ASESMEN PORTOFOLIO DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DAN SAINS[1]

Oleh:Herawati Susilo dan Siti Zubaidah [2]

Salah satu asesmen alternatif yang dapat dipilh guru adalah portofolio. Portofolio adalah kumpulan bukti hasil kinerja yang dikumpulkan  untuk tujuan tertentu dalam waktu tertentu. Perlu dibedakan antara perancang portofolio dan pengembang portofolio. Juga perlu dibedakan antara tujuan penyusunan portofolio dengan pemanfaatan portofolio. Dalam mengembangkan portofolio perlu dipikirkan mengenai bukti apa yang dikumpulkan, apa yang dapat dihitung sebagai bukti, dan bagaimana pengaturan bukti-bukti tersebut. Isi portofolio dalam pembelajaran Matematika dan Sains dapat dinilai menurut kategori apakah menunjukkan keterampilan berpikir  dan kreativitas dalam MIPA, penggunaan metode ilmiah, penemuan dan model yang dikembangkan, keterkaitan MIPA dengan mata pelajaran lain, hasil-hasil bacaannya dalam bidang MIPA, serta keterampilannya menentukan tujuan pembelajaran dan penilaian diri sendiri. Standar untuk menilai, memberi skor, dan memanfaatkan portofolio dalam menentukan nilai akhir dapat dikembangkan sendiri olrh perancangnya dan dapat didiskusikan bersama dengan pengembangnya. Mahasiswa atau siswa yang mengembangkan portofolio memiliki keunggulan dibandingkan yang tidak karena dalam dirinya terbentuk tanggung jawab untuk belajar, menyelesaikan tugas, dan mengevaluasi diri sendiri. Pengembangan portofolio dalam pembelajaran sangat menghabiskan waktu dan tenaga dan sebagai alat penilaian, sulit membandingkan portofolio yang satu dengan lainnya, namun dengan portofolio dosen atau guru dapat mengungkap dan mengidentifikasi kekuatan mahasiswa/siswa serta memberikan kesempatan kepada mereka untuk menunjukkan apa yang telah mereka ketahui. Portofolio juga dapat digunakan untuk memacu motivasi belajar, motivasi meneliti mahasiswa/siswa, dan dalam pengembangannya dapat mengakomodasi perbedaan minat, sikap, serta cara belajar mereka.

 

Kata-kata kunci: portofolio, MIPA.

 

Portofolio adalah suatu kumpulan bukti yang dikumpulkan untuk tujuan tertentu dalam waktu tertentu (Collins, 1992; Glencoe, 1999). Bukti ini berupa dokumen yang dapat digunakan oleh seseorang atau sekelompok orang sebagai asesmen alternatif (misalnya dalam bidang MIPA) untuk menyimpulkan mengenai pengetahuan, keterampilan, dan atau sikap siswa.

Pheeney (1998) menyatakan bahwa portofolio dapat memiliki bentuk dan macam yang berbeda-beda, bisa dibendel dengan penjepit berbentuk spiral, dimasukkan dalam map atau dijilid jadi satu.  Salah satu kunci penyusunan suatu portofolio yang ikut menentukan macam dan bentuknya adalah adanya fokus mengenai tujuannya, yaitu untuk apakah portofolio itu disusun. Kunci lainnya adalah waktunya, yaitu berapa lama waktu penyusunannya.

