BRONKOPNEUMONIA

PENDAHULUAN
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan di seluruh dunia, baik di negara maju maupun di negara berkembang termasuk Indonesia. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan dan angka kematian karena ISPA khususnya pneumonia atau bronkopneumonia, terutama pada bayi dan anak balita. 1
Beberapa faktor resiko yang meningkatkan angka insiden atau beratnya pneumonia pada anak-anak adalah lahir prematur, fibrosis kistik, malnutrisi, status sosio-ekonomi rendah, perokok pasif, dan pekerja di pusat perawatan harian.2

DEFINISI
Pneumonia adalah infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang mengenai parenkim paru. Menurut anatomis, pneumonia pada anak dibedakan menjadi pneumonia lobaris, pneumonia intertisialis, dan bronkopneumonia.3

EPIDEMIOLOGI
Di Amerika pneumonia merupakan peringkat ke-6 dari semua penyebab kematian dan peringkat pertama dari seluruh penyakit infeksi, angka kematian akibat pneumonia mencapai 25% di Spanyol dan 12% atau 25-30 per 100.000 penduduk di Inggris dan Amerika. 1
Menurut WHO, 95% pneumonia pada anak-anak di dunia terdapat di negara-negara berkembang. Infeksi saluran napas bawah menjadi kedua teratas penyebab kematian pada anak-anak di bawah 5 tahun (sekitar 2,1 juta [19,6%]).4

ETIOLOGI
Agen spesifik penyebab tidak dapat diidentifikasi dalam 40-60% dari kasus. Virus merupakan agen penyebab terbanyak pada bronkopneumonia pada anak-anak. Kira-kira 50% dari bronkopneumonia virus disebabkan oleh virus respiratory syncytial virus (RSV). Sekitar 25% disebabkan oleh parainfluenza dan sebagian kecil oleh influenza A dan B atau adenovirus.2 Indikator yang sangat berguna dalam memperkirakan agen penyebab bronkopneumonia adalah kelompok umur. 5
Berikut agen penyebab bronkopneumonia berdasarkan kelompok umur:6
1. Kelompok semua umur
a. Respiratory syncytial virus
b. Influenza
c. Cytomegalivirus
d. Parainfluenza
e. Adenovirus
f. Human metapneumovirus
g. Rhinovirus

2. Neonatus
a. Streptococcus grup B
b. Gram negatif
c. Listeria monocytogenes
3. 1 sampai 3 bulan
a. Chlamydia trachomatis
b. Staphylococcus aureus
c. Streptococcus pneumoniae
4. 4 bulan sampai 5 tahun
a. Streptococcus pneumoniae
b. Nontypeable Haemophilus influenza
5. 5 tahun ke atas
a. Mycoplasma pneumoniae
b. Chlamydia pneumoniae
c. Streptococcus pneumoniae

