TEKNIK PRESENTASI

Suatu rintangan besar bagi orang-orang yang sedang menuju puncak karier adalah mereka sering merasa takut untuk berbicara di depan umum. Jika orang percaya bahwa rasa takut tersebut merupakan suatu yang khas karena orang menderita kegelisahan fisik dan mental, maka perasaan itu adalah salah! Perasaan seperti itu wajar. Hampir semua bintang film mengalami kegelisahan seperti itu.
1. MENGATASI RASA TAKUT
Jika anda membuat suatu daftar mengenai perasaan takut yang menimpa diri anda sebagai orang yang harus berbicara di depan umum, Anda akan mengerti bahwa permasalahannya tidak begitu serius seperti apa yang anda bayangkan. Perasaan takut yang anda rasakan mungkin mencakupi:
a. Rasa takut secara fisik terhadap pendengar
b. Rasa takut akan ditertawakan orang
c. Rasa takut bahwa diri anda akan jadi tontonan orang
d. Rasa takut bahwa apa yang mungkin akan anda kemukakan tidak pantas untuk dikemukakan
e. Rasa takut bahwa anda mungkin membosankan para pendengar
Perasaan takut menghadapai para pendengara adalah suatu sikap mental. Perasaan seperti itu dapat diganti dengan kepercayaan diri, suatu sikap mental yang lain.

2. PERSIAPAN PENYAJIAN
a. Unsur-unsur Non Verbal
Komunikasi lisan mengandung unsur-unsur nonverbal
(bukan berkata-kata). Hasil riset telah mengungkapkan bahwa komunikasi tidak hanya menyangkut kata-kata. Hanya tujuh persen komunikasi antarpribadi dapat dilakukan dengan kata-kata, sedangkan sisanya terkandung dalam unsur-unsur non-verbal. Sekitar lima puluh persen dilakukan dalam bentuk ekspresi wajah dari cara orang menggunakan nada suaranya. Hasil riset menunjukkan bahwa suatu penyajian akan lebih efektif jika mengandung materi visual.
b. Ingatan Pendengar
Pendengar yang khas akan mengingat 10 % dari suatu penyajian satu minggu setelah peristiwa itu. Dalam waktu setengah jam, umumnya para pendengar akan melupakan empat puluh persen dari apa yang telah dikemukakan orang. Pada akhir yang sama, enam puluh persen dari apa yang telah disampaikan akan dilupakan para pendegar umumnya.
Seorang pembicara yang berpengalaman akan mengatur penyajiannya sedemikian rupa untuk meningkatkan daya ingat para pendengar dengan cara-cara sebagai berikut:
1) Pengulangan — semakin sering suatu pesan didengar, semakin mudah untuk diingat
2) Dekatnya — semakin baru suatu pesan di dengar semakin baik diingat
3) Kesan — semakin besar kesan atau pengarah emosi yang kuat terhadap pendengar, semakin lama pesan itu akan diingat.
4) Kesederhanaan — suatu penyajian yang sederhana akan mudah dimengerti oleh para pendengar

c. Mempersiapkan Penyajian yang Efektif
Penyajian-penyajian yang berhasil biasanya dibangun diatas dasar yang kokoh dan persiapan yang baik. Banyak presentasi yang gagal karena persiapan yang kurang atau tidak memadai. Seorang pembicara pemula harus mempersiapkan pembicaraan yang lamanya satu menit.
Persiapan penyajian yang efektif dapat dikurangi menjadi beberapa langkah dasar. Ke semua langkah itu, seperti dilukiskan di bawah ini, harus ditinjau dan diikuti secara sistematis.
1) Membuat sasaran penyajian
tanyalah kepada dirimu. “Mengapa saya memberikan penyajian ini?” dan jangan menanyakan, “Apa yang akan saya sajikan”
kebanyakan penyajian mengandung satu atau lebih dari tujuan-tujuan yang dikemukakan dibawah ini:
a) Menjual
b) Memberikan informasi
c) Mendidik
d) Memberikan motivasi
e) Menimbulkan aksi
f) Menghibur
g) Mengenang sesuatu
2) Kenalilah pendengar anda
Kenalilah para pendengar dalam hal pengetahuan, sikap, kesukaan dan ketidaksukaan, sebagai suatu petunjuk untuk menetapkan fakta dan pendekatan mana yang tampaknya lebih efektif dalam mencapai tujuan anda.
Data demografis tersebut mencakup:
a) Usia
b) Jenis kelamin
c) Tingkat pendapatan
d) Jenis pekerjaan
e) Jabatan
f) Affiliasi politik
g) Identitas etnis
h) Gelar
3) Siapkan Suatu Rencana Penyajian
Rencana penyajian merupakan cetak biru (blue print). Rencana penyajian membantu orang mempersiapkan suatu kerangka untuk mengembangkan suatu penyajian dan membantu orang untuk menetapkan banyak dan jenis materi yang akan diperlukan. Rencana penyajian juga berfungsi sebagai pegangan bagi personel pendukung yang mepersiapkan data pendukung, persiapan alat peraga atau yang membantu di panggung penyajian (bagian seni, pelayanan grafis, bagian audio visual dan lain-lain). Rencana tersebut tidak dimaksudkan untuk menjadi garis besar pembicaraan, tetapi merupakan suatu pendekatan konseptual terhadap apa yang lebih logis mengarahkan dan menyempurnakan tujuan anda.