Batzle (1992) dalam Pheeney (1999) membedakan portofolio menjadi tiga macam yaitu portofolio kerja (working), portofolio pameran (showcase) dan portofolio evaluasi (evaluative). Portofolio kerja berisi semua atau hampir semua karya siswa yang sedangb dalam perkembangan dan karenanya bisa berisi hasil usaha terbaik dan terjeleknya. Umumnya portofolio kerja tidak langsung dievaluasi tetapi dapat digunakan untuk meangases strategi pembelajaran yang akan datang dan meriviu kemajuan siswa dalam waktu tertentu. Portofolio pameran, seperti ditunjukkan oleh namanya, terutama berisi hasil akhir (seperti makalah, laporan proyek, dan contoh-contoh dari upaya terbaik) yang merefleksikan upaya terbaik siswa. Bagaimana memilih hasil akhir ini dapat ditentukan sepenuhnya oleh guru tetapi sringkali mempertimbangkan juga masukan dari siswa. Portofolio ini mungkin atau mungkin tidak digunakan untuk keperluan evaluasi. Sebaliknya portofolio evaluasi berisi semua hasil catatan yang diperlukan oleh guru untuk mengevaluasi siswa dan mungkin berisi lebih dari hasil karya terbaik siswa. Di situ mungkin ditambahkan pula hasil tes atau hasil strategi asesmen lainnya untuk dimasukkan dalam evaluasi akhir siswa. Biasanya pada akhir semester atau akhir waktu penyusunan portofolio, siswa diminta untuk mengubah suatu portofolio kerja menjadi portofolio pameran (dengan memilih karya terbaik dan membuang karya yang kurang memuaskan, menambahnya dengan identitas dokumen), yang pada gilirannya dapat dijadikan portofolio evaluasi (dengan menambahkan kelengkapan lainnya termasuk hasil refleksi diri pengembangnya).

Pembahasan  mengenai portofolio dalam makalah ini meliputi bagaimana perancangan dan pengembangannya, apa tujuan dan pemanfaatannya, bagaimana struktur  dan isinya, bagaimana penyekorannya, apa implikasi pengembangannya bagi mahasiswa/siswa, serta apa implikasinya dalam pembelajaran MIPA.

Bagaimana Perancangan dan Pengembangan Portofolio?

Perancangan portofolio adalah suatu proses penentuan akan digunakan untuk apakah portofolio yang disusun tersebut, yaitu

a. dokumen yang dikumpulkan akan menjadi bukti mengenai apa.

b. bentuk-bentuk bukti yang bagaimana yang akan dimasukkan dalam portofolio tersebut,

c. seberapa banyak bukti yang diperlukan.

Perancang portofolio mungkin guru atau dosen.

Dalam pembelajaran MIPA guru atau dosen dapat merancang portofolio untuk pembelajaran yang diasuhnya selama satu semester 9 seperti yang dikembangkan Susilo untuk mata kuliah Bahasa Inggris Profesi dan Metodologi Penelitian atau untuk salah satu atau beberapa topik dalam mata pelajaran/mata kuliah yang diasuhnya seperti yang dilakukan oleh Ujang Surindra untuk siswa kelas I SMA untuk topik Virus, Ganggang dan Bakteri da`1n topik Jamur.

Pengembangan portofolio merupakan suatu proses pengumpulan dan pengadaan dokumen, penataannya sebagai bukti, dan pengumpulannya menjadi suatu kumpulan bukti yang sesuai tujuan.

Dalam pembelajaran MIPA, pengembang portofolio adalah siswa dan mahasiswa yang mengikuti kuliah atau pelajaran yang dirancang guru atau dosen untuk memanfaatkan portofolio sebagai salah satu asesmen alternatif.. Tetapi perancangan dan pengembangan portofolio dapat didiskusikan bersama oleh guru/dosen dan siswa/mahasiswa yang bersepakat untuk menggunakannya dalam pembelajaran.

Apa Tujuan dan Penggunaan Portofolio?

Terdapat dua hal yang harus dibedakan dalam menyusun suatu portofolio yaitu, berkaitan dengan tujuan dan penggunaannya. Tujuan penyusunan portofolio adalah suatu pernyataan yang tegas mengenai untuk menyatakan pengetahuan dan keterampilan apakah bukti-bukti berupa dokumen di dalam portofolio tersebut. Misalnya dalam contoh di atas Portofolio dikembangkan untuk bukti belajar keras bahasa Inggris atau untuk bukti belajar keras Metode Penelitian Pendidikan.

Reese (1999) memberikan contoh tujuan pembelajaran salah satu topik mata pelajaran fisika tingkat SMA yang akan diases dengan menggunakan portofolio sebagai berikut. Pada akhir pembelajaran unit mengenai gerak, siswa akan dapat menunjukkan penguasaan mereka dalam empat tujuan berikut ini:

¯ Membedakan antara gerak beraturan dan gerak yang dipercepat dan memberikan masing-masing contohnya.

