TEACHING GRANT PENGGUNAAN MEDIA BELAJAR BERBASIS MULTIMEDIA DALAM RANGKA PENINGKATAN MUTU PROSES PEMBELAJARAN PADA MATA KULIAH HUKUM KEPAILITAN

sumber: http://www.economic-law.net/teaching.doc

A. ABSTRACT
Hukum Kepailitan merupakan salah satu mata kuliah Pilihan dengan bobot 2 (dua) SKS. Mata kuliah ini umumnya dipilih oleh mahasiswa yang mengambil Program Kekhususan Hukum Bisnis (PK. Hukum Bisnis).

Untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar serta memperlancar arus komunikasi dalam perkuliahan digunakan sarana yang disebut dengan media. Sehubungan dengan itu maka perlu adanya perbaikan kualitas melalui program teaching grant yang berjudul :“Penggunaan Media Belajar Berbasis Multimedia Dalam Rangka Peningkatan Mutu Proses Pembelajaran Pada Mata Kuliah Hukum Kepailitan”.
Strategi yang dilakukan Tim Pengajar untuk mencapai target yaitu dengan memberikan berbagai metode pengajaran seperti ceramah, metode pendekatan kasus untuk dianalisis secara kelompok dan didiskusikan di depan kelas, dan metode socratic. Dipenghujung perkuliahan mahasiswa belajar di ruang komputer. Supaya lebih efisien dan lebih mudah di dibagi dua kelompok belajar untuk mendiskusikan tayangan film tentang proses kepailitan di Pengadilan Niaga.
Agar perkuliahan yang disampaikan menjadi menarik dan dapat memotivasi mahasiswa, digunakan multimedia sebagai sarana untuk memperlancar arus komunikasi. Hasil yang dicapai pada mata kuliah Hukum Kepailitan dalam melaksanakan program teaching grant ini adalah : 29,6 % mendapat nilai A dan 70,4 % mendapat nilai B. Berdasarkan pendapat mahasiwa dengan multimedia dapat memperjelas penyajian pesan baik dalam bentuk tertulis atau lisan; mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera; dapat mengatasi sikap pasif anak mahasiswa; menimbulkan kegairahan belajar/lebih termotivasi, adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungan dan memungkinkan peserta didik belajar sendiri-sendiri
Dalam pelaksanaan program ini terlihat mahasiswa sangat antusias dan lebih bersemangat dalam mengikuti perkuliahan. Namun demikian ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh Tim Pengajar, Mahasiswa dan Bagian Pengajaran dalam rangka meningkatkan kualitas proses pembelajaran yaitu : Bagi Tim Pengajar selalu memperbaharui materi yang ditampilkan sesuai dengan perkembangan hukum dan masyarakat, selain itu butuh persiapan awal dalam menggunakan multimedia. Bagi Mahasiswa agar lebih termotivasi untuk segera menyelesaikan masa pendidikannya. Terakhir untuk Bagian Pengajaran dapat mempersiapkan lebih awal peralatan yang akan digunakan di ruang dosen sehubungan dengan penggunaan media tersebut.

B. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Hukum Kepailitan merupakan salah satu mata kuliah Pilihan di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya dengan bobot 2 (dua) SKS. Mata kuliah ini umumnya dipilih oleh mahasiswa yang mengambil Program Kekhususan Hukum Bisnis (PK. Hukum Bisnis).
Dalam memilih dan mengikuti mata kuliah Hukum Kepailitan di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya pada umumnya mahasiswa kurang begitu antusias mengingat materi yang diberikan banyak terkait pada aspek hukum lain seperti Hukum Perikatan, Hukum Perdata dan Dagang, Hukum Perusahaan, Hukum Jaminan, Hukum Perkawinan, Hukum Perbankan, Hukum Asuransi, Lembaga Pembiayaan, Hukum Acara, Hukum Pasar Modal, dll.
Banyaknya aspek yang harus dipelajari dalam mata kuliah Hukum Kepailitan, menyebabkan waktu yang tersedia terasa relatif singkat. Sementara metode pengajaran yang digunakan selama ini umumnya dalam bentuk ceramah dan media yang paling umum digunakan adalah media white board dan OHP.
Begitu kompleksnya materi yang diberikan membuat mahasiswa terasa agak sulit untuk memahaminya. Dengan demikian berdampak pada hasil belajar yang dicapai mahasiswa kurang optimal. Untuk itu perlu diambil langkah-langkah agar penyampaian materi yang diberikan lebih komunikatif dengan pengembangan metode pengajaran dan media pembelajaran yang sudah ada sehingga menjadi lebih mudah untuk dipahami atau diikuti dan mahasiswa lebih antusias dalam mengikuti perkuliahan tersebut. Metode belajar mengajar yang dipakai tidak hanya dengan ceramah saja tapi diikuti pula dengan metode pendekatan kasus/analisis kasus yang dikerjakan dan didiskusikan secara kelompok. Agar lebih bervariatif juga digunakan metode socratic. Ketiga metode pengajaran tersebut merupakan metode pengajaran hukum standar yang telah ditinjau ulang dan tetap eksis diterapkan . Metode pengajaran tersebut agar lebih menarik dikemas dengan media yang berbasis multimedia seperti menggunakan CD atau LCD.
Untuk itu perlu penggunaan waktu yang tepat dan dengan adanya metode pengembangan media pembelajaran berbasis multimedia diharapankan dalam mengimplementasikan rancangan tersebut dapat memberikan hasil yang optimal dan mahasiswa lebih termotivasi dalam mengikuti kuliah Hukum Kepailitan.
Dengan demikian materi yang diberikan/disampaikan oleh Tim Pengajar akan lebih mudah dipahami sehingga dapat meningkatkan kualitas proses belajar mengajar, yang pada akhirnya dapat meningkatkan Indeks Prestasi mahasiswa tersebut.

2. Perumusan Masalah

Permasalahan yang ditemui di kelas selama ini adalah masih lemahnya pemahaman mahasiswa terhadap mata kuliah Hukum Kepailitan. Salah satu faktor kelemahan ini kemungkinan dapat berawal dari proses pembelajaran yang kurang komunikatif dan media yang digunakan juga kurang menarik. Sehingga proses pembelajaran di depan kelas kurang memberikan motivasi yang tinggi kepada mahasiswa. Keadaan demikian ada kemungkinan dapat mempengaruhi hasil yang dicapai mahasiswa.
Berdasarkan kondisi diatas, ada beberapa masalah yang perlu dikaji dalam teaching grant ini, yaitu :
1. Apakah Penggunaan Media Belajar Berbasis Multimedia dapat meningkatkan mutu proses pembelajaran pada mata kuliah Hukum Kepailitan?
2. Apakah media berbasis multimedia dapat memberikan respon dan motivasi yang tinggi kepada mahasiswa dalam mengikuti mata kuliah Hukum Kepailitan?

3. Tujuan dan Manfaat

Tujuan yang ingin dicapai pada program teaching grant dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh Tim Pengajar mata kuliah Hukum Kepailitan di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya adalah :
a. Untuk meningkatkan mutu proses belajar mengajar dengan cara memberikan materi Hukum Kepailitan tidak saja dengan metode ceramah dan tanya jawab, namun dapat divariasikan dengan metode pendekatan kasus selain itu digunakan juga metode sokratik. Dengan demikian diharapkan ada sikap lebih respon dari mahasiswa dan termotivasi dalam mempelajari Hukum Kepailitan. Adapun isi materi perkuliahan yang diberikan agar lebih menarik dan memberikan motivasi kepada mahasiswa, dikemas dalam bentuk multimedia seperti menggunakan CD/LCD yang juga berisi film tentang proses beracara di Pengadilan Niaga.
b. Menyusun Teaching Material Hukum Kepailitan
c. Menerbitkan Modul Hukum Kepailitan yang juga nantinya dapat diakses oleh mahasiswa pada website Fakultas Hukum UNSRI melalui http:// http://www.economic_law.net.
d. Memotivasi mahasiswa dalam mencari informasi terkini atau kasus melalui internet yang berhubungan dengan kepailitan, karena informasinya lebih up to date. Sehingga informasi yang didapat melalui penggunaan multimedia dapat membantu kemudahan mahasiswa dalam memahami materi dalam memperluas wawasan dan dapat menyelesaikan tugas yang diberikan..
e. Menjadikan Sarjana HukumFakultas Hukum UNSRI mampu bersaing di pasar global yang berwawasan teknologi.

