Duduk dalam Kesendirian

bagaimanakah keadaan dikala duduk dalam kesendirian. untuk lebih jelasnya klik disini.

Dipublikasi di informasi, pendidikan, sosial, Uncategorized | Meninggalkan komentar

panduan umum pengembangan silabus

I.        PENDAHULUAN

 

A. Gambaran Umum

 

Pemberlakuan peraturan dan perundangan-undangan yang berkaitan dengan pelaksanaan otonomi pendidikan menuntut adanya upaya pembagian kewenangan dalam berbagai bidang pemerintahan. Hal tersebut membawa implikasi terhadap sistem dan penyelenggaraan pendidikan termasuk pengembangan dan pelaksanaan kurikulum. Tiga hal penting yang perlu mendapat perhatian, yaitu:

 

1.   Diversifikasi Kurikulum yang merupakan proses penyesuaian, perluasan, pendalaman materi pembelajaran agar dapat melayani keberagaman kebutuhan dan tingkat kemampuan peserta didik serta kebutuhan daerah/lokal dengan berbagai kompleksitasnya.

2.   Penetapan Standar Kompetensi (SK), dimaksudkan untuk menetapkan ukuran minimal atau secukupnya, mencakup kemampuan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dicapai, diketahui, dilakukan, dan mahir dilakukan oleh peserta didik pada setiap tingkatan secara maju dan berkelanjutan sebagai upaya kendali dan jaminan mutu.

3.   Pembagian kewenangan antara Pemerintah Pusat dan Provinsi/ Kabupaten/Kota sebagai Daerah Otonomi merupakan pijakan utama untuk lebih memberdayakan daerah dalam penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan potensi daerah yang bersangkutan.

 

Untuk merespon ketiga hal tersebut di atas, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) telah melakukan penyusunan Standar Isi (SI), yang kemudian dituangkan kedalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 22 tahun 2006, yang mencakup komponen:

 

1.   Standar Kompetensi (SK), merupakan ukuran kemampuan minimal yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap yang harus dicapai, diketahui, dan mahir dilakukan oleh peserta didik pada setiap tingkatan dari suatu materi yang diajarkan.

2.   Kompetensi Dasar (KD), merupakan penjabaran SK peserta didik yang cakupan materinya lebih sempit dibanding dengan SK peserta didik.

 

B. Pendidikan Berbasis Kompetensi

 

Undang-Undang (UU) Republik Indonesia (RI) nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab II Pasal 3 menjelaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bemartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

 

Standar kompetensi lulusan (SKL) suatu jenjang pendidikan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional mencakup komponen ketakwaan, akhlak, pengetahuan, ketrampilan, kecakapan, kemandirian, kreativitas, kesehatan, dan kewarganegaraan. Semua komponen pada tujuan pendidikan nasional harus tecermin pada kurikulum dan sistem pembelajaran pada semua jenjang pendidikan. Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, tugas sekolah adalah mengembangkan potensi peserta didik secara optimal menjadi kemampuan untuk hidup di masyarakat dan ikut menyejahterakan masyarakat. Lulusan suatu jenjang pendidikan harus memiliki pengetahuan dan keterampilan serta berperilaku yang baik.

 

Untuk itu peserta didik harus mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki sesuai dengan standar yang ditetapkan.

 

SKL merupakan bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan yang diarahkan untuk pengembangan potensi peserta didik sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi, seni, serta pergeseran paradigma pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik.

 

SKL adalah satu dari 8 standar nasional pendidikan (SNP), yang merupakan kompetensi lulusan minimal yang berlaku di wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan adanya SKL, kita memiliki patok mutu, baik evaluasi bersifat mikro seperti kualitas proses dan kualitas produk pembelajaran, maupun evaluasi makro seperti efektivitas dan efisiensi program pendidikan, sehingga ke depan pendidikan kita akan melahirkan standar mutu yang dapat dipertanggungjawabkan pada setiap jalur, jenis dan jenjang pendidikan. SKL mata pelajaran selanjutnya dijabarkan ke dalam SK dan KD.

 

Selain mengacu pada SKL, pengembangan SK peserta didik dalam suatu mata pelajaran juga mengacu pada struktur keilmuan dan perkembangan peserta didik, yang dikembangkan oleh para pakar mata pelajaran, pakar pendidikan dan pakar psikologi perkembangan, dengan mengacu pada prinsip-prinsip:

 

1.    Peningkatan  Keimanan, Budi Pekerti  Luhur,  dan Penghayatan Nilai-Nilai Budaya.

Keimanan, budi pekerti luhur, dan nilai-nilai budaya perlu digali, dipahami, dan diamalkan untuk mewujudkan karakter dan martabat bangsa.

 

2.    Keseimbangan Etika, Logika, Estetika, dan Kinestetika.

Kegiatan Pembelajaran dirancang dengan memperhatikan keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinestetika.

 

3.    Penguatan Integritas Nasional.

Penguatan integritas nasional dicapai melalui pendidikan yang menumbuhkembangkan dalam diri peserta didik sebagai bangsa Indonesia melalui pemahaman dan penghargaan terhadap perkembangan budaya dan peradaban bangsa Indonesia yang mampu memberikan sumbangan terhadap peradaban dunia.

4.    Perkembangan Pengetahuan dan Teknologi Informasi.

Kemampuan berpikir dan belajar dengan cara mengakses, memilih, dan menilai pengetahuan untuk mengatasi situasi yang cepat berubah dan penuh ketidakpastian serta menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi.

 

5.    Pengembangan Kecakapan Hidup.

Kurikulum mengembangkan kecakapan hidup  melalui budaya membaca, menulis, dan kecakapan hitung; keterampilan, sikap, dan perilaku adaptif, kreatif, kooperatif, dan kompetitif; dan kemampuan bertahan hidup.

 

6.    Pilar Pendidikan.

Kurikulum mengorganisasikan fondasi belajar ke dalam lima pilar sesuai dengan Panduan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; (b) belajar untuk memahami dan menghayati; (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif; (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain; dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

 

7.    Menyeluruh dan Berkesinambungan.

Kompetensi mencakup keseluruhan dimensi kemampuan yaitu pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap, pola pikir dan perilaku yang disajikan secara berkesinambungan mulai dari usia taman kanak-kanak atau raudhatul athfal sampai dengan pendidikan menengah.

 

8.    Belajar Sepanjang Hayat.

Pendidikan diarahkan pada proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlanjut sepanjang hayat dengan mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, sambil memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.

 

SK peserta didik dalam suatu mata pelajaran dijabarkan dari SKL lulusan, yakni kompetensi-kompetensi minimal yang harus dikuasai lulusan tertentu. Kemampuan yang dimiliki lulusan dicirikan dengan pengetahuan dan kemampuan atau kompetensi lulusan yang merupakan modal utama untuk bersaing di tingkat global, karena persaingan yang terjadi adalah pada kemampuan sumber daya manusia (SDM). Oleh karena itu, penerapan pendidikan berbasis kompetensi diharapkan akan menghasilkan lulusan yang mampu berkompetisi di tingkat regional, nasional, dan global.

 

Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan sekolah dalam mengelola proses pembelajaran, dan lebih khusus lagi adalah proses pembelajaran yang terjadi di kelas. Sesuai dengan prinsip otonomi dan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS), pelaksana pembelajaran, dalam hal ini guru, perlu diberi keleluasaan dan diharapkan mampu menyiapkan silabus, memilih strategi pembelajaran, dan penilaiannya sesuai dengan kondisi dan potensi peserta didik dan lingkungan masing-masing. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka perlu dibuat buku pedoman cara mengembangkan silabus berbasis kompetensi. Pedoman pengembangan silabus yang meliputi dua macam, yaitu pedoman umum dan pedoman khusus untuk setiap mata pelajaran.

 

Pedoman umum pengembangan silabus memberi penjelasan secara umum tentang prosedur dan cara mengembangkan SK dan KD menjadi indikator pencapaian kompetensi, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, sumber belajar. Sedangkan pedoman khusus menjelaskan mekanisme pengembangan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang disertai contoh-contoh untuk lebih memperjelas langkah-langkah pengembangan silabus.

 

C. Kurikulum Berbasis Kompetensi

 

Pendidikan berbasis kompetensi mencakup kurikulum, paedagogi dan penilaian. Oleh karena itu, pengembangan KTSP memiliki pendekatan berbasis kompetensi karena merupakan konsekuensi dari pendidikan berbasis kompetensi. Di dalam SI dinyatakan bahwa: KTSP yang berbasis kompetensi merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi yang dibakukan dan cara pencapaiannya disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan daerah. Kompetensi perlu dicapai secara tuntas (belajar tuntas). Bimbingan diperlukan untuk melayani perbedaan individual melalui program remidial dan pengayaan.

 

Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi harus berkaitan dengan tuntutan SKL, SK dan KD, organisasi kegiatan pembelajaran, dan aktivitas untuk mengembangkan dan memiliki kompetensi seefektif mungkin. Proses pengem­bangan kurikulum berbasis kompetensi menggunakan asumsi bahwa peserta didik yang akan belajar telah memiliki pengetahuan dan keterampilan awal yang dibutuhkan untuk menguasai kompetensi tertentu.

 

D. Pembelajaran Berbasis Kompetensi

 

Pembelajaran berbasis kompetensi adalah program pembelajaran di mana hasil belajar atau kompetensi yang diharapkan dicapai oleh peserta didik, sistem penyampaian, dan indikator pencapaian hasil belajar dirumuskan secara tertulis sejak perencanaan dimulai (McAshan, 1989:19).

 

Dalam pembelajaran berbasis kompetensi perlu ditentukan standar minimum kompetensi yang harus dikuasai peserta didik. Sesuai pendapat tersebut, komponen materi pembela­jaran berbasis kompetensi meliputi: (1) kompetensi yang akan dicapai; (2) strategi penyampaian untuk mencapai kompetensi; (3) sistem evaluasi atau penilaian yang digunakan untuk menentukan keberhasilan peserta didik dalam mencapai kompetensi.

 

Kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik perlu dirumuskan dengan jelas dan spesifik. Perumusan dimaksud hendaknya didasarkan atas prinsip “relevansi dan konsistensi antara kompetensi dengan materi yang dipelajari, waktu yang tersedia, dan kegiatan serta lingkungan belajar yang digunakan” (McAshan, 1989:20). Langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mendapatkan perumusan kompetensi yang jelas dan spesifik, antara lain dengan melaksanakan analisis kebutuhan, analisis tugas, analisis kompetensi, penilaian oleh profesi dan pendapat pakar mata pelajaran, pendekatan teoritik, dan telaah buku teks yang relevan dengan materi yang dipelajari (Kaufman, 1982: 16; Bratton, 1991: 263).

 

Konsep pembelajaran berbasis kompetensi menyaratkan dirumuskannya secara jelas kompetensi yang harus dimiliki atau ditampilkan peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Dengan tolokukur pencapaian kompetensi maka dalam kegiatan pembelajaran  peserta didik akan terhindar dari mempelajari materi yang tidak perlu yaitu materi yang tidak menunjang tercapainya penguasaan kompetensi.

 

Pencapaian setiap kompetensi tersebut terkait erat dengan sistem pembelajaran. Dengan demikian komponen minimal pembelajaran berbasis kompetensi adalah:

a.   pemilihan dan perumusan kompetensi yang tepat.

b.   spesifikasi indikator penilaian untuk menentukan pencapaian kompetensi.

c.    pengembangan sistem penyampaian yang fungsional dan relevan dengan kompetensi dan sistem penilaian.

 

Penerapan konsep dan prinsip pembelajaran berbasis kompetensi diharapkan bermanfaat untuk:

a.   menghindari duplikasi dalam pemberian materi pembelajaran yang disampaikan guru harus benar-benar relevan dengan kompetensi yang ingin dicapai.

b.   mengupayakan konsistensi kompetensi yang ingin dicapai dalam mengajarkan suatu mata pelajaran. Dengan kompetensi yang telah ditentukan secara tertulis, siapa pun yang mengajarkan mata pelajaran tertentu tidak akan bergeser atau menyimpang dari kompetensi dan materi yang telah ditentukan.

c.    meningkatkan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan, kecepatan, dan kesempatan peserta didik.

d.   membantu mempermudah pelaksanaan akreditasi. Pelaksanaan akreditasi akan lebih dipermudah dengan menggunakan tolokukur SK.

e.   memperbarui sistem evaluasi dan pelaporan hasil belajar peserta didik. Dalam pembelajaran berbasis kompetensi, keberhasilan peserta didik diukur dan dilaporkan berdasar pencapaian kompetensi atau subkompetensi tertentu, bukan didasarkan atas perbandingan dengan hasil belajar peserta didik yang lain.

f.     memperjelas komunikasi dengan peserta didik tentang tugas, kegiatan, atau pengalaman belajar yang harus dilakukan dan cara yang digunakan untuk menentukan keberhasilan belajarnya.

g.    meningkatkan akuntabilitas publik. Kompetensi yang telah disusun, divalidasikan, dan dikomunikasikan kepada publik, sehingga dapat digunakan untuk mempertanggungjawabkan kegiatan pembelajaran kepada publik.

h.   memperbaiki sistem sertifikasi. Dengan perumusan kompetensi yang lebih spesifik dan terperinci, sekolah dapat mengeluarkan sertifikat atau transkrip yang menyatakan jenis dan aspek kompetensi yang dicapai.

 

E. Standar Kompetensi

 

1. Standar Kompetensi Lulusan SMA

 

Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) dikembangkan berdasarkan tujuan setiap satuan pendidikan, yakni: Pendidikan Menengah yang terdiri atas SMA/MA/SMALB/Paket C bertujuan: meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

 

Acuan untuk merumuskan kompetensi lulusan dapat berupa landasan yuridis yaitu peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan persyaratan yang ditentukan oleh pengguna lulusan atau dunia kerja (workplace). Secara yuridis, kompetensi lulusan SMA dapat dijabarkan dari perumusan tujuan pendidikan yang terdapat di dalam UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,  Bab II Pasal 3 dijelaskan bahwa Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

 

Selain berdasarkan peraturan perundang-undangan, kompetensi lulusan SMA juga dapat dirumuskan berdasarkan persyaratan yang ditentukan oleh pengguna lulusan atau dunia kerja (workplace/stakeholder). Sebagai contoh di Australia, dalam mengatasi masalah relevansi pendidikan, selalu diusahakan adanya jalinan kerja sama antara sekolah dengan dunia industri.

 

Usaha dimaksud dengan melalui pengintegrasian SK yang ditentukan oleh industri ke dalam kurikulum sekolah. “Dunia industri menentukan standar kompetensi lulusan berupa pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai seseorang agar memiliki kompetensi untuk memasuki dunia kerja” (Adams, 1995: 3). Secara garis besar, kompetensi dimaksud merupakan paduan antara pengetahuan, keterampilan, dan penerapan pengetahuan dan keterampilan tersebut dalam melaksanakan tugas di lapangan kerja. Secara rinci, kompetensi dimaksud meliputi: (a) keterampilan melaksanakan tugas pokok; (b) keterampilan mengelola; (c) keterampilan melaksanakan pengelolaan dalam keadaan mendesak; (d) keterampilan berinteraksi dengan lingkungan kerja dan bekerja sama dengan orang lain; dan (e) keterampilan menjaga kesehatan dan keselamatan kerja.

 

 

Perumusan aspek-aspek kompetensi secara rinci dapat dilakukan dengan menganalisis kompetensi. Bloom et al. (1956: 17) menganalisis kompetensi menjadi tiga aspek, dengan tingkatan yang berbeda-beda setiap aspeknya, yaitu kompetensi:

a.   kognitif, meliputi tingkatan pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan penilaian.

b.   afektif, meliputi pemberian respons, penilaian, apresiasi, dan internalisasi.

c.    psikomotorik, meliputi keterampilan gerak awal, semi rutin dan rutin.

 

Berbeda dengan Bloom, Hall & Jones (1976: 48) membagi kompetensi menjadi 5 macam, yaitu kompetensi:

a.   kognitif yang mencakup pengetahuan, pemahaman, dan perhatian.

b.   afektif yang menyangkut nilai, sikap, minat, dan apresiasi.

c.    penampilan yang menyangkut demonstrasi keterampilan fisik atau psikomotorik.

d.   produk atau konsekuensi yang menyangkut keterampilan melakukan perubahan terhadap pihak lain.

e.   eksploratif atau ekspresif, menyangkut pemberian pengalaman yang mempunyai nilai kegunaan di masa depan, sebagai hasil samping yang positif.

 

Sehubungan dengan kompetensi yang dijabarkan dari tujuan pendidikan nasional, ada dua butir kompetensi yang perlu mendapatkan perhatian yaitu pertama kecakapan hidup (life skill) dan kedua keterampilan sikap.

 

Kecakapan hidup (life skill) merupakan kecakapan untuk menciptakan atau menemukan pemecahan masalah-masalah baru (inovasi) dengan menggunakan fakta, konsep, prinsip, atau prosedur yang telah dipelajari. Penemuan pemecahan masalah baru itu dapat berupa proses maupun produk yang bermanfaat untuk mempertahankan, meningkatkan, atau memperbarui hidup dan kehidupan peserta didik.

 

Kecakapan hidup tersebut diharapkan dapat dicapai melalui berbagai pengalaman belajar peserta didik. Dari berbagai pengalaman mempelajari berbagai materi pembelajaran, diharapkan peserta didik memperoleh hasil samping yang positif berupa upaya memanfaatkan pengetahuan, konsep, prinsip dan prosedur untuk memecahkan masalah baru dalam bentuk kecakapan hidup. Di samping itu, hendaknya kecakapan hidup tersebut diupayakan pencapaiannya dengan mengintegrasikannya pada topik dan pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh, seorang peserta didik tinggal di sebuah kampung pedalaman di tepi sungai. Di sekolah dia telah mempelajari dinamo pembangkit tenaga listrik dan sifat-sifat arus air yang antara lain dapat menggerakkan turbin atau baling-baling. Peserta didik tersebut kemudian memanfaatkan air sungai untuk menggerakkan baling-baling yang dihubungkan dengan dinamo yang digantungkan di permukaan air di tengah sungai, sehingga diperoleh aliran listrik yang dapat digunakan untuk penerangan. Contoh lain, peserta didik yang telah mempelajari bejana berhubungan dan sifat-sifat air yang tidak menghantarkan udara, lalu menciptakan “leher angsa” dari bahan tanah liat untuk penahan bau dalam pembuatan WC, dapat membuat alat untuk menyiram tanaman hias yang digantung.

 

Selain kecakapan yang bersifat teknis (vokasional), kecakapan hidup mencakup juga kecakapan sosial (social skills), misalnya kecakapan mengadakan negosiasi, kecakapan memilih dan mengambil posisi diri, kecakapan mengelola konflik, kecakapan mengadakan hubungan antar pribadi, kecakapan memecahkan masalah, kecakapan mengambil keputusan secara sistematis, kecakapan bekerja dalam sebuah tim, kecakapan berorganisasi, dan lain sebagainya.

 

Keterampilan sikap (afektif) mencakup dua hal. Pertama, sikap yang berkenaan dengan nilai, moral, tata susila, baik, buruk, demokratis, terbuka, dermawan, jujur, teliti, dan lain sebagainya. Kedua, sikap terhadap materi dan kegiatan pembelajaran, seperti menyukai, menyenangi, memandang positif, menaruh minat, dan lain sebagainya. Mengingat sulitnya merumuskan, mengajarkan, dan mengevaluasi aspek afektif, seringkali kompetensi afektif tersebut tidak dimasukkan dalam program pembelajaran. Sama halnya dengan kecakapan hidup, kompetensi afektif hendaknya diupayakan pencapaiannya melalui pengintegrasian dengan topik-topik dan pengalaman belajar yang relevan.

 

Sejalan dengan tujuan pendidikan nasional, kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh lulusan atau tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA.) dapat dirumuskan sebagai berikut:

a.     Berkenaan dengan aspek afektif, peserta didik memiliki keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai ajaran agama masing-masing yang tercermin dalam perilaku sehari-hari; memiliki nilai-nilai etika dan estetika, serta mampu mengamalkan dan mengekspresikannya dalam kehidupan sehari-hari; memiliki nilai-nilai demokrasi, toleransi, dan humaniora, serta menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara baik dalam lingkup nasional maupun global.

b.     Berkenaan dengan aspek kognitif, menguasai ilmu, teknologi, dan kemampuan akademik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

c.     Berkenaan dengan aspek psikomotorik, memiliki keterampilan berkomunikasi, kecakapan hidup, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan lingkungan sosial, budaya dan lingkungan alam baik lokal, regional, maupun global; memiliki kesehatan jasmani dan rohani yang bermanfaat untuk melaksanakan tugas/kegiatan sehari-hari.

 

 

 

Berdasarkan rumusan tersebut, maka kompetensi dapat dikelompokkan menjadi kompetensi yang berkenaan dengan bidang moral keagamaan, kemanusiaan (humaniora), komunikasi, estetika, dan IPTEK.

 

Hal ini tercantum dalam Permendiknas nomor 23 tahun 2006  tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Pasal 1:

(1)      Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik.

(2)      Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi standar kompetensi lulusan minimal Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Standar Kompetensi Lulusan minimal kelompok mata pelajaran, dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran.

(3)      Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum pada Lampiran Peraturan Menteri ini.

 

SKL Satuan Pendidikan untuk SMA sebagaimana yang tercantum pada lampiran Permendiknas nomor 23 tahun 2006, adalah:

a.       Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja;

b.       Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki kekurangannya;

c.        Menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuatan, dan pekerjaannya;

d.       Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial;

e.       Menghargai keberagaman agama, bangsa,  suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup global;

f.         Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif;

g.        Menunjukkan  kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif dalam pengambilan putusan;

h.       Menunjukkan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri;

i.         Menunjukkan sikap kompetitif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik;

j.        Menunjukkan kemampuan  menganalisis dan memecahkan masalah kompleks;

k.        Menunjukkan kemampuan menganalisis gejala alam dan sosial;

l.         Memanfaatkan lingkungan secara produktif dan  bertanggung jawab;

m.      Berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara demokratis dalam wadah NKRI;

n.       Mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya;

o.       Mengapresiasi karya seni dan budaya;

p.       Menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok;

q.       Menjaga kesehatan dan keamanan diri, kebugaran jasmani, serta kebersihan lingkungan;

r.        Berkomunikasi lisan dan tulisan secara efektif dan santun;

s.        Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat;

t.        Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain;

u.       Menunjukkan keterampilan membaca dan menulis naskah secara sistematis dan estetis;

v.        Menunjukkan keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Indonesia dan Inggris;

w.      Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan tinggi.

