PERAN ORANG TUA DALAM MEMBANTU ANAK BELAJAR

Oleh Dra. Stephanie Daisy Imelda R

Ibu-Ibu sering mengeluh mengenai prestasi dari putra-putrinya di sekolah, misalnya :

  • “Anak saya kalau di rumah bisa kok, tetapi kalau ulangan lupa semua”.
  • “Saya sudah memanggil guru les dari hari Senin sampai hari Sabtu, tetapi nilainya masih saja merah”.
  • “Saya sudah simpan semua mainan, tidak boleh nonton televisi, tetapi tetap tidak ada perubahan pada nilainya”.
  • “Anak saya pulang sekolah, makan dan langsung belajar sampai malam, nilainya tetap saja merah”, dan sederet keluhan lainnya.

Mengapa hal itu terjadi?

Baiklah, sebelum kita mengupas lebih lanjut mengenai hal-hal yang berkaitan dengan problem atau masalah di atas tadi, kita tinjau terlebih dahulu beberapa poin yang akan kita bahas dengan urutan sebagai berikut :

Apakah Belajar itu? Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar? Sudah belajar, mengapa nilai masih kurang? dan beberapa saran yang mungkin berguna.

1. Apakah Belajar?

Menurut W.S. Winkel, belajar adalah, suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan tersebut bersifat relatif konstan (tetap) dan berbekas.

Jadi ternyata belajar membutuhkan suatu kegiatan yang sifatnya aktif dan dilakukan secara sadar. Hanya memegang buku saja belum dapat diartikan belajar bila seseorang tidak mempelajarinya secara aktif. Tetapi tidak semua perubahan merupakan hasil belajar. Misalnya perubahan yang disebabkan karena pertambahan usia, penyakit yang diderita seseorang, kecelakaan dan sebagainya.

2. Faktor – faktor yang mempengaruhi belajar.

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat dibagi menjadi dua yaitu :

  1. Faktor dari dalam diri sendiri (internal) dan
  2. Faktor dari luar individu (eksternal).

 

1. Faktor dari dalam diri sendiri (internal).

1. Fisik.

  1. Kondisi Umum Jasmani. Yang dimaksud dengan kondisi umum jasmani, seperti sehat, segar, tidak mengantuk. Anak yang belajar dalam kondisi yang segar dan tidak mengantuk akan memperoleh hasil yang lebih baik jika dibandingkan dengan anak yang kurang tidur dan dalam keadaan badan tidak sehat. Makanan bergizi juga tidak kalah pentingnya dalam membentuk kecerdasan anak.
  2. Kondisi Organ-Organ Khusus. Yang dimaksud dengan organ-organ khusus, seperti pengelihatan, pendengaran dan lain-lain. Sebaiknya anak belajar dalam suatu ruangan yang mempunyai penerangan yang cukup dan tenang suasananya. Apabila anak Anda seringkali membuat kesalahan dalam mencatat atau menyalin soal dari papan tulis, ada baiknya Anda berkonsultasi ke dokter mata. Dari pengalaman, ternyata jarang sekali anak menyadari bahwa ia menderita gangguan pada pengelihatannya.

