan dihargai secara layak dan memadai sebagai hasil jerih payah seseorang atau sekelompok ilmuwan.
5. The Islamic Nature of Both the Ends and Means of Science; dimana sarana dan tujuan pengembangan sains dan teknologi haruslah terkait dengan nilai-nilai agama, sehingga setiap kegiatan ilmiah tidaklah boleh bebas nilai.
Konklusi Kattani di atas, nampaknya dapat disejajarkan dengan apa yang digambarkan pula oleh Al Hassan dan Donald R. Hill, dimana perkembangan sains dan teknologi pada kemajuan Islam tersebut, dalam pandangan mereka dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : Agama dan Kesatuan Budaya dalam Islam, Kebijakan Pemerintah tentang Sains, Peranan Bahasa Arab, Peran Akademi, Sekolah, Observatorium dan institusi pendidikan lainnya, Santunan bagi para Ilmuwan, serta Perdagangan Internasional.
Kronologi Singkat Tokoh-tokoh Sains Islam
701 (wafat) – Khalid Ibn Yazeed – Alkemi / Kimia
721 – Jabir Ibn Haiyan (Geber) – (Bapak Kimia Muslim) , Laboratorium pertama
740 – Al-Asmai – (Zoologi, Botani, Bedah Hewan)
780 – Al-Khawarizmi (Algorizm) – (Matematika, Astronomi)
787 – Al Balkhi, Ja’Far Ibn Muhammad (Albumasar) – Astronomi,
796 (wafat) – Al-Fazari,Ibrahim Ibn Habeeb – Astronomi, Translation
800 – Ibn Ishaq Al-Kindi – (Alkindus) – (Filsafat, Fisika, Optik)
808 – Hunain Ibn Is’haq – Kedokteran, Translator
815 – Al-Dinawari, Abu-Hanifa Ahmed Ibn Dawood – Matematika, Linguistics
836 – Thabit Ibn Qurrah (Thebit) – (Astronomi, Mechanika)
838 – Ali Ibn Rabban Al-Tabari – (Kedokteran, Matematika)
852 – Al Battani ABU abdillah (Albategni) – Matematika, Astronomi, Teknologi
857 – Ibn MasawaihYou’hanna – Kedokteran
858 – Al-Battani (Albategnius) – (Astronomi, Matematika)
860 – Al-Farghani (Al-Fraganus) – (Astronomi, Teknik Sipil)
884 – Al-Razi (Rhazes) – (Kedokteran,Ophthalmology, Kimia)
870 – Al-Farabi (Al-Pharabius) – (Sosiologi, Logika, Sains, Musik)
900 – (wafat) – Abu Hamed Al-ustrulabi – Astronomi
903 – Al-Sufi (Azophi – ( Astronomi)
908 – Thabit Ibn Qurrah – Kedokteran, Teknologi
912 (wafat) – Al-Tamimi Muhammad Ibn Amyal (Attamimi) – Alkemi / Kimia
923 (wafat) – Al-Nirizi, AlFadl Ibn Ahmed (wronge Altibrizi) – Matematika, Astronomi
930 – Ibn Miskawayh, Ahmed Abuali – Kedokteran, Alkemi / Kimia
932 – Ahmed Al-Tabari – Kedokteran
936 – Abu Al-Qasim Al-Zahravi (Albucasis) – (Ilmu Bedah, Kedokteran)
940 – Muhammad Al-Buzjani – (Matematika, Astronomi, Geometri)
950 – Al Majrett’ti Abu-alQasim – Astronomi, Alkemi / Kimia, Matematika
960 (wafat) – Ibn Wahshiyh, Abu Baker – Alkemi / Kimia, Botani
965 – Ibn Al-Haitham (Alhazen) – Fisika, Optik, Matematika)
973 – Abu Raihan Al-Biruni – (Astronomi, Matematika)
976 – Ibn Abil Ashath – Kedokteran
980 – Ibn Sina (Avicenna) – (Kedokteran, Filsafat, Matematika)
983 – Ikhwan A-Safa (Assafa) – (Kelompok Ilmuwan Muslim)
1019 – Al-Hasib Alkarji – Matematika
1029 – Al-Zarqali (Arzachel) – Astronomi (Penemuan Astrolob)
1044 – Omar Al-Khayyam – (Matematika, Sastra)
1060 – (wafat) Ali Ibn Ridwan Abu’Hassan Ali – Kedokteran
1077 – Ibn Abi-Sadia Abul Qasim – Kedokteran
1090 – Ibn Zuhr (Avenzoar) – Ilmu Bedah, Kedokteran 1095 – Ibn Bajah, Mohammed Ibn Yahya
1097 – Ibn Al-Baitar Diauddin (Bitar) – Botani, Kedokteran, Farmakologi
1091 – Ibn Zuhr (Avenzoar) – ( Ilmu Bedah, Kedokteran)
1095 – Ibn Bajah, Mohammad Ibn Yahya (Avenpace) – Filsafat, Kedokteran
1099 – Al-Idrisi (Dreses) – (Geografi –Peta Dunia , Globe Pertama)
1100 – Ibn Tufayl Al-Qaysi – Filsafat, Kedokteran
1120 – (wafat) – Al-Tuhra-ee, Al-Husain Ibn Ali – Alkemi / Kimia, Poem
1128 – Ibn Rushd (Averroe’s) – Filsafat, Kedokteran
1135 – Ibn Maymun, Musa (Maimonides) – Kedokteran, Filsafat
1140 – Al-Badee Al-Ustralabi – Astronomi, Matematika
1155 (wafat) – Abdel-al Rahman AlKhazin – Astronomi
1162 – Al Baghdadi, Abdellateef Muwaffaq – Kedokteran, Geografi
1165 – Ibn A-Rumiyyah Abul’Abbas (Annabati) – Botani
1173 – Rasheed AlDeen Al-Suri – Botani
1184 – Al-Tifashi, Shihabud-Deen (Attifashi) – Metallurgi
1201 – Nasir Al-Din Al-Tusi – (Astronomi, Geometri Non-Euclidean)
1203 – Ibn Abi-Usaibi’ah, Muwaffaq Al-Din – Kedokteran
1204 (wafat) – Al-Bitruji (Alpetragius) – (Astronomi)
1213 – Ibn Al-Nafis Damishqui – (Anatomi)
1236 – Kutb Aldeen Al-Shirazi – Astronomi, Geografi
1248 (wafat) – Ibn Al-Baitar – ( Farmasi, Botani)
1258 – Ibn Al-Banna (Al Murrakishi), Azdi – Kedokteran, Matematika
1262 (wafat) – Al-Hassan Al-Murarakishi – Matematika, Astronomi, Geografi
1273 – Al-Fida (Abdulfeda) – ( Astronomi, Geografi)
1306 – Ibn Al-Shater Al Dimashqi – Astronomi, Matematika
1320 (wafat) – Al Farisi Kamalud-deen Abul-Hassan – Astronomi, Fisika
1341 (wafat) – Al-Jildaki, Muhammad Ibn Aidamer – Alkemi / Kimia
1351 – Ibn Al-Majdi, Abu Abbas Ibn Tanbugha – Matematika, Astronomi
1359 – Ibn Al-Magdi,Shihab-Udden Ibn Tanbugha – Matematika, Astronomi

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s