 

Berdasarkan profil kompetensi lulusan tersebut selanjutnya dijabarkan ke dalam  sejumlah SK dan Kompetensi mata pelajaran yang relevan yang diperlukan untuk mencapai kebulatan kompetensi tersebut.

2. Standar Kompetensi Mata Pelajaran

a. Pengertian Standar Kompetensi Mata Pelajaran

 

Untuk memantau perkembangan mutu pendidikan diperlukan SK. SK dapat didefinisikan sebagai “pernyataan tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai peserta didik serta tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai dalam mempelajari suatu mata  pelajaran” (Center for Civ­ics Education,  1997:2).

 

Menurut definisi tersebut, SK mencakup dua hal, yaitu standar isi (content standards), dan standar penampilan (performance stan­dards).

SK yang menyangkut isi berupa pernyataan tentang pengetahuan, sikap dan keterampilan yang harus dikuasai peserta didik dalam mempelajari mata pelajaran tertentu seperti Kewarganegaraan, Matematika, Fisika, Biologi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris. SK yang menyangkut tingkat penampilan adalah pernyataan tentang kriteria untuk menentukan tingkat penguasaan peserta didik terhadap SI.

 

Dari uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa SK memiliki dua penafsiran, yaitu: (a) pernyataan tujuan yang menjelaskan apa yang harus diketahui peserta didik dan kemampuan melakukan sesuatu dalam mempelajari suatu mata pelajaran dan (b) spesifikasi skor atau peringkat kinerja yang berkaitan dengan kategori pencapaian seperti lulus atau memiliki keahlian.

SK merupakan kerangka yang menjelaskan dasar pengembangan program pembelajaran yang terstruktur. SK juga merupakan fokus dari penilaian, sehingga proses pengembangan kurikulum adalah fokus dari penilaian, meskipun kurikulum lebih banyak berisi tentang dokumen pengetahuan, keterampilan dan sikap dari pada bukti-bukti untuk menunjukkan bahwa peserta didik yang akan belajar telah memiliki pengetahuan dan keterampilan awal.

Dengan demikian SK diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam:

§  melakukan suatu tugas atau pekerjaan.

§  mengorganisasikan agar pekerjaan dapat dilaksanakan.

§  melakukan respon dan reaksi yang tepat bila ada penyimpangan dari rancangan semula.

§  melaksanakan tugas dan pekerjaan dalam situasi dan kondisi yang berbeda.

 

Penyusunan SK suatu jenjang atau tingkat pendidikan merupakan usaha untuk membuat suatu sistem sekolah menjadi otonom, mandiri, dan responsif terhadap keputusan kebijakan daerah dan nasional. Kegiatan ini diharapkan mendorong munculnya standar pada tingkat lokal dan nasional. Penentuan standar hendaknya dilakukan dengan cermat dan hati-hati. Sebab, jika setiap sekolah atau setiap kelompok sekolah mengembangkan standar sendiri tanpa memperhatikan standar nasional maka pemerintah pusat akan kehilangan sistem untuk mengontrol mutu sekolah. Akibatnya kualitas sekolah akan bervariasi, dan tidak dapat dibandingkan kualitas antara sekolah yang satu dengan sekolah yang lain. Lebih jauh lagi kualitas sekolah antar wilayah yang satu dengan wilayah yang lain tidak dapat dibandingkan. Pada gilirannya, kualitas sekolah secara nasional tidak dapat dibandingkan dengan kualitas sekolah dari negara lain.

 

Pengembangan SK perlu dilakukan secara terbuka, seimbang, dan melibatkan semua kelompok yang akan dikenai standar tersebut. Melibatkan semua kelompok sangatlah penting agar kesepakatan yang telah dicapai dapat dilaksanakan secara bertanggungjawab oleh pihak sekolah masing-masing. Di samping itu, kajian SK di negara-negara lain perlu juga dilakukan sebagai bahan rujukan agar lulusan kita tidak jauh ketinggalan dengan lulusan negara lain. SK yang telah ditetapkan berlaku secara nasional, namun cara mencapai standar tersebut diserahkan pada kreasi masing-masing wilayah.

b. Penentuan Standar Kompetensi Mata Pelajaran

 

Perlu diingat kembali, bahwa kompetensi merupakan kebulatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat didemonstrasikan, ditunjukkan, atau ditampilkan oleh peserta didik sebagai hasil belajar. Sesuai dengan pengertian tersebut, maka SK, adalah standar kemampuan yang harus dikuasai peserta didik untuk menunjukkan bahwa hasil mempelajari mata pelajaran tertentu berupa penguasaan atas pengetahuan, sikap, dan keterampilan tertentu telah dicapai.

 

Langkah-langkah menganalisis dan mengurutkan SK adalah:

§  menganalisis SK menjadi beberapa KD;

§  mengurutkan KD sesuai dengan keterkaitan baik secara prosedur maupun hierarkis.

 

Dick & Carey (1978: 25) membedakan dua pendekatan pokok dalam analisis dan urutan SK di samping pendekatan yang ketiga yakni gabungan antara kedua pendekatan pokok tersebut. Dua pendekatan dimaksud adalah pertama pendekatan prosedural, dan kedua pendekatan hierarkis (berjenjang). Sedangkan gabungan antara kedua pendekatan tersebut dinamakan pendekatan kombinasi.

 

§  Pendekatan Prosedural

 

Pendekatan prosedural (procedural approach) dipakai bila SK yang harus dikuasai berupa serangkaian langkah-langkah secara urut dalam mengerjakan suatu tugas pembelajaran.

 

Diagram umum pendekatan prosedural adalah sebagai berikut :

 

Diagram 1. Pendekatan Prosedural

 

 
 

 

Contoh dalam pelajaran Ilmu Sosial Terpadu (IST) ada beberapa SK yang diharapkan dapat dipelajari secara berurutan. Guru diharapkan dapat menyajikan mana yang akan didahulukan. Misalnya kompetensi; (1) Mengidentifikasi konsep-konsep yang membangun IST, (2) Mendeskripsikan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya, dan (3) Mendeskripsikan perubahan sosial budaya masyarakat. Dari ketiga kompetensi tersebut, maka kompetensi untuk mengidentifikasi konsep-konsep yang membangun IST harus paling dahulu dipelajari, setelah itu baru mempelajari dua kompetensi berikutnya. Di antara kedua kompetensi berikutnya maka penguasaan terhadap kompetensi mendeskripsikan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya lebih didahulukan agar peserta didik dengan mudah mendeskripsikan perubahan sosial budaya masyarakat, mengingat perubahan yang terjadi justru sebagai salah satu akibat hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya. Bila disajikan dalam bentuk diagram dapat dilihat pada Diagram 2 berikut.

 

Diagram 2. Pendekatan Prosedural

 
 

 

 

 

 

 

Beberapa hal yang perlu dicatat dari contoh tersebut:

–      peserta didik harus menguasai SK tersebut secara berurutan.

–      Masing-masing SK dapat diajarkan secara terpisah (independent)

–      Hasil (output) dari setiap langkah merupakan masukan (input) untuk langkah berikutnya.

 

§  Pendekatan Hierarkis

 

Pendekatan hierarkis menunjukkan hubungan yang bersifat subordinatif antara beberapa SK yang ingin dicapai. Dengan demikian ada yang mendahului dan ada yang kemudian. SK yang mendahului merupakan prasyarat bagi SK berikutnya.

 

Untuk mengidentifikasi beberapa SK yang harus dipelajari lebih dulu agar peserta didik dapat mencapai SK yang lebih tinggi dilakukan dengan jalan mengajukan pertanyaan “Apakah yang harus sudah dikuasai oleh peserta didik, agar dengan pengajaran yang seminimal mungkin dapat diketahui SK yang diperlukan sebelum peserta didik dapat menguasai SK berikutnya?”

 

Untuk memperjelas, berikut disajikan diagram analisis SK menurut pendekatan hierarkis dalam mata pelajaran matematika.

 

Diagram 3. Pendekatan Hierarkis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



II.         PENGEMBANGAN SILABUS

 

 

A. Pengertian Silabus

 

Istilah silabus dapat didefinisikan sebagai “Garis besar, ringkasan, ikhtisar, atau pokok-pokok isi atau materi pelajaran” (Salim, 1987: 98). Istilah silabus digunakan untuk menyebut suatu produk pengembangan kurikulum berupa penjabaran lebih lanjut dari SK dan KD yang ingin dicapai, dan materi pokok serta uraian materi yang perlu dipelajari peserta didik dalam rangka mencapai SK dan KD. Seperti diketahui, dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran, terlebih dahulu perlu ditentukan SK yang berisikan kebulatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang ingin dicapai, materi yang harus dipelajari, pengalaman belajar yang harus dilakukan, dan sistem evaluasi untuk mengetahui pencapaian SK. Dengan kata lain, pengembangan kurikulum dan pembelajaran menjawab pertanyaan (1) Apa yang akan diajarkan (SK, KD, dan Materi Pembelajaran); (2) Bagaimana cara  melaksanakan kegiatan pembelajaran, metode, media); (3) Bagaimana dapat diketahui bahwa SK dan KD telah tercapai (indikator dan penilaian).

 

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.

 

Silabus bermanfaat sebagai pedoman dalam pengem­bangan pembelajaran lebih lanjut, seperti pembuatan rencana pembelajaran, pengelolaan kegiatan pembelajaran, dan pengembangan sistem penilaian. Silabus merupakan sumber pokok dalam penyusunan rencana pembelajaran, baik rencana pembelajaran untuk satu SK maupun satu KD. Silabus juga bermanfaat sebagai pedoman untuk merencanakan pengelolaan kegiatan pembelajaran, misalnya kegiatan belajar secara klasikal, kelompok kecil, atau pembelajaran secara individual. Demikian pula, silabus sangat bermanfaat untuk mengembangkan sistem penilaian. Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi sistem penilaian selalu mengacu pada SK, KD, dan indikator yang terdapat di dalam silabus.

 

B. Prinsip Pengembangan Silabus

Untuk memperoleh silabus yang baik, dalam penyusunan silabus perlu memperhatikan prinsip-prinsip berikut:

1. Ilmiah

Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Di samping itu, strategi pembelajaran yang dirancang dalam silabus perlu memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran dan teori belajar.

2. Relevan

Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.  Prinsip ini mendasari pengembangan silabus, baik dalam pemilihan materi pembelajaran,  strategi dan pendekatan dalam kegiatan pembelajaran, penetapan waktu, strategi penilaian maupun dalam mempertimbangkan kebutuhan media dan alat pembelajaran. Kesesuaian antara isi dan pendekatan pembelajaran yang tercermin dalam materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran pada silabus dengan tingkat perkembangan peserta didik akan mempengaruhi kebermaknaan pembelajaran.

3. Sistematis

Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi. SK dan KD merupakan acuan utama dalam pengembangan silabus. Dari kedua komponen ini, ditentukan indikator pencapaian, dipilih materi pembelajaran yang diperlukan, strategi pembelajaran yang sesuai, kebutuhan waktu dan media,  serta teknik dan instrumen penilaian yang tepat untuk mengetahui pencapaian kompetensi tersebut.

4. Konsisten

Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara KD, indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, serta  teknik dan  instrumen penilaian. Dengan prinsip konsistensi ini,  pemilihan materi pembelajaran, penetapan strategi dan pendekatan dalam kegiatan pembelajaran, penggunaan sumber dan media pembelajaran, serta penetapan teknik dan penyusunan instrumen penilaian semata-mata diarahkan pada pencapaian KD dalam rangka pencapaian SK.

5. Memadai

Cakupan indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian KD.  Dengan prinsip ini, maka tuntutan kompetensi harus dapat terpenuhi dengan pengembangan materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang dikembangkan. Sebagai contoh, jika SK dan KD menuntut kemampuan menganalisis suatu obyek belajar, maka indikator pencapaian kompetensi, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan teknik serta instrumen penilaian harus secara memadai mendukung kemampuan untuk menganalisis.

6. Aktual dan Kontekstual

Cakupan indikator, materi pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi. Banyak fenomena  dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan materi dan dapat mendukung kemudahan dalam menguasai kompetensi perlu dimanfaatkan dalam pengembangan pembelajaran.  Di samping itu, penggunaan media dan sumber belajar berbasis teknologi informasi, seperti komputer dan internet perlu dioptimalkan, tidak hanya untuk pencapaian kompetensi, melainkan juga untuk menanamkan kebiasaan mencari informasi yang lebih luas kepada peserta didik.

7. Fleksibel

Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan kebutuhan masyarakat. Fleksibilitas silabus ini memungkinkan pengembangan dan penyesuaian silabus dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

8. Menyeluruh

Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor. Prinsip ini hendaknya dipertimbangkan, baik dalam mengembangkan materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, maupun penilaiannya. Kegiatan pembelajaran dalam silabus perlu dirancang sedemikian rupa sehingga peserta didik memiliki keleluasaan untuk mengembangkan kemampuannya, bukan hanya kemampuan kognitif saja, melainkan juga dapat mempertajam kemampuan afektif dan psikomotoriknya serta dapat secara optimal melatih kecakapan hidup (life skill).

C. Unit Waktu Silabus

 

1.    Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk setiap mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan.

2.    Penyusunan silabus suatu mata pelajaran memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester, per tahun, dan alokasi waktu mata pelajaran lain yang sekelompok.

3.    Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan SK dan KD untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum.

 

D. Pengembangan Silabus

 

Pengembangan silabus  dilakukan oleh kelompok guru mata pelajaran sejenis pada satu sekolah atau beberapa sekolah pada kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

 

1.    Disusun secara mandiri oleh kelompok guru mata pelajaran sejenis pada setiap sekolah apabila guru-guru di sekolah yang bersangkutan mampu mengenali karakteristik peserta didik, kondisi sekolah/ madrasah dan lingkungannya.

2.    Sekolah/madrasah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri, sebaiknya bergabung dengan sekolah/madrasah lain melalui forum MGMP untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah-sekolah/madrasah-madrasah dalam lingkup MGMP setempat. Dapat pula mengadaptasi atau mengadopsi contoh model yang dikeluarkan oleh BSNP.

 

E. Komponen Silabus

Silabus merupakan salah satu bentuk penjabaran kurikulum. Produk pengembangan kurikulum ini memuat pokok-pokok pikiran yang memberikan          rambu-rambu dalam menjawab tiga pertanyaan mendasar dalam pembelajaran, yakni (1) kompetensi apa yang hendak dikuasai peserta didik, (2) bagaimana memfasilitasi peserta didik untuk menguasai kompetensi itu, dan (3) bagaimana mengetahui tingkat pencapaian kompetensi oleh peserta didik. Dari sini jelas bahwa silabus memuat pokok-pokok kompetensi dan materi, pokok-pokok strategi pembelajaran dan pokok-pokok penilaian.

 

Pertanyaan mengenai kompetensi yang hendaknya dikuasai peserta didik dapat terjawab dengan menampilkan secara sistematis, mulai dari SK, KD dan indikator pencapaian kompetensi serta hasil identifikasi materi pembelajaran yang digunakan.  Pertanyaan mengenai bagaimana memfasilitasi peserta didik agar mencapai kompetensi, dijabarkan dengan mengungkapkan strategi, pendekatan dan metode yang akan dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran.  Pertanyaan mengenai bagaimana mengetahui ketercaiapan kompetensi dapat dijawab dengan menjabarkan teknik dan instrumen penilaian.  Di samping itu, perlu pila diidentifikasi ketersediaan sumber belajar sebagai pendukung pencapaian kompetensi.

 

Berikut disajikan ikhtisar tentang komponen pokok dari silabus yang lazim digunakan:

 

1.     Komponen yang berkaitan dengan kompetensi yang hendak dikuasai, meliputi :

a.    SK

b.    KD

c.    Indikator

d.    Materi Pembelajaran

 

2.     Komponen yang berkaitan dengan cara menguasai kompetensi, memuat pokok pokok kegiatan dalam pembelajaran.

 

3.     Komponen yang berkaitan dengan cara mengetahui pencapaian kompetensi, mencakup

a.    Teknik Penilaian :

§   Jenis Penilaian

§   Bentuk Penilaian

b.    Instumen Penilaian

 

4.     Komponen Pendukung, terdiri dari :

a.    Alokasi waktu

b.    Sumber belajar.


III.     LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN SILABUS

 

A. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

 

Mengkaji SK dan KD mata pelajaran sebagaimana tercantum pada SI, dengan  memperhatikan hal-hal berikut:

1.    urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI dalam tingkat;

2.    keterkaitan antara SK dan KD dalam mata pelajaran;

3.    keterkaitan antar KD pada mata pelajaran;

4.    keterkaitan antara SK dan KD antar mata pelajaran.

 

B. Mengidentifikasi Materi Pembelajaran

 

Mengidentifikasi materi pembelajaran yang menunjang pencapaian KD dengan mempertimbangkan:

1.    potensi peserta didik;

2.    karakteristik mata pelajaran;

3.    relevansi dengan karakteristik daerah;

4.    tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial dan spritual peserta didik;

5.    kebermanfaatan bagi peserta didik;

6.    struktur keilmuan;

7.    aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;

8.    relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan

9.    alokasi waktu.

 

C. Melakukan Pemetaan Kompetensi

1.    mengidentifikasi SK, KD dan materi pembelajaran

2.    Mengelompokkan SK, KD dan materi pembelajaran

3.    Menyusun SK, KD sesuai dengan keterkaitan

 

D. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran

 

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian KD. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.

 

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah:

1.    Disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik (guru), agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.

2.    Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik  secara berurutan untuk mencapai KD.

3.    Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.

4.    Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar peserta didik, yaitu kegiatan peserta didik dan materi.

 

E. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi

 

Indikator merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

 

Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

 

Kata Kerja Operasional (KKO) indikator dimulai dari tingkatan berpikir mudah ke sukar, sederhana ke kompleks, dekat ke jauh, dan dari konkret ke abstrak (bukan sebaliknya).

 

Kata kerja operasional pada KD benar-benar terwakili dan teruji akurasinya pada deskripsi yang ada di kata kerja operasional indikator.

 

F. Penentuan Jenis Penilaian

 

Penilaian pencapaian KD peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

 

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.

 

G. Menentukan Alokasi Waktu

 

Penentuan alokasi waktu pada setiap KD didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah KD, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan KD. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai KD yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.

 

H. Menentukan Sumber Belajar

 

Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya. Penulisan buku sumber harus sesuai kaidah yang berlaku dalam Bahasa Indonesia.

 

Penentuan sumber belajar didasarkan pada SK dan KD serta materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.


I. Contoh Model Silabus

 

Mata Pelajaran    :    Pendidikan Kewarganegaraan

Kelas                   :    X

Semester             :    1

SK                       :    1. Memahami hakikat bangsa dan Negara  Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Alokasi waktu      :    8 X 45 Menit

 

KOMPETENSI DASAR MATERI PEMBELAJARAN KEGIATAN PEMBELAJARAN INDIKATOR PENILAIAN ALOKASI WAKTU SUMBER BELAJAR
 

1.1  Mendeskripsikan hakikat bangsa dan unsur-unsur terbentuknya negara

 

 

 

 

 

 

 

Bangsa dan negara

  • Manusia sebagai mahkluk individu dan mahkluk sosial

 

 

 

  • Pengertian dan unsur terbentuknya bangsa
  • Pengertian Negara dan Unsur-unsur terbentuknya negara

–     Rakyat

–     Wilayah

–     Pemerintah yang berdaulat

–     Pengakuan dari negara lain

 

 

Mengkaji berbagai literatur tentang

kedudukan manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.

 

Mendiskusikan hasil kajian literatur Pengertian dan unsur terbentuknya bangsa, Pengertian Negara dan Unsur-unsur terbentuknya negara

 

 

 

  • Mendeskripsikan kedudukan manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial

 

 

  • Menguraikan  pengertian bangsa dan unsur terbentuknya bangsa
  • Menganalisis  pengertian negara dan unsur  terbentuknya Negara

 

 

Tes tertulis (Uraian, pilihan ganda, lainnya)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 x 45

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Darji Darmo-diharjo, (1990), Pendidiikan Pancasila di Perguruan Tinggi, Malang: Penerbit IKIP Malang
  • Budiyanto,(1999) Tata negara untuk SMA, Jakarta  Penerbit Erlangga

 

 

 

 


J. Pengembangan Silabus Berkelanjutan

 

Untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran di kelas, dari sebuah silabus perlu dikembangkan dan dibuat rencana pelaksanaan pembelajaran. Rencana pelaksanaan pembelajaran merupakan rancangan secara menyeluruh kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan peserta didik. dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan, dan strategi pembelajaran serta penilaian yang akan dilakukan oleh guru dalam proses pembekalan kompetensi peserta didik.

 

Guru dapat mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran dan menentukan bahan ajar dalam berbagai bentuk (Lembar Kerja Siswa, Lembar Tugas Siswa, Lembar Informasi, dan lain-lain), sesuai dengan strategi pembelajaran dan penilaian yang akan digunakan.

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Adams, Anna R. (1999). Industry Standards Based Curricu­lum. Australian National Training Authority.

 

Adams, Anna R. (1995). Competency Based Training. Di­rectorate Vocational Education, IATVEP A Project.

 

Abdul Gafur (1986). Disain Instruksional: Langkah Sistematis Penyusunan Pola Dasar Kegiatan Belajar Mengajar. Sala: Tiga Serangkai.

 

Abdul Gafur (1987). Pengaruh Strategi Urutan Penyampaian, Umpan Balik, dan Keterampilan Intelektual Terhadap Hasil Belajar Konsep. Jakarta: PAU – UT.

 

Abdul Gafur, dkk. (1986). Definisi Teknologi Pendidikan. Jakarta: CV Rajawali.

 

Abdul Gafur (1985). Media Besar Media Kecil: Alat dan Teknologi Pengajaran. Semarang: IKIP Press.

 

Anglin Gary J. (1991). Instructional Technology: Past, Present, and Future. Colorado: Englewood Cliffs.

 

Bloom et al. (1956). Taxonomy of educational objectives: the classification of educational goals. New York: McKay.

 

Bratton, Barry. (1991). Professional Competencies and Certifcation in the Instructional Technology Field. Colo­rado: Englewood Cliffs, Inco.