Kegiatan yang dilaksanakan/diterapkan diharapkan dapat memberikan manfaat baik bagi Pengajar maupun pada mahasiswa. Manfaat bagi tenaga pengajar adalah dapat memberikan kemudahan dalam penyampaian materi seperti lebih efektif dan efisien dengan demikian proses belajar mengajar akan lebih hidup. Sedangkan manfaat bagi mahasiswa akan lebih mudah memahami/menerima materi dan lebih komunikatif dengan penggunaan multimedia. Metode dan media yang diterapkan ini dapat digunakan/dipakai pula dalam mata kuliah lain.

C. METODE PERBAIKAN DAN STRATEGI PELAKSANAAN

1. Metode Perbaikan

Metode pengajaran yang digunakan selama ini umumnya dalam bentuk ceramah dan media yang paling sering digunakan adalah media white board dan OHP. Berdasarkan pengalaman ternyata penggunaan media yang sering digunakan selama ini kurang memberikan kesan komunikatif. Sehingga mahasiswa agak sulit untuk memahami pesan yang disampaikan oleh Tim Pengajar.
Untuk itu perlu langkah-langkah yang harus diambil agar dapat meningkatkan kualitas belajar mengajar dan lebih memberikan motivasi kepada mahasiswa. Salah satu langkah alternatif yang dilakukan untuk tujuan tersebut adalah dengan menggunkan media yang berbasis multimedia. Tentu saja langkah ini juga diikuti dengan pengembangan metode pembelajaran seperti metode pendekatan kasus dan sokratic. Masing-masing metode pembelajaran tersebut tentu saja ada keunggulan dan kelemahan, seperti dijelaskan di bawah ini ;
(1) Metode kuliah ceramah umum yaitu metode dimana hukum dan prinsip-prinsip hukum dijelaskan oleh dosen di depan kelas tanpa interaksi masukan dari mahasiswa (kalaupun ada sangat sedikit). Pemberian kuliah dengan ceramah tidak hanya merupakan cara yang efisien dalam menyampaikan materi pengajaran hukum yang luas lingkupnya , cara ini juga lebih memudahkan dalam persiapan serta penyampainnya apabila dibandingkan dengan metode lain. Metode ceramah dapat berbentuk pertanyaan dari mahasiswa atau ceramah yang diikuti dengan diskusi bebas yang melibatkan dosen dan mahasiswa. Metode ceramah ini dianggap sangat populer di kalangan Fakultas Hukum jika dibandingkan dengan metode alternatif lain.
Metode ceramah ini mempunyai beberapa kelemahan antara lain mahasiswa menjadi kurang kritis/pasif, apalagi kalau materi yang diberikan tidak pernah diperbaharui, mengakibatkan mahasiswa menjadi tidak energik/kehilangan minat.

(2) Pendekatan studi kasus atau masalah, yang melibatkan analisa dan diskusi pada suatu masalah hukum secara terbatas yang disampaikan berdasarkan serangkaian fakta, sebagai kebalikan dari diskusi umum secara keseluruhan. Metode kasus ini dapat dipakai oleh dosen dalam memberikan kuliah. Metode kasus dapat dikatakan memberikan suatu perubahan yang menyegarkan dibandingkan dengan kuliah ceramah dengan prinsip-prinsip yang abstrak. Memang ada kendala dalam menggunakan metode kasus di Indonesia yaitu terbatasnya kasus yang sudah dipublikasikan yang dapat digunakan sebagai contoh. Namun sejak keluarnya UU No. 4 tahun 1998 Tentang Kepailitan (yang diperbaharui dengan UU No. 37 tahun 2004) telah banyak kasus-kasus yang dipublikasikan, sehingga dapat digunakan untuk contoh dalam mempelajari studi kasus. Jadi dalam memberikan mata kuliah Hukum Kepailitan di Fakultas Hukum selain memberikan metode ceramah diberikan pula metode kasus yang betul-betul terjadi dalam bentuk surat permohonan Pailit dan Putusan Pengadilan untuk dianalisis/dibahas oleh mahasiswa secara kelompok.
(3) Metode “Socratic” adalah suatu cara dimana dosen memberikan pertanyaan kepada mahasiswa dan sekaligus mengomentari (seringkali mengkritik) jawaban mahasiswa. Disini dosen harus bijaksana dalam menanggapi jawaban