PATOGENESIS
Pneumococcus masuk ke dalam paru melalui jalan pernapasan secara percikan (droplet). Proses radang pneumonia dapat dibagi atas 4 stadium, yaitu: 7
1. Stadium kongesti
Kapiler melebar dan kongesti serta di dalam alveolus terdapat eksudat jernih, bakteri dalam jumlah banyak, beberapa netrofil dan makrofag.
2. Stadium hepatisasi merah
Lobus dan lobulus yang terkena menjadi padat dan tidak mengandung udara, warna menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar. Dalam alveolus didapatkan fibrin, leukosit, neutrofil, eksudat dan banyak sekali eritrosit dan kuman. Stadium ini berlangsung sangat pendek.
3. Stadium hepatisasi kelabu
Lobus masih tetap padat dan warna merah menjadi pucat kelabu. Permukaan pleura suram karena diliputi oleh fibrin. Alveolus terisi fibrin dan leuksoit, tempat terjadi fagositosis pneumococcus. Kapiler tidak lagi kongestif.
4. Stadium resolusi
Eksudat berkurang. Dalam alveolus makrofag bertambah dan leukosit mengalami nekrosis dan degenerasi lemak. Fibrin diresorbsi dan menghilang. Secara patologi anatomi bronkopneumonia berbeda dari pneumonia lobaris dalam hal lokalisasi sebagai bercak-bercak dengan distribusi yang tidak teratur. Dengan pengobatan antibiotik urutan stadium khas ini tidak terlihat.
GEJALA KLINIS
Pasien biasanya mengalami demam tinggi, batuk, gelisah, rewel, dan sesak napas. Pada bayi, gejalanya tidak khas, seringkali tanpa demam dan batuk. Anak besar kadang mengeluh nyeri kepala, nyeri abdomen disertai muntah.8
Manifestasi klinis yang terjadi akan berbeda-beda berdasarkan kelompok umur tertentu. Pada neonatus sering dijumpai takipnu, retraksi dinding dada, grunting, dan sianosis. Pada bayi-bayi yang lebih tua jarang ditemukan grunting. Gejala yang sering terlihat adalah takipnu, retraksi, sianosis, batuk, panas, dan iritabel. 8
Pada anak pra sekolah, gejala yang sering terjadi adalah demam, batuk (non produktif/produktif), takipnu, dan dispneu yang ditandai dengan retraksi dinding dada. Pada kelompok anak sekolah dan remaja, dapat dijumpai panas, batuk (non produktif/produktif), nyeri dada, nyeri kepala, dehidrasi dan letargi. Pada semua kelompok umur, akan dijumpai adanya napas cuping hidung. 8
Pada auskultasi dapat terdengar suara pernapasan menurun. Fine crackles (ronki basah halus) yang khas pada anak besar, bisa tidak ditemukan pada bayi. Gejala lain pada anak besar, tidak adalah dull (redup) pada perkusi, vokal fremitus menurun, suara napas menurun, dan terdengar fine crackles (ronki basah halus) di daerah yang terkena.iritasi pleura akan menyebabkan nyeri dada, bila berat gerakan dada menurun waktu inspirasi, anak berbaring ke arah yang sakit dengan kaki fleksi. Rasa nyeri dapat menjalar ke leher, bahu, dan perut.8
LABORATORIUM
Tes laboratorium dipilih untuk mengidentifikasi agen penyebab. Sayangnya tidak ada gold standard pada bronkopneumonia. Macam-macam dari tes ini berdasarkan kegunaan dan kemampuan melakukannya yang lebih baik agar mendapatkan efek perubahan dalam manajemen atau follow up penyakit.2
Sel darah komplit sebaiknya dipertimbangkan pada pasien dugaan bronkopneumonia. Pada kasus bronkopneumonia bakteri, sel darah putih biasanya meningkat dengan predominan sel PMN. Leukositosis dapat terjadi pada infeksi karena adenovirus dan virus influenza atau infeksi mycoplasma. Leukopenia dapat juga ditemukan pada infeksi virus. Tetapi, gambaran dari infeksi bakteri menunjukkan beratnya atau banyaknya infeksi terjadi. 2
Kultur darah sebaiknya dilakukan pada pasien dicurigai bronkopneumonia bakteri. Kultur darah memperlihatkan rendahnya sensitivitas tetapi masih bisa untuk identifikasi patogen penyebab dan pengaruh agen antimikroba. Hasil positif didapatkan pada 10-30% pasien bronkopneumonia. 2
Kultur bakteri dari sampel nasofaring dan kerongkongan tidak ada nilai prediktif. Tetapi kultur sputum dari anak besar dan remaja dapat berguna. Deteksi IgM mycoplasma dengan ELISA merupakan teknik sensitif dan sebaiknya dipertimbangkan untuk abak usia 2 tahun atau lebih.2

FOTO ROENTGEN
Foto roentgen toraks proyeksi posterior-anterior merupakan dasar diagnosis utama pneumonia. Foto lateral dibuat bila diperlukan informasi tambahan, misalnya efusi pleura. Pada bayi dan anak yang kecil gambaran radiologi seringkali tidak sesuai dengan gambaran klinis. Tidak jarang secara klinis tidak ditemukan apa-apa tetapi gambaran foto toraks menunjukkan pneumonia berat. Foto toraks tidak dapat membedakan antara pneumonia bakteri dari pneumonia virus. Gambaran radiologis yang klasik dapat dibedakan menjadi tiga macam:8
1. Konsolidasi lobar atau segmental disertai adanya air bronchgram, biasanya disebabkan infeksi akibat Pneumococcus atau bakteri lain.
2. Pneumonia intertisial, biasanya karena virus atau mycoplasma; gambaran berupa corakan bronchovaskular bertambah, peribronchial cuffing, dan overaeration; bila berat terjadi pachy consolidation karena atelektasis.
3. Gambaran pneumonia karena S. aureus dan bakteri lain biasanya menunjukksn gambaran bilateral yang difus, corakan peribronchial yang bertambah, dan tampak infiltrat halus sampai ke perifer.
Staphylococcus pneumonia juga sering dihubungkan dengan pneumatocelle dan efusi pleural (empiema), sedangkan Mycoplasma akan memberi gambaran berupa infiltrat retikulonodular yang terlokalisir di satu lobus.8
Ketepatan perkiraan etiologi dari gambaran foto toraks masih dipertanyakan. Namun para ahli sepakat adanya infilrat alveolar menunjukkan penyebab bakteri sehingga pasien perlu diberi antibiotika.8