 

Center for Civics Education (1997). National Standard for Civics and Government. Calabasas CA: CEC Publ.

 

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1992). Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Republik Indonesia Bidang Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Sekjen Debdikbud.

 

Dick, W. & Carey L. (1978). The Systematic Design of In­struction. Illinois: Scott & Co. Publication.

 

Direktorat Pendidikan Menengah Umum (2001). Kebijakan Pendidikan Menengah Umum. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum.

 

Edwards, H. Cliford, et.all (1988). Planning, Teaching, and Evaluating: A Competency Approach. Chicago: Nelson-Hall.

 

Gronlund, Norman E. (1984). Determining Accountability for Classroom Instruction. New York: Macmillan Publish­ing Company.

Hall, Gene E & Jones, H.L. (1976). Competency-Based Edu­cation: A process for the improvement of education. New Jersey: Englewood Cliffs, Inc.

 

Hall, William C. (1995). Course Planning. Adelaide: Advi­sory Center for University, the University of Adelaide.

 

Hooper, R. (1975). The Curriculum. Edinburg: Oliver &Boyd: The Open University.

 

Joice, B, & Weil, M. (1980). Models of Teaching. New Jer­sey: Englewood Cliffs, Publ.

 

Kemp, Jerold (1977). Instructional Design: A Plan for Unit and Curriculum Development. New Jersey: Sage Publi­cation.

 

Kaufman, Roger A. (1992). Educational Systems Planning. New Jersey: Englewood Cliffs.

 

Marzano RJ & Kendal JS (1996). Designing standard-based districts, schools, and classrooms. Virginia: Association for Supervision and Curriculum Development.

 

McAshan, H.H. (1989). Competency-Based Education and Behavioral Objectives. New Jersey: Educational Tech­nology Publications, Engelwood Cliffs.

 

Oneil Jr., Harold F. (1989). Procedures for Instructional Sys­tems Development. New York: Academic Press.

 

Reigeluth, Charles M. (1987) Instructional Theories in Ac­tion: Lessons Illustrating Selected Theories and Models. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publ.

 

Rosset, A. (1991). A Handbook of Job Aids. San Diego: Pfeiffer Publ.

 

Russell, James D. (1984). Modular Instruction: A Guide to Design, Selection, Utilization and Evaluation of Modular Materials. Minneapolis: Burgess Publishing Company.

 

Salim, Peter (1987). The Contemporary English Indonesian Dictionary. Jakarta: Modern English Press.

 

 

 

 


GLOSARIUM

 

Kecakapan hidup (lifeskill): kemampuan yang diperlukan untuk menempuh kehidupan dengan sukses, bahagia dan secara bermartabat, misalnya: kemampuan berfikir kompleks, berkomunikasi secara efektif, membangun kerjasama, melaksanakan peran sebagai warganegara yang bertanggung jawab, kesiapan untuk terjun ke dunia kerja.

 

Kecukupan (adequacy): mempunyai cakupan atau ruang lingkup materi pembelajaran yang memadai untuk menunjang penguasaan KD maupun SK.

 

Kompetensi dasar (KD): kompetensi minimal dalam mata pelajaran yang harus dimiliki oleh lulusan; kemampuan mini­mum yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik untuk standar kompensi tertentu dari suatu mata pelajaran.

 

Kompetensi lulusan: kemampuan yang dapat dilakukan atau ditampilkan lulusan suatu jenjang pendidikan yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

 

Konsistensi (ketaatazasan): keselarasan hubungan antar komponen dalam silabus (kemampuan dasar, materi pembelajaran dan pengalaman belajar).

 

Materi pokok/pembelajaran: bahan ajar minimal yang harus dipelajari peserta didik untuk menguasai KD.

 

Pembelajaran berbasis kompetensi: pembelajaran yang mensyaratkan dirumuskannya secara jelas kompetensi yang harus dimiliki atau ditampilkan oleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.

 

Pendekatan hierarkis: strategi pengembangan materi pembelajaran berdasarkan atas penjenjangan materi pokok/pembelajaran.

 

Pendekatan prosedural: strategi pengembangan materi pembelajaran berdasarkan atas urutan penyelesaian suatu tugas pembelajaran.

 

Pendekatan spiral: strategi pengembangan materi pembe­lajaran berdasarkan atas lingkup lingkungan, yaitu dari lingkup lingkungan yang paling dekat dengan peserta didik menuju ke lingkup lingkungan yang lebih jauh.

 

Pendekatan tematik: strategi pengembangan materi pembelajaran yang bertitik tolak dari sebuah tema.

 

Pendekatan terjala (webbed): strategi pengembangan pelajaran, dengan menggunakan topik dari beberapa mata pelajaran yang relevan sebagai titik sentral, dan hubungan antara tema dan sub-tema dapat digambarkan sebagai sebuah jala (webb).

 

Ranah afektif: aspek yang berkaitan dengan perasaan, emosi, sikap, derajat penerimaan atau penolakan terhadap suatu obyek.

 

Ranah kognitif: aspek yang berkaitan dengan kemampuan berpikir; kemampuan memperoleh pengetahuan; kemam­puan yang berkaitan dengan pemerolehan pengetahuan, pengenalan, pemahaman, konseptualisasi, penentuan, dan penalaran.

 

Ranah psikomotor: aspek yang berkaitan dengan kemam­puan melakukan pekerjaan dengan melibatkan anggota badan; kemampuan yang berkaitan dengan gerak fisik.

 

Relevansi: keterkaitan.

 

Silabus: susunan teratur materi pembelajaran mata pelajaran tertentu pada kelas/semester tertentu.

 

Standar Kompetensi (SK): kemampuan yang dapat dilakukan atau ditampilkan untuk satu mata pelajaran; kompetensi dalam mata pelajari tertentu yang harus dimiliki oleh peserta didik; kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan dalam suatu mata pelajaran.


LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 1

 

Daftar katakerja operasional yang digunakan dalam perumusan SK dan KD/kompetensi minimal.

 

SK
Kompetensi Dasar
 
Membandingkan Menghitung Mensaripatikan
Menganalisis Mendeskripsikan Meragakan
Mengklasifikasikan Menguraikan Menemukan
Mengidentifikasi Mengurutkan Menggunakan
Mengoperasikan Mendemonstrasikan Melaporkan
Mengkontruksi Mensimulasikan Membuat
Menafsirkan Melafalkan Mengukur
Menerapkan Menyusun Menghitung
Membuktikan Menunjukkan Membedakan
Mengevaluasi Menggerakkan Menggambar
Mengelola Melakukan Melukis

 

Keterangan:

1.   Satu kata kerja tertentu misalnya “mengidentifikasi” dapat digunakan baik pada standar kompotensi maupun KD. Hanya saja cakupan materi pembela­jaran pada standar kompotensi lebih luas daripada materi pada KD.

2.  Satu SK dapat dijabarkan menjadi 3 sampai 6 KD/kompetensi minimal.

3.   Satu KD/kompetensi minimal dapat dijabarkan menjadi sekurang-kurangnya 3 butir indikator.

4.   Pada SK dan KD belum memuat indikator.

 

 


Lampiran 2

Contoh

Format Silabus Dan Cara Mengisinya

 

Nama sekolah          : Diisi nama sekolah tempat peserta didik belajar

Mata Pelajaran         : Diisi nama mata pelajaran

Kelas/Program         : Diisi kelas berapa SK tersebut harus dicapai melalui proses pembelajaran

Semester                : Diisi semester berapa SK tersebut harus dicapai melalui proses pembelajaran

SK                          : Diisi rumusan SK

 

No. Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi Waktu Sumber Belajar
   

Memuat KD hasil penjabaran dari SK yang telah dirumuskan dalam SI.

 

 

Memuat materi pembelajaran hasil penjabaran masing-masing KD yang telah dirumus­kan.

 

Memuat alternatif pengalaman belajar peserta didik  yang terpilih yang dapat dipakai untuk mencapai penguasaan KD.

 

 

Memuat Indikasi ketercapaian KD yang telah dirumuskan dalam SI.

 

 

Memuat Jenis, bentuk, dan macam penilaian yang akan digunakan untuk melihat hasil belajar.

 

 

Memuat alokasi waktu yang diperlukan untuk menguasai masing-masing KD

 

Memuat jenis sumber bahan/alat yang digunakan.

 

I.        PENDAHULUAN

 

A. Gambaran Umum

 

Pemberlakuan peraturan dan perundangan-undangan yang berkaitan dengan pelaksanaan otonomi pendidikan menuntut adanya upaya pembagian kewenangan dalam berbagai bidang pemerintahan. Hal tersebut membawa implikasi terhadap sistem dan penyelenggaraan pendidikan termasuk pengembangan dan pelaksanaan kurikulum. Tiga hal penting yang perlu mendapat perhatian, yaitu:

 

1.   Diversifikasi Kurikulum yang merupakan proses penyesuaian, perluasan, pendalaman materi pembelajaran agar dapat melayani keberagaman kebutuhan dan tingkat kemampuan peserta didik serta kebutuhan daerah/lokal dengan berbagai kompleksitasnya.

2.   Penetapan Standar Kompetensi (SK), dimaksudkan untuk menetapkan ukuran minimal atau secukupnya, mencakup kemampuan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dicapai, diketahui, dilakukan, dan mahir dilakukan oleh peserta didik pada setiap tingkatan secara maju dan berkelanjutan sebagai upaya kendali dan jaminan mutu.

3.   Pembagian kewenangan antara Pemerintah Pusat dan Provinsi/ Kabupaten/Kota sebagai Daerah Otonomi merupakan pijakan utama untuk lebih memberdayakan daerah dalam penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan potensi daerah yang bersangkutan.

 

Untuk merespon ketiga hal tersebut di atas, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) telah melakukan penyusunan Standar Isi (SI), yang kemudian dituangkan kedalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 22 tahun 2006, yang mencakup komponen:

 

1.   Standar Kompetensi (SK), merupakan ukuran kemampuan minimal yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap yang harus dicapai, diketahui, dan mahir dilakukan oleh peserta didik pada setiap tingkatan dari suatu materi yang diajarkan.

2.   Kompetensi Dasar (KD), merupakan penjabaran SK peserta didik yang cakupan materinya lebih sempit dibanding dengan SK peserta didik.

 

B. Pendidikan Berbasis Kompetensi

 

Undang-Undang (UU) Republik Indonesia (RI) nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab II Pasal 3 menjelaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bemartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

 

Standar kompetensi lulusan (SKL) suatu jenjang pendidikan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional mencakup komponen ketakwaan, akhlak, pengetahuan, ketrampilan, kecakapan, kemandirian, kreativitas, kesehatan, dan kewarganegaraan. Semua komponen pada tujuan pendidikan nasional harus tecermin pada kurikulum dan sistem pembelajaran pada semua jenjang pendidikan. Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, tugas sekolah adalah mengembangkan potensi peserta didik secara optimal menjadi kemampuan untuk hidup di masyarakat dan ikut menyejahterakan masyarakat. Lulusan suatu jenjang pendidikan harus memiliki pengetahuan dan keterampilan serta berperilaku yang baik.

 

Untuk itu peserta didik harus mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki sesuai dengan standar yang ditetapkan.

 

SKL merupakan bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan yang diarahkan untuk pengembangan potensi peserta didik sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi, seni, serta pergeseran paradigma pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik.

 

SKL adalah satu dari 8 standar nasional pendidikan (SNP), yang merupakan kompetensi lulusan minimal yang berlaku di wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan adanya SKL, kita memiliki patok mutu, baik evaluasi bersifat mikro seperti kualitas proses dan kualitas produk pembelajaran, maupun evaluasi makro seperti efektivitas dan efisiensi program pendidikan, sehingga ke depan pendidikan kita akan melahirkan standar mutu yang dapat dipertanggungjawabkan pada setiap jalur, jenis dan jenjang pendidikan. SKL mata pelajaran selanjutnya dijabarkan ke dalam SK dan KD.

 

Selain mengacu pada SKL, pengembangan SK peserta didik dalam suatu mata pelajaran juga mengacu pada struktur keilmuan dan perkembangan peserta didik, yang dikembangkan oleh para pakar mata pelajaran, pakar pendidikan dan pakar psikologi perkembangan, dengan mengacu pada prinsip-prinsip:

 

1.    Peningkatan  Keimanan, Budi Pekerti  Luhur,  dan Penghayatan Nilai-Nilai Budaya.

Keimanan, budi pekerti luhur, dan nilai-nilai budaya perlu digali, dipahami, dan diamalkan untuk mewujudkan karakter dan martabat bangsa.

 

2.    Keseimbangan Etika, Logika, Estetika, dan Kinestetika.

Kegiatan Pembelajaran dirancang dengan memperhatikan keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinestetika.

 

3.    Penguatan Integritas Nasional.

Penguatan integritas nasional dicapai melalui pendidikan yang menumbuhkembangkan dalam diri peserta didik sebagai bangsa Indonesia melalui pemahaman dan penghargaan terhadap perkembangan budaya dan peradaban bangsa Indonesia yang mampu memberikan sumbangan terhadap peradaban dunia.

4.    Perkembangan Pengetahuan dan Teknologi Informasi.

Kemampuan berpikir dan belajar dengan cara mengakses, memilih, dan menilai pengetahuan untuk mengatasi situasi yang cepat berubah dan penuh ketidakpastian serta menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi.

 

5.    Pengembangan Kecakapan Hidup.

Kurikulum mengembangkan kecakapan hidup  melalui budaya membaca, menulis, dan kecakapan hitung; keterampilan, sikap, dan perilaku adaptif, kreatif, kooperatif, dan kompetitif; dan kemampuan bertahan hidup.

 

6.    Pilar Pendidikan.

Kurikulum mengorganisasikan fondasi belajar ke dalam lima pilar sesuai dengan Panduan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; (b) belajar untuk memahami dan menghayati; (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif; (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain; dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

 

7.    Menyeluruh dan Berkesinambungan.

Kompetensi mencakup keseluruhan dimensi kemampuan yaitu pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap, pola pikir dan perilaku yang disajikan secara berkesinambungan mulai dari usia taman kanak-kanak atau raudhatul athfal sampai dengan pendidikan menengah.

 

8.    Belajar Sepanjang Hayat.

Pendidikan diarahkan pada proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlanjut sepanjang hayat dengan mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, sambil memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.

 

SK peserta didik dalam suatu mata pelajaran dijabarkan dari SKL lulusan, yakni kompetensi-kompetensi minimal yang harus dikuasai lulusan tertentu. Kemampuan yang dimiliki lulusan dicirikan dengan pengetahuan dan kemampuan atau kompetensi lulusan yang merupakan modal utama untuk bersaing di tingkat global, karena persaingan yang terjadi adalah pada kemampuan sumber daya manusia (SDM). Oleh karena itu, penerapan pendidikan berbasis kompetensi diharapkan akan menghasilkan lulusan yang mampu berkompetisi di tingkat regional, nasional, dan global.

 

Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan sekolah dalam mengelola proses pembelajaran, dan lebih khusus lagi adalah proses pembelajaran yang terjadi di kelas. Sesuai dengan prinsip otonomi dan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS), pelaksana pembelajaran, dalam hal ini guru, perlu diberi keleluasaan dan diharapkan mampu menyiapkan silabus, memilih strategi pembelajaran, dan penilaiannya sesuai dengan kondisi dan potensi peserta didik dan lingkungan masing-masing. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka perlu dibuat buku pedoman cara mengembangkan silabus berbasis kompetensi. Pedoman pengembangan silabus yang meliputi dua macam, yaitu pedoman umum dan pedoman khusus untuk setiap mata pelajaran.

 

Pedoman umum pengembangan silabus memberi penjelasan secara umum tentang prosedur dan cara mengembangkan SK dan KD menjadi indikator pencapaian kompetensi, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, sumber belajar. Sedangkan pedoman khusus menjelaskan mekanisme pengembangan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang disertai contoh-contoh untuk lebih memperjelas langkah-langkah pengembangan silabus.

 

C. Kurikulum Berbasis Kompetensi

 

Pendidikan berbasis kompetensi mencakup kurikulum, paedagogi dan penilaian. Oleh karena itu, pengembangan KTSP memiliki pendekatan berbasis kompetensi karena merupakan konsekuensi dari pendidikan berbasis kompetensi. Di dalam SI dinyatakan bahwa: KTSP yang berbasis kompetensi merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi yang dibakukan dan cara pencapaiannya disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan daerah. Kompetensi perlu dicapai secara tuntas (belajar tuntas). Bimbingan diperlukan untuk melayani perbedaan individual melalui program remidial dan pengayaan.

 

Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi harus berkaitan dengan tuntutan SKL, SK dan KD, organisasi kegiatan pembelajaran, dan aktivitas untuk mengembangkan dan memiliki kompetensi seefektif mungkin. Proses pengem­bangan kurikulum berbasis kompetensi menggunakan asumsi bahwa peserta didik yang akan belajar telah memiliki pengetahuan dan keterampilan awal yang dibutuhkan untuk menguasai kompetensi tertentu.

 

D. Pembelajaran Berbasis Kompetensi

 

Pembelajaran berbasis kompetensi adalah program pembelajaran di mana hasil belajar atau kompetensi yang diharapkan dicapai oleh peserta didik, sistem penyampaian, dan indikator pencapaian hasil belajar dirumuskan secara tertulis sejak perencanaan dimulai (McAshan, 1989:19).

 

Dalam pembelajaran berbasis kompetensi perlu ditentukan standar minimum kompetensi yang harus dikuasai peserta didik. Sesuai pendapat tersebut, komponen materi pembela­jaran berbasis kompetensi meliputi: (1) kompetensi yang akan dicapai; (2) strategi penyampaian untuk mencapai kompetensi; (3) sistem evaluasi atau penilaian yang digunakan untuk menentukan keberhasilan peserta didik dalam mencapai kompetensi.

 

Kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik perlu dirumuskan dengan jelas dan spesifik. Perumusan dimaksud hendaknya didasarkan atas prinsip “relevansi dan konsistensi antara kompetensi dengan materi yang dipelajari, waktu yang tersedia, dan kegiatan serta lingkungan belajar yang digunakan” (McAshan, 1989:20). Langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mendapatkan perumusan kompetensi yang jelas dan spesifik, antara lain dengan melaksanakan analisis kebutuhan, analisis tugas, analisis kompetensi, penilaian oleh profesi dan pendapat pakar mata pelajaran, pendekatan teoritik, dan telaah buku teks yang relevan dengan materi yang dipelajari (Kaufman, 1982: 16; Bratton, 1991: 263).

 

Konsep pembelajaran berbasis kompetensi menyaratkan dirumuskannya secara jelas kompetensi yang harus dimiliki atau ditampilkan peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Dengan tolokukur pencapaian kompetensi maka dalam kegiatan pembelajaran  peserta didik akan terhindar dari mempelajari materi yang tidak perlu yaitu materi yang tidak menunjang tercapainya penguasaan kompetensi.

 

Pencapaian setiap kompetensi tersebut terkait erat dengan sistem pembelajaran. Dengan demikian komponen minimal pembelajaran berbasis kompetensi adalah:

a.   pemilihan dan perumusan kompetensi yang tepat.

b.   spesifikasi indikator penilaian untuk menentukan pencapaian kompetensi.

c.    pengembangan sistem penyampaian yang fungsional dan relevan dengan kompetensi dan sistem penilaian.

 

Penerapan konsep dan prinsip pembelajaran berbasis kompetensi diharapkan bermanfaat untuk:

a.   menghindari duplikasi dalam pemberian materi pembelajaran yang disampaikan guru harus benar-benar relevan dengan kompetensi yang ingin dicapai.

b.   mengupayakan konsistensi kompetensi yang ingin dicapai dalam mengajarkan suatu mata pelajaran. Dengan kompetensi yang telah ditentukan secara tertulis, siapa pun yang mengajarkan mata pelajaran tertentu tidak akan bergeser atau menyimpang dari kompetensi dan materi yang telah ditentukan.

c.    meningkatkan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan, kecepatan, dan kesempatan peserta didik.

d.   membantu mempermudah pelaksanaan akreditasi. Pelaksanaan akreditasi akan lebih dipermudah dengan menggunakan tolokukur SK.

e.   memperbarui sistem evaluasi dan pelaporan hasil belajar peserta didik. Dalam pembelajaran berbasis kompetensi, keberhasilan peserta didik diukur dan dilaporkan berdasar pencapaian kompetensi atau subkompetensi tertentu, bukan didasarkan atas perbandingan dengan hasil belajar peserta didik yang lain.

f.     memperjelas komunikasi dengan peserta didik tentang tugas, kegiatan, atau pengalaman belajar yang harus dilakukan dan cara yang digunakan untuk menentukan keberhasilan belajarnya.

g.    meningkatkan akuntabilitas publik. Kompetensi yang telah disusun, divalidasikan, dan dikomunikasikan kepada publik, sehingga dapat digunakan untuk mempertanggungjawabkan kegiatan pembelajaran kepada publik.

h.   memperbaiki sistem sertifikasi. Dengan perumusan kompetensi yang lebih spesifik dan terperinci, sekolah dapat mengeluarkan sertifikat atau transkrip yang menyatakan jenis dan aspek kompetensi yang dicapai.

 

E. Standar Kompetensi

 

1. Standar Kompetensi Lulusan SMA

 

Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) dikembangkan berdasarkan tujuan setiap satuan pendidikan, yakni: Pendidikan Menengah yang terdiri atas SMA/MA/SMALB/Paket C bertujuan: meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

 

Acuan untuk merumuskan kompetensi lulusan dapat berupa landasan yuridis yaitu peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan persyaratan yang ditentukan oleh pengguna lulusan atau dunia kerja (workplace). Secara yuridis, kompetensi lulusan SMA dapat dijabarkan dari perumusan tujuan pendidikan yang terdapat di dalam UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,  Bab II Pasal 3 dijelaskan bahwa Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

 

Selain berdasarkan peraturan perundang-undangan, kompetensi lulusan SMA juga dapat dirumuskan berdasarkan persyaratan yang ditentukan oleh pengguna lulusan atau dunia kerja (workplace/stakeholder). Sebagai contoh di Australia, dalam mengatasi masalah relevansi pendidikan, selalu diusahakan adanya jalinan kerja sama antara sekolah dengan dunia industri.