¯ Menetapkan kecepatan rata-rata suatu objek yang sedang bergerak

¯ Menjelaskan setiap perubahan kecepatan dan percepatan dari suatu bola yang dilemparkan ke atas dan kembali ke pelemparnya

¯ Menganalisis gerak suatu objek dengan menyusun suatu grafik yang menunjukkan jarak vs waktu dan kecepatan vs waktu (Jangan lupa memasukkan juga deskripsi dari gerak-gerak yang diwakili oleh grafik tersebut.

Jadi dalam hal ini portofolio yang dikembangkan siswa bertujuan untuk memberikan bukti kepada guru bahwa siswa telah menguasai keempat tujuan pembelajaran tersebut.

Sedangkan penggunaan portofolio dimaksudkan untuk menyatakan bagaimana portofolio itu akan dimanfaatkan. Misalnya untuk digunakan sebagai salah satu penentu nilai akhir Bahasa Inggris atau Metodologi Penelitian  atau penentu nilai akhir salah satu mata pelajaran/mata kuliah lainnya.

Menurut Collins (1992) persyaratan bahwa portofolio itu dibuat dengan tujuan tertentu menyebabkan proses pengembangannya menjadi bebas dan terbatas. Untuk perancangnya, yaitu penentu aspek tujuan dan penggunaannya, aspek yang menjadikannya bebas adalah bahwa kemungkinan pemanfaatan portofolio itu sangatlah beranekaragam, hanya dibatasi oleh imaginasi. Sedangkan keterbatasannya ada dua: yaitu harus jelas tujuan pembentukannya dan disebutkan secara eksplisit, dan keterbatasan kedua adalah diberikan batas waktu dan kesempatan penyusunannya. Bagi pengembangnya, yaitu orang yang mengumpulkan dan menyajikan bukti-bukti ini, pengembangan portofolio itu bebas dalam arti dia bebas mengembangkan idenya mengenai apa yang akan dimasukkan dalam portofolio itu dan terbatas karena isinya harus sesuai dengan tujuan dan kriteria penyusunannya yang sudah ditetapkan pada awal proses.

Bagaimana Struktur Portofolio?

Berkaitan dengan tujuan pengembangan portofolio, perlu dibahas dua pertanyaan penting mengenai strukturnya, yaitu macam bukti apa yang mungkin dikumpulkan, dan apa  yang dapat dihitung sebagai bukti.

1. Macam Bukti dalam Portofolio.

Menurut Collins (1992) macam bukti yang mungkin dikumpulkan ada empat macam yaitu benda atau barang hasil kecerdasan manusia, hasil reproduksi atau fotokopi, hasil pengesahan, dan produksi (hasil).

Benda atau barang hasil kecerdasan manusia adalah dokumen yang dihasilkan dalam kegiatan kerja normal pengembang portofolio. Hal ini dapat berupa laporan praktikum, kumpulan klipping artikel surat kabar, atau hasil ulangan siswa. Untuk mahasiswa ini dapat berupa makalah untuk matakuliah tertentu, catatan kuliah atau catatan observasi atau suatu hasil videotape. Untuk guru, ini dapat berupa rancangan pengajaran, contoh hasil kerja siswa, atau diagram untuk memberi tugas kelompok mahasiswa.

Hasil reproduksi adalah dokumen mengenai peristiwa khusus dalam karya pengembangan portofolio, tetapi peristiwa ini biasanya tidak tertangkap begitu saja. Contoh untuk mahasiswa  calon guru ini dapat berupa rekaman hasil diskusi dengan guru yang berpengalaman pada saat pelaksanaan demonstrasi, atau suatu videotape kelas.

Hasil pengesahan adalah dokumen mengenai kerja seseorang yang disiapkan oleh orang lain yang bukan pengembang portofolio. Untuk mahasiswa calon guru hal ini mungkin dapat berupa surat pernyataan terima kasih atas pelaksanaan tutorial atau bagi guru hasil ini berbentuk surat dari bekas murid atau laporan kunjungan kelas ke kelas rekan guru lain.

Produksi atau hasil adalah dokumen-dokumen yang khusus dipersiapkan untuk mengisi portofolio. Dalam hal ini dokumen tadi paling tidak berisi tiga hal: pernyataan mengenai tujuan pengembangan portofolio, hasil refleksi diri pengembang, dan identitas dokumen.