2.Psikis

  1. Intelegensi/Kecerdasan. Intelegensi dibagi menjadi beberapa taraf. Ada taraf rata-rata, tinggi, dan kurang. Taraf tinggi dan kurang juga terbagi lagi menjadi beberapa kriteria. Sebagian besar individu berada dalam taraf rata-rata. Seseorang dikatakan berada pada taraf rata-rata bila ia memiliki IQ antara 91 – 110 (menurut skala Wechsler). Anak yang memiliki IQ di atas rata-rata secara potensial mempunyai kesempatan untuk mendapat nilai baik, lebih besar kemungkinannya dibanding dengan anak-anak yang memiliki IQ di bawah rata-rata. Namun kenyataannya tidaklah selalu demikian. Mengapa? Karena keberhasilan belajar seseorang tidak diukur melalui IQ semata, masih banyak faktor lain yang turut mendukung keberhasilan dalam belajar, misalnya : ketekunan, kerajinan, daya juang, dukungan orang tua, dan sebagainya.
  2. Motivasi. Motivasi yaitu, dorongan untuk melakukan sesuatu sehingga kebutuhan terpenuhi. Motivasi ada dua macam, yaitu motivasi intrinsik (dorongan yang berasal dari dalam diri individu) dan motivasi ekstrinsik (dorongan yang berasal dari luar individu). Dari kedua motivasi tersebut, yang lebih baik adalah motivasi intrinsik. Anak belajar bukan karena takut dipukul atau dimarahi, tetapi ia memiliki kemauan, keinginan untuk mendapat hasil yang baik demi kepuasannya dalam memahami pelajaran di sekolah. Anak yang belajar hanya karena orang tuanya menjaga denga rotan, mungkin hasilnya tidak optimal.
  3. Kesiapan Mental. Bagaimana pandangan anak terhadap suatu mata pelajaran juga mempengaruhi dirinya dalam menerima materi pelajaran tersebut. Pandangan tersebut dapat diperoleh anak melalui orang tua, guru ataupun lingkungannya. Bila orang tua sangat menekankan anak untuk memperhatikan pelajaran Matematika saja, maka akan membuat anak pada akhhirnya mengabaikan dan menyepelekan (menganggap enteng – Red) pelajaran lainnya.

2. Faktor Yang Berasal Dari Luar Individu (Eksternal).

  • Lingkungan Sosial (keluarga, guru, teman). Anak yang berada dalam lingkungan keluarga yang relatif damai, menyenangkan, akan memberikan dampak positif dalam situasi belajarnya. Sebaliknya, keluarga yang selalu dalam keadaan ribut, ayah-ibu sering bertengkar, akan memberikan dampak negatif. Anak menjadi tegang, stress, ketakutan, sehingga energi yang seharusnya dapat dipakai untuk belajar, tidak dapat digunakan secara optimal. Akibatnya prestasinya menjadi tidak baik. Kalau sudah demikian, orang tua menjadi stress, anak dimarahi, orang tua bertengkar, saling menyalahkan, dan akhirnya ini akan menjadi suatu lingkaran setan dan anaklah yang menanggung akibatnya dan paling menderita. Demikian juga pengaruh guru dan teman mempunyai dampak dalam motivasi belajar anak. Guru yang mempunyai sikap pengertian akan membuat anak tidak takut untuk bertanya hal-hal yang belum jelas. Sedangkan guru yang terlalu otoriter dapat mematikan kreativitas anak.
  • Lingkungan non sosial (rumah, sekolah, fasilitas). Sekolah yang mempunyai laboratorium lengkap dapat memberikan pengetahuan yang lebih nyata dan lebih baik dibanding dengan sekolah yang tidak mempunyai laboratorium. Anak yang mempunyai alat tulis lengkap, lebih lancar mengerjakan tugas dibanding anak yang seringkali harus meminjam dari kawannya. Jadi fasilitas ini juga sesuatu yang tidak dapat diabaikan begitu saja karena perannya cukup besar dalam keberhasilan seorang anak.
  • Cara belajar. Setiap anak mempunyai teknik belajar sendiri-sendiri, masing-masing anak berbeda. Ada yang bersuara, ada yang diam saja, dengan membuat ringkasan, sambil mendengarkan musik. Hal ini tidak terlalu berpengaruh terhadap prestasinya bila ia tidak mempunyai disiplin belajar yang baik. Disiplin dalam belajar ini menyangkut beberapa hal, antara lain :
    • waktu belajar yang teratur, bertahap,
    • menyicil (sedikit demi sedikit).
    • menyelesaikan tugas pada waktunya
    • belajar dalam suasana yang mendukung, misalnya tidak sambil nonton televisi, atau sambil makan.

3. Sudah belajar, nilai masih kurang … mengapa?

Orang tua sering bertanya,”Mengapa anak saya sudah belajar, tetapi nilainya “masih kurang saja?”

“Nilai” yang kurang mempunyai pengertian yang berbeda dari tiap orang tua.