Penyajian Pokok
Tempat
Atas permintaan
Tujuan penyajian Hasil yang diinginkan
Analisis pendengar Demografis pendengar, daya tarik pendengar, kebutuhan pendengar, kepercayaan pendengar
Pengaturan fisik Pemesanan dan pengaturan tempat, kesegaran badan, personel pendukung
Kebutuhan alat-alat peraga Alat peraga/pelayanan grafis;perlengkapan;penyusunan;personnel pendukung;
Isi penyajian Gaya penyusunan penyajian; konseop ide atau ide utama
Keperluan riset Laporan, hasil studi, fakta, statistic dan lain-lain
Sesi Tanya jawab Isu-isu sensitive, focus materi, pertanyaan-pertanyaan sulit
Rencana pendukung Metode alternatif untuk pesan penyajian
RENCANA PENYAJIAN

4) Memilih sumber materi
Menemukan sumber-sumber materi yang sesuai, umumnya bukan merupakan suatu permasalahan. Permasalahan adalah bagaimana melakukan pilihan yang tepat. Orang harus menetapkan apa dan berapa banyak dari materi yang dapat diperoleh akan dimasukkan dalam penyajian.
Tidak ada rumus jitu yang menjamin peyeleksian materi yang sesuai, tetapi ada sejumlah pertanyaan berdasarkan pikiran sehat yang mungkin membantu.
a). Apa yang menjadi sasaran atau tujuan dari penyajian itu?
b). Apa saja yang harus dimasukkan? Apa saja yang dapat disingkirkan?
c). Rincian jumlah yang bagaimana yang diperlukan?
d). Apa yang harus dikemukakan jika ingin mencapai tujuan?
e). Apa cara terbaik untuk mengatakan hal itu?
f). Jenis Reaksi atau tanggapan bagaimana dari pendengar yang diperlukan?
5) Susunlah Materi Anda
Langkah ini mewakili garis besar penyajian yang berarti merangkaikan materi yang sudah dipilih ke dalam suatu bentuk yang akan memenuhi gaya anda, memenuhi sasaran, dan memuaskan kebutuhan pendengar. Tiga bagian yang berbeda dari sebuah makalah yang disusun secara baik adalah:
a). Pendahuluan ~ Terangkanlah apa yang akan Anda kemukakan kepada pendengar. Kemukakan hal itu secara singkat. Pendahuluan bertujuan untuk:
(1). Meyakinkan pendengar untuk mendengarkan penyajian Anda.
(2). Memperkenalkan pokok atau tujuan dari penyajian.
b). Bagian Isi ~ Kemukakan kepada mereka. Kembangkan dan dukunglah pemikiran Anda dengan materi yang sudah dipilih. Bagian isi harus:
(1). Mengikuti ide-ide dasar yang tertera pada rencana penyajian, dan analisis dan interpretasikan ide-ide ini sedemikian rupa sehingga bermanfaat bagi pendengar.
(2). Kuasailah pertanyaan dan/atau diskusi pendengar. Bagian ini dapat menjadi bagian yang paling menentukan dari penyajian itu. Pemikiran yang hati-hati harus diberikan kepada kapan dan bagaimana hal ini akan dilakukan.
c). Kesimpulan , Beritahukan kepada Pendengar apa yang telah Anda kemukakan kepada mereka. lni merupakan bagian terkuat dari penyajian Anda dan harus:
(1). Mengandung ringkasan dari tujuan dan pemikiran-pemikiran pokok.
(2). 1mbauan secara langsung bagi tindakan, kepercayaan atau pengertian.
(3). Meninjau secara padat pemikiran atau tujuan dari seluruh penyajian.
6) Praktekkan Penyajian
Persiapan suatu penyajian belum lengkap sampai Anda melatihnya pada tingkat praktik. Praktek akan membantu menjamin keberhasilan, tetapi praktek tidak akan menghasilkan suatu penyajian yang bagus dari perencanaan dan penyusunan yang tidak memadai. Praktik memberikan sejumlah keuntungan sebagai berikut:
a) Memberikan sikap tenang dan kepercayaan diri lebih tinggi dengan demikian pendengar akan lebih siap mempercayai apa yang dibicarakan.
b) Mengenali kekurangan dan perbedaan dalam materi yang dipersiapkan.
c) Memberikan kesempatan pengenalan dengan materi sehingga kata-kata yang tepat akan muncul secara alamiah dan spontan.
d) Memungkinkan Anda mempergunakan alat peraga sehingga akan memperkuat dan bukannya saling tumpang-tindih penyajian yang sebenamya.
e) Mempermudah untuk mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan muncul, khususnya pertanyaan-pertanyaan yang mungkin menimbulkan kesulitan.
Ada tiga metode utama untuk mempraktekkan penyajian sebelum acara yang sebenarnya:
a) Bacalah bahan penyajian itu dengan suara keras.
b) Gunakanlah sebuah rekaman, audio atau video.
c) Lakukanlah latihan di hadapan rekan sekerja yang berpenge¬tahuan, sahabat atau bahkan di hadapan sebagian anggota pendengar yang akan mendengarkan penyajian itu nantinya.
7) Persiapan rencana pendukung
Mempersiapkan suatu rencana pendukung merupakan satu Iangkah penting, karena penyajian Anda mungkin tidak akan berjalan sesuai dengan rencana. Sebagian pembicara, ada hal-hal di luar kekuasaan langsung yang dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Tergantung pada jenis penyajian yang hendak Anda sampaikan, sejumlah permasalahan yang mungkin dihadapi adaIah:
a) Permasalahan alat peraga.
b) Kegagalan perlengkapan audio visual.
c) Kerusakan fasilitas listrik.
d) Personel pendukung menderita sakit mendadak.
e) Gangguan yang tidak dipertimbangkan sebelumnya.
f) Kehilangan ingatan atau tak berdaya selama penyajian.
Orang tidak dapat mengantisipasi setiap permasalahan, dan memang tidak perlu untuk dilakukan. Yang terpenting adalah bahwa orang mengenali sesuatu yang serius mungkin terjadi di luar rencana dan orang harus sudah memiliki posisi untuk bersandar. lni berarti bahwa dalam situasi terburuk orang harus sudah memiliki suatu rencana pendukung yang sudah siap, yang memungkinkannya untuk menyampaikan pesannya kepada pendengar. Rencana tersebut harus mencakup Kata Pendahuluan, Isi, dan Kesimpulan. Ikhtisar tersebut harus dalam bentuk tertulis dan siap untuk diperoleh selama penyajian untuk digunakan sebagai catatan, dan jika perlu dibacakan.