Pernyataan mengenai tujuan pengembangan portofolio adalah suatu pernyataan pribadi pengembangnya mengenai tujuan pengembangan portofolio oleh orang yang mengembangkannya. Pernyataan tujuan memberikan fokus dalam proses pengembangan portofolio. Tergantung dari tujuan pemakaian portofolio tersebut, tujuan pengembangan ini dapat ditentukan oleh perancangnya atau dipilih sendiri oleh pengembangnya.

Pernyataan mengenai hasil refleksi diri pengembangnya ditulis selama penyusunan portofolio ini diatur untuk persiapan penyerahan untuk evaluasi. Pernyataan ini dapat berupa kesempatan untuk menyebutkan macam dokumen di dalam portofolio, bagaimana memperolehnya dan mempengaruhi pertumbuhan dirinya, serta konteks atau integrasi portofolio.

Bagian terpenting dari produksi adalah identitas dokumen. Identitas dokumen adalah pernyataan yang melekat pada masing-masing dokumen yang menggambarkan apakah dokumen itu, mengapa itu menjadi bukti, dan menjadi bukti mengenai apa. Identitas ini mengubah dokumen menjadi bukti. Identitas dokumen sangat penting karena membantu pengembangnya dalam menjelaskan hasil pemikirannya. Untuk mahasiswa, menulis identitas memberikan kesempatan untuk menguji diri sendiri mengenai apa yang telah dipelajarinya, untuk menyatakan pengetahuannya dengan kata-katanya sendiri. Dengan menulis identitas, mahasiswa dapat menyadari seberapa banyak yang telah dicapainya, terutama apabila dibandingkan dengan bukti sebelumnya di dalam portofolio.

Identitas dokumen itu juga penting bagi penilai portofolio. Bagi penilai, identitas itu memberikan arti bagi setiap dokumen. Tanpa identitas, penilai akan mengalami kesulitan mengapa suatu dokumen dimasukkan dalam portofolio.

Identitas dokumen tidak perlu terlalu panjang ataupun terlalu rinci, boleh singkat saja. Namun identitas ini sangat penting karena membedakan portofolio dalam bidang pendidikan dengan kumpulan materi lainnya yang bukan pendidikan. Perlu dicatat bahwa yang dimaksud dengan “dokumen” ini mungkin saja  diartikan “kertas”, tetapi dalam hal ini boleh saja tidak terbatas pada kertas, dapat pula berupa catatan, draft, jurnal dan buku harian serta gambar sketsa yang dapat digunakan sebagai bukti, selain yang memang berupa makalah akhir yang dipersiapkan secara formal. Lukisan, foto, rekaman audio dan video, model dan disket komputer dapat juga diserahkan sebagai bukti.

2. Apa Yang dapat Dihitung sebagai Bukti (Isi Portofolio).

Lebih lanjut lagi Collins (1992) menguraikan bahwa menentukan apa yang dapat dihitung sebagai bukti sama penting dan sama mendasarnya dengan menentukan tujuan pengembangan portofolio. Oleh karena itu sekaligus perlu ditentukan mengenai bukti apa dan apa yang dapat dihitung sebagai bukti itu. Pilihannya adalah dari seluruh benda, reproduksi yang mungkin ada, dokumen tertentu yang mana yang sudah cukup menjadi bukti untuk memenuhi tujuan pengembangan portofolio tersebut. Lebih sederhana lagi dapat ditanyakan apakah suatu makalah cukup membuktikan bahwa penyusunnya menguasai isi makalah yang ditulisnya? Dan bila ya, mengapa? Perlu diperhatikan bahwa dengan memberikan jawab terhadap pertanyaan-pertanyaan semacam itu, suatu keterangan menjadi penghubung antara bukti mengenai apa dan apa buktinya.

Pengambilan keputusan mengenai apa yang akan dihitung sebagai bukti menyiratkan tiga keputusan lain: siapa yang menentukan mengenai apa saja yang harus dimasukkan, seberapa banyak bukti yang harus disertakan, dan bagaimana pengaturan bukti-bukti tersebut. Mengenai pertanyaan siapa yang memutuskan bukti apa yang harus disertakan perancang portofolio mungkin menyebutkan semua bukti yang mungkin dapat diberikan atau mungkin memberi kemungkinan kebebasan kepada pengembang portofolio untuk memilikinya. Berdasarkan pengalaman, lebih banyak dikombinasikan antara permintaan perancang dan pilihan pengembang sehingga portofolio tersebut cukup kaya dengan bukti tetapi juga cukup individual untuk menonjolkan kelebihan pengembangnya.