Untuk Ibu Ani, nilai 8 (delapan) belum cukup, sementara Ibu Tono sudah cukup puas bila anaknya tidak mendapat angka merah.

Mengapa bisa terjadi hal seperti itu? Siapa sebenarnya yang salah, dan siapa pula yang benar?

Pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab seperti 2 + 2 = …? Karena 2 + 2 = 4, jawabannya pasti. Sedangkan pertanyaan mengenai permasalahan yang penulis ajukan tidak dapat dijawab secara hitam dan putih, atau si A benar dan si B salah.

Segala permasalahan yang menyangkut individu harus dijawab sesuai dengan keadaan dan kemampuan individu itu sendiri.

Untuk mengetahui apakah anak sudah berusaha secara optimal atau belum, kita dapat memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Kemampuan Anak. Setiap anak mempunyai kemampuan yang berbeda. Anak yang IQ-nya cerdas, akan memberikan hasil yang berbeda dengan anak yang IQ-nya di bawah rata-rata.
  2. Rasa percaya diri. Anak yang mempunyai kepercayaan diri yang cukup besar, akan mempunyai daya juang dan ketahanan yang cukup besar bila menemui kegagalan. Ia tidak mudah menyerah atau putus asa. Sebaliknya anak yang kurang percaya diri, walaupun sudah mempersiapkan diri dengan baik, ia tidak dapat mengerjakan tugasnya karena tiba-tiba ia sakit perut, jantung berdebar-debar dan sebagainya. Dalam kondisi seperti ini, anak mendapat nilai jelek bukan karena ia tidak mengerti, tetapi lebih disebabkan faktor psikologis (tegang).
  3. Cepat merasa puas. Hal ini biasanya berhubungan dengan ketelitian. Anak yang cepat merasa puas bila sudah selesai mengerjakan tugas, cenderung untuk tidak memeriksa ulang hasil kerjaannya. Ia akan cepat menyerahkan hasil kerjanya karena merasa sudah sempurna.

4. Beberapa saran

Ada beberapa hal/saran yang dapat dilakukan oleh orang tua pada anak yang prestasinya kurang.

  1. Kenali kemampuan anak Anda. Jangan menuntut anak melebihi kemampuannya. Anak yang sering mendapat tuntutan yang terlalu tinggi, akan mudah menjadi frustasi dan akhirnya menjadi mogok belajar.
  2. Jangan membanding-bandingkan. Orang tua sebaiknya jangan membanding-bandingkan anak dengan kakak atau adiknya mengingat setiap anak mempunyai kemampuan yang berbeda. Anak yang sering dibanding-bandingkan dapat kehilangan kepercayaan diri. Bangkitkanlah rasa percaya diri anak dengan menghargai setiap usaha yang telah dilakukan.
  3. Menerima anak dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
  4. Membantu anak mengatasi masalahnya. Bila anak memang membutuhkan guru les, jangan dipaksakan anak dengan kemampuannya sendiri hanya karena ayah dan ibunya dahulu tidak pernah les.
  5. Tingkatkan semangat belajar anak. Kita dapat melakukan hal ini dengan, misalnya memberi pujian, pelukan, belaian maupun ciuman.
  6. Jangan mencela anak dengan kata-kata yang menyakitkan. Orang tua harus menghindari mencela anak dengan kata-kata, “bodoh”, “tolol”, “otak udang”, dan sebagainya. Anak yang sering mendapat label atau cap seperti itu pada akhirnya akan mempunyai pandangan bahwa dirinya memang bodoh dan tolol.
  7. Mendidik adalah tanggung jawab bersama. Ayah dan Ibu mempunyai tanggung jawab yang sama dalam mendidik anak.
  8. Jangan lupa berdoa agar anak kita mendapat hasil yang terbaik.

Dra. S. Daisy Imelda R., psikolog

sumber :

http://www1.bpkpenabur.or.id/kps-jkt/wydiaw/58/artikel1.htm

Pos ini dipublikasikan di kesehatan, komunikasi, pendidikan, spiritual, teknologi, Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s