Rencana Pendukung (Parasut)
Judul Penyajian:
Pendahuluan / Kata Pembukaan:
Isi / Masalah Pokok:
1.
2.
3.
Kesimpulan/Kata Penutup:

Gambar Rencana Pendukung

3. PENYUSUNAN PENYAJIAN
Suatu penyajian yang efektif disusun secara logis ke dalam bagian pembukaan, isi dan kesimpulan. Memang terdapat banyak variasi dari struktur suatu penyajian, tetapi ketiga bagian yang disebutkan tadi hams ada dalam suatu makalah yang baik. Setelah menyelesaikan rencana penyajian, anda hans mulai menyiapkan mental untuk menyusun pembicaraan. Tuliskanlah sebuah bagan untuk meyakinkan diri bahwa ketiga bagian tersebut tercakup dalam penyajian Anda, dan bayangkalah dalam hati masing-masing bagian secara jelas. Berikanlah perhatian khusus pada kesimpulan sehingga dapat diketahui ke mana arah penyaj ian Anda.
a. Pembukaan ~ Tariklah Perhatian Mereka
Perhatian merupakan prasyarat bagi komunikasi. Semakin besar perhatian pendengar yang diperoleh, semakin sempurnalah komunikasi anda. Bagian pembukaan dari penyajian harus dirancang sedemikian rupa untuk menarik perhatian sesegera mungkin. Pembukaan yang demikian akan membangkitkan perhatian pendengar terhadap topik yang Anda bawakan dan akan menarik perhatian mereka pada terma pembicaraan Anda. Pembukaan juga harus mengarah ke pokok dari penyajian itu. Jika Anda hanya membuat kejutan para pendengar, mereka akan mengingat pembukaan secara jelas, tetapi melupakan inti pembicaraan. Contoh-contoh suatu pembukaan yang baik adalah demikian:
1) Suatu pertanyaan yang mengejutkan atau suatu pernyataan yang menantang.
2) Suatu kutipan, ilustrasi, atau cerita yang cocok.
3) Mempertihatkan sejumlah benda atau gambar yang cocok.
4) Suatu perumusan yang mengarahkan perhatian dan hubungan dengan pokok pembicaraan.
Hindarilah kelemahan-kelemahan umum da1am penyu¬sunan pembukaan seperti tertulis di bawah ini:
1) Suatu pernyataan yang bersifat meminta maaf.
2) Suatu cerita yang tidak ada hubungannya dengan topik penyajian.
3) Suatu pengamatan biasa yang disajikan dalam bentuk yang biasa.
4) Suatu pernyataan panjang atau perlahan-lahan.
5) Suatu pertanyaan usang, seperti “Apakah saudara-saudara pernah berhenti berpikir?”
Sekali Anda telah memutuskan bentuk pembukaan penyajian, ha1 itu harus dimasukkan da1am ingatan. Saat-saat pertama di hadapan pendengar merupakan saat kritis untuk membuat kesan yang baik. Anda ingin memanfaatkan sebesar-besamya waktu dan interaksi dengan menggunakan segala energi dalam menyampaikan pesan dan menghasilkan kontak yang baik dengan pendengar.