Dalam pembelajaran MIPA Glencoe (1999:26) memberikan contoh-contoh bukti yang dapat dimasukkan ke dalam portofolio siswa adalah sebagai berikut.

¯ Laporan proyek atau laporan hasil penelitian individual

¯ Contoh permasalahan atau penyelidikan yang dirumuskan oleh siswa

¯ Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan terbuka atau pekerjaan rumah yang rumit.

¯ Rangkuman hasil membaca artikel dalam jurnal

¯ Karya seni siswa

¯ Laporan mengenai sumbangan yang diberikan/dikerjakan siswa dalam menyelesaikan laporan kelompok

¯ Foto atau sketsa mengenai model fisik untuk mengilustrasikan ide ilmiah

¯ Hasil penilaian guru berupa daftar cek yang menunjukkan perkembangan siswa dalam bidang  ilmu/sikap dan kebiasaan kerja ilmiah

¯ Laporan penggunaan peralatan MIPA, kalkulator, atau komputer dalam penyelidikan atau kegiatan pemecahan masalah.

¯ Autobiografi ilmiah

¯ Pemanfaatan MIPA dalam disiplin ilmu yang lain.

¯ Penjelasan siswa  mengenai masing-masing dokumen dalam portofolio (identitas dokumen, dan dapat ditambahkan juga hasil refleksi diri siswa mengenai manfaat proses pengadaan dokumen dokumen bagi dirinya).

¯ Daftar Isi Portofolio

Pertanyaan mengenai seberapa banyak bukti yang perlu dimasukkan ke dalam portofolio cukup menarik pula. Satu bukti tidak cukup, tapi semua bukti akan terlalu banyak (tidak perlu). Haertel (1991) seperti dikutip oleh Collins (1992) menyarankan agar digunakan “prinsip pertambahan nilai” sebagai petunjuk untuk menjawab pertanyaan mengenai berapa banyak bukti yang perlu dimasukkan dalam suatu portofolio. Pengembang perlu memilih suatu bukti untuk dimasukkan ke dalam portofolio yang dianggap merupakan bukti terbaik sesuai dengan tujuan pengembangan portofolio. Kemudian bukti ke dua dipilih dan pengembangnya menanyakan “Apakah ada tambahan yang meyakinkan bila ditambahkan bukti ini?” Apabila jawabnya “tidak ada tambahan apapun”, artinya batasnya sudah cukup. Menurut pengalaman diperlukan sekitar lima sampai tujuh bukti (sebagian ditentukan, sebagian dipilih sendiri) sebelum siswa merasa cukup puas dengan portofolionya.

Dalam pembelajaran MIPA Glencoe (1999) menyarankan agar dalam pemilihan isi portofolio dipertimbangkan adanya portet yang seimbang dari kinerja siswa. Dalam mengembangkan portofolio harus diingat bahwa sampel dokumen bukti yang dimasukkan hendaknya representatif mewakili pertumbuhan/perkembangan siswa dalam setiap bidang. Jadi guru dan siswa (atau dosen dan mahasiswa) akan mencari bukti-bukti yang menggambarkan terjadinya perkembangan dalam diri siswa dalam hal kecakapan dalam memecahkan masalah, kecakapan dalam menalar dan berpikir kritis, kecakapan beerkomunikasi, dan menghubungkan pembelajaran secara ilmiah dengan kegiatan sehari-hari. Lebih lanjut Glencoe menyebutkan hal-hal penting dalam kurikulum yang harus dipertimbangkan yaitu pernyataan siswa mengenai sikap ilmiah yang dimilikinya seperti motivasi belajarnya, rasa ingin tahunya, dan kepercayaan dirinya. Juga laporan mengenai kecakapan bekerja dalam kelompok dan penggunaan alat-alat teknologi.