 

Usaha dimaksud dengan melalui pengintegrasian SK yang ditentukan oleh industri ke dalam kurikulum sekolah. “Dunia industri menentukan standar kompetensi lulusan berupa pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai seseorang agar memiliki kompetensi untuk memasuki dunia kerja” (Adams, 1995: 3). Secara garis besar, kompetensi dimaksud merupakan paduan antara pengetahuan, keterampilan, dan penerapan pengetahuan dan keterampilan tersebut dalam melaksanakan tugas di lapangan kerja. Secara rinci, kompetensi dimaksud meliputi: (a) keterampilan melaksanakan tugas pokok; (b) keterampilan mengelola; (c) keterampilan melaksanakan pengelolaan dalam keadaan mendesak; (d) keterampilan berinteraksi dengan lingkungan kerja dan bekerja sama dengan orang lain; dan (e) keterampilan menjaga kesehatan dan keselamatan kerja.

 

 

Perumusan aspek-aspek kompetensi secara rinci dapat dilakukan dengan menganalisis kompetensi. Bloom et al. (1956: 17) menganalisis kompetensi menjadi tiga aspek, dengan tingkatan yang berbeda-beda setiap aspeknya, yaitu kompetensi:

a.   kognitif, meliputi tingkatan pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan penilaian.

b.   afektif, meliputi pemberian respons, penilaian, apresiasi, dan internalisasi.

c.    psikomotorik, meliputi keterampilan gerak awal, semi rutin dan rutin.

 

Berbeda dengan Bloom, Hall & Jones (1976: 48) membagi kompetensi menjadi 5 macam, yaitu kompetensi:

a.   kognitif yang mencakup pengetahuan, pemahaman, dan perhatian.

b.   afektif yang menyangkut nilai, sikap, minat, dan apresiasi.

c.    penampilan yang menyangkut demonstrasi keterampilan fisik atau psikomotorik.

d.   produk atau konsekuensi yang menyangkut keterampilan melakukan perubahan terhadap pihak lain.

e.   eksploratif atau ekspresif, menyangkut pemberian pengalaman yang mempunyai nilai kegunaan di masa depan, sebagai hasil samping yang positif.

 

Sehubungan dengan kompetensi yang dijabarkan dari tujuan pendidikan nasional, ada dua butir kompetensi yang perlu mendapatkan perhatian yaitu pertama kecakapan hidup (life skill) dan kedua keterampilan sikap.

 

Kecakapan hidup (life skill) merupakan kecakapan untuk menciptakan atau menemukan pemecahan masalah-masalah baru (inovasi) dengan menggunakan fakta, konsep, prinsip, atau prosedur yang telah dipelajari. Penemuan pemecahan masalah baru itu dapat berupa proses maupun produk yang bermanfaat untuk mempertahankan, meningkatkan, atau memperbarui hidup dan kehidupan peserta didik.

 

Kecakapan hidup tersebut diharapkan dapat dicapai melalui berbagai pengalaman belajar peserta didik. Dari berbagai pengalaman mempelajari berbagai materi pembelajaran, diharapkan peserta didik memperoleh hasil samping yang positif berupa upaya memanfaatkan pengetahuan, konsep, prinsip dan prosedur untuk memecahkan masalah baru dalam bentuk kecakapan hidup. Di samping itu, hendaknya kecakapan hidup tersebut diupayakan pencapaiannya dengan mengintegrasikannya pada topik dan pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh, seorang peserta didik tinggal di sebuah kampung pedalaman di tepi sungai. Di sekolah dia telah mempelajari dinamo pembangkit tenaga listrik dan sifat-sifat arus air yang antara lain dapat menggerakkan turbin atau baling-baling. Peserta didik tersebut kemudian memanfaatkan air sungai untuk menggerakkan baling-baling yang dihubungkan dengan dinamo yang digantungkan di permukaan air di tengah sungai, sehingga diperoleh aliran listrik yang dapat digunakan untuk penerangan. Contoh lain, peserta didik yang telah mempelajari bejana berhubungan dan sifat-sifat air yang tidak menghantarkan udara, lalu menciptakan “leher angsa” dari bahan tanah liat untuk penahan bau dalam pembuatan WC, dapat membuat alat untuk menyiram tanaman hias yang digantung.

 

Selain kecakapan yang bersifat teknis (vokasional), kecakapan hidup mencakup juga kecakapan sosial (social skills), misalnya kecakapan mengadakan negosiasi, kecakapan memilih dan mengambil posisi diri, kecakapan mengelola konflik, kecakapan mengadakan hubungan antar pribadi, kecakapan memecahkan masalah, kecakapan mengambil keputusan secara sistematis, kecakapan bekerja dalam sebuah tim, kecakapan berorganisasi, dan lain sebagainya.

 

Keterampilan sikap (afektif) mencakup dua hal. Pertama, sikap yang berkenaan dengan nilai, moral, tata susila, baik, buruk, demokratis, terbuka, dermawan, jujur, teliti, dan lain sebagainya. Kedua, sikap terhadap materi dan kegiatan pembelajaran, seperti menyukai, menyenangi, memandang positif, menaruh minat, dan lain sebagainya. Mengingat sulitnya merumuskan, mengajarkan, dan mengevaluasi aspek afektif, seringkali kompetensi afektif tersebut tidak dimasukkan dalam program pembelajaran. Sama halnya dengan kecakapan hidup, kompetensi afektif hendaknya diupayakan pencapaiannya melalui pengintegrasian dengan topik-topik dan pengalaman belajar yang relevan.

 

Sejalan dengan tujuan pendidikan nasional, kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh lulusan atau tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA.) dapat dirumuskan sebagai berikut:

a.     Berkenaan dengan aspek afektif, peserta didik memiliki keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai ajaran agama masing-masing yang tercermin dalam perilaku sehari-hari; memiliki nilai-nilai etika dan estetika, serta mampu mengamalkan dan mengekspresikannya dalam kehidupan sehari-hari; memiliki nilai-nilai demokrasi, toleransi, dan humaniora, serta menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara baik dalam lingkup nasional maupun global.

b.     Berkenaan dengan aspek kognitif, menguasai ilmu, teknologi, dan kemampuan akademik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

c.     Berkenaan dengan aspek psikomotorik, memiliki keterampilan berkomunikasi, kecakapan hidup, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan lingkungan sosial, budaya dan lingkungan alam baik lokal, regional, maupun global; memiliki kesehatan jasmani dan rohani yang bermanfaat untuk melaksanakan tugas/kegiatan sehari-hari.

 

 

 

Berdasarkan rumusan tersebut, maka kompetensi dapat dikelompokkan menjadi kompetensi yang berkenaan dengan bidang moral keagamaan, kemanusiaan (humaniora), komunikasi, estetika, dan IPTEK.

 

Hal ini tercantum dalam Permendiknas nomor 23 tahun 2006  tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Pasal 1:

(1)      Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik.

(2)      Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi standar kompetensi lulusan minimal Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Standar Kompetensi Lulusan minimal kelompok mata pelajaran, dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran.

(3)      Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum pada Lampiran Peraturan Menteri ini.

 

SKL Satuan Pendidikan untuk SMA sebagaimana yang tercantum pada lampiran Permendiknas nomor 23 tahun 2006, adalah:

a.       Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja;

b.       Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki kekurangannya;

c.        Menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuatan, dan pekerjaannya;

d.       Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial;

e.       Menghargai keberagaman agama, bangsa,  suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup global;

f.         Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif;

g.        Menunjukkan  kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif dalam pengambilan putusan;

h.       Menunjukkan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri;

i.         Menunjukkan sikap kompetitif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik;

j.        Menunjukkan kemampuan  menganalisis dan memecahkan masalah kompleks;

k.        Menunjukkan kemampuan menganalisis gejala alam dan sosial;

l.         Memanfaatkan lingkungan secara produktif dan  bertanggung jawab;

m.      Berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara demokratis dalam wadah NKRI;

n.       Mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya;

o.       Mengapresiasi karya seni dan budaya;

p.       Menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok;

q.       Menjaga kesehatan dan keamanan diri, kebugaran jasmani, serta kebersihan lingkungan;

r.        Berkomunikasi lisan dan tulisan secara efektif dan santun;

s.        Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat;

t.        Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain;

u.       Menunjukkan keterampilan membaca dan menulis naskah secara sistematis dan estetis;

v.        Menunjukkan keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Indonesia dan Inggris;

w.      Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan tinggi.

 

Berdasarkan profil kompetensi lulusan tersebut selanjutnya dijabarkan ke dalam  sejumlah SK dan Kompetensi mata pelajaran yang relevan yang diperlukan untuk mencapai kebulatan kompetensi tersebut.

2. Standar Kompetensi Mata Pelajaran

a. Pengertian Standar Kompetensi Mata Pelajaran

 

Untuk memantau perkembangan mutu pendidikan diperlukan SK. SK dapat didefinisikan sebagai “pernyataan tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai peserta didik serta tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai dalam mempelajari suatu mata  pelajaran” (Center for Civ­ics Education,  1997:2).

 

Menurut definisi tersebut, SK mencakup dua hal, yaitu standar isi (content standards), dan standar penampilan (performance stan­dards).

SK yang menyangkut isi berupa pernyataan tentang pengetahuan, sikap dan keterampilan yang harus dikuasai peserta didik dalam mempelajari mata pelajaran tertentu seperti Kewarganegaraan, Matematika, Fisika, Biologi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris. SK yang menyangkut tingkat penampilan adalah pernyataan tentang kriteria untuk menentukan tingkat penguasaan peserta didik terhadap SI.

 

Dari uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa SK memiliki dua penafsiran, yaitu: (a) pernyataan tujuan yang menjelaskan apa yang harus diketahui peserta didik dan kemampuan melakukan sesuatu dalam mempelajari suatu mata pelajaran dan (b) spesifikasi skor atau peringkat kinerja yang berkaitan dengan kategori pencapaian seperti lulus atau memiliki keahlian.

SK merupakan kerangka yang menjelaskan dasar pengembangan program pembelajaran yang terstruktur. SK juga merupakan fokus dari penilaian, sehingga proses pengembangan kurikulum adalah fokus dari penilaian, meskipun kurikulum lebih banyak berisi tentang dokumen pengetahuan, keterampilan dan sikap dari pada bukti-bukti untuk menunjukkan bahwa peserta didik yang akan belajar telah memiliki pengetahuan dan keterampilan awal.

Dengan demikian SK diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam:

§  melakukan suatu tugas atau pekerjaan.

§  mengorganisasikan agar pekerjaan dapat dilaksanakan.

§  melakukan respon dan reaksi yang tepat bila ada penyimpangan dari rancangan semula.

§  melaksanakan tugas dan pekerjaan dalam situasi dan kondisi yang berbeda.

 

Penyusunan SK suatu jenjang atau tingkat pendidikan merupakan usaha untuk membuat suatu sistem sekolah menjadi otonom, mandiri, dan responsif terhadap keputusan kebijakan daerah dan nasional. Kegiatan ini diharapkan mendorong munculnya standar pada tingkat lokal dan nasional. Penentuan standar hendaknya dilakukan dengan cermat dan hati-hati. Sebab, jika setiap sekolah atau setiap kelompok sekolah mengembangkan standar sendiri tanpa memperhatikan standar nasional maka pemerintah pusat akan kehilangan sistem untuk mengontrol mutu sekolah. Akibatnya kualitas sekolah akan bervariasi, dan tidak dapat dibandingkan kualitas antara sekolah yang satu dengan sekolah yang lain. Lebih jauh lagi kualitas sekolah antar wilayah yang satu dengan wilayah yang lain tidak dapat dibandingkan. Pada gilirannya, kualitas sekolah secara nasional tidak dapat dibandingkan dengan kualitas sekolah dari negara lain.

 

Pengembangan SK perlu dilakukan secara terbuka, seimbang, dan melibatkan semua kelompok yang akan dikenai standar tersebut. Melibatkan semua kelompok sangatlah penting agar kesepakatan yang telah dicapai dapat dilaksanakan secara bertanggungjawab oleh pihak sekolah masing-masing. Di samping itu, kajian SK di negara-negara lain perlu juga dilakukan sebagai bahan rujukan agar lulusan kita tidak jauh ketinggalan dengan lulusan negara lain. SK yang telah ditetapkan berlaku secara nasional, namun cara mencapai standar tersebut diserahkan pada kreasi masing-masing wilayah.

b. Penentuan Standar Kompetensi Mata Pelajaran

 

Perlu diingat kembali, bahwa kompetensi merupakan kebulatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat didemonstrasikan, ditunjukkan, atau ditampilkan oleh peserta didik sebagai hasil belajar. Sesuai dengan pengertian tersebut, maka SK, adalah standar kemampuan yang harus dikuasai peserta didik untuk menunjukkan bahwa hasil mempelajari mata pelajaran tertentu berupa penguasaan atas pengetahuan, sikap, dan keterampilan tertentu telah dicapai.

 

Langkah-langkah menganalisis dan mengurutkan SK adalah:

§  menganalisis SK menjadi beberapa KD;

§  mengurutkan KD sesuai dengan keterkaitan baik secara prosedur maupun hierarkis.

 

Dick & Carey (1978: 25) membedakan dua pendekatan pokok dalam analisis dan urutan SK di samping pendekatan yang ketiga yakni gabungan antara kedua pendekatan pokok tersebut. Dua pendekatan dimaksud adalah pertama pendekatan prosedural, dan kedua pendekatan hierarkis (berjenjang). Sedangkan gabungan antara kedua pendekatan tersebut dinamakan pendekatan kombinasi.

 

§  Pendekatan Prosedural

 

Pendekatan prosedural (procedural approach) dipakai bila SK yang harus dikuasai berupa serangkaian langkah-langkah secara urut dalam mengerjakan suatu tugas pembelajaran.

 

Diagram umum pendekatan prosedural adalah sebagai berikut :

 

Diagram 1. Pendekatan Prosedural

 

 
 

 

Contoh dalam pelajaran Ilmu Sosial Terpadu (IST) ada beberapa SK yang diharapkan dapat dipelajari secara berurutan. Guru diharapkan dapat menyajikan mana yang akan didahulukan. Misalnya kompetensi; (1) Mengidentifikasi konsep-konsep yang membangun IST, (2) Mendeskripsikan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya, dan (3) Mendeskripsikan perubahan sosial budaya masyarakat. Dari ketiga kompetensi tersebut, maka kompetensi untuk mengidentifikasi konsep-konsep yang membangun IST harus paling dahulu dipelajari, setelah itu baru mempelajari dua kompetensi berikutnya. Di antara kedua kompetensi berikutnya maka penguasaan terhadap kompetensi mendeskripsikan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya lebih didahulukan agar peserta didik dengan mudah mendeskripsikan perubahan sosial budaya masyarakat, mengingat perubahan yang terjadi justru sebagai salah satu akibat hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya. Bila disajikan dalam bentuk diagram dapat dilihat pada Diagram 2 berikut.

 

Diagram 2. Pendekatan Prosedural

 
 

 

 

 

 

 

Beberapa hal yang perlu dicatat dari contoh tersebut:

–      peserta didik harus menguasai SK tersebut secara berurutan.

–      Masing-masing SK dapat diajarkan secara terpisah (independent)

–      Hasil (output) dari setiap langkah merupakan masukan (input) untuk langkah berikutnya.

 

§  Pendekatan Hierarkis

 

Pendekatan hierarkis menunjukkan hubungan yang bersifat subordinatif antara beberapa SK yang ingin dicapai. Dengan demikian ada yang mendahului dan ada yang kemudian. SK yang mendahului merupakan prasyarat bagi SK berikutnya.

 

Untuk mengidentifikasi beberapa SK yang harus dipelajari lebih dulu agar peserta didik dapat mencapai SK yang lebih tinggi dilakukan dengan jalan mengajukan pertanyaan “Apakah yang harus sudah dikuasai oleh peserta didik, agar dengan pengajaran yang seminimal mungkin dapat diketahui SK yang diperlukan sebelum peserta didik dapat menguasai SK berikutnya?”

 

Untuk memperjelas, berikut disajikan diagram analisis SK menurut pendekatan hierarkis dalam mata pelajaran matematika.

 

Diagram 3. Pendekatan Hierarkis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



II.         PENGEMBANGAN SILABUS

 

 

A. Pengertian Silabus

 

Istilah silabus dapat didefinisikan sebagai “Garis besar, ringkasan, ikhtisar, atau pokok-pokok isi atau materi pelajaran” (Salim, 1987: 98). Istilah silabus digunakan untuk menyebut suatu produk pengembangan kurikulum berupa penjabaran lebih lanjut dari SK dan KD yang ingin dicapai, dan materi pokok serta uraian materi yang perlu dipelajari peserta didik dalam rangka mencapai SK dan KD. Seperti diketahui, dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran, terlebih dahulu perlu ditentukan SK yang berisikan kebulatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang ingin dicapai, materi yang harus dipelajari, pengalaman belajar yang harus dilakukan, dan sistem evaluasi untuk mengetahui pencapaian SK. Dengan kata lain, pengembangan kurikulum dan pembelajaran menjawab pertanyaan (1) Apa yang akan diajarkan (SK, KD, dan Materi Pembelajaran); (2) Bagaimana cara  melaksanakan kegiatan pembelajaran, metode, media); (3) Bagaimana dapat diketahui bahwa SK dan KD telah tercapai (indikator dan penilaian).

 

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.

 

Silabus bermanfaat sebagai pedoman dalam pengem­bangan pembelajaran lebih lanjut, seperti pembuatan rencana pembelajaran, pengelolaan kegiatan pembelajaran, dan pengembangan sistem penilaian. Silabus merupakan sumber pokok dalam penyusunan rencana pembelajaran, baik rencana pembelajaran untuk satu SK maupun satu KD. Silabus juga bermanfaat sebagai pedoman untuk merencanakan pengelolaan kegiatan pembelajaran, misalnya kegiatan belajar secara klasikal, kelompok kecil, atau pembelajaran secara individual. Demikian pula, silabus sangat bermanfaat untuk mengembangkan sistem penilaian. Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi sistem penilaian selalu mengacu pada SK, KD, dan indikator yang terdapat di dalam silabus.

 

B. Prinsip Pengembangan Silabus

Untuk memperoleh silabus yang baik, dalam penyusunan silabus perlu memperhatikan prinsip-prinsip berikut:

1. Ilmiah

Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Di samping itu, strategi pembelajaran yang dirancang dalam silabus perlu memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran dan teori belajar.

2. Relevan

Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.  Prinsip ini mendasari pengembangan silabus, baik dalam pemilihan materi pembelajaran,  strategi dan pendekatan dalam kegiatan pembelajaran, penetapan waktu, strategi penilaian maupun dalam mempertimbangkan kebutuhan media dan alat pembelajaran. Kesesuaian antara isi dan pendekatan pembelajaran yang tercermin dalam materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran pada silabus dengan tingkat perkembangan peserta didik akan mempengaruhi kebermaknaan pembelajaran.

3. Sistematis

Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi. SK dan KD merupakan acuan utama dalam pengembangan silabus. Dari kedua komponen ini, ditentukan indikator pencapaian, dipilih materi pembelajaran yang diperlukan, strategi pembelajaran yang sesuai, kebutuhan waktu dan media,  serta teknik dan instrumen penilaian yang tepat untuk mengetahui pencapaian kompetensi tersebut.

4. Konsisten

Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara KD, indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, serta  teknik dan  instrumen penilaian. Dengan prinsip konsistensi ini,  pemilihan materi pembelajaran, penetapan strategi dan pendekatan dalam kegiatan pembelajaran, penggunaan sumber dan media pembelajaran, serta penetapan teknik dan penyusunan instrumen penilaian semata-mata diarahkan pada pencapaian KD dalam rangka pencapaian SK.

5. Memadai

Cakupan indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian KD.  Dengan prinsip ini, maka tuntutan kompetensi harus dapat terpenuhi dengan pengembangan materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang dikembangkan. Sebagai contoh, jika SK dan KD menuntut kemampuan menganalisis suatu obyek belajar, maka indikator pencapaian kompetensi, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan teknik serta instrumen penilaian harus secara memadai mendukung kemampuan untuk menganalisis.

6. Aktual dan Kontekstual

Cakupan indikator, materi pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi. Banyak fenomena  dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan materi dan dapat mendukung kemudahan dalam menguasai kompetensi perlu dimanfaatkan dalam pengembangan pembelajaran.  Di samping itu, penggunaan media dan sumber belajar berbasis teknologi informasi, seperti komputer dan internet perlu dioptimalkan, tidak hanya untuk pencapaian kompetensi, melainkan juga untuk menanamkan kebiasaan mencari informasi yang lebih luas kepada peserta didik.

7. Fleksibel

Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan kebutuhan masyarakat. Fleksibilitas silabus ini memungkinkan pengembangan dan penyesuaian silabus dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

8. Menyeluruh

Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor. Prinsip ini hendaknya dipertimbangkan, baik dalam mengembangkan materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, maupun penilaiannya. Kegiatan pembelajaran dalam silabus perlu dirancang sedemikian rupa sehingga peserta didik memiliki keleluasaan untuk mengembangkan kemampuannya, bukan hanya kemampuan kognitif saja, melainkan juga dapat mempertajam kemampuan afektif dan psikomotoriknya serta dapat secara optimal melatih kecakapan hidup (life skill).

C. Unit Waktu Silabus

 

1.    Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk setiap mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan.

2.    Penyusunan silabus suatu mata pelajaran memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester, per tahun, dan alokasi waktu mata pelajaran lain yang sekelompok.

3.    Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan SK dan KD untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum.

 

D. Pengembangan Silabus

 

Pengembangan silabus  dilakukan oleh kelompok guru mata pelajaran sejenis pada satu sekolah atau beberapa sekolah pada kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

 

1.    Disusun secara mandiri oleh kelompok guru mata pelajaran sejenis pada setiap sekolah apabila guru-guru di sekolah yang bersangkutan mampu mengenali karakteristik peserta didik, kondisi sekolah/ madrasah dan lingkungannya.

2.    Sekolah/madrasah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri, sebaiknya bergabung dengan sekolah/madrasah lain melalui forum MGMP untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah-sekolah/madrasah-madrasah dalam lingkup MGMP setempat. Dapat pula mengadaptasi atau mengadopsi contoh model yang dikeluarkan oleh BSNP.

 

E. Komponen Silabus

Silabus merupakan salah satu bentuk penjabaran kurikulum. Produk pengembangan kurikulum ini memuat pokok-pokok pikiran yang memberikan          rambu-rambu dalam menjawab tiga pertanyaan mendasar dalam pembelajaran, yakni (1) kompetensi apa yang hendak dikuasai peserta didik, (2) bagaimana memfasilitasi peserta didik untuk menguasai kompetensi itu, dan (3) bagaimana mengetahui tingkat pencapaian kompetensi oleh peserta didik. Dari sini jelas bahwa silabus memuat pokok-pokok kompetensi dan materi, pokok-pokok strategi pembelajaran dan pokok-pokok penilaian.