b. Isi ~ Dukunglah Tujuan Anda
Isi suatu penyajian mengandung dukungan nyata untuk tujuan yang akan dicapai. Jumlah informasi yang dapat dimasuk¬kan ke dalam bagian ini akan dibatasi oleh waktu yang terbatas. Jenis informasi dalam pembicaraan akan tergantung pada tujuan dan gaya penyajian. Isi suatu penyajian dapat mencakup:
1) Riset – Hasil dari suatu studi dan investigasi sistematis secara hati-hati dalam bidang pengetahuan tertentu.
2) Bukti – Petunjuk atau fakta yang menimbulkan kepercayaan terhadap sesuatu hal
3) Petunjuk – Suatu pernyataan dari fakta atau kesaksian pribadi, atau dokumentasi yang melengkapi bukti.
4) Fakta – Suatu pemyataan yang dapat diuji, apakah dengan merujuk pada sumber ketiga atau dengan pengamatan langsung.
5) Angka – Gambaran menurut angka mengenai suatu fakta.
6) Statistik – Pernyataan hubungan faktua1 berdasarkan per¬hitungan.
7) Definisi – Penyelidikan mengenai sifat dari sesuatu, biasanya dengan cara mencirikan sifat-sifat khasnya. Contoh. “Manusia adalah satu jenis binatang menyusui (jenis umum) dan berjalan tegak, dan seterusnya (sifat khas).”
8) Contoh – Suatu gambaran cerita, atau pengalaman, yang dimasukkan untuk memberikan penjelasan tetapi tidak terlalu perlu untuk membuktikan sesuatu hal
9) Ilustrasi-Suatu contoh yang 1ebih rinci, yang menawarkan penje1asan hal demi ha1.
10) Anekdot – Suatu gambaran, cerita, atau pengalaman dapat dimasukkan untuk memberikan penjelasan, tetapi tidak terlalu perlu untuk membuktikan sesuatu hal.
11) Otoritas – Suatu kutipan dari sumber-sumber yang diakui dan dapat dipercaya mendukung pokok yang diajukan si pembicara.
12) Analogi – Suatu bentuk keadaan sejajar, yang dengan kesamaan dan keakrabannya memberikan penjelasan tentang apa yang sedang dibicarakan.
c. Kesimpulan~Rangkumkanlah Semuanya
Kesimpulan dari suatu penyajian merupakan klimaks tujuan dimana penyaji berharap meninggalkan pendengamya. Di bagian inilah suatu makalah harus memperlihatkan hasilnya. Kesimpulan selalu harus berhubungan dengan kata pendahuluan dan tidak boleh menimbulkan keraguan mengenai apa yang diinginkan oleh pembicara untuk dilakukan para pendengar dengan semua informasi yang disampaikan. Kesimpulan harus diakhiri secara tegas dan penuh keyakinan. Suatu kesimpulan yang lemah, tidak meyakinkan, dan bersifat meminta maaf akan merusak penyajian yang terbaik sekalipun.
Contoh-contoh kesimpulan yang bagus adalah sebagai berikut:
1) Suatu ringkasan dari hal-hal yang telah dikemukakan dan kesimpulan ditarik dari sana.
2) Suatu seruan khusus bagi tindakan.
3) Suatu cerita kutipan, atau ilustrasi yang memberikan penekanan terhadap topik yang sudah dikemukakan.
d. Gaya Penyusunan
Sekalipun menggunakan materi yang sebaik mungkin, keefektifan penyajian akan hilang jika tidak disusun dan diuraikan secara tepat. Ada banyak cara untuk menyusun materi bagi suatu penyajian. Pikiran masing-masing orang membentuk pola penjelasan terinci dan persuasi tersendiri. Menentukan suatu pola merupakan upaya untuk terlalu menyederhanakan apa yang mungkin menentukan bagi keberhasilan seorang penyaji. Akan tetapi, ada beberapa pola umum yang telah terbukti sangat membantu di dalam penyusunan materi suatu penyajian:
1) Waktu/Urutan – Peristiwa-peristiwa disajikan secara berurut¬an sesuai dengan urutan kejadiannya. Urutan kronologis itu memberikan hubungan waktu secara khusus terhadap peris¬tiwa.
2) Menurut Topik – Gaya pola ini memberikan nama yang berarti kepada subtopik yang dihubungkan dengan topik umum. Pola ini sering digunakan apabila penyaji tidak dapat membatasi topik umum. Pola ini sering digunakan apabila penyaji tidak dapat membatasi topik karena prosedur, suatu proses atau kerangka waktu. Pola ini sangat membantu manakala penyaji sedang mencari ide-ide baru yang belum dimasukkan ke dalam pengertian yang teratur.
3) Tanya jawab-penyaji mengajukan satu atau beberapa pertanyaan dan kemudian memberikan jawaban secara sistematis atas pertanyaan atau pertanyaan-pertanyaan terse¬but.Permasalahan dan penyelesaian – Pola ini biasa dipakai di dalam penyajian menyangkut masalah bisnis dan teknis, di mana pembicara mengemukakan suatu permasalahan dan kemudian menegaskan apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan terse but. Sering pola ini mencakup:
(a) Menguraikan gejala dan permasalahan tersebut kepada pendengar untuk memperoleh kepercayaan bahwa memang ada permasalahan.
(b) Memperkenalkan permasalahan sesungguhnya untuk diuraikan
(c) Memberikan penyelesaian, termasuk keterbatasan atas penyelesaian itu.
(d) Merekomendasikan penyelesaian terbaik.
4) Perbedaan dan Perbandingan Pembicara meminta perhatian pendengar kepada perbedaan-perbedaan atau kesamaan-kesamaan untuk memungkinkan mereka mengevaluasi ide-ide atau rencana-rencana alternatif.
5) Kombinasi jelas bahwa masing-masilng pola yang sudah disebutkan dapat dikombinasikan satu dengan yang lain. Sebagai penyaji, tugas Anda ialah mengembangkan kombinasi yang terbaik menyangkut topik, pendengar, dan tujuan informasi dan meyakinkan.
e. Tiga Gaya Penyusunan
Kita telah meninjau dasar, dasar penyajian, penyusunan dan gaya. Kini kita akan lebih memperhatikan tiga gaya yang baik untuk diterapkan. Semuanya harus digunakan dalam waktu yang berbeda dalam penyusunan penyajian. Ketiganya sama-sama baik dan dapat disesuaikan dengan pokok persoalan yang berbeda. Umumnya sifat khas yang dimiliki ketiga gaya itu ialah mengarahkan pendengar secara bertahap dari kurangnya pengetahuan atau perhatian ke suatu kesimpulan penuh informasi atas pokok persoalan tersebut. Ungkapan kuncinya adalah selangkah demi selangkah.
1). Skema ~ AIDA
Variasi pertama atas metode dasar pembukaan,isi,kesimpulan adalah skema AIDA. Pcndekatan ini sering diajarkan kepada orang-orang yang bekerja di bagian penjualan dan dapat diterapkan kepada segala sesuatu yang mau dijual, apakah itu pemikiran, sasaran atau tindakan. Skema AIDA adalah sebagai berikut:
A – Rebutlah Atensi (Perhatian) Mereka.
I – Bangkitkanlah Interes (Minat) Mereka.
D – Ciptakanlah Desire (Hasrat) Mereka.
A – Doronglah Aksi (Tindakan) atau Kesepakatan.
2). Borden ~ Reaksi Pendengar
Pendekatan kedua disusun oleh Richard C. Borden, seorang guru besar mata kuliah pidato pada Universitas New York. Metode ini terdiri dari empat (4) langkah yang mewakili reaksi pendengar atas apa yang dikemukakan penyaji.
1. “Ho- Hum.”
Reaksi ini menyangkut kata pendahuluan Anda. Pendengar duduk tidak tenang, dan mengira akan dijemukan oleh penyajian Anda. Terserah kepada Anda untuk membuat mereka duduk pada posisi yang benar dan mendengarkan.
2. “Mengapa Mengemukakan hal itu?”
Anda harus membangun jembatan untuk menyeberangkan pendengar. Perlihatkanlah bahwa pokok yang dibicarakan itu sangat penting dan hubungkanlah secara langsung kepada kepentingan para pendengar.
“Contoh?”
Berikanlah bukti konkret, ilustrasi, fakta dan cerita kepada pendengar. Bangkitkanlah pikiran pendengar.
“Lalu Apa?”
lni adalah seruan untuk mengambil tindakan. Beritahu pendengar apa yang ingin mereka lakukan sebagai hasil dari penyajian Anda. Berbicaralah secara spesifik dan akhirilah penyajian secara tegas.
3). Skema ~ Masa Lalu/Kini/Masa Datang
Pendekatan ketiga adalah skema masalalu,kini,masa datang yang dipersiapkan khusus untuk pembicaraan mengenai sejarah atau pengujian terhadap perkembangan manusia. Skema ini dapat digunakan dalam suatu makalah mengenai pertumbuhan bisnis atau profesi, atau perkembangan suatu sistem bisnis. Skema ini dapat digunakan dalam bentuk berikut:
(a) Ada saat di mana …
(b) Tetapi sekarang, segala sesuatu sudah berubah …
(c) Kalau kita memandang masa depan …
Apabila Anda menggunakan salah satu dari ketiga usul ini, pastikanlah bahwa Anda membuka penyajian dengan pernyataan yang menarik perhatian (meskipun bukan pernyataan yang sifatnya sensasional). Segera setelah mengetahui minat para pendengar, perlihatkanlah mengapa mereka harus hati-hati terhadap apa yang akan Anda kemukakan. Kemudian, di dalam isi makalah, kemukakanlah argumentasi Anda dan dukunglah setiap argumen itu dengan fakta dan contoh-contoh. Akhimya, tampilkanlah suatu kesimpulan yang menyerukan jenis tindakan yang harus dilakukan pendengar, apakah secara fisik atau mental.