Dari ke-tiga metode pembelajaran seperti disebutkan diatas diterapkan pula dalam memberikan mata kuliah Hukum Kepailitan oleh Tim Pengajar. Agar perkuliahan lebih komunikatif dan menarik serta memberikan motivasi kepada mahasiswa, maka digunakan suatu alat yang disebut media untuk mencapai mutu proses belajar mengajar tersebut.
Media disini diartikan sebagai alat untuk menyampaikan atau menghantarkan pesan-pesan pengajaran. Heinich dkk mengemukakan istilah medium sebagai perantara yang mengantar informasi atau sumber dan penerima. Jadi, televisi, film, foto, radio, gambar yang diproyeksikan, bahan-bahan cetakan dan sejenisnya adalah media komunikasi. Apabila media itu membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran maka media itu disebut media pembelajaran . Media pembelajaran pada prinsipnya adalah sebuah proses komunikasi, yakni proses penyampaian pesan yang diciptakan melalui suatu kegiatan penyampaian dan tukar menukar pesan atau informasi oleh setiap peserta didik . Pesan atau informasi dapat berupa pengetahuan, keahlian, ide pengalaman dan sebagainya.
Acapkali kata media pendidikan digunakan secara bergantian dengan istilah alat bantu atau media komunikasi seperti yang dikemukakan oleh Hamalik dimana ia melihat hubungan komunikasi akan berjalan lancar dengan hasil yang maksimal apabila menggunakan alat bantu yang disebut media komunikasi. Sementara itu Gagne dan Briggs secara implisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran, yang terdiri dari antara lain: buku, tape recorder, kaset, video camera, film slide, foto, gambar, grafik, televisi dan komputer. Dengan kata lain, media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan mahasiswa yang dapat merangsang mahasiswa untuk belajar.
Agar proses belajar mengajar dapat berhasil dengan baik, mahasiswa sebaiknya diajak untuk memanfaatkan semua alat inderanya. Pengajar berupaya menampilkan rangsangan (stimulus) yang dapat di proses dengan berbagai indera. Semakin banyak alat indera yang digunakan untuk menerima dan mengolah informasi semakin besar kemungkinan informasi tersebut dimengerti dan dapat dipertahankan dalam ingatan. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan akan dapat menerima dan menyerap dengan mudah dan baik pesan-pesan dalam materi yang disajikan.
Belajar dengan menggunakan indera ganda ~ pandang dan dengar ~ akan memberikan keuntungan bagi mahasiswa. Mahasiswa akan belajar lebih banyak daripada jika materi pelajaran disajikan hanya dengan stimulus pandang atau hanya dengan stimulus dengar. Para ahli memiliki pandangan yang searah mengenai hal itu. Perbandingan pemerolehan hasil belajar melalui indera pandang dan indera dengar sangat menonjol perbedaannya. Kurang lebih 90% hasil belajar seseorang diperoleh melalui indera pandang, dan hanya sekitar 5% diperoleh melalui indra dengar dan 5% lagi melalui indra lainnya . Sementara itu, Dale memperkirakan bahwa pemerolehan hasil belajar melalui indera pandang berkisar 75%, melalui indera dengar sekitar 13%, dan melalui indera lainnya 12% . Untuk itulah Tim Pengajar berupaya memberikan stimulus kepada mahasiswa dalam bentuk multimedia sehingga dapat diserap melalui indera pandang dan indera dengar.
Penggunaan multimedia disini secara sederhana diartikan sebagai lebih dari satu media atau dengan kata lain beberapa penggabungan media, bisa berupa kombinasi antara teks, grafik, animasi, suara dan video.
Perpaduan dan kombinasi dua atau lebih jenis media pada umumnya ditekankan kepada kendali komputer sebagai penggerak keseluruhan gabungan media itu. Penggabungan ini merupakan suatu kesatuan yang secara bersama-sama menampilkan informasi, pesan, apa isi pelajaran.
Konsep penggabungan ini dengan sendirinya memerlukan beberapa jenis peralatan perangkat keras yang masing-masing tetap menjalankan fungsi utamanya sebagaimana biasanya, dan tentu saja komputer merupakan pengendali seluruh peralatan itu. Jenis peralatan itu misalnya komputer, video kamera, cassete recorder, overhead projektor, multivision (sejenisnya), CD player, compact disk dan saat ini dapat digunakan pula flash disk.
Sehubungan dengan penyampaian materi dalam memberikan kuliah di bidang Ilmu Hukum memang tidak bisa kita katakan ada suatu media yang paling baik bisa di terapkan. Namun justru lebih banyak media digunakan akan lebih baik lagi, tergantung dengan materi yang diajarkan. Dengan demikian dapat menimbulkan stimulus kepada mahasiswa sehinga lebih bergairah dan termotivasi dalam mengikuti perkuliahan Hukum Kepailitan..
2. Strategi Pelaksanaan