 

Pertanyaan mengenai kompetensi yang hendaknya dikuasai peserta didik dapat terjawab dengan menampilkan secara sistematis, mulai dari SK, KD dan indikator pencapaian kompetensi serta hasil identifikasi materi pembelajaran yang digunakan.  Pertanyaan mengenai bagaimana memfasilitasi peserta didik agar mencapai kompetensi, dijabarkan dengan mengungkapkan strategi, pendekatan dan metode yang akan dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran.  Pertanyaan mengenai bagaimana mengetahui ketercaiapan kompetensi dapat dijawab dengan menjabarkan teknik dan instrumen penilaian.  Di samping itu, perlu pila diidentifikasi ketersediaan sumber belajar sebagai pendukung pencapaian kompetensi.

 

Berikut disajikan ikhtisar tentang komponen pokok dari silabus yang lazim digunakan:

 

1.     Komponen yang berkaitan dengan kompetensi yang hendak dikuasai, meliputi :

a.    SK

b.    KD

c.    Indikator

d.    Materi Pembelajaran

 

2.     Komponen yang berkaitan dengan cara menguasai kompetensi, memuat pokok pokok kegiatan dalam pembelajaran.

 

3.     Komponen yang berkaitan dengan cara mengetahui pencapaian kompetensi, mencakup

a.    Teknik Penilaian :

§   Jenis Penilaian

§   Bentuk Penilaian

b.    Instumen Penilaian

 

4.     Komponen Pendukung, terdiri dari :

a.    Alokasi waktu

b.    Sumber belajar.


III.     LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN SILABUS

 

A. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

 

Mengkaji SK dan KD mata pelajaran sebagaimana tercantum pada SI, dengan  memperhatikan hal-hal berikut:

1.    urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI dalam tingkat;

2.    keterkaitan antara SK dan KD dalam mata pelajaran;

3.    keterkaitan antar KD pada mata pelajaran;

4.    keterkaitan antara SK dan KD antar mata pelajaran.

 

B. Mengidentifikasi Materi Pembelajaran

 

Mengidentifikasi materi pembelajaran yang menunjang pencapaian KD dengan mempertimbangkan:

1.    potensi peserta didik;

2.    karakteristik mata pelajaran;

3.    relevansi dengan karakteristik daerah;

4.    tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial dan spritual peserta didik;

5.    kebermanfaatan bagi peserta didik;

6.    struktur keilmuan;

7.    aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;

8.    relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan

9.    alokasi waktu.

 

C. Melakukan Pemetaan Kompetensi

1.    mengidentifikasi SK, KD dan materi pembelajaran

2.    Mengelompokkan SK, KD dan materi pembelajaran

3.    Menyusun SK, KD sesuai dengan keterkaitan

 

D. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran

 

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian KD. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.

 

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah:

1.    Disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik (guru), agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.

2.    Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik  secara berurutan untuk mencapai KD.

3.    Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.

4.    Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar peserta didik, yaitu kegiatan peserta didik dan materi.

 

E. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi

 

Indikator merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

 

Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

 

Kata Kerja Operasional (KKO) indikator dimulai dari tingkatan berpikir mudah ke sukar, sederhana ke kompleks, dekat ke jauh, dan dari konkret ke abstrak (bukan sebaliknya).

 

Kata kerja operasional pada KD benar-benar terwakili dan teruji akurasinya pada deskripsi yang ada di kata kerja operasional indikator.

 

F. Penentuan Jenis Penilaian

 

Penilaian pencapaian KD peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

 

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.

 

G. Menentukan Alokasi Waktu

 

Penentuan alokasi waktu pada setiap KD didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah KD, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan KD. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai KD yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.

 

H. Menentukan Sumber Belajar

 

Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya. Penulisan buku sumber harus sesuai kaidah yang berlaku dalam Bahasa Indonesia.

 

Penentuan sumber belajar didasarkan pada SK dan KD serta materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.


I. Contoh Model Silabus

 

Mata Pelajaran    :    Pendidikan Kewarganegaraan

Kelas                   :    X

Semester             :    1

SK                       :    1. Memahami hakikat bangsa dan Negara  Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Alokasi waktu      :    8 X 45 Menit

 

KOMPETENSI DASAR MATERI PEMBELAJARAN KEGIATAN PEMBELAJARAN INDIKATOR PENILAIAN ALOKASI WAKTU SUMBER BELAJAR
 

1.1  Mendeskripsikan hakikat bangsa dan unsur-unsur terbentuknya negara

 

 

 

 

 

 

 

Bangsa dan negara

  • Manusia sebagai mahkluk individu dan mahkluk sosial

 

 

 

  • Pengertian dan unsur terbentuknya bangsa
  • Pengertian Negara dan Unsur-unsur terbentuknya negara

–     Rakyat

–     Wilayah

–     Pemerintah yang berdaulat

–     Pengakuan dari negara lain

 

 

Mengkaji berbagai literatur tentang

kedudukan manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.

 

Mendiskusikan hasil kajian literatur Pengertian dan unsur terbentuknya bangsa, Pengertian Negara dan Unsur-unsur terbentuknya negara

 

 

 

  • Mendeskripsikan kedudukan manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial

 

 

  • Menguraikan  pengertian bangsa dan unsur terbentuknya bangsa
  • Menganalisis  pengertian negara dan unsur  terbentuknya Negara

 

 

Tes tertulis (Uraian, pilihan ganda, lainnya)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 x 45

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Darji Darmo-diharjo, (1990), Pendidiikan Pancasila di Perguruan Tinggi, Malang: Penerbit IKIP Malang
  • Budiyanto,(1999) Tata negara untuk SMA, Jakarta  Penerbit Erlangga

 

 

 

 


J. Pengembangan Silabus Berkelanjutan

 

Untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran di kelas, dari sebuah silabus perlu dikembangkan dan dibuat rencana pelaksanaan pembelajaran. Rencana pelaksanaan pembelajaran merupakan rancangan secara menyeluruh kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan peserta didik. dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan, dan strategi pembelajaran serta penilaian yang akan dilakukan oleh guru dalam proses pembekalan kompetensi peserta didik.

 

Guru dapat mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran dan menentukan bahan ajar dalam berbagai bentuk (Lembar Kerja Siswa, Lembar Tugas Siswa, Lembar Informasi, dan lain-lain), sesuai dengan strategi pembelajaran dan penilaian yang akan digunakan.

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Adams, Anna R. (1999). Industry Standards Based Curricu­lum. Australian National Training Authority.

 

Adams, Anna R. (1995). Competency Based Training. Di­rectorate Vocational Education, IATVEP A Project.

 

Abdul Gafur (1986). Disain Instruksional: Langkah Sistematis Penyusunan Pola Dasar Kegiatan Belajar Mengajar. Sala: Tiga Serangkai.

 

Abdul Gafur (1987). Pengaruh Strategi Urutan Penyampaian, Umpan Balik, dan Keterampilan Intelektual Terhadap Hasil Belajar Konsep. Jakarta: PAU – UT.

 

Abdul Gafur, dkk. (1986). Definisi Teknologi Pendidikan. Jakarta: CV Rajawali.

 

Abdul Gafur (1985). Media Besar Media Kecil: Alat dan Teknologi Pengajaran. Semarang: IKIP Press.

 

Anglin Gary J. (1991). Instructional Technology: Past, Present, and Future. Colorado: Englewood Cliffs.

 

Bloom et al. (1956). Taxonomy of educational objectives: the classification of educational goals. New York: McKay.

 

Bratton, Barry. (1991). Professional Competencies and Certifcation in the Instructional Technology Field. Colo­rado: Englewood Cliffs, Inco.

 

Center for Civics Education (1997). National Standard for Civics and Government. Calabasas CA: CEC Publ.

 

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1992). Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Republik Indonesia Bidang Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Sekjen Debdikbud.

 

Dick, W. & Carey L. (1978). The Systematic Design of In­struction. Illinois: Scott & Co. Publication.

 

Direktorat Pendidikan Menengah Umum (2001). Kebijakan Pendidikan Menengah Umum. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum.

 

Edwards, H. Cliford, et.all (1988). Planning, Teaching, and Evaluating: A Competency Approach. Chicago: Nelson-Hall.

 

Gronlund, Norman E. (1984). Determining Accountability for Classroom Instruction. New York: Macmillan Publish­ing Company.

Hall, Gene E & Jones, H.L. (1976). Competency-Based Edu­cation: A process for the improvement of education. New Jersey: Englewood Cliffs, Inc.

 

Hall, William C. (1995). Course Planning. Adelaide: Advi­sory Center for University, the University of Adelaide.

 

Hooper, R. (1975). The Curriculum. Edinburg: Oliver &Boyd: The Open University.

 

Joice, B, & Weil, M. (1980). Models of Teaching. New Jer­sey: Englewood Cliffs, Publ.

 

Kemp, Jerold (1977). Instructional Design: A Plan for Unit and Curriculum Development. New Jersey: Sage Publi­cation.

 

Kaufman, Roger A. (1992). Educational Systems Planning. New Jersey: Englewood Cliffs.

 

Marzano RJ & Kendal JS (1996). Designing standard-based districts, schools, and classrooms. Virginia: Association for Supervision and Curriculum Development.

 

McAshan, H.H. (1989). Competency-Based Education and Behavioral Objectives. New Jersey: Educational Tech­nology Publications, Engelwood Cliffs.

 

Oneil Jr., Harold F. (1989). Procedures for Instructional Sys­tems Development. New York: Academic Press.

 

Reigeluth, Charles M. (1987) Instructional Theories in Ac­tion: Lessons Illustrating Selected Theories and Models. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publ.

 

Rosset, A. (1991). A Handbook of Job Aids. San Diego: Pfeiffer Publ.

 

Russell, James D. (1984). Modular Instruction: A Guide to Design, Selection, Utilization and Evaluation of Modular Materials. Minneapolis: Burgess Publishing Company.

 

Salim, Peter (1987). The Contemporary English Indonesian Dictionary. Jakarta: Modern English Press.

 

 

 

 


GLOSARIUM

 

Kecakapan hidup (lifeskill): kemampuan yang diperlukan untuk menempuh kehidupan dengan sukses, bahagia dan secara bermartabat, misalnya: kemampuan berfikir kompleks, berkomunikasi secara efektif, membangun kerjasama, melaksanakan peran sebagai warganegara yang bertanggung jawab, kesiapan untuk terjun ke dunia kerja.

 

Kecukupan (adequacy): mempunyai cakupan atau ruang lingkup materi pembelajaran yang memadai untuk menunjang penguasaan KD maupun SK.

 

Kompetensi dasar (KD): kompetensi minimal dalam mata pelajaran yang harus dimiliki oleh lulusan; kemampuan mini­mum yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik untuk standar kompensi tertentu dari suatu mata pelajaran.

 

Kompetensi lulusan: kemampuan yang dapat dilakukan atau ditampilkan lulusan suatu jenjang pendidikan yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

 

Konsistensi (ketaatazasan): keselarasan hubungan antar komponen dalam silabus (kemampuan dasar, materi pembelajaran dan pengalaman belajar).

 

Materi pokok/pembelajaran: bahan ajar minimal yang harus dipelajari peserta didik untuk menguasai KD.

 

Pembelajaran berbasis kompetensi: pembelajaran yang mensyaratkan dirumuskannya secara jelas kompetensi yang harus dimiliki atau ditampilkan oleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.

 

Pendekatan hierarkis: strategi pengembangan materi pembelajaran berdasarkan atas penjenjangan materi pokok/pembelajaran.

 

Pendekatan prosedural: strategi pengembangan materi pembelajaran berdasarkan atas urutan penyelesaian suatu tugas pembelajaran.

 

Pendekatan spiral: strategi pengembangan materi pembe­lajaran berdasarkan atas lingkup lingkungan, yaitu dari lingkup lingkungan yang paling dekat dengan peserta didik menuju ke lingkup lingkungan yang lebih jauh.

 

Pendekatan tematik: strategi pengembangan materi pembelajaran yang bertitik tolak dari sebuah tema.

 

Pendekatan terjala (webbed): strategi pengembangan pelajaran, dengan menggunakan topik dari beberapa mata pelajaran yang relevan sebagai titik sentral, dan hubungan antara tema dan sub-tema dapat digambarkan sebagai sebuah jala (webb).

 

Ranah afektif: aspek yang berkaitan dengan perasaan, emosi, sikap, derajat penerimaan atau penolakan terhadap suatu obyek.

 

Ranah kognitif: aspek yang berkaitan dengan kemampuan berpikir; kemampuan memperoleh pengetahuan; kemam­puan yang berkaitan dengan pemerolehan pengetahuan, pengenalan, pemahaman, konseptualisasi, penentuan, dan penalaran.

 

Ranah psikomotor: aspek yang berkaitan dengan kemam­puan melakukan pekerjaan dengan melibatkan anggota badan; kemampuan yang berkaitan dengan gerak fisik.

 

Relevansi: keterkaitan.

 

Silabus: susunan teratur materi pembelajaran mata pelajaran tertentu pada kelas/semester tertentu.

 

Standar Kompetensi (SK): kemampuan yang dapat dilakukan atau ditampilkan untuk satu mata pelajaran; kompetensi dalam mata pelajari tertentu yang harus dimiliki oleh peserta didik; kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan dalam suatu mata pelajaran.


LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 1

 

Daftar katakerja operasional yang digunakan dalam perumusan SK dan KD/kompetensi minimal.

 

SK
Kompetensi Dasar
 
Membandingkan Menghitung Mensaripatikan
Menganalisis Mendeskripsikan Meragakan
Mengklasifikasikan Menguraikan Menemukan
Mengidentifikasi Mengurutkan Menggunakan
Mengoperasikan Mendemonstrasikan Melaporkan
Mengkontruksi Mensimulasikan Membuat
Menafsirkan Melafalkan Mengukur
Menerapkan Menyusun Menghitung
Membuktikan Menunjukkan Membedakan
Mengevaluasi Menggerakkan Menggambar
Mengelola Melakukan Melukis

 

Keterangan:

1.   Satu kata kerja tertentu misalnya “mengidentifikasi” dapat digunakan baik pada standar kompotensi maupun KD. Hanya saja cakupan materi pembela­jaran pada standar kompotensi lebih luas daripada materi pada KD.

2.  Satu SK dapat dijabarkan menjadi 3 sampai 6 KD/kompetensi minimal.

3.   Satu KD/kompetensi minimal dapat dijabarkan menjadi sekurang-kurangnya 3 butir indikator.

4.   Pada SK dan KD belum memuat indikator.

 

 


Lampiran 2

Contoh

Format Silabus Dan Cara Mengisinya

 

Nama sekolah          : Diisi nama sekolah tempat peserta didik belajar

Mata Pelajaran         : Diisi nama mata pelajaran

Kelas/Program         : Diisi kelas berapa SK tersebut harus dicapai melalui proses pembelajaran

Semester                : Diisi semester berapa SK tersebut harus dicapai melalui proses pembelajaran

SK                          : Diisi rumusan SK

 

No. Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi Waktu Sumber Belajar
   

Memuat KD hasil penjabaran dari SK yang telah dirumuskan dalam SI.

 

 

Memuat materi pembelajaran hasil penjabaran masing-masing KD yang telah dirumus­kan.

 

Memuat alternatif pengalaman belajar peserta didik  yang terpilih yang dapat dipakai untuk mencapai penguasaan KD.

 

 

Memuat Indikasi ketercapaian KD yang telah dirumuskan dalam SI.

 

 

Memuat Jenis, bentuk, dan macam penilaian yang akan digunakan untuk melihat hasil belajar.

 

 

Memuat alokasi waktu yang diperlukan untuk menguasai masing-masing KD

 

Memuat jenis sumber bahan/alat yang digunakan.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

PEMANFAATAN MEDIA MASSA SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN IPS DI TINGKAT PERSEKOLAHAN

PEMANFAATAN MEDIA MASSA SEBAGAI SUMBER
PEMBELAJARAN IPS DI TINGKAT PERSEKOLAHAN

Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan.
Nama & E-mail (Penulis): arief a. mangkoesapoetra
Saya Guru di SMAN 21 Bandung
Tanggal: 14-05-2004
Judul Artikel: PEMANFAATAN MEDIA MASSA SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN IPS DI TINGKAT PERSEKOLAHAN
Topik: sumber pembelajaran
 

PEMANFAATAN MEDIA MASSA SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN IPS DI TINGKAT PERSEKOLAHAN
Oleh :
Drs. ARIEF ACHMAD MSP., M.Pd.

A. Pendahuluan

Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) disebut juga sebagai synthetic science, karena konsep, generalisasi, dan temuan-temuan penelitian ditentukan atau diobservasi setelah fakta terjadi (Welton dan Mallan, 1988 : 66-67). Informasi faktual tentang kehidupan sosial atau masalah-masalah kontemporer yang terjadi di masyarakat dapat ditemukan dalam liputan (exposure) media massa (Wronski, 1971 : 430-434), karena media massa diyakini dapat menggambarkan realitas sosial dalam berbagai aspek kehidupan. Meskipun untuk itu, informasi atau pesan (message) yang ditampilkannya-sebagaimana dapat dibaca di surat kabar atau majalah, didengarkan di radio, dilihat di televisi atau internet-telah melalui suatu saringan (filter) dan seleksi dari pengelola media itu untuk berbagai kepentingannya (misalnya : untuk kepentingan bisnis atau ekonomi, kekuasaan atau politik, pembentukan opini publik, hiburan [entertainment] hingga pendidikan).

Terlepas dari berbagai kepentingan yang melatarbelakangi pemunculan suatu informasi atau pesan yang disajikan oleh media massa, kiranya tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pada masa kini pertemuan orang dengan media massa sudah tidak dapat dielakkan lagi. Tidaklah berlebihan kiranya apabila abad ke-21 disebut sebagai abad komunikasi massa (Rakhmat, 1985 : 174). Bahkan dalam pembabakan sejarah umat manusia, McLuhan (1964) menyatakannya sebagai babak neo-tribal (sesudah babak tribal dan babak Gutenberg), yakni masa di mana alat-alat elektronis memungkinkan manusia menggunakan beberapa macam alat indera dalam komunikasi. Adapun Toffler (1981) menamakannya sebagai The Third Wave.

Sementara itu, seiring dengan pesatnya perkembangan media informasi dan komunikasi, baik perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software), akan membawa perubahan bergesernya peranan guru-termasuk guru IPS-sebagai penyampai pesan/informasi. Ia tidak bisa lagi berperan sebagai satu-satunya sumber informasi bagi kegiatan pembelajaran para siswanya. Siswa dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber-terutama dari media media massa, apakah dari siaran televisi dan radio (media elektronik), surat kabar dan majalah (media cetak), komputer pribadi, atau bahkan dari internet. Sehingga sistem pembelajaran yang cocok untuk mengelaborasi itu semua adalah sebagaimana digagas oleh Morris (1963 : 12) di bawah ini :

Gambar 1. Sistem Pembelajaran

Adalah tidak berlebihan kiranya apabila Splaine (Shaver, 1991 : 300-309) menyebutkan bahwa media massa sangat berpengaruh di dalam pendidikan IPS. Hal ini didasarkan pada berbagai temuan penelitian yang menyiratkan, antara lain :

1. Media massa, khususnya televisi, telah begitu memasyarakat;.

2. Media massa berpengaruh terhadap proses sosialisasi;

3. Orang-orang lebih mengandalkan informasi yang berasal dari media massa daripada dari orang lain;

4. Para guru IPS perlu memberdayakan media massa sebagai sumber pembelajarannya; dan

5. Para orang tua dan pendidik, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama, dapat meminimalisasikan pengaruh negatif media massa dan mengoptimalkan dampak positifnya.

Dari sini, maka dapatlah ditarik probematika sebagai berikut : Sudahkah guru-guru IPS memberdayakan media massa sebagai sumber pembelajarannya secara efektif ?, dan Apakah para siswa sudah memanfaatkan media massa sebagai sumber pembelajaran IPS? Tentu saja untuk menjawabnya diperlukan sebuah pembuktian empirik!.

Namun, terdapat sebuah “amanat yuridis-formal” yang sudah semestinya diimplementasikan secara praksis, yakni sebagaimana terdapat dalam Undang-Undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 35, yang menyatakan bahwa “Setiap satuan pendidikan jalur pendidikan sekolah, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat harus menyediakan sumber belajar”; kemudian di dalam Penjelasannya ditegaskan bahwa :

Pendidikan tidak mungkin dapat terselenggara dengan baik bilamana para tenaga kependidikan maupun para peserta didik tidak didukung oleh sumber belajar yang diperlukan untuk penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar yang bersangkutan.

B. Pengertian IPS

Hingga saat ini, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) hanyalah sebuah program pendidikan dan bukan sub-disiplin ilmu tersendiri, sehingga tidak akan ditemukan baik dalam nomenklatur filsafat ilmu, disiplin ilmu-ilmu sosial (social sciences), maupun ilmu pendidikan (Somantri, 2001 : 89). Social Science Education Council (SSEC) dan National Council for Social Studies (NCSS) menyebut IPS sebagai “Social Science Education” dan “Social Studies”.

Pada tahun 1992, NCSS telah mendefinisikan IPS sebagai berikut :

Social studies is the integrated study of the social sciences and humanities to promote civic competence. Within the school program, social studies provides coordinated, systematic study drawing upon such disciplines as anthropology, archaeology, economics, geography, history, law, philosophy, political science, psychology, religion, and sociology, as well as appropriate content from the humanities, mathematics, and natural sciences. The primary purpose of social studies is to help young people develop the ability to make informed and reasoned decisions for the public good as citizens of a culturally diverse, democratic society in an interdependent world. (Stahl dan Hartoonian, 2003)

Sementara itu berdasarkan hasil rumusan Forum Komunikasi II HISPIPSI di Yogyakarta (1991) dan menurut versi FPIPS dan Jurusan Pendidikan IPS, dapat diformulasikan pengertian IPS, seperti dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel 1. Definisi IPS Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Pendidikan IPS untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah Pendidikan IPS untuk tingkat pendidikan tinggi

Pendidikan IPS adalah penyederhanaan adaptasi, seleksi, dan modifikasi dari disiplin akademis ilmu-ilmu sosial yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis-psikologis untuk tujuan institusional pendidikan dasar dan menengah dalam kerangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila Pendidikan IPS adalah seleksi dari struktur disiplin akademik ilmu-ilmu sosial yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk mewujudkan tujuan pendidikan dalam kerangka pencapaian tujuan pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila

Sumber : Somantri, 2001 : 103.