4. ALAT-ALAT PERAGA

Pembicara yang unggul sekalipun dapat memperkuat penyajiannya dengan menggunakan alat-alat peraga. Riset yang dilakukan oleh Universitas Minnesota dan Korporasi 3M menyimpulkan bahwa pendengar empat puluh tiga persen lebih dapat diyakinkan oleh penyaji yang menggunakan alat-alat peraga. Penggunaan alat peraga yang layak dan penuh keterampilan dapat menambah mulusnya suatu penyajian di mana tidak ada pembicaraan tambahan yang dapat diberikan. Suatu alat peraga dimaksudkan untuk melengkapi suatu penyajian dengan membentuk suatu fungsi secara spesifik. Alat peraga bukanlah pengganti atau penyokong penyajian, itu sendiri.
Alat peraga dapat digunakan di bagian mana saja dalam penyajian untuk membantu menyampaikan pesan. Alat-alat peraga itu dapat digunakan dalam cara-cara sebagai berikut:
1) Pada pembukaan, untuk menarik perhatian, membangkitkan minat, dan untuk memperlihatkan kepada pendengar apa yang akan Anda sajikan.
2) Di tengah-tengah penyajian, untuk menyajikan bukti-bukti, dan untuk menyajikan materi peraga pada bagian-bagian di mana pendengar menaruh minat besar tetapi daya ingat mereka mungkin terlalu rendah.
3) Pada bagian kesimpulan, unruk menghubungkannya dengan bagian per.1buka8.n penyajian, memperkuat ingatan, untuk memberikan ringkasan penyajian dan merangkum se1uruh bagian penyajian itu.

5. PENYAMPAIAN YANG EFEKTIF

Cara seseorang menyampaikan penyajiannya berpengaruh lebih besar terhadap pendengar daripada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Orang tidak membawa pulang informasi dari suatu pidato, mereka membawa pulang suatu kesan. Dan kesan itu biasanya muncul dari komunikasi verbal dan non verbal.
Apabila Anda menyampaikan sesuatu kepada pendengar, Anda menggunakan saluran verbal dan non verbal untuk mengkomunikasikan pesan itu. Untuk menampilkan suatu penyampaian secara efektif, Anda harus terampil dalam menggunakan kedua saluran komunikasi tersebut. Saluran verbal (kata-kata yang Anda ucapkan) mewakili tujuan persen dari pesan yang akan disampaikan. Saluran non verbal terkandung dalam gerak mimik dan bunyi suara Anda. Saluran ini membawa sembilan puluh tiga persen tersisa dari pesan yang ingin Anda sampaikan kepada pendengar. Berikut ini sebagian dari sifat-sifat tersebut:

SALURAN VERBAL SALURAN NON VERBAL
Kata-kata
Sadar
Gambaran mengenai emosi Logis
Formal
Isi kebenaran dapat dimanipulasi Bahasa tubuh, suara
Tidak sadar
Emosi sesungguhnya Intuitif
Informal
Isi kebenaran dapat dipercaya

Perbedaan terpenting dari kedua saluran ini terletak dalam kesadaran setiap orang akan keduanya. Sejak masa kecil, setiap orang menghabiskan sebagian terbesar dari waktu dan energinya untuk mempe1ajari dan menguasai bahasa. Sebaliknya, bahasa non, verbal berkembang seenaknya dan tidak pernah dilatih untuk berfungsi sebagaimana seharusnya, tidak pernah diatur dalam bentuk suatu sistem komunikasi.
Sebagai akibat langsung dari pendidikan, manusia sudah dapat menguasai hasil (output) tutur, katanya dan dapat memanipulasinya dengan mudah. Sebaliknya, manusia tidak menguasai sepenuhnya atau mengubah pesan’pesan non verbal, dan sebagai akibatnya, salutan non-verbal seeara tepat merefleksikan pengertian sebenamya dari apa yang dimaksudkan seseorang. Jika seseorang tidak mengendalikan pikiran sesungguhnya atau seseorang memilih untuk mengesampingkannya, pernyataan-pernyataan verbal yang dikeluarkannya merupakan gambaran dan cara berpikir atau yang seharusnya dipikirkan, sementara emosi, yang tercermin dari saluran non verbal, bertolak belakang dengan pembicaraannya. Sangatlah penting untuk dipahami bahwa manakala perasaan dan sikap verbal bersamaan, sinyal-sinyal verbal dan non verbal yang keluarkannya sama dan sebangun. Ini merupakan iklim terbaik yang diperlukan untuk komunikasi yang terbaik, tetapi sering pesan-pesan verbal dan non verbal tercampur aduk. Para pendengar harus memilih sendiri di antara perbedaan-perbedaan ini dan harus menentukan bagi dirinya sendiri maksud sesungguhnya dari pesan itu. Secara bervariasi para pendengar menggantungkan diri pada instink non verbalnya dan memilih untuk mempercayai pesan-pesan yang disampaikan melalui aluran non verbal