Pertanyaan terakhir mengenai struktur portofolio berkaitan dengan bagaimana pengaturan bukti-bukti tersebut. Hal ini bukan pertanyaan mengenai cara penyajian warna kulit wadah dan warna-warni kertas yang menjadi isinya. Tetapi ini pertanyaan mengenai organisasi, bagaimana menyajikan bukti-bukti di dalam portofolio  tersebut sehingga ini semua menjadi kumpulan bukti yang cukup mengenai pengetahuan dan keterampilan pengembangnya. Terdapat banyak pilihan pengaturan termasuk di antaranya secara kronologis berdasarkan urutan waktu pengumpulan bukti, tematis berdasarkan tema pilihan pengembang, dan menurut kelompok bukti. Lebih lanjut kegiatan mengatur bukti ini memberi kesempatan pada pengembangnya untuk memeriksa kembali bukti-bukti tersebut.

Bagaimana Penyekoran Portofolio?

Standar dan metode untuk menilai, memberi skor, memberi nilai, dan/atau mengevaluasi portofolio masih terus berkembang. Salah satu pendekatan untuk memberi skor portofolio adalah melalui penilaian ahli. Hal ini menyiratkan bahwa penilainya mengenali nilai dari keseluruhan tampilan yang disajikan atau sebagai kumpulan dari komponen yang memiliki nilai tinggi dalam praktik yang sesungguh-nya.

Barrow (1993) menggunakan portofolio untuk menilai hasil belajar mahasiswa dalam bidang kimia umum. Lembar untuk menilai portofolio yang dikembangkan mahasiswanya dikembangkannya bersama-sama rekan dosen yang menempuh kuliah seminar bersamanya. Barrow menyertakan lembar penilaian portofolio saat mengembalikan portofolio siswanya yang diminta untuk merespons hasil penilaian tersebut bila dianggap kurang adil; ternyata 8 dari 46 siswanya meresponnya.

Menurut Hibbard (1999) isi portofolio dalam IPA dapat dinilai menurut kategori apakah menunjukkan keterampilan berpikir dan kreativitas dalam IPA, penggunaan metode ilmiah, penemuan dan model yang dikembangkan, keterkaitan IPA dengan mata pelajaran lain, hasil-hasil bacaan dalam bidang IPA serta keterampilannya menentukan tujuan dan penilaian diri sendiri. Lebih lanjut Hibbard merinci unsur-unsur yang dinilai dari segi keterampilan secara keseluruhan. Unsur-unsur tersebut meliputi apakah bukti-bukti yang dikumpulkan dalam setiap kategori menunjukkan berbagai macam karya, identitas setiap kategori jelas sementara narasi refleksi diri dalam setiap kategori mencerminkan kekuatan serta kelemahan penyusunnya dalam kategori tersebut serta menunjukkan perkembangan yang terjadi dalam setiap kategori, serta rancangan masa depan pengembangan kategori itu selanjutnya. Portofolio itu juga selayaknya diberi nilai dari segi pemberian sampul yang jelas labelnya, termasuk nama dosen dan mahasiswanya. Penilaian kelengkapan portofolio meliputi daftar isi dan refleksi diri untuk setiap kategori. Berikutnya adalah penilaian mengenai apakah portofolio menunjukkan pemahaman dari konsep, keterampilan, dan kebiasaan berkarya yang dianggap penting bagi seluruh kelas.

Untuk menilai portofolio dapat dikembangkan suatu rubrik yang berisi keterangan mengenai kriteria performance pembuatnya untuk setiap unsur yang dinilai. Hibbard (1999) misalnya membagi rubrik menjadi 2 bagian besar yaitu Bagus dan Jelek dan masing-masing dibaginya lagi menjadi 3 bagian yaitu sangat bagus, bagus, dan cukup bagus, serta agak jelek, jelek, dan sangat jelek. Kriteria untuk masing-masing unsur itu dapat disepakati antara dosen dan mahasiswa dan dengan dasar itu mahasiswa menilai dirinya sendiri sebelum dinilai juga oleh dosen.

Menurut Slater (1997) strategi penilaian dengan portofolio memberikan kesempatan menilai mahasiswa secara lebih lama, lebih kompleks, dan lebih asli, dibandingkan dengan penilaian hasil tes pilihan ganda yang dijawab dalam waktu sangat singkat.

 

Bagaimana  Implikasi Pengembangan Portofolio bagi Mahasiswa/Siswa?