Dengan demikian, maka untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah, IPS diimplemementasikan sebagai Social Studies dan untuk tingkat pendidikan tinggi sebagai Social Science Education. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2. Implementasi IPS di tingkat pendidikan dasar, menengah, dan tinggi

Menurut Depdikbud (1994), IPS yang diajarkan di tingkat pendidikan dasar mencakup bahan kajian lingkungan sosial, ilmu bumi, ekonomi, dan pemerintahan, serta bahan kajian sejarah. Sedangkan untuk jenjang pendidikan menengah didasarkan pada bahan kajian pokok Geografi, Ekonomi, Sosiologi, Antropologi, Tata Negara, dan Sejarah.

C. Pengertian Sumber Pembelajaran

Menurut Association for Educational Communications and Technology (AECT, 1977), sumber pembelajaran adalah segala sesuatu atau daya yang dapat dimanfaatkan oleh guru, baik secara terpisah maupun dalam bentuk gabungan, untuk kepentingan belajar mengajar dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi tujuan pembelajaran. Sumber pembelajaran dapat dikelompokan menjadi dua bagian, yaitu :

1. Sumber pembelajaran yang sengaja direncanakan (learning resources by design), yakni semua sumber yang secara khusus telah dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal; dan

2. Sumber pembelajaran yang karena dimanfaatkan (learning resources by utilization), yakni sumber belajar yang tidak secara khusus didisain untuk keperluan pembelajaran namun dapat ditemukan, diaplikasikan, dan dimanfaatkan untuk keperluan belajar-salah satunya adalah media massa.

D. Media Pendidikan dan Sumber Pembelajaran IPS

Media pendidikan adalah alat, metode dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pembelajarannya (Hamalik, 1985 : 23).

Sebagai sumber pembelajaran IPS, media pendidikan diperlukan untuk membantu guru dalam menumbuhkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran IPS. Diversifikasi aplikasi media atau multi media, sangat direkomendasikan dalam proses pembelajaran IPS, misalnya melalui : pengalaman langsung siswa di lingkungan masyarakat; dramatisasi; pameran dan kumpulan benda-benda; televisi dan film; radio recording; gambar; foto dalam berbagai ukuran yang sesuai bagi pembelajaran IPS; grafik, bagan, chart, skema, peta; majalah, surat kabar, buletin, folder, pamflet dan karikatur; perpustakaan, learning resources, laboratorium IPS; serta ceramah, tanya jawab, cerita lisan, dan sejenisnya (Rumampuk, 1988 : 23-27; Mulyono, 1980 : 10-12).

E. Pemanfaatan Media Massa sebagai Sumber Pembelajaran IPS

Dari beberapa batasan pengertian media massa yang dikemukakan oleh para pakar komunikasi (McLuhan, 1964; Bittner, 1980 : 10; Wright, 1985 : 2-7; Susanto, 1980 : 2; NCSS, 2002) maka berikut ini sintesanya.

Media massa adalah suatu jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melewati media cetak atau elektronik, sehingga pesan informasi yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. Pengertian “dapat” di sini menekankan pada pengertian, bahwa jumlah sebenarnya penerima pesan informasi melalui media massa pada saat tertentu tidaklah esensial. Yang penting ialah “The communicator is a social organization capable or reproducing the message and sending it simultaneously to large number of people who are spartially separated” (Tan, 1981 : 73). Adapun bentuk media massa, secara garis besar, ada dua jenis, yaitu : media cetak (surat kabar dan majalah, termasuk buku-buku) dan media elektronik (televisi dan radio, termasuk internet).

Media massa dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran IPS, karena media massa pada hakekatnya merupakan representasi audio-visual masyarakat itu sendiri. Sehingga fenemona faktual yang terjadi di masyarakat, dapat secara langsung (live) diliput dan ditayangkan media massa (melalui siaran televisi atau radio, misalnya). Pemanfaatan media massa artinya penggunaan berbagai bentuk media massa, baik cetak maupun elektronik untuk tujuan tertentu-yang dalam kajian ini disebut sebagai sumber pembelajaran IPS.

Guru dapat memanfaatkan atau memberdayakan media massa sebagai sumber pembelajaran IPS secara optimal dan efektif sehingga dapat menunjang keberhasilan pembelajaran IPS melalui tiga cara, yaitu :

1. media massa dapat memperbaiki bagian konten dari kurikulum IPS;

2. media massa dapat dijadikan alat pembelajaran yang penting bagi IPS; dan

3. media massa dapat digunakan untuk menolong siswa mempelajari metodologi ilmu-ilmu sosial, khususnya di dalam menentukan dan menginterpretasi fakta-fakta sosial.(Clark, 1965 : 46-54).

Sebagai konsekuensi logis dari pemanfaatan media massa sebagai sumber pembelajaran IPS di tingkat persekolahan, maka menurut Rakhmat (1985 : 216-258), terdapat paling tidak empat buah efek pemanfatan media massa, yaitu :

1. Efek kehadiran media massa, yaitu menyangkut pengaruh keberadaan media massa secara fisik;

2. Efek kognitif, yaitu mengenai terjadinya perubahan pada apa yang diketahui, difahami, atau dipersepsi siswa;

3. Efek afektif, yaitu berkenaan dengan timbulnya perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi, atau dibenci siswa; dan

4. Efek behavioral, yaitu berkaitan pada perilaku nyata yang dapat diamati, yang mencakup pola-pola tindakan kegiatan, atau kebiasaan berperilaku siswa.

F. Penutup

Berdasarkan kajian teoretik, ternyata :

1. Kelemahan kadar pembelajaran IPS selama ini terletak pada, antara lain : teacher centered, cenderung naratif/ekspositori, dan kurang mengoptimalkan sumber pembelajaran (baik by design maupun by utilization).

2. Pemanfaatan media massa sebagai sumber pembelajaran, diyakini dapat meningkatkan kadar pembelajaran IPS.

3. Media massa adalah sesuatu yang sangat berpengaruh di dalam pembelajaran IPS.

Kemudian, berdasarkan kajian empirik, ternyata : para siswa-di tingkat persekolahan yang memanfaatkan media massa sebagai sumber pembelajarannya cenderung lebih baik hasil belajar IPS-nya daripada yang tidak memanfaatkannya.

DAFTAR PUSTAKA

AECT (1977). The Definition of Educational Technology, Association for Educational Communication and Technology,.

Al Muchtar, S. (2000). Epistemologi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Bandung : Gelar Pustaka Mandiri.

Buntoro, T.M.R.S. (1977). “Penelitian mengenai Prestasi Sekolah Anak dalam Hubungannya dengan Kegemaran Membaca”. Jurnal Psikologi Indonesia, 2, 43-54.

Clark, L.H. (1965), Social Studies and Mass Media. Plainfield, N.J. : New Jersey Secondary School Teachers Association).

Galagher, N. (2002). Recognising Bias and Distortion in Television News Programs. [Online]. Tersedia : http://hsc.csu.edu.au/pta/scansw/bias.htm. [10 Nopember 2002].

Hamalik, Oemar. (1982). Media Pendidikan. Bandung : Alumni.

Hasan, S.H. (1996). Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial. Bandung : Jurusan Pendidikan Sejarah-FPIPS IKIP Bandung.

Karnadi dan Sutisno, P.C. (Eds.) (2001). “Minat Pelajar SMU dan Mahasiswa terhadap Pendidikan Demokrasi melalui Siaran Televisi”. Teknodik. V (9), 27-38.

McLuhan, M. (1964). Understanding Media : The Extensive of Man. New York : McGraw-Hill.

Mustofa, H. (2001). “Pemanfaatan Media Cetak dalam Pembelajaran IPS”. Jurnal Ilmu Pendidikan, 8 (4), 328-333.

NCSS. (2002). Strategies for Integrating Media Literacy Into the Social Studies Curriculum. [Online]. Tersedia : http://www.mediad.org/studyguides/ Strategies for Integrating Media Literacy/html. [10 Nopember 2002].

NCSS. (2003). Curriculum Standard for the Social Studies. [Online]. Tersedia : http://www.ncss.org/. [14 Pebruari 2003].

Rakhmat, J. (1985). Psikologi Komunikasi. Bandung : CV. Remadja Karya.

Rumampuk, D.B. (1988). Media Instruksional IPS. Jakarta : P2LPTK-Ditjen Dikti Depdikbud.

Somantri, M.N. (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung : PPS-UPI dan PT. Remadja Rosda Karya.

Splaine, J.E. (1991). “The Mass Media as An Influence on Social Studies”. Dalam Shaver, J.P. (Ed.) (1991). Handbook of Research on Social Studies Teaching and Learning. New York : MacMillan Publishing Co.

Sutisno, .P.C. (1999). “Pengaruh Media Televisi terhadap Pendidikan : Kajian Dampak Media Massa”. Teknodik. IV (7), 20-43.

Tan, A.S. (1981). Mass Communication Theories and Research. Ohio : Grid Publishing, Inc.

Tandowidjojo, JVS. (1985). Media Massa dan Pendidikan. Yogyakarta : Kanisius.

Toffler, A. (1981). The Third Wave. New York : Bantam Books.

Venus, A. (2000). “The Role of Media Educatioan in Developing Children`s Critical Thinking Toward TV Programs”. MediaTor, 1 (1), 57-61.

Waldopo. (2000). “Potensi Televisi sebagai Media Pendidikan dan Pembelajaran”. Teknodik. IV (8), 53-58.

Welton, D.A. dan Mallan, J.T. (1988). Children and Their World : Strategies for Teaching Social Studies. Boston : Houghton Mifflin Company.

Wronski, S.P. (1971). “Teaching of Contemporary Affairs”, dalam Deighton, L.C. (Ed.). The Encyclopedia of Education. Vol. 2. USA : MacMillan and Free Press.

Saya arief a. mangkoesapoetra setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

agama kristen dalam perkembangan

Titik Bertolak – Awal Berkait

1.1   Agama Kristen Nyaris Roboh

7 April tahun 30 A.D. (Anno Domini)1 bertepatan dengan hari Jum’at, YESUS KRISTUS putera Tuhan yang diutus pada domba-domba Israel telah dijatuhi hukuman mati, disalib! Demikianlah cerita yang tersurat dalam kitab suci ummat Kristen, Perjanjian Baru.

Di lembah GOLGOTTA Bethlehem Yerusalem, kira-kira pukul 3 sore pada Jum’at yang na’as itu, dalam keadaan hampir telanjang, Yesus sang Putera telah menjalani hukuman matinya. Itulah klimaks dari kegagalan missinya. Ia gagal total menanam benih di atas ketandusan bangsanya. James M. Stalker berkata dalam bukunya:

“Belum pernah di dunia ini sesuatu kegagalan begitu mutlak nampaknya seperti kegagalan Tuhan Yesus. Tubuhnya terkapar dalam kubur. Musuh-musuhnya sudah menang. Kematian mengakhiri segala pertentangan dan dari kedua yang bertentangan itu, kemenangan adalah pada pihak pemimpin-pemimpin Yahudi. Tuhan Yesus sudah tampak dan menyatakan diri sebagai Messias. Tetapi Ia bukanlah jenis Messias yang mereka idam­idamkan. Pengikut-pengikutnya sedikit saja jumlahnya dan tidak berpengaruh. Masa kerjanya singkat sekali. Sekarang Ia sudah mati dan tamatlah riwayatnya.” 2

Alangkah ironisnya peristiwa itu. Betapa tidak, sang BAPAK di sorga seolah­olah tidak mengenal watak hakiki bangsa Israel “selalu berkhianat” terutama terhadap Utusan-utusan yang datang. Ah, lagi-lagi Tuhan Bapak itu telah lalai mempersiapkan keamanan menjelang Sang Putera datang ketengah domba­domba Israel. Ataukah ada unsur kesengajaan sang BAPAK membunuh PUTERANYA sendiri?

Cobalah lihat peristiwa yang menimpa diri Yesus ini. Bahkan pengikut-pengikutnya yang sedikit itupun mengingkari dia. SIMON PETRUS murid yang dicinta dan menyintai juga meninggalkannya. Bukan itu saja, ia banyak menyaksikan adegan-adegan hina atas Gurunya. Ia menyaksikan Gurunya dituntut di depan pengadilan, tapi ia diam saja. Ia menyaksikan pukulan-pukulan tinju menjatuhi tubuh Gurunya, ia diam saja. Saat Gurunya diludahi, ia diam saja. Ketika orang bertanya apakah ia kenal Yesus, ia menjawab: “Aku tidak kenal orang itu.” Sampai tiga kali orang bertanya padanya, Simon Petrus murid yang terdekat itu tetap menyangkal. Padahal ia pernah bersumpah di hadapan Gurunya:

“Biarpun hamba mati bersama-sama TUHAN tiada hamba akan menyangkali Tuhan. “3

Takutkah ia? Ataukah ia sehaluan dengan Judas Iskariot si pengkhianat?!! Cobalah lihat yang lain, seluruh lapisan masrakat, orang-orang Yahudi, orang tua ahli-ahli Taurat, seluruhnya ikut melibatkan diri mereka atas pembunuhan yang keji. Bahkan yang memilih vonis salib adalah mereka.4 Tatkala kematian di salib berakhir dengan jeritan putus harap: “Ya Tuhan! Ya Tuhan, mengapa Engkau tinggalkan Aku” (Eli Eli Lama Sabakhtani), sedangkan dari sang BAPAK di sorga tiada juga datang jawaban atas panggilan putera yang menyayat pilu, maka berakhirlah sudah kisah dramatis di lembah Golgotta. Sebaliknya dari kisah yang tamat, dimulailah awal persengketaan religius di kalangan theoloog-theoloog Kristen terhadap diri Yesus. Figur siapa “YESUS KRISTUS” menjadi pokok fundamentil dari kekacauan iman yang tak habis-habisnya.

Siapakah sebenarnya ia itu? Seorang manusia, Superman, Juru Selamat yang celaka, SEMI (setengah) GOD, ataukah ia PUTERA Tuhan atau TUHAN itu sendiri? Itulah soal-soal yang memusingkan akal, mengacaukan keyakinan kaum kristen. Missinya yang singkat dan gagal total, kematiannya yang hina di palang kayu, membuktikan secara nyata betapa mati gersang rohani bangsa Yahudi dan betapa sia-sia serta konyol setiap Utusan Tuhan yang datang pada mereka.

Adalah satu hal yang wajar bila sejarah Yesus berakhir pada kematiannya: Sebagaimana yang dikatakan James Stalker:  “Sekarang ia sudah mati dan tamatlah riwayatnya.”

Akan tetapi pada kenyataannya tidak demikian; Sejarah Kristen mulai menampilkan lembaran-lembaran babak baru tentang Yesus. Justru dengan kisah “SESUDAH MATINYA” itulah, jalan baru telah terbuka lempang bagi kelangsungan iman kristiani. Kematian Yesus bukan penutup dari kegagalannya, demikian theolog-theolog Kristen berbicara. Dari kematian timbul masa cerah. Samuel Zwemer berkata:

“Syukur kepada Allah bahwa berita Injil tidak berakhir dengan kematian Kristus. Cerita itu tidak tammat dengan jeritan kemenangannya “sudah selesai.” Demikian juga amanat kerasulan. Kematian Kristus disusul oleh kebangkitannya. “5

Orang-orang yang menjadi saksi mata kisah kebangkitan dari maut tersebut, termasuk murid-muridnya yang ingkar, konon memperoleh kembali keyakinan mereka akan Tuhannya Yesus. Kebangkitan dari maut memancarkan cahaya baru, kata Samuel.6 Karenanya kegagalan missi beralih success, yang ingkar balik percaya, yang berdosa putih kembali, dan tammatnya kisah Kristus karena kematiannya menjadi berlanjut.

James Stalker berkata:

“Karena kebangkitannya dari maut maka kebangkitan itu sendiri adalah MUJIZAT terbesar, sehingga karenanya SELURUH KEHIDUPANNYA YANG AJAIB menjadi dapat dipercaya.”7

Rasul Paulus juga berkata:

“Jika Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah kepercayaanmu dan kamu masih hidup dalam dosamu. “8

Itulah makna kebangkitan. Sayangnya kebangkitan itu hanya berjalan 40 hari.

Pada hari ke-40 dari kematian Yesus maka tubuhnya yang dipermuliakan itupun kembalilah ke tempatnya yang sejati, di sebelah KANAN ALLAH BAPAK.9
Tidak semua kaum Yahudi yang mati rohani sempat menjadi saksi-saksi mata. Konon kepercayaan hanya menjalar pada segelintir manusia yang melihat kisah kebangkitan itu. Apakah yang melihat sanggup bertahan, padahal semenjak Yesus lenyap telah timbul kontroversi-kontroversi religius yang tak kunjung selesai. Bertahun­tahun awan gelap meliputi ummat Masehi. Opini-opini yang bertentangan mengenai siapa YESUS KRISTUS melanda kaum pendeta, kaum paderi, uskup­uskup dan Paus-paus. Mereka saling berbantah, saling mengucil, saling melaknat dan mengutuk. Masa gelap dan silang sengketa ini harus disudahi serta dicarikan obat penawar demi kelangsungan hidup agama itu sendiri.

Hal inilah yang menyebabkan kisah versi Perjanjian Baru masih berlanjut.

1.2   Kedatangan Kembali Almasih

Pada akhirnya diketemukanlah semacam obat penawar yang kelihatannya dipaksakan pada tubuh yang sedang sakit itu. Obatnya tidak lagi berkisar pada cerita “KUBURAN KOSONG” atau pada “KEMATIAN TUHAN DISALIB” atau pada cerita “BANGKIT DARI MAUT” melainkan pada cerita baru: “KEDATANGAN KEMBALI ALMASIH” ke atas dunia ini. Entah kapan ia datang, namun ia sudah berjanji untuk kembali dan mendirikan kerajaan Allah yang kekal. Charles H. Spurgeon berkata dalam kitabnya:

“Drama keseluruhan yang meliputi kebangkitan kembali itu belum komplit jika Yesus Kristus belum juga datang kembali ke dunia sebagai Raja. Jika dia sudah datang, dia tidak akan dihina, diludahi lagi. Setiap orang akan berlutut padanya. Dia akan datang bersama salib namun tidak sepotongpun paku akan melukai tangannya yang halus lembut itu. Dia datang untuk mendirikan kerajaan Allah yang kekal dan akan memerintah untuk selama-lamanya. Haleluyah!”10

Demikian makna kedatangan kembali Yesus ke dunia; menjadi obat penawar, sinar cerah dan keyakinan usang yang diperbarui.

Masa keragu-raguan tampaknya hilang sudah karena konsep baru telah diperoleh. Akan tetapi pada hakikatnya dalam praktek penindoktrinasian konsepsi baru tersebut ternyata tidak sanggup mendominir ratio maupun fitrah insaniah di dada setiap orang. Logika mulai menolak, dada mulai sangsi. Bentrokan-bentrokan opini timbul kembali. Masih belum terjawab juga soal: “SIAPA YESUS ITU.” Ahli sejarah Inggris yang mashur, Prof. J. Arnold Toynbee berkata:

“Sudah jelas bahwa kedatangan kembali Almasih mula-mula dipusakai sendiri oleh gereja, tatkala mereka diliputi kelemahan kepercayaan serta kegagalan dalam pokok keimanan mereka. Jelas pula bahwa doktrin kedatangan kembali menjalar dengan cepat pada masyarakat, sekte-sekte dan orang-orang yang sama-sama merasa serta mengalami kekecewaan karena kehilangan pegangan.”11

Demikian yang terjadi doktrin kedatangan kembali Almasih menyerap ke dalam tubuh kristen hanya sebagai penawar iman “yang semu belaka.” Ia tidak lebih dari pada suatu sumbangan konsep yang harus diterima oleh setiap Kristiani yang setiap waktu pula bersiap-siap pergi karena ditolak oleh rongga-rongga dada yang sesak yang telah lama menyimpannya, maupun oleh logika kritis yang memberontak atas dogma membeku yang melekat padanya.

1.3   Siapakah Imam Mahdi Itu?

Satu hal yang menarik untuk disisipkan di sini masih perihal KEDATANGAN KEMBALI ALMASIH ialah, bahwa bukan saja kaum Kristen yang memiliki kepercayaan “kedatangan kembali” itu melainkan pada kaum Muslimin ternyata pula menyimpan kepercayaan itu. Entah siapa yang berhak di antara kedua ummat ini, ataukah keduanya sama-sama berhak?

Jika kedatangan Almasih bagi ummat Kristen merupakan HALELUYAH KEMENANGAN, maka bagi ummat muslimin merupakan DATANGNYA YANG HAQ SIRNANYA YANG BATIL. Bukankah Almasih akan datang dan menyatakan bahwa Islam adalah Agama sejati? Bukankah Almasih akan mendirikan Shalat berjama’ah serta menjadi ma’mum di shaf pertama? Alangkah bahagia saat-saat demikian!

Disamping kebahagiaan ummat Muslimin karena Almasih datang untuk kemenangan Islam, terpetik pula sebuah “kabar suka” bahwa kebahagiaan akan melimpah, kemenangan akan mutlak yaitu pada saat seseorang yang bergelar IMAM MAHDI datang di tengah-tengah ummat Muslimin. Yang lebih meyakinkan lagi ialah bahwa munculnya Imam Mahdi itu bertepatan waktunya dengan kedatangan Almasih. Beliau inilah yang didorong oleh Almasih untuk menjadi imam dalam shalat berjama’ah itu. Kedatangan Imam Mahdi telah tersebut dalam beberapa Hadits. Di antara Missi-missinya yang utama ialah:

* Beliau akan membagi harta sama rata;
* Beliau menegakkan Agama pada akhir zaman seperti Nabi Muhammad saw. pada permulaan zaman.

* Beliau akan menegakkan keadilan di bumi.
* Beliau akan berperang atas Sunnah Rasul.
* Beliau akan membunuh babi dan salib.l2

* Ummat Islam akan mendapat kesenangan dari padanya yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya.

* Beliau tidak membangunkan orang tidur dan tidak menumpahkan darah.
* Penduduk Bumi dan Langit serta burung-burung suka pada kekhalifahan­nya.