6. PENAMPILAN PRIBADI

Penampilan pribadi Anda adalah hal yang pertama dilihat orang. Penampilan itu memperlihatkan kepada orang betapa percaya dirinya Anda dan bagaimana mereka akan bersikap terhadap anda. Jika Anda tidak terlalu percaya diri untuk berdiri tegak dan berpakaian yang pantas, orang lain mungkin merasa bahwa Anda tidak menginginkan penghormatan yang pantas dari mereka.
a. Sikap Waktu Menyampaikan Penyajian
Sikap merupakan kunci untuk mengkomunikasikan citra Anda di hadapan para pendengar. Suatu sikap yang terlalu kaku mengkomunikasikan ketegangan dan kegelisahan hati, sedangkan sikap yang terlalu bebas mengkomunikasikan kecerobohan dan kesembronoan. Duduk membungkuk dan leher terlalu tinggi diangkat memperlihatkan kurangnya kepercayaan diri dan rendahnya keyakinan diri untuk tampil di muka umum.
Mengembangkan kebiasaan sikap yang baik akan memperbaiki citra penyajian dan cara berpikir tentang diri Anda. Duduk tegak dan bukannya tertelungkup di atas meja dapat membantu Anda merasa diri lebih penting dan membantu menghilangkan perasaan negatif tentang diri anda dan beralih ke perasaan positif. Agar supaya dapat mengembangkan dan menjaga kebiasaan sikap yang baik, anda harus secara tetap membiasakan sikap bawah sadar dengan secara sadar memvisualisasikan dan mempraktekkan kebiasaan sikap yang baik.
Salah satu dari teknik-teknik terbaik untuk menguji sikap adalah dengan meneatat/merekam penampilan diri Anda dalam tape video. Pertama-tama, harus diamati cara berdiri dan bagaimana kelihatannya. Untuk sikap berdiri yang baik, berdirilah tegak dengan kedua lengan ke belakang dan perut ke dalam. Untuk memperlihatkan sikap yang baik sewaktu duduk, sangatlah penting bahwa Anda harus duduk seeara penuh di kursi. Bagian belakang Anda akan secara otomatis menjadi tegak saat menyentuh bagian belakang kursi.

b. Pakaian yang Dipakai Saat Penyajian
Pakaian yang dipakai saat menyampaikan penyajian adalah jenis pakaian khusus, karena dapat menambah dukungan yang kuat bagi penampilan fisik Anda. Penampilan yang bersih dan necis akan sangat membantu agar pesan-pesan Anda sampai ke pendengar dengan baik. Pakaian yang tidak begitu baik, yang mungkin hanya dapat diterima di lingkungan kantor Anda, mungkin akan mengacaukan para pendengar. Cara berpakaian selalu berbeda dari satu industri ke industri lain, dari satu profesi ke profesi lain. Anda harus sadar akan standar dan pakaian setepatnya.
c. Menekankan Kualitas
Ada banyak hal yang dapat dibicarakan mengenai gaya-gaya pakaian; wara, desain dan pabrik, tetapi satu-satunya hal terpenting yang harus diingat adalah kualitas. Pakaian rapi dengan kualitas terbaik mengkomunikasikan suatu citra kepercayaan diri dan status seseorang. Fakta bahwa Anda akal merasa lebih pereaya diri dan berpengaruh merupakan satu alasan penting untuk mengenakan pakaian yang baik saat tampil di muka umum. Penampilan yang profeslonal akan menempatkan Anda dalam suasana positif dan menambah kualid penampilan.