Menurut Barrow, mahasiswa yang mengembangkan portofolio memiliki keunggulan dibandingkan mereka yang tidak mengembangkannya karena terbentuk tanggung jawab dalam diri mereka untuk belajar, termasuk untuk menghadapi tugas mengevaluasi diri sendiri. Hal ini diperlancar oleh adanya kesempatan bagi siswa untuk menyelidiki masalah yang bagi mereka  unik dan menarik. Mahasiswa pengembang portofolio termotivasi secara intrinsik untuk belajar dan terbantu untuk mengorganisasi dan menyusun hasil belajarnya. Siswa juga melakukan refleksi secara kritis mengenai apa yang perlu mereka ketahui dan penyusunan portofolio membantu mereka merangkai bagian-bagian menjadi suatu keseluruhan.

Portofolio juga memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengklarifikasi masalah melalui diskusi dengan dosen atau melalui interaksi dengan sesama mahasiswa dalam kelompok. Lebih lanjut lagi menurut Slater (1997) melalui penyusunan portofolio mahasiswa dapat menunjukkan bagian-bagian mana yang mereka anggap sulit atau mudah mempelajari atau memahaminya. Mahasiswa tidak cukup hanya menghafal catatan kuliah dan bahan kuliah tetapi mereka harus mengorganisir, mensistesis, dan mendeskripsikan apa yang mereka peroleh dan pelajari. Proses ini memakan banyak waktu karena mahasiswa perlu mengadakan introspeksi diri dan penilaian diri.

Secara umum, menurut Barrow (1993) portofolio menggiatkan lingkungan belajar mahasiswa yang mengembangkan potensi mereka untuk berpikir reflektif, giat belajar dan menjadikan belajar sebagai pusat kegiatan. Sementara itu menurut Everett (1994) portofolio mampu menggantikan penulisan “laporan” yang “kering” dan membosankan karena penulisan portofolio merupakan latihan yang menantang serta lebih berarti karena dapat diterapkan dalam situasi kehidupan nyata sehari-hari.

Bagaimana  Implikasi Pengembangan Portofolio Bagi Pengajaran?

Menurut Barrow (1993) pemanfaatan portofolio untuk menilai kemampuan intelektual dan belajar bermakna dalam IPA itu sangat memakan waktu dan tenaga. Selain itu sebagai alat penilaian, sulit sekali memperbandingkan portofolio yang satu dengan lainnya.

Namun dengan portofolio dosen dapat mengungkap dan mengidentifikasi kekuatan mahasiswa serta memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menunjukkan apa yang mereka ketahui. Mahasiswa dapat dipacu motivasinya untuk menyelidiki lebih lanjut masalah yang pada mulanya sama sekali tidak menarik perhatian mereka. Lebih lanjut lagi portofolio dapat dikembangkan oleh semua mahasiswa karena dalam pengembangannya masih dimungkinkan adanya perbedaan cara belajar, sikap dan minat mahasiswa.

Menurut Slater (1997) keuntungan utama penyusunan portofolio adalah bahwa mahasiswa mencoba mengintegrasikan fakta-fakta yang dijumpainya untuk membentuk konsep yang lebih luas dan lebih mewakili. Oleh karena itu kewajiban untuk belajar dan menilai bergeser dari dosen ke mahasiswa. Mahasiswa menyusun portofolio untuk mengumpulkan dan menyajikan bukti mengenai apa yang sudah mereka kuasai, yang mereka sajikan secara khas menurut pribadi masing-masing. Jadi berbeda dengan tes pilihan ganda yang mencoba menentu-kan apa yang tidak diketahui mahasiswa, dalam penilaian dengan portofolio ini ditekankan apa yang sudah diketahui mahasiswa.

Dalam portofolio juga terkandung pernyataan refleksi diri mahasiswa. Pernyataan ini menggambarkan bagaimana mahasiswa mempelajari bahan tersebut, mengapa penyajian bukti itu menunjukkan penguasaan materi dan mengapa hal itu relevan dengan konteks di luar kelas. Refleksi diri ini menunjukkan dengan jelas kepada pembaca proses belajar yang terjadi pada diri si pembelajar.