Demikianlah missi-missi utamanya. Begitu hebat makna kedatangannya, bahkan terpetik berita-berita yang mengatakan bahwa meriam-meriam musuh yang memuntahkan peluru untuk membunuh kaum Muslimin konon mendadak berobah menjadi cairan dingin. Jika demikian kondisi dan situasinya, beliau tentunya sangat diharapkan mengingat penderitaan ummat sudah semakin parah.

Akan tetapi kapan beliau datang? Soalnya hanya tunggu waktu saja; dan sesudah sekian tahun bahkan sekian abad belum juga terjawab “kapan beliau datang,” maka yang menunggu bertambah menderita sedang yang ditunggu belum juga tiba.

Last but not least harapan ummat yang menderita telah terpenuhi. Secara mengejutkan namun menggembirakan, sejarah Islam telah menampilkan Imam Mahdi; Beliau sudah datang! Siapa orangnya, dimana munculnya, kapan datangnya, inilah yang sulit memastikan! Sebab Imam Mahdi yang datang tidak seorang melainkan banyak. Bahkan yang menambah sulit lagi masih ada Imam­imam Mahdi yang belum datang. Mereka juga ditunggu-tunggu kedatangannya.

Untuk memudahkan Kita mengenal para Imam Mahdi tersebut, baiknya kita memisalkan mereka dalam dua masa. Masa pertama ialah masa “mereka yang belum datang” dan masa kedua ialah “masa mereka yang sudah datang.” Mereka yang akan datang menurut aliran Syiah Sabaiyah adalah Ali bin Abi Talib; Menurut Syiah Kaisaniyah adalah Mohammad Ali Hanafiyah. Menurut Syiah AI-Jaridiyah, Mohammad bin Abdullah An-Nafsus Zakiyah adalah Mahdi yang ditunggu-tunggu. Menurut Syiah Imamiah, Mohammad bin Hasan Al-Askari adalah Mahdi yang ditunggu-tunggu. Adapun para Mahdi yang “sudah datang” antara lain ialah: Ubaidullah bin Mohammad Alhabib oleh Syiah Qaramithah dianggap Mahdi. Mohammad bin Ismail bin Ja’far oleh golongan Syiah Ismailiyah dianggap Mahdi. Golongan Muwahidin menganggap Mohammad bin Taumert adalah Mahdi. Segolongan Muslim di India menganggap Ahmad bin Mohammad Berelvi adalah Mahdi. Golongan Ahmadiyah di India menganggap Mirza Ghulam Ahmad adalah Mahdi. Golongan Babiyah menganggap Ali Mohammad Al-Bab adalah Mahdi. Penduduk Sudan Afrika menganggap Mohammad Ahmad Donggola adalah Mahdi. Mahdi-mahdi yang lain seperti Mahdi dari Rief Afrika, dari Tunisia, dari Marokko, dari Pegunungan Shahrazur, dari Kurdistan, dari Senegal dan Mahdi dari Jawa timur Indonesia, merekapun telah datang dan masing-masing membawa missi-missi utamanya.l3

Demikian kumpulan Mahdi yang tercatat dalam sejarah Islam. Kenyataan dari mereka yang telah datang itu sama sekali tidak sanggup memenuhi missi-missi utamanya. Jangankan seluruh missi sanggup dipikulnya, pada tugas pembagian harta sama-rata saja, beliau-beliau itu tidak sanggup melaksanakannya; Juga mereka tidak membunuh BABI atau memecah SALIB, baik harafiyah maupun kiasan. Apalagi memberi kesenangan pada kaum Muslimin yang belum pernah dirasakannya.

Bagaimana dengan Mandi-mahdi yang belum datang?! Apakah kaum Muslimin harus menanti kedatangan mereka? Padahal, penantian itu membuat ummat jadi lamban. Lebih-lebih penantian yang tak menentu, entah tahunan, puluhan tahun, abad bahkan ribuan tahun. Ummat Muslimin akan kehilangan langkah, statis, mati gerak, bahkan tertelan zaman. Mengambil sikap yang baik adalah tidak menanti dan tidak terlintas dalam pikiran untuk menanti. Lebih baik lagi ialah membuang jauh doktrin kedatangan kembali Almasih maupun Almahdi.

Namun andaikata sejarah Islam nanti menampilkan tokoh-tokoh tersebut, maka biarkanlah nama beliau, tempat munculnya, waktu datangnya berada dalam ketentuan TUHAN.

1.4   Tersusunlah Buku Ini

Berbagai ragam aliran kepercayaan, kebatinan maupun pergerakan yang menamakan dirinya sebagai faham-faham baru dalam Islam, pikiran-pikiran baru tentang Islam. Modernisasi Islam atau Neonisasi Islam, telah berada maupun berkisar berputar di sekeliling tubuh Islam, melekat merapat mengisap tubuh itu bahkan melukainya dalam goresan yang dalam. Mereka pada kenyataannya memecah belah mayoritas, kemudian bagian-bagian dari mereka mengisolir diri dan menyatakan bahwa mereka adalah pewaris-pewaris Islam serta pengikut-pengikutnya adalah muslim-muslim sejati. Banyak kaum Muslimin terkena jerat terbawa jauh bahkan terpisah dari pedoman Al-Qur’an dan Sunnah.

Pada mulanya patokan-patokan yang dipakai untuk landasan berpijaknya gerakan-gerakan itu tampaknya bersandar pada Kitab Suci Al-Qur’an; Namun pada saat-saat mereka bergerak selangkah ke depan tampaklah isi maupun hakikatnya bertujuan menyimpang bahkan menyesatkan! Mereka sebenarnya merupakan tanda-tanda nyata kelemahan iman maupun kondisi ummat Islam di satu pihak, dan keunggulan musuh-musuh Islam di lain pihak.

Membahas gerakan neonisasi Lslam ini akan banyak memakan tempo, tenaga dan pikiran yang dicurahkan. Karenanya lebih baik diambil satu contoh dari mereka untuk dikemukakan disini. Maka perkenankanlah kiranya jika contoh itu jatuh pada aliran atau gerakan AHMADIYAH yang didirikan oleh MIRZA GHULAM AHMAD dari QADIAN INDIA. Aliran ini terkenal juga dengan doktrin kedatangan kembali Almasih dan Almahdi. Bahkan yang menarik dari aliran ini ialah bahwa Almasih dan Almahdi itu sudah datang dan terdapat pada seseorang yang bernama MIRZA GHULAM AHMAD. Ia merangkap kedua jabatan itu sekaligus.

Aliran Ahmadiyah menyatakan diri sebagai Islam sejati. Organisasinya rapi, keuangannya padat, kerjanya agak lambat namun berbekas pada penganut-penganutnya. Justru karena kerapian organisasi dan kepadatan uangnya, maka Ahmadiyah pikatannya sangat menarik, jeratannya sangat lekat dan sekujur tubuhnya kelihatan mulus dan cantik. Namun demikian, pada hakikatnya di balik kecantikan yang mulus itu, pada darah yang mengalir dalam tubuhnya, rumah tempat bernaungnya, pelindung tempat berteduhnya, semua itu merupakan kenyataan-kenyataan yang sangat berlawanan dengan lahirnya. Hal mana apabila diungkapkan di sini akan menjadi suatu sajian menarik baik sebagai bahan telaal maupun sebagai bahan pengetahuan.

Sungguh sangat menyedihkan bahwa ISLAM dilingkari dan diisap oleh gerakan semacam itu, yang pada lahirnya merupakan MERCU SUAR ISLAM dengan pancaran sinar terang benderang, namun pada hakikatnya mercu suar itu telah mengantar biduk-biduk iman serta pikiran manusia ke tempat labuh yang sesat sehingga menimbulkan tubrukan-tubrukan keras dan kerusakan­kerusakan fatal.

Adalah menjadi harapan-harapan saya dengan tersusunnya tulisan ini, semoga dapat dijadikan pangkal study mendalam terhadap gerakan tersebut maupun terhadap gerakan-gerakan yang lain. Dan semoga pula dapat disisipkan sebagai bahan-bahan tambahan untuk LEMBAGA RESEARCH ISLAM.

Hanya kepada ALLAH YANG MAHA MENGETAHUI jualah saya pasrahkan segala pekerjaan ini dengan memohon ampun serta keridhaanNya. Kemudian salam dan selawat serta sejahtera terlimpah kepada Rasul MUHAMMAD Nabi penutup junjungan ummat serta tauladan hidup. Kepada keluarga beliau, kerabat serta sahabat terucap pula salam selawat sejahtera. Kepada TUHAN PENCIPTA ALAM SEMESTA segala puja dan pengabdian tertuju satu.

Dipublikasi di informasi, informatika, kesehatan, komunikasi, matematika, pendidikan, sosial, spiritual, teknologi, Uncategorized | 3 Komentar

Pendidikan Teknologi Informasi Peluang dan Tantangan

Pendahuluan

 

Teknologi Informasi  berbasis pada  disiplin ilmu-ilmu Informatika, tenik komputer dan elektronika. Semuanya terikat dalam  wahana yang disebut komputasi. Dalam konteks ini komputasi tidak selalu diartikan pada pekerjaan yang berkatian  dengan hitung menghitung namun ia juga menjadi bagian  dari proses pengolahan, penyimpanan dan penyampaian informasi, akibatnya tiap jaringan komunikasi beralih menjadi sentral informasi dan bukan komputernya lagi. Pemanfaatan yang dulunya  sangat terbatas, kini telah memasuki kedalam katagori strategis, pengaruhnya pada kelangsungan usaha tidak dapat dipungkiri lagi. Dalam bidang pendidikan  Internet telah  memainkan peranan penting dalam proses pembelajaran (Nolan et al, 1993; Rose et al, 1997).

 

Di dunia pendidikan pertama-tama kita perlu menyadari bahwa proses pendidikan itu memerlukan waktu tenggang (lead time) yang cukup lama. Setidak tidaknya seorang dituntut untuk mengikuti pendidikan sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi . Kedua, dalam pendidikan itu berlaku prinsip “irreversibilitas” dan Ketiga, tantangan yang kita hadapi di masa depan cendrung berkembang semakin kompleks, yang ditandai dengan semakin cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai akibat dari arus globalisasi yang semakin terbuka (Gibson,1997). Sedangkan khusus di tingkat pendidikan tinggi terlihat kecendrungan untuk mempersingkat waktu studi. Sampai tahun tujuh puluhan diperlukan waktu lima tahun untuk menyelesaikan pendidikan sarjana, tahun delapan puluhan menjadi empat setengah tahun dan kini  menjadi empat tahun. Sedangkan di USA pada beberapa perguruan tinggi sedang dicoba  untuk jangka waktu hanya tiga tahun.

 

Dunia, saat ini sedang memasuki era yang ditandai dengan gencarnya inovasi teknologi dan peluang ekonomi yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Perubahan perubahan besar terjadi dalam bidang teknologi, politik, sosial dan ekonomi. Segala perubahan ini telah menyebabkan terjadinya pergeseran dalam berbagai bidang yang antara lain adalah;

 

1.      Masyarakat industri ke masyarakat informasi(kita masih berkutat dari masyarakat agraris ke masyarakat industri)

2.      Teknologi yang dipaksakan ke teknologi tinggi (hightech)

3.      Ekonomi nasional ke perekonomian dunia

4.      Kebutuhan jangka pendek ke jangka panjang

5.      Sistem sentralisasi ke sistem desentralisasi

6.      Bantuan ke lembagaan berpindah ke swakarsa

7.      Dari pola hirarchi ke jaringan kerja (networking)

8.      Dari pilihan terbatas ke banyak pilihan

Peluang dan tantangan

Kemajuan yang pesat dalam bidang elektronika dan optoelektronika menyebabkan kemampuan komputer  maju pesat dan cepat usang mengikuti hukum Moore(Vide; Bill Gates, 1995) kemampuan chip komputer akan menjadi dua kali lipat setiap tahunnya, perangkat lunak semakin canggih, selain itu batas maya(virtual) tidak akan pernah tercapai.  Belum pernah ada dalam sejarah peradaban manusia teknologi yang berkembang begitu pesat  dan cepat pula menjadi usang. Salah satu karakteristik perkembangan  komputer adalah  device yang semakin kecil, disatu pihak  perangkat yang semakin kecil mempunyai keunggulan tersendiri. Berkomunikasi secara alami menjadi idaman sejak komputer modern dipergunakan. Teknologi pengenalan ucapan (speech recognition) dapat mengubah ucapan menjadi text, yang diikuti oleh sintesa ucapan(speech synthesizer), mengubah informasi  text menjadi ucapan dan diikuti dengan pemrosesan bahasa alami(natural language processing) telah memungkinkan orang mewujudkan aplikasi interaktif antara manusia dan mesin. Informasi dapat diberikan kepada komputer dengan bahasa yang lebih alami, para tunanetra dapat membaca suatu dokumen tanpa harus dikonversikan ke huruf Braile, demikian pula program penterjemahan dari satu bahasa ke bahasa yang lain.

 

Pada tahun 1996 dipasaran beredar Pentium seri PC 620 dengan DRAM(Dynamic Random Access Memory) 16 Megabits, kemampuan ini ditingkatkan lagi menjadi 64 Megabits pada tahun 1998 yang lalu, tahun 2000 yang lalu, Mikroprosesor Intel telah memperoduksi seri PC 60786 dengan kemampuan kapasistas DRAM 256 Megabits. Jika beberapa waktu yang lalu pembuatan chip   meniru aliran panas hewan, kupu-kupu. Kini para ilmuwan sedang mengembangkan teknik pembuatan  dengan meniru  model penyusunan DNA. yang dalam biologi berfungsi untuk menyusun molekul-molekul yang lebih komplek. Dengan teknologi X-Rays litographi  dapat dibuat mikroprosesor yang lebih kecil 0,1 sampai 0,05 mikron, bekerja lebih cepat, tidak membutuhkan banyak daya serta sedikit menghasilkan panas dan yang lebih penting kemampuan komputer yang ada sekarang akan dapat ditingkatkan sampai  satu juta kali. Selain itu kajian teoritis tentang  semikonduktor berkecepatan tinggi terus dilakukan orang. Bellarusia dalam keadaan ekonomi yang sulit masih mampu meyumbangkan banyak penemuan dalam bidang fisika. Dua ilmuwan,  Zhores dan Kroemer tahun 2000 yang lalu mendapat hadiah Nobel atas riset mereka tentang  semiconductor heterostructure berkecepatan tinggi dan penerapannya dalam  optoelektronika(Anonim,2000a).  Hal ini akan memicu  revolusi di bidang komputer personal, transmisi dan kompresi data, lebar pita(bandwidth), teknologi penyimpanan data (data storage), penyampaian data(data access), integrasi multimedia dan jaringan komputer. Disamping itu life cycle perangkat lunak semakin pendek, dulu ordenya tahunan kini sudah mencapai orde mingguan. Teknologi mikroprosesor mulai beralih ke nanoprosesor.

 

Memasuki abad ke 21, dimulai dengan timbulnya deregulasi di bidang ekonomi, sosial dan politik serta persekutuan ekonomi dibanyak kawasan dunia. Disamping itu arus globalisasi terus mendesak dan tidak akan dapat dibendung lagi. Untuk Indonesia dekade ini berarti

 

1.      Seorang profesional dapat bekerja di kawasan Asean dengan tanpa banyak hambatan

2.      Terciptanya lapangan kerja yang lebih luas bagi profesional, teknisi dan tenaga trampil dikawasan Asean

3.      Terbukanya persaingan lintas batas dalam penawaran barang dan jasa

4.      Barang dan manusia dapat bergerak mudah dari satu negara ke negara lain seperti dari satu provinsi ke provinsi yang lain

5.      Perusahaan perusahaan akan bersaing bebas di seluruh kawasan

6.      Kerusakan produk teknologi seperti jam, kulkas ataupun mobil akan diperbaiki berdasarkan sistem garansi yang umum

7.      Persaingan bisnis akan lebih besar disemua sektor

 

 

Selain itu  dalam jangka panjang teknologi informasi semakin baur dengan bidang ilmu lainnya, sehingga menjadi ilmu terapan baru dan makin hilang makna pengkhususan di tingkat tersier. Fungsi kertas sebagai medium informasi akan semakin sirna dan antar muka biologis-langsung untuk berbagai indera manusia akan menjadi kenyataan dengan diterapkannya teknologi  kecerdasan buatan dibanyak bidang.

Dalam jangka menengah; organisasi makin maya dan amorf karena dorongan pemberdayaan kemampuan manusia. Batas antara informasi alfanumerik, grafis, video dan suara makin pupus, konvergensi dari teknologi tersebut telah menyatukan berbagai media tersebut kearah multimedia yang makin terbeli. Infrastruktur telematika akan makin terpisah  dari kekuasaan dan pengaturan pemerintah, hingga swasta dan kekuatan-kekuatan pasar akan menjadi pendorong utama  dalam perkembangan teknologi informasi

 

Jangka pendek, percepatan pemulihan laju pembangunan akan menguasai pola hidup dan  cara kita berorganisasi.  Disamping itu efisiensi lembaga pemerintahan dan swasta termasuk lembaga pendidikan tinggi akan selalu di tuntut, oleh para konsumen. Persaingan global mengharuskan adanya pengelolaan berkelas dunia(world class). perbaikan  proses-proses bisnis, sistem pelaporan dan pengelolaan informasi. Memasuki abad ke 21, sebagian besar negara Asia dilanda krisis moneter, ada yang cepat mengatasinya namun ada juga yang masih belum mampu keluar dari krisis tersebut, seperti negara kita ini. Situasi ini kemudian diikuti dengan lahirnya blok-blok ekonomi serta makin dewasanya negara industri baru (Newly Industrializing countries, NICs), Korea, Taiwan, Hongkong dan Singapura dan munculnya NICs baru dikawasan Asia seperti Cina, Thailand, Malaysia, Philipina dan Indonesia. Terpuruknya ekonomi menyadarkan pentingnya industri kecil dan menengah yang berbasis sumber daya alam dan kekuatan sendiri yang ternyata dapat memberikan peluang bangkitnya kembali kekuatan ekonomi dikawasan ini.. Dampak positif tersebut antara lain adalah;

 

1.      Makin luasnya pasar bagi penjualan produk-produk dan jasa Indonesia

2.      Memperluas wawasan dunia usaha terutama sumber daya manusia

3.      Menyerap teknologi dan manajemen maju melalui informasi maupun masuknya sumber daya  manusia dari luar negri

4.      Mengurangi kepadatan persaingan usaha di dalam negri

5.      Terjadinya sinergi antara negara dan dunia usaha

 

Selain itu tenaga terampil  berwawasan  luas akan semakin mudah mendapatkan peluang dalam bidang usaha dan jasa

 

E-Commerce

 

Kondisi ekonomi yang tak menentu membuat kita seringkali disudutkan oleh banyak permasalahan, antara lain pengangguran, menurunnya tingkat pendapatan ekonomi serta  tingginya harga-harga kebutuhan pokok. Kini orang dapat berbisnis lewat internet yang lebih dikenal dengan jargon E-Commerce. Pebisnis untuk memulai usahanya tidak lagi memerlukan perkantoran yang mewah dan jumlah karyawan yang banyak. Rumah dan tempat tinggal dapat dimanfaatkan  sebagai basis usaha. E-commerce merupakan  sarana bertransaksi  lewat internet, menawarkan barang dan jasa yang mampu melakukan transaksi selama 24 jam nonstop, dengan tingkat biaya akses yang lebih murah dan dapat dinikmati oleh semua orang diseluruh penjuru dunia. Inilah suatu bisnis yang berjalan disaat pemilik usaha telah  tidur ataupun beristrirahat, saat ini diperkirakan sudah satu milyar orang  melalui PC telah terhubung dalam jaringan internasional lewat internet. Ada dua jenis perusahaan yang sekarang berbisnis  di internet. Pertama adalah perusahaan yang lahir karena  keberadaan internet, misalnya antara lain Yahoo.com, Amazon.com dan Netscape.com. Kedua adalah perusahaan yang sudah lama ada, lalu mengubah cara berbisnis, seperti Asian Sources suatu perusahaan penerbitan yang mempublikasikan dan berbisnis lewat internet. Dengan menggunakan internet bisa mengurangi biaya staf, infrastruktur dan biaya lainnya yang biasanya harus dibayar oleh perusahaan tradisional. Bila perusahaan di Indonesia tidak mengubah cara berbisnisnya bagaimana bisa bersaing dengan perusahaan lain yang mampu menawarkan barang/jasa yang sama, dengan harga yang lebih murah. Perusahaan mebel(furniture) misalnya, yang menghasilkan produk untuk ekspor, selama ini  cuma mengandalkan pameran dan memasarkan lewat agen ataupun membuka kantor di negara sasaran, bukan tidak mungkin peluangnya akan diambil oleh perusahaan Singapura yang tidak mampu membuat mebel tapi tahu persis bagaimana berdagang di Internet. Contoh lainnya adalah Amazon.com perusahaan yang  piawai dalam memanfaatkan internet, berhasil menjual buku dengan omzet jutaan dollar tanpa perlu memiliki gudang untuk menyimpan buku, membuka toko buku, apalagi menerbitkan buku. Dapat dibayangkan keuntungan yang akan diperoleh bila pembuat mebel yang selama ini mengandalkan pameran untuk memperkenalkan produknya, dengan kemajuan teknologi yang ada, mereka bisa menampilkan  secara visual bentuk mebel yang diproduksi dan  konsumen bisa merancang sendiri bentuk mebel yang diinginkan  sekaligus  melakukan transaksi on-line.