7. CITRA SUARA ANDA

Jika Anda biasa bereaksi terhadap cara seseorang berbicara, maka ketahuilah bahwa para pendengar akan menilai anda dengan cara yang sama saat tampil sebagai pembicara. Mereka menilai Anda dan pesan yang disampaikan tergantung pada persepsi mereka mengenai citra suara Anda. Biasanya bukanlah apa yang Anda katakan yang menciptakan citra itu, melainkan bagaimana cara Anda mengatakalli “ya”.
a. Kualitas Suara
Yang dimaksud dengan citra atau kesan suara adalah apa yang biasanya lebih dlkenal dengan sebutan warna suara. Warna suara atau kualitas suara merupakan bunyi atau karakteristik khas dari suara setiap orang. Warna suara itu ditentukan oleh bunyi getaran di dalam ruang gema dari tenggorokan, mulut, hidung, tulang pipi dan kepala.
Dengan adanya alat-alat perekam seperti audio dan video, orang menjadi lebih yakin akan cara mereka mengeluarkan suara atau berbicara. Ada orang-orang tertentu yang merasa frustrasi dan berpikir tidak ada yang dapat dilakukan untuk memperbaiki suara mereka, tetapi anda dapat mengubah cara bersuara, yang dengan sendirinya akan dapat mengubah cara orang lain ber¬sikap dan menilai Anda. Jika Anda tidak memiliki suara yang menyenangkan secara alamiah, pertimbangkanlah untuk meluangkan sebagian waktu dan upaya untuk memperbaikinya dengan cara mencari seorang guru vokal untuk melatih anda.
b. Nada Suara
Pertimbangan tentang kualitas suara tidak hanya menyangkut warna suara saja. Mempelajari cara yang efektif untuk menguasai dan menggunakan unsur-unsur nada suara (perubahan pada suara) dapat berpengaruh besar sekali terhadap cara Anda mengutarakan dan menekankan pembicaraan di muka umum.
Perubahan nada suara secara khusus mengacu pada bagaimana suara Anda bervariasi. Faktor tidak tetap (variabel) ini mencakup kecepatan, intonasi, volume dan jeda.
c. Kecepatan Suara
Kata-kata yang diucapkan secara cepat mengandung kesamaan dan cenderung menjadi kabur bersama-sama. Melakukan variasi terhadap kecepatan kata-kata dan cara menguraikannya menambah pengertian lebih dan menarik perhatian para pendengar.
Kecepatan berbicara yang normal adalah antara 140 dan 185 kata per menit. Otak manusia dapat menyerap informasi sampai dengan 800 kata per menit. Dengan demikian para pendengar masih punya kesempatan untuk berpikir tentang apa yang Anda kemukakan. Anda perlu mengubah-ubah kecepatan bicara untuk mengumpulkan kata-kata dalam kelompok-kelom¬pok yang mengandung arti penuh, yang memberikan penekanan pada kata-kata kunci dan pengertian-pengertian tertentu. lni berarti bahwa Anda harus mendorong bersama-sama kelompok-kelompok kata yang relatif kurang penting dan memperlambat suara pada waktu mengucapkan kara-kata kunci yang penting, yang anda inginkan agar dipikirkan oleh pendengar. Dalam hal¬-ha1 tertentu, berbicara cepat sesungguhnya dapat meningkatkan pemahaman dengan cara mengikatkan pemikiran-pemikiran se¬cara bersama-sama, tetapi harus berbicara dengan jelas agar diapat dimengerti.
d. Intonasi Suara
Suara yang monoton dan membosankan merupakan pem¬bunuh nomor satu dalam suatu penyajian. Sebagian besar dari arti yang ingin dikatakan akan hilang apabila Anda tidak memiliki suara yang menyenangkan. Jelas bahwa naik dan rurunnya intonasi suara merupakan satu unsur penting dalam pembicaraan yang efektif. Dalam banyak hal, intonasi suara yang rendah dianggap sebagai suatu aset untuk keberhasilan suatu penyampaian. Untuk seorang pembicara laki-laki, agar bunyi suaranya dapat dipercaya dan meyakinkan, ia harus me-nampilkan intonasi yang lebih rendah. Untuk seorang Pembicara perempuan, agar berhasil dalam bisnis, ia perlu menggunakan intonasi suara yang lebih rendah, yang akan membuat suaranya kedengaran jelas dan tegas.
e. Volume Suara
Selalu berbicara dengan tingkat volume suara yang sama, akan membosankan pendengar dan tidak menarik perhatian mereka. Anda seyogianya berbicara cukup keras agar dapat didengar oleh semua orang, tetapi ganti-gantilah volumenya untuk menambah variasi.
e. Jeda
Para pembicara yang belum berpengalaman biasanya takut mengambil jeda saat berbicara, bahkan hanya untuk sekejap sekalipun. Bagi orang-orang seperti ini, suatu jeda selama tiga detik saja tampaknya seperti berhenti untuk selamanya. Mereka percaya bahwa selama jeda tidak akan terjadi komunikasi. Ketakutan seperti ini sesungguhnya tidak benar. Jeda adalah unsur penting dari komunikasi non-verbal dan sangat penting untuk suatu penyampaian yang baik dan kuat.
Berikut adalah beberapa keuntungan yang diperoleh seorang pembicara apabila ia mengambil jeda selama berbicara:
1) Mengandung suatu pesan non-verbal dengan membuat pem¬bicara kelihatan rileks, bijaksana dan penuh percaya diri.
2) Membantu pemahaman verbal dengan memberikan kesempatan kepada pendengar untuk menyerap informasi dan berpikir tentang suatu alat peraga yang ditampilkan.
3) Menandakan adanya peralihan dengan memberitahukan kepada pendengar bahwa suatu unsur berpikir telah selesai dan segera akan muncul poin berikutnya.
4) Jika jeda ditempatkan di tengah suatu frase atau kalimat hal itu akan menciptakan penekanan dengan menyerukan per¬hatian pada apa yang akan diucapkan setelah itu.

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di bahasa, informasi, komunikasi, matematika, pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s