Penutup

Silakan mencoba menggunakan Portofolio dalam perkuliahan yang Bapak/Ibu bina. Apabila selama ini Bapak/Ibu belum pernah menggunakannya, sebaiknya mulai dengan portofolio sederhana untuk salah satu atau dua topik. Hal ini dapat dimulai dengan mendiskusikan dengan mahasiswa ide Bapak/Ibu untuk mencoba mengembangkan portofolio untuk perkuliahan tersebut. Silakan juga membaca sumber-sumber lain mengenai portofolio sebelum mendiskusikannya dengan mahasiswa. Pertimbangkan prosedur yang disarankan Glencoe (1999) sebagai berikut.

¯ Mintalah  mahasiswa menggunakan map untuk menyimpan semua hasil karyanya dalam portofolio kerja.

¯ Diskusikan dengan mahasiswa apa yang sebaiknya dimasukkan dalam portofolio

¯ Diskusikan format portofolio yang baik: rapi, diketik atau ditulis dengan tinta hitam, berisi daftar isi, pernyataan pribadi mengenai mengapa masing-masing bukti di dalamnya itu berfungsi sebagai bukti.

¯ Berikan berbagai macam tugas yang dapat menghasilkan kumpulan bukti dalam portofolio yang merefleksikan berbagai macam hasil perkembanagan mahasiswa: kerja kelompok, proyek dan penyelidikan, jurnal belajar, dsb.

¯ Mintalah mahasiswa mengembangkan portofolio evaluasi mereka yang pertama dari portofolio kerja mereka.

¯ Mintalah mahasiswa untuk salaing meriviu portofolio pertama mahasiswa lainnya sehingga mereka dapat mengamati hasil karya temannya.

¯ Diskusikan bagaimana portofolio evaluasi itu harus dievaluasi.

Diskusikan dengan masing-masing mahasiswa untuk memepersiapkan dia mengembangkan portofolio selanjutnya.

Pertama kalinya Bapak/Ibu menggunakan portofolio untuk pembelajaran akan merupakan proses belajar bagi Bapak/Ibu dan bagi mahasiswa Bapak/Ibu. Dari hasil pengalaman pertama menggunakan portofolio ini, berikutnya dapat ditingkatkan keefektifan Bapak/Ibu dalam membimbing dan mengarahkan mahasiswa untuk mengembangkan portofolio untuk evaluasi. Walaupun pada awalnya penggunaan portofolio tampaknya  merupakan kerja ekstra, penggunaannya dalam pembelajaran akan sangat memperkaya proses belajar mengajar MIPA. Selamat Mencoba.

 

Bahan Rujukan

Barrow, Dorian A. 1993. The Use of Portofolio to Assess Student Learning. A Florida College’s Experiment In a General Chemistry Class. Journal of College Science Teaching XXII (3): 148–153.

Collins, Angelo. 1992. Portofolio for Science Education: Issues in Purpose, Structure, and Authenticity. Science Education 76 (4): 451–463.

Everett, Elizabeth. 1994. Do The Write Thing. The Science Teacher 61 (7): 34–37.

Glencoe. 1999. Alternative Assessment in the Science Classroom. New York: McGraw Hill.

Hillbard, K. Michael. 1999. Performance Assessment in the Science Classroom. New York: McGraw Hill.

Pheeney, Pierette. 1998. A Portfolio Primer. Helping teachers make the most of this assessment tool. The Science Teacher. October: 36-39.

Reese, Barbara F. 1999. Phenomenal Portfolios. A First year teacher uses portfolios to encourage concept mastery. The Science Teacher November:24-28

Slater, F. Timothy. 1997. The Effectiveness of Portofolio Assessments in Science. Integrating an Alternative, Holistic Approach to Learning into the Classroom. Journal of College Science Teaching XXVI (5): 315–318.

 

 

 


[1] Makalah disajikan dalam Seminar dan Workshop Calon Fasilitator dalam Kegiatan Kolaborasi FMIPA UM-MGMP-MIPA di  FMIPA UM, 19 dan 20 Maret 2004.

[2] Prof Dra. Herawati Susilo, M.Sc. Ph.D dan Dra. Siti Zubaidah, M.Pd.adalah dosen Jurusan Biologi FMIPA UM.

Pos ini dipublikasikan di pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s