 

Pada dasarnya dalam berbisnis lewat E-commerce ada empat hal yang harus diperhatikan;

1.       Terus menerus mengembangkan kreativitas dalam mengkomersialkan produk barang ataupun jasa dengan tampilan yang menarik dan sejelas mungkin

2.       Memberikan sentuhan personal dalam bentuk layanan bisnis

3.       Teknologi pendukung agar tetap handal dan  prima

4.       Faktor kecepatan akses dalam pemanggilan setiap mengunjungi Website harus selalu diperhatikan

 

Bagi negara maju perkembangan teknologi informasi melalui E-Commerce sudah tidak asing lagi dan banyak mendatangkan devisa. Untuk kawasan Asia, Hongkong dan Singapura perkembangannya jauh lebih pesat dibandingkan dengan Negara lain. E-Commerce bukan hanya untuk usaha yang besar, justru pedagang kaki lima dan kelontongan sudah melakukan bisnis dengan memanfaatkan teknologi informasi dan ternyata mereka mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari pada menawarkan atau menjual produknya di pasar. Bisa dibayangkan sebuah produk lokal seperti kopi Aceh, jeruk Bali ataupun oncom Bandung bisa dinikmati seantero dunia. Dari beberapa penelitian ditunjukkan setiap  kenaikan 10% dari pengeluaran untuk teknologi informasi(IT spending) mampu menaikkan tingkat pertumbuhan GDP 15 %. Negara besar Indonesia, dengan penduduk lebih dari 200 juta jiwa, pelaku bisnisnya cuma mengeluarkan biaya untuk teknologi informasi sebesar 10% dari yang dibelanjakan oleh perusahaan yang ada di Singapura yang penduduknya hanya 3,5 juta jiwa (Chen, 2003)

 

Sumber Daya Manusia

Makin ketatnya persaingan, mengharuskan dunia usaha Indonesia secara terus menerus melakukan efisiensi, meningkatkan kualitas produk, pelayanan serta inovasi baru. Efisiensi dilakukan secara totalitas mulai dari perencanaan, proses produksi, pemasaran dan pendistribusian. Peningkatan daya saing produk dan jasa tidak terlepas dari peran SDM yang mampu dibentuk oleh institusi pendidikan. Dua puluh tahun yang lalu komputer hanya mampu melakukan proses pelaluan informasi  1000 operasi/detik, sepuluh tahun kemudian  kecepatan proses menjadi 100 juta operasi setiap satu detik, sekarang dengan penerapan artificial intellegence orang sudah dapat melalukan informasi  sampai 1000 juta operasi setiap satu detik. Dalam konteks menatap masa depan ini, pengelola perguruan tinggi dan sivitas akademika hendaknya sadar  akan posisinya. Ada dua parameter  yang digunakan untuk menunjukkan kinerja dari suatu perguruan tinggi (Anonim, 2000b) yaitu  faculty resources  yang dijabarkan  dari;

(i)                 tenaga fungsional akademik/peneliti tetap dengan level S3 dan S2

(ii)               imbalan gaji median

(iii)             pengeluaran  universitas  pertenaga fungsional akademik

(iv)             nisbah tenaga fungsional akademik-mahasiswa.

 

Parameter kedua dijabarkan dari

(i)                 hasil penelitian universitas bersangkutan yang  dijadikan referensi  oleh institusi lain yang merangkum pensitiran dalam majalah akademik,

(ii)               makalah dalam berbagai majalah yang  dikaji-ulang oleh pantaran

(iii)             makalah yang disajikan dalam berbagai konferensi internasional,

(iv)             buku yang dipublikasikan,

(v)               pendanaan penelitian dan jumlah mahasiswa pasca sarjana.

 

Dalam peringkat perguruan tinggi terbaik di kawasan Asia (Anonim, 2000b) menarik kita simak bahwa Indian Institute of Technology (IIT)  Bombay, IIT Delhi dan IIT Madras, mempunyai peringkat atas yang terpandang, masing-masing pada urutan  ke 3, 4 dan 5 diantara  39  Science and Technology Schools Asia yang terpilih(Institut Teknologi Bandung, ITB, menempati  peringkat ke 21), walaupun India mempunyai  Produk Domestik Gross(purchasing-power parity) perkapita  hanya 60% dari Indonesia, negara ini dikenal merupakan pengekspor SDM  berkualitas   hampir ke semua negara maju.  Di kawasan  Asean, Nanyang Technological University(NTU) dari Singapura  mempunyai peringkat ke–9 sedangkan National University of Singapore(NUS) mempunyai peringkat ke-5 di antara  77 multi-disciplinary schools, bandingkan dengan UI(peringkat ke-61) dan UGM(ke-68). Namun demikian pemerintah Singapura tampaknya masih belum  puas  dengan peringkat tersebut. Sejak tahun 1999 mereka bertekad  untuk mentransformasikan  ekonomi Singapura menjadi ekonomi yang berbasis pengetahuan (knowledge based economy). Pemerintah  Singapura telah mengundang  10 Universitas terbaik  dunia untuk datang ke Singapura. Beberapa  institusi telah merespon undangan ini seperti; Johns Hopkins, Massachusetts  Institute of Technology( MIT), Chicago  Graduate School of Business, Georgia Institute of Technology(GIT) dan  INSAED dari Perancis. Beberapa program telah diluncurkan, sebagai contoh misalnya  kerjasama NUS dengan MIT  dalam bidang material  mutakhir(advanced materials) dan komputasi kinerja tinggi untuk sistem rekayasa( high performance computation for  engineering systems).para mahasiswa akan dididik  oleh tenaga fungsional  akademik dari MIT, NUS dan NTU dengan menggunakan teknologi informasi terkini yang akan melibatkan pertukaran staf dan mahasiswa.

 

Fenomena  dari  kerjasama  kemitraan  di negara jiran tersebut  menyiratkan tidak banyak waktu yang tersisa untuk segera membenahi pendidikan mulai dari tingkat primer sampai ke tingkat tersier. Oleh sebab itu, otonomi daerah dan otonomi pendidikan seperti yang tersirat dalam UU nomer 22 tahun 1999 yang mengatur kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah(power sharing) maupun UU nomer 25 tahun 1999 yang mengatur pembagian keuangan,financial sharing (Ahmadjayadi,2000) hendaknya dapat memberikan percepatan dalam mereformasi pelaksanaan proses belajar mengajar. Perhatian dan bantuan semua pihak terhadap pendidikan sudah harus lebih ditingkatkan lagi. Apalagi tuntutan akan kualitas semakin komplek, output proses pendidikan harus dapat diterima dan diakui di kawasan lain secara nasional maupun global. Konsep maintenance learning yang mengajarkan hal-hal yang sudah mapan perlu dirubah ke proses belajar inovatif (innovative learning) yang lebih menekankan penalaran dan kreativitas. Untuk melaksanakan reformasi ini perlu ditempuh proses-proses logika dari tingkat yang paling rendah sampai ketingkat yang lebih tinggi. Model model pengarahan, hapalan yang sentralistik dan absolut sudah harus ditinggalkan. Pendidikan harus kontekstual dan mampu memberdayakan masyarakat. Untuk itu, penguasaan ilmu-ilmu dasar (basic sciences, basic engineering) semakin penting. Dengan muatan ilmu dasar yang kokoh lulusan suatu program pendidikan dapat  diarahkan untuk menjadi insan yang siap berkembang. Terminologi lulusan siap pakai tidak cocok lagi, karena saat ini  variasi lapangan kerja sangat luas dan perubahan ilmu berlangsung cepat dan kadangkala sukar diantisipasi.

 

Pada dasarnya untuk menjadi manusia yang handal ada tiga paradigma, yang harus diikuti;

1. Memandang pendidikan sebagai sesuatu yang menyeluruh dan berjalan sepanjang hayat, dimana hakekat dari pendidikan itu adalah usaha untuk mentransmisikan kebudayaan. Ia harus dapat meningkatkan daya pikir, mengembangkan bakat dan keperibadian yang kuat, menumbuhkan kemampuan hidup bermasyarakat meningkatkan pengetahuan tentang pokok-pokok pikiran dan permasalahan zaman.

 

2. Saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi ditandai oleh kemajuan yang pesat sehingga dapat menimbulkan perubahan yang sukar diantisipasi. Spesialisasi semakin menajam, oleh sebab itu kita tidak saja perlu menguasai materi pengetahuan tetapi juga harus dapat memahami sistematika dan struktur ilmu pengetahuan itu, serta cara-cara pendekatan dan metodologinya. Sangatlah penting untuk mengembangkan daya pikir agar dapat menelaah sesuatu secara sistematis, taat azas dan berpikir secara terstruktur.

 

3. Ilmu pengetahuan itu bersifat universal, merupakan milik masyarakat umum, dikembangkan oleh semangat ingin tahu serta digali oleh kecendrungan menyoal sesuatu yang belum jelas. Keahlian dan kemahiran dalam ilmu pengetahuan menuntut sikap ilmiah yakni menjunjung tinggi objektifitas, terbuka dalam menerima hal baru, rasional serta cendrung untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu, tanpa harus cepat merasa puas.

 

Manfaat Internet untuk pendidikan

 

Dunia internet telah mendorong perombakan total  konsep klasik tentang pendidikan yang selama ini berlaku, sedikit demi sedikit mulai berubah. Teknologi informasi dengan mudah telah menghilangkan batasan ruang dan waktu yang selama ini membatasi dunia pendidikan. Beberapa konsekuensi logis yang terjadi adalah;

 

1)        Siswa/mahasiswa dapat dengan dengan mudah mengambil matakuliah apa saja diseluruh dunia tanpa batasan institusi dan negara

2)        Siswa/mahasiswa dapat dengan dengan mudah berguru pada para ahli  di bidang yang diminati

3)        Kuliah dapat dengan mudah diambil dari penjuru dunia tanpa bergantung di mana lokasi universitas tersebut.

Arti dari semua ini adalah  konsep universitas terbuka akan semakin baur dalam universitas tradisional. Kuliah yang yang sangat rigid dan harus diambil di Universitas local menjadi terbuka untuk diambil dari Universitas lain (Tabel 1). Selain itu dunia kepustakaan telah banyak mengalami modifikasi dalam berinteraksi dengan penggunanya, dari konsep perpustakaan pasif  menjadi agresif. Sumber ilmu pengetahuan yang biasanya terbatas ada di perpustakaan  sekolah/universitas  menjadi  tidak terbatas dengan akses internet. Buku, laporan penelitian dan berbagai hal yang umumnya sangat terbatas sekarang dapat dicari di berbagai perpustakan yang ada di internet (Tabel 2). Perpustakaan tidak lagi berupa koleksi buku/informasi tetapi telah menjadi pusat disseminasi informasi maupun pangkalan data penelitian dan aktifitas yang ada di universitas tersebut. Teknologi Web dapat memasuki berbagai ensiklopedia yang menyimpan informasi tentang banyak hal. Salah satu ensiklopedi utama yang ada di Internet adalah ensiklopedi Britanica(Tabel 3), beberapa perusahaan yang menjajakan ensiklopedi ini telah bereksprimen menggunakan CD-ROM, sehingga tidak hanya berisi tulisan dan gambar tapi juga video dan audio.

 

Keluhan dalam dunia pendidikan di Indonesia antara lain adalah kurangnya akses  informasi ke Journal/majalah ilmiah(Tabel 4). Saat ini tidak kurang dari 2500 jurnal berada di internet sehingga memudahkan pengguna untuk mengakses informasi mutahir dari seluruh penjuru dunia. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah informasi tentang patent suatu produk(Tabel 5). Majalah sekolah merupakan media yang sangat bermanfaat bagi siswa/mahasiswa untuk mengkomunikasikan aktifitas yang ada ke seluruh penjuru dunia(Tabel 6). Bagi sebagian besar siswa/mahasiswa  uang sekolah untuk memperoleh pendidikan yang baik umunya masih dirasakan mahal, hal yang sama bagi mahasiswa paska sarjana. Hibah-hibah penelitian untuk mendapatkan peneliti terbaik dari penjuru dunia sering ditawarkan oleh berbagai yayasan(Tabel 7). Selain itu banyak situs di internet yang menyediakan fasilitas tanya jawab (FAQ, frequently ask question).

 

Penutup

 

Demikianlah beberapa hal yang dapat saya sampaikan. Terima kasih atas perhatian saudara. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan bimbingan dan perlindungannya kepada kita semua.

Wabillahi taufik walhidayah. Wassalammualaikum Wr.Wb

 

 

Daftar Pustaka

Ahmadjayadi, C., 2000 Perspektif masyarakat daerah di era otonomi daerah. Revitalisasi Komitmen Kebangsaan dalam menyongsong Era Otonomi Daerah, IA-ITB, Bandung 28 Oktober 2000

 

Anonim.,2000a  Special report  overall ranking, science and technology schools, multi disciplinary schools. Pointer  http://www. Asianweek.com

 

———-.,2000b Nobel Pprize in Physics Winner 2000-1901. Pointer http://www. Almaz.com/nobel

 

Bill Gates., 1995 The Road Ahead, Penguin Book  Ltd, New York

 

Chen Tony, 2003 Licencing Clinic Seminar, Microsoft Indonesia, Jakarta July 10th,

 

Chempy,J., 1996 Reengineering the Corporation, Prentice-Hall, New York

 

Gibson, Rowan., 1997 Rethinking the future, Nicholas Breadly Publishing, London

 

Nolan  R.L and Croson,D.C , 1993    The Stages Theory of  A Frame Work for IT Adaption and  Organizational Learning, Harvard Business School. Cambridge MA

 

Rose, Collin and Nicholl, Malcolm J., 1997 Accellerated learning for  the 21st century, A          Dell Trade Paperback, New York

sumber: http://www.as.itb.ac.id/~suryadi/diktat/Orasi%20Ilmiah%202004.doc

Dipublikasi di informasi, informatika, kesehatan, komunikasi, matematika, pendidikan, sosial, spiritual, teknologi, Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pendidikan Sosial Untuk Anak Dini Usia

Tanya? Bagaimana mengajarkan nilai – nilai kehidupan , kemanusiaan, budaya dan pengembangan moral pada anak usia dini { menyangkut strategi dan konsepnya }.. Jawab Mengajarkan nilai kehidupan , kemanusiaan ,budaya dan pengembangan moral pada anak usia dini membutuhkan keteladanan dari orangtua, guru dan masyarakat . dan penanaman ini tidak hanya berlangsung dirumah saja tetapi juga berlangsung disekolah dan masyarakat . sesuai dengan tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, kepada tuhan YME berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap ,kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Contoh dalam pelajaran sosial misalnya dalam nilai kehidupan dan kemanusiaan yang ingin ditanamkan bagaimana hidup rukun didalam keluarga, masyarakat berkasih sayang antar anggota keluarga, memelihara kebersihan lingkungan. mengajarkan nilai kebudayaan misal di daerah Jakarta siswa harus tahu asal mula ondel-ondel terbuat dari apa, gunanya buat apa dan bagaimana cara memeliharanya. Sedangkan mengajarkan pengembangan moral bagaimana bersikap kepada yang lebih tua dan muda, dan yang paling penting strategi mengajarkan nilai kehidupan, kemanusiaan, budaya dan moral pada anak usia dini kita harus memberikan teladan atau contoh terlebih dahulu kalau ingin anak kita sopan maka harus terlebih dahulu orangtuanya sopan karena anak usia dini itu melihat contoh dari keluarga, masyarakat/lingkungan dan memang sedang berada pada proses imitasi atau meniru. Dan inipun harus berlangsung secara kontinu dan konsisten dari pendidik dan praktisi sosial. Tanya? Bagaimana mengembangkan pemikiran kreatif pada anak usia dini melalui pembelajaran social studies Jawab Mengembangkan pemikiran kreatif pada anak usia dini melalui pembelajaran sosial sangat beragam sekali sebagai salah satu contoh pada pembelajaran sosial kelas satu ada salah satu bab yang mengajarkan lokasi alamat rumah agar menarik dan tidak membosankan suruh anak – anak membuat peta gambar seperti di film dora, lokasi perjalanan dari sekolah kerumah atau dari rumah kesekolah gambar apa saja yang dilalui dijalan anak gambar semenarik mungkin sesuai imajinasi anak. Atau bisa juga dengan menyebutkan anggota keluarga suruh anak-anak membuat silsilah keluarga dengan gambar pohon dan ditempeli anggota keluarganya agar lebih menarik, Tanya? Jika anda seorang guru disebuah sekolah, apa yang akan anda lakukan untuk mengembangkan rasa bangga terhadap tanah air Indonesia Jawab Yang pertama kali akan saya lakukan adalah mengajar sebaik mungkin sesuai dengan kode etik guru dan setelah itu bersikap demokratis terhadap siswa dan selalu memberikan teladan atau contoh yang baik kemudian selalu mengenalkan kekayaan akan sumber alam tanah air dan juga selalu mengajak siswanya untuk mencintai produk tanah air menjaga kelestarian lingkungan mengenalkan budaya tanah air dan selalu membantu secara sadar dan terencana kepada anak didik. Serta mengenalkan tentang lagu cinta tanah air dan lagu kebangsaan dan juga mengenal motto untuk cinta tanah air yaitu “cinta tanah air adalah sebagian dari iman”. Serta mengenal, menyadari, menghargai, dan menghayati nilai-nilai yang seharusnya dijadikan panduan bagi sikap dan prilaku sebagai manusia dalam hidup perorangan dan masyarakat karena pendidikan tidak akan berlangsung baik apabila tidak ditunjang keteladanan guru yang kontinu dan konsisten dari guru itu sendiri.

sumber: http://talia.blog.m3-access.com/posts/22989_Pendidikan-Sosial-Untuk-Anak-Dini-Usia.html

Dipublikasi di informasi, informatika, kesehatan, komunikasi, matematika, pendidikan, sosial, spiritual, teknologi, Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pendidikan TI Berbasis TECHNOPRENEURSHIP

 

Teknologi komunikasi dan informasi atau teknologi telematika (information and communication technology–ICT) telah diakui dunia sebagai salah satu sarana dan prasarana utama untuk mengatasi masalah-masalah dunia. Teknologi telematika dikenal sebagai konvergensi dari teknologi komunikasi (communication), pengolahan (computing) dan informasi (information) yang diseminasikan mempergunakan sarana multimedia.

Technopreneurship adalah sebuah inkubator bisnis berbasis teknologi, yang memiliki wawasan untuk menumbuh kembangkan jiwa kewirausahaan di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa sebagai peserta didik dan merupakan salah satu strategi terobosan baru untuk mensiasati masalah pengangguran intelektual yang semakin meningkat ( + 45 Juta Orang). Dengan menjadi seorang usahawan terdidik, generasi muda, khususnya mahasiswa akan berperan sebagai salah satu motor penggerak perekonomian melalui penciptaan lapangan-lapangan kerja baru. Semoga dengan munculnya generasi technopreneurship dapat memberikan solusi atas permasalahan jumlah pengangguran intelektual yang ada saat ini. Selain itu juga bisa menjadi arena untuk meningkatkan kualitas SDM dalam penguasaan IPTEK, sehingga kita bisa mempersiapkan tenaga handal ditengah kompetisi global.

Disisi lain bahwa kurikulum Pendidikan TI berbasis Technopreneurship yang diberikan di perguruan tinggi memiliki tujuan sebagai berikut :
1.Memberikan kontribusi kongkret dalam mensiasati masalah pengangguran intelektual di Indonesia.
2.Mengembangkan spirit kewirausahaan di dunia perguruan tinggi.
3.Meminimalisir gap antara pemahaman teori dan realita praktek dalam pengelolaan bisnis.

Manfaat bagi mahasiswa dalam proses implementasi Technopreneurship Based Curicullum adalah sebagai berikut :
1.Memperoleh pencerahan mengenai alternatif profesi sebagai wirausaha selain sebagai ekonom, manajer atau akuntan atau profesi lainnya.
2.Memiliki skill-based yang memadai dalam bidang Teknologi Informasi
3.Mendapatkan pengetahuan dasar dalam bentuk teori maupun praktek magang dalam mengelola suatu bisnis.
4.Memperoleh akses untuk membangun networking dunia bisnis.

Sedangkan bagi Perguruan Tinggi sebagai fasilitator adalah :
1.Menjadi bentuk tanggungjawab sosial sebagai lembaga pendidikan untuk berkontribusi dalam mengatasi masalah pengangguran.
2.Menjadi bagian penting dalam upaya menjembatani gap kurikulum pendidikan antara lembaga pendidikan dan industri pengguna.
3.Menjadi salah satu strategi efektif untuk meningkatkan mutu lulusan.
4.Menjadi wahana interaksi untuk komunitas Perguruan Tinggi yang terdiri dari alumni, mahasiswa, dosen, dan karyawan dengan masyarakat umum.

Berdasarkan tujuan tersebut di atas, maka Program Pengembangan Budaya Technopreneurship atau kewirausahaan di Perguruan Tinggi dirancang meliputi 6 (enam) kegiatan yang saling terkait, yaitu:
1.Pelatihan materi ”Techno SKILL BASED”
2.Magang Kewirausahaan
3.Kuliah Kewirausahaan
4.Kuliah Kerja Usaha
5.Karya Alternatif Mahasiswa
6.Konsultasi Bisnis dan Peluang usaha

Secara teknis, implementasi pendidikan TI berbasis TECHNOPRENEURSHIP ini, sama saja seperti perkuliahan pada umumnya, hanya saja pada 2 semester pertama secara intensif para mahasiswa diberikan pelatihan (training) sebagai pondasi awal berupa penguasaan bahasa pemrograman (VB.Net/C#/Java) atau disain grafis 3D, WEB, dan ini disesuaikan dengan kebutuhan dunia industri TI saat itu.

Proses pelatihan diberikan bersamaan dengan perkuliahan reguler, sehingga mereka mendapat pembinaan secara intensif & fokus untuk mempersiapkan SKILL Based mereka. Pada saat mereka menginjak semester 3, mereka melakukan proses pemagangan di perusahaan/industri TI, setelah itu diharapkan para mahasiswa sudah bisa bekerja secara part time di beberapa perusahaan, sehingga ketika mereka telah menyelesaikan studinya, mereka memiliki asset berupa knowledge & experince yang cukup untuk menjadi Technopreneur, atau alternatif lainnya mereka tetap bisa bersaing secara kompetitif untuk mendapatkan lapangan pekerjaan dengan bekal IPTEK yang mereka telah kuasai.

Menatap masa depan berarti mempersiapkan generasi muda yang memiliki kecintaan terhadap pembelajaran dan merupakan terapi akademis & kesehatan jiwa bagi anak bangsa, semoga munculnya generasi technopreneurship dapat memberikan solusi atas permasalahan jumlah pengangguran intelektual yang ada saat ini. Selain itu juga bisa menjadi arena untuk meningkatkan kualitas SDM dalam penguasaan IPTEK, sehingga kita bisa mempersiapkan tenaga handal ditengah kompetisi global. mulailah dari diri sendiri untuk berbuat sesuatu guna menciptakan pendidikan kita bisa lebih baik dan berkualitas, karena ini akan menyangkut masa depan anak-anak kita dan juga Bangsa Indonesia.

sumber:

http://edu-articles.com/?pilih=lihat&id=123

 

Dipublikasi di informasi, informatika, kesehatan, komunikasi, matematika, pendidikan, sosial, spiritual, teknologi, Uncategorized | Meninggalkan komentar