TERAPI
Pada anak yang sehat, infeksi oleh patogen virus biasanya hanya membutuhkan perawatan suportif saja. Kebanyakan anak-anak yang terinfeksi oleh virus tidak membutuhkan antibiotik. Bagaimanapun juga sangat penting mengingat sebaiknya kita berjaga-jaga untuk memilih antibiotik dalam penatalaksanaannya untuk mengurangi kematian dan kesakitan. Terapi untuk patogen bakteri berdasarkan empiris.5
Pemberian antibiotik yang direkomendasikan:5
1st line B Lactam: Benzylpenicillin, Amoxycillin, Ampicillin, Amoxycillin-
Clavulanate
2nd line Cephalosporins : Cefotaxime, Cefuroxime, Ceftazidime
3rd line Carbapenem: Imipenam
Lainnya Aminoglycosides: Gentamicin, Amikacin

Terapi suportif:5
1. Cairan
Oral intake sebaiknya dihentikan ketika anak dalam distres pernapasan. Pada bronkopneumonia berat, hormon anti diuretik meningkat yang mana artinya akan menyebabkan dehidrasi.
2. Oksigen
Oksigen menurunkan kematian pada kasus bronkopneumonia berat. Sebaiknya diberikan terutama kepada anak yang kelelahan, takipneu dengan retraksi dada berat, sianosis atau tidak mendapatkan makanan. Hal ini penting untuk menjaga SaO2 diatas 95%.
3. Obat batuk
Tidak direkomendasikan karena menekan batuk dan dapat mengganggu bersihnya jalan napas.
4. Obat demam
Rarional penggunaannya hanya untuk mengurangi ketidaknyamanan dari gejala.
5. Fisioterapi dada
Fungsinya untuk membantu menghilangkan sekret trakheobronkhial. Tujuannya adalah untuk menghilangkan obstruksi jalan napas, meningkatkan pertukaran gas dan mengurangi kerja napas. Tidak ada anjuran untuk melakukan fisioterapi ini pada bronkopneumonia.

DIAGNOSIS BANDING4
1. Acute Respiratory Distress Syndrome
2. Asthma
3. Bronchitis
4. Pediatrics, Respiratory Distress Syndrome
5. Pneumonia, Aspiration
6. Pneumonia, Bacterial
7. Pneumonia, Empyema and Abscess
8. Pneumonia, Immunocompromised
9. Pneumonia, Mycoplasma
10. Smoke Inhalation

DAFTAR PUSTAKA

1. Heriyana, Amiruddin, R. Ansar, J. “Analisis faktor risiko kejadian pneumonia pada anak umur kurang 1 tahun di rsud labuang baji kota makassar.” J Med Nus. Vol 26. No.3. Juli-September. 2005. 140-155
2. “Guideline For The Diagnosis and Management of Community Acquired Pneumonia:Pediatric”.www.topalbertadoctors.org/NR/rdonlyres/39CED6AF-08F7-49C9-A45D-AF8FCA86AFD1/0/CAP_pediatric.pdf. (diakses tanggal 12 Mei 2008)
3. Mansjoer, A, (edt). Pneumonia. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga. Jilid 2. Media Aesculapius FKUI. 2000. Jakarta. 465-468
4. Lakshmi V Atkuri, MD. Pediatrics Pneumonia. http://www.emedicine.com (diakses tanggal 12 Mei 2008)
5. Pneumonia. http://www.mpaeds.org.my/PaediatricProtocols/26.%20Pneumonia.pdf (diakses tanggal 12 Mei 2008)
6. Fredric D. Burg, MD. Et all. Pneumonia. in: Current Pediatric Therapy. 18th ed. Saunders. Elsevier. Philadelphia. 20006.
7. Hasan, R (edt). Pneumonia. Dalam: Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jilid 3. Cetakan ke-9. Percetakan Infomedika. Jakarta. 2000. 1229-1230
8. Poesponegoro, HD (edt). Pneumonia. Dalam: “Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak”. Edisi 2004. IDAI. Jakarta. 2004. 351-354

Pos ini dipublikasikan di kesehatan, pendidikan, teknologi, Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s