Pada semester ganjil 2005/2006 jumlah peserta mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Hukum Kepailitan lebih banyak dibandingkan dengan semester sebelumnya yang hanya berkisar antara 5-10 orang. Jumlah mahasiswa yang mengikuti pada semeter ganjil ini ternyata memang lebih banyak peminatnya dibandingkan dengan semester lalu yaitu mencapai 27 orang. Sebelumnya memang mahasiswa telah mendapat informasi bahwa akan ada sedikit perbedaan dalam penyampaian materi Hukum Kepailitan sehubungan dengan pelaksanaan teaching grant.
Dalam melaksanakan perkuliahan pada pertemuan awal, staf pengajar memberikan GBPP atau SAP kepada mahasiswa agar mereka mengetahui secara umum tentang materi apa saja yang akan diberikan oleh staf Pengajar. Penyampaian materi secara keseluruhan dilakukan oleh Tim Pengajar melalui metode ceramah, pendekatan kasus dan sokratic yang kemudian dikemas dengan menggunakan beberapa penggabungan media yang disebut dengan multimedia.
Untuk pertemuan pertama hingga minggu ke-7 (tujuh) masih menggunakan metode ceramah dan tanya jawab yang informasinya dikemas dengan multimedia, supaya metode pengajaran yang diberikan lebih bernuansa yang sifatnya tidak monoton.
Pada minggu ke-8 (delapan) sampai ke-10 (sepuluh) supaya perkuliahan tidak menimbulkan kejenuhan dan merangsang pola pikir mahasiswa diberi pula aplikasi metode pendekatan studi kasus dan didiskusikan di kelas dengan membuat 9 kelompok (dalam 1 kelompok 3 orang). Pada pendekatan studi kasus nantinya diberikan tugas kepada mahasiswa yang bahannya dapat diambil melalui internet. Fungsi dosen disini adalah sebagai fasilitator, dimana setiap kelompok diberikan waktu untuk memaparkan secara bergiliran di depan kelas.
Mulai dari minggu ke-11 sampai ke-12, mahasiswa dibagi 2 kelompok untuk belajar di ruang komputer, dan staf pengajar memberikan materi dalam bentuk CD setiap mahasiswa untuk melihat sendiri materi tersebut selama lebih kurang 30 menit. Setelah itu diberikan waktu kepada mahasiswa untuk bertanya atau menanggapi isi materi tersebut. Disini dosen akan langsung menjawab pertanyaan dari mahasiswa.
Pada waktu kuliah terakhir yaitu pertemuan ke-13 dan ke-15, mahasiswa masih belajar/kuliah di ruang komputer untuk melihat secara langsung proses kepailitan dalam sidang Verifikasi di Pengadilan Niaga melaui CD yang berisikan film di Pengadilan Niaga. Setelah melihat tayangan tersebut Tim Pengajar memberikan beberapa pertanyaan kepada mahasiswa untuk didiskusikan dengan kelompok masing-masing.
Setiap akhir proses belajar mengajar dosen memberikan stimulus berupa : pertanyaan lisan, tes, latihan dan tugas-tugas.

D. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

1. Implementasi

Agar suatu program pendidikan di suatu Perguruan Tinggi dapat berjalan dengan efektif maka diperlukan beberapa indikator untuk menentukan berhasil tidaknya program yang dilaksanakan. Sehingga dapat menunjukkan kinerja perbaikan metodologi dan proses pembelajaran yang dilakukan. Indikator kinerja tersebut adalah :
 Kurikulum
Dinamika suatu pendidikan ditentukan oleh kurikulum dalam arti luas yang meliputi :
a. Penyusunan mata kuliah.
Di Fakultas Hukum Unsri pada saat ini sudah diterapkan kurikulum baru Tahun 2003. Namun untuk perbaikan kualitas pendididikan perlu ditinjau kembali bagaimana pelaksanaan kurikulum yang sudah ada sesuai dengan perkembangan hukum, masyarakat dan teknologi. Walaupun masih termasuk katagori kurikulum baru kemungkinan untuk merubah kurikulum tersebut dapat saja dilakukan. Perubahan itu misalnya; ada beberapa mata kuliah yang perlu dipertahankan, atau mata kuliah yang perlu dikurangi dan ada juga kemungkinan mata kuliah yang perlu ditambah. Sehubungan dengan kurikulum ini melalui program TPSDP fakultas Hukum Unsri sudah mengadakan Lokakarya pada akhir tahun 2005 untuk meninjau ulang kurikulum 2003, yang memang pada intinya kurikulum 2003 bakal mengalami perubahan.
b. Kegiatan pembelajaran.
Kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan tujuan instruksional khusus yang ingin dicapai. Agar suatu kegiatan pembelajaran ini mencapai sasaran maka setiap dosen harus menyiapkan Satuan Acara Perkuliahan (SAP). Pembuatan SAP setiap mata kuliah sudah disiapkan oleh masing-masing Tim Pengajar/dosen Fakultas Hukum Unsri dan dikumpul di bagian Akademik. Berdasarkan data laporan Akhir TPSDP ada 85% SAP Hukum Ekonomi/Bisinis yang sudah selesai disiapkan oleh Tim Pengajar .
 Media pembelajaran
Media pembelajaran merupakan suatu sarana yang bermanfaat untuk membantu proses komunikasi, sehingga pesan atau informasi dapat diserap dan dihayati oleh peserta didik
Dewasa ini bidang pengajaran secara umum sedikit banyaknya terpengaruh oleh adanya perkembangan dan penemuan-penemuan dalam bidang keterampilan, ilmu dan teknologi. Pengaruh perkembangan tersebut tampak jelas dalam upaya-upaya pembaharuan sistem pendidikan dan pembelajaran. Upaya pembaharuan itu menyentuh tidak hanya sarana fisik/fasilitas pendidikan, tapi juga sarana non fisik seperti pengembangan kualitas tenaga-tenaga kependidikan yang memiliki pengetahuan, kemampuan dan keterampilan memanfaatkan fasilitas yang tersedia, cara karya yang inovatif, serta sikap yang positip terhadap tugas yang diembannya. Salah satu bagian integral dari upaya pembaruan itu adalah media pembelajaran. Oleh karena itu, media pembelajaran menjadi suatu bidang yang seyogyanya dikuasai oleh atau staf pengajar yang profesional. Melalui program teaching grant dalam mata kuliah Hukum Kepailitan digunakan media berbasis multimedia.

Tumbuhnya kesadaran terhadap pentingnya pengembangan media pembelajaran dimasa yang akan datang harus dapat direalisasikan dalam praktik. Disamping memahami penggunaaannya, para pendidik patut berupaya untuk mengembangkan keterampilan membuat sendiri media yang menarik, murah dan efisien, dengan tidak menolak kemungkinan pemanfaatan alat modern yang sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu dan teknologi
 Sarana dan fasilitas
Sarana dan fasilitas yang tersedia seperti ruang komputer sangat membantu mahasiswa dalam belajar mandiri dengan menggunakan CD yang sudah disiapkan oleh dosen seperti CD Hukum Kepailitan.
 Yurisprudensi
Yurisprudensi atau putusan hakim Pengadilan Niaga untuk mata kuliah Hukum Kepailitan saat ini tidak merupakan kendala lagi dalam mendapatkannya. Dengan dipublikasikannya putusan hakim dari Pengadilan Niaga maka dapat diterapkan metode pendekatan studi kasus dalam mata kuliah Hukum Kepailitan. Yurisprudensi ini sudah dipublikasikan berupa Himpunan Lengkap Putusan Pengadilan Niaga Tingkat I, Putusan Mahkamah Agung dalam Kasasi dan Peninjauan Kembali yang dihimpun dalam bentuk buku .
 Nilai akhir mata kuliah.
Untuk mengetahui keberhasilan yang dicapai dalam pengajaran mata kuliah Hukum Kepailitan perlu adanya evaluasi.
2. Evaluasi

Evaluasi yang digunakan dalam program teaching grant ini dalam bentuk kuis, tugas tugas yang diberikan, nilai mid semester dan terakhir nilai semester.
Secara umum nilai tugas dan nilai mid semester dan nilai semester dengan adanya program teaching grant ini cukup menggembirakan. Adapun Nilai Akhir yang telah dicapai oleh 27 mahasiswa adalah ;
1. 8 orang mendapat nilai A (29,6 %),
2. 19 mahasiswa (70,4%) mendapat nilai B.
Sedangkan rata-rata kehadiran mahasiswa cukup tinggi yaitu ;
1. prosentase kehadiran antara 60 %-80 % = 9 mahasiswa (33 %).
2. prosentase kehadiran antara 85 %-100 % = 18 mahasiswa (67%).
Selain beberapa faktor diatas dinamika pendidikan hukum perlu pula dilengkapi dengan penataan infrastruktur lain dalam proses pembelajaran seperti :
a. kemampuan membuat modul (buku ajar).
Dalam melaksanakan program teaching grant ini salah satu tujuannya adalah membuat bahan ajar/modul yang isinya mudah dipahami oleh mahasiswa dan memberikan rujukan sehingga dapat memahami lebih dalam dan lebih luas lagi melalui buku-buku lain.
b. kemampuan membuat model-model diskusi kasus.
Dengan telaah kasus-kasus yang relevan dapat memberikan wawasan bagi peserta didik dan memberikan penilaian terhadap kasus-kasus yang dibahas (opini masyarakat). Dalam pelaksanaan teaching grant mata kuliah Hukum Kepailitan digunakan metode pendekatan kasus dengan mengambil contoh kasus PT. Prudential untuk ditelaah karena kasus tersebut banyak mendapat sorotan masyarakat terutama masyarakat yang terkait dalam Asuransi.
Berdasarkan pengamatan Tim Pengajar selama menggunakan media berbasis multimedia mahasiswa dikelas lebih bersikap aktif untuk merespon materi yang diberikan. Keingintahuan mereka terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan saat kuliah berlangsung. Menurut mereka dengan multimedia mereka bisa belajar lebih mandiri setelah itu dapat dilanjutkan dengan diskusi yang dipandu oleh dosen.

E. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan

Berdasarkan pelaksanaan rancangan yang telah diterapkan di kelas seperti yang telah diuraikan pada Bab sebelumnya, maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu ;
1. Mata kuliah Hukum Kepailitan yang diberikan di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya sebagai salah satu mata kuliah penunjang pada Program Kekhususan Hukum Bisnis/Ekonomi, diberikan dengan menggunakan beberapa metode pengajaran dan media pembelajaran berbasis multimedia. Metode pengajaran tersebut antara lain seperti; ceramah, pendekatan kasus dan soktratic. Tentu saja dari ketiga mode tersebut ada beberapa kelebihan dan kelemahan masing-masing. Namun dari beberapa metode pengajaran yang digunakan tersebut sebenarnya sifatnya saling mengisi. Agar metode pengajaran tersebut lebih komunikatif maka disampaikan dalam bentuk pengembangan media yaitu dengan menggunakan multimedia seperti CD/LCD yang menampilkan gambar/video.
Dengan adanya media pembelajaran berbasis multimedia dalam proses belajar mengajar ternyata :
a. Dapat Meningkatkan mutu proses belajar mengajar. Untuk mengetahui hal itu dapat dilihat melalui beberapa indikator seperti; Nilai akhir mata kuliah, kurikulum, kegiatan pembelajaran yang dapat dilihat melalui SAP, media pembelajaran, sarana dan fasilitas, yurisprudensi, dan ketersediaan modul/bahan ajar.
b. Memperjelas penyajian pesan, baik dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan.
c. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera.
d. Pemberian materi lebih efektif dan effesien.

2. Dengan menggunakan media pembelajaran secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif mahasiswa. Dengan penggunaan multimedia :
a. Mahasiswa sangat antusias dan lebih bergairah mengikuti proses belajar-mengajar;
b. Dapat terjadi interaksi langsung antara mahasiswa dengan lingkungan dan kenyataan, sehingga mahasiswa lebih termotivasi dalam mengikuti perkuliahan.
c. Mahasiswa lebih mandiri dalam mengikuti mata kuliah.
d. Mahasiswa lebih termotivasi untuk menggunakan teknologi, misalnya mencari bahan di internet.

2. Saran-Saran
Berdasarkan pengalaman dan fakta yang dihadapi oleh Tim Pengajar, baik sebelum maupun sesudah program ini dijalankan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan mutu proses pembelajaran pada mata kuliah Hukum Kepailitan yaitu :
a) Penggunaan multimedia mempunyai pengaruh yang baik dalam memberikan materi, namun ketersediaan alat/media ini masih terbatas. Dan juga belum meiliki teknisi khusus untuk mengoperasionalkan alat tersebut.
b) Perlu persiapan lebih awal baik bagi tenaga pengajar maupun tekhnisi. Peralatan yang akan dipakai belum tersedia ditempat, akibatnya akan mengurangi waktu perkuliahan.
c) Mata kuliah ini dilaksanakan pada jam pertama yaitu pukul 8 pagi. Sehingga untuk disiplin tepat waktu agak sulit diterapkan. Faktor Jauhnya jarak atau terbatasnya transportasi menyebabkan keterlambatan mahasiswa untuk mengikuti kuliah.

F. DAFTAR PUSTAKA

Achsin, Media Pendidikan dalam Kegiatan Belajar-Mengajar, Ujung Pandang, IKIP Ujung Pandang, 1986.

Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2004.

Edmon Makari, Kompilasi hukum Telematika, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2003.

Rosa Delima, Media Belajar Berbasis Multi Media Sebagai Alternatif Peningkatan Efisiensi Pembelajaran Di Perguruan Tinggi, disampaikan pada Kegiatan Pelatihan Pembuatan Media Belajar Berbasis Multi Media Bagi Dosen Fakultas hukum unsri inderalaya tanggal 11 s.d. 13 Oktober 2004.

Padmo wahjono, Pendidikan Hukum di Indonesia suatu Restropeksi Hukum Pembangunan, Majalah Hukum dan Pembangunan no. 5 Tahun 1985, Penerbit FH UI 1985

W. Lawrence Church, Metode Pengajaran dan Pendidikan Hukum, ELIPS II USAID 2002.

Yurisprusensi Kepailitan 2002, PT. Tata nusa, Jakarta, 2003.

Laporan Akhir TPSDP Bacht III Tahun 2005.

Tulisan ini dipublikasikan di komunikasi, pendidikan, sosial, teknologi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s