Pengaruh Motivasi Berprestasi dan Perilaku Komunikasi Antarpribadi terhadap Efektivitas Kepemimpinan Kepala Sekolah (Survei Terhadap Kepala SLTP di Provinsi Sulawesi Tenggara)

Oleh: Abdullah  Alhadza*

Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh motivasi berprestasi dan perilaku komunikasi antarpribadi terhadap efektivitas kepemimpinan kepala sekolah baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa apabila efektivitas kepemimpinan kepala sekolah diinginkan meningkat, maka motivasi berprestasi dan perilaku komunikasi antarpribadi dari kepala sekolah harus diberi perhatian yang sungguh-sungguh.  Perhatian dimaksud adalah menciptakan kondisi yang memungkinkan kepala sekolah memiliki motivasi berprestasi yang tinggi dan perilaku komunikasi yang positif.  Untuk mempertinggi motivasi berprestasi direkomendasikan agar jabatan kepala sekolah tidak menjadi terminal dalam karier, melakukan inventarisasi, dokumentasi dan publikasi nilai-nilai berprestasi dan pemberian tes motivasi berprestasi bagi calon kepala sekolah.  Untuk menciptakan perilaku komunikasi antarpribadi yang positif maka kepala sekolah perlu diberikan pelatihan komunikasi antarpribadi. Bersamaan dengan itu perlu dibentuk Laboratorium Manajemen Sekolah untuk  menfasilitasi peningkatan kedua variabel indenpenden tersebut secara bersamaan di samping membantu kepala sekolah memecahkan masalah yang muncul sebagai akibat dari Otonomi Daerah.

Kata Kunci: Motivasi berprestasi, komunikasi antarpribadi, efektivitas, kepemimpinan, kepala sekolah.


1.  Pendahuluan
1.1 Latar Belakang

Keluhan publik terhadap mutu pendidikan dan prestasi belajar siswa telah lama mengemuka.  Rendahnya perolehan Nilai Ebtanas Murni (NEM), keabsahan nilai yang tercantum dalam Daftar Nilai Ebtanas Murni (DANEM) acapkali menjadi sorotan dalam wacana pendidikan di Indonesia.  Mutu pendidikan akan selalu menarik perhatian masyarakat Indonesia karena masa depan bangsa tergantung kepada pendidikan terutama di saat memasuki era globalisasi.  Diakui bahwa mutu pendidikan pada umumnya dan prestasi belajar siswa di sekolah pada khususnya merupakan hasil dari suatu proses interaksi berbagai faktor seperti: guru, siswa, kurikulum, buku paket, laboratorium, metodologi pengajaran, peraturan perundang-undangan di bidang pendidikan, dan berbagai input serta kondisi  proses lainnya.

Meskipun faktor-faktor yang menjadi input seperti disebutkan di atas telah ditangani selama ini, baik kualitas maupun kuantitasnya, sehingga kondisi saat ini sudah lebih baik daripada kondisi sebelumnya, namun mutu pendidikan dan prestasi belajar siswa seperti yang diinginkan belum terwujud.  Tampaknya ada suatu faktor yang selama ini belum mendapatkan perhatian yang setara dengan perhatian yang diberikan pada faktor-faktor lainnya yaitu manajemen pendidikan.  Sudah cukup banyak dana yang dibelanjakan untuk mengangkat dan menatar guru dan tidak sedikit rupiah yang telah dihabiskan untuk mencetak buku, membeli peralatan laboratorium, mengadakan sarana dan prasarana pendidikan, namun masih sangat sedikit upaya yang dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas manajemen pendidikan.

Salah satu wujud dan tingkatan manajemen pendidikan yang cukup penting tetapi masih kurang tersentuh dalam program pembangunan pendidikan adalah kepemimpinan kepala sekolah.  Sesungguhnya, sebesar apa pun input persekolahan ditambah atau diperbaiki, outputnya tetap tidak akan optimal, apabila faktor kepemimpinan kepala sekolah yang merupakan aspek yang sangat strategis dalam proses belajar mengajar dibiarkan terlantar atau tidak diberikan perhatian yang serius.  Hal dikarenakan pada akhirnya kepala sekolah adalah pengelola terdepan yang memutuskan dapat tidaknya setiap input berproses dan berinteraksi secara positif dalam sistem belajar mengajar.  Kepala sekolah memiliki peluang yang besar untuk mendorong atau menghambat upaya inovasi baik yang berasal dari luar maupun yang timbul dari dalam sekolahnya.

Berbicara tentang aspek kepemimpinan kepala sekolah, isu yang paling penting       untuk ditampilkan adalah efektivitas dari kepemimpinan itu.  Beberapa teori dan hasil  studi mengungkapkan bahwa efektivitas kepemimpinan dipengaruhi oleh banyak hal, namun secara lebih terfokus Florida Council on Education Management (FCEM) berhasil mengidentifikasi sejumlah kompetensi yang dimiliki oleh sekolah yang masuk kategori dengan kinerja tinggi, empat di antaranya adalah: komitmen terhadap misi yang ingin dicapai, orientasi pro aktif, kepekaan antarpribadi dan motivasi berprestasi.  (Drake, 1986: 33 – 34).  Berdasarkan asumsi teoretis tersebut penelitian akan mencermati pengaruh motivasi berprestasi dan perilaku komunikasi antarpribadi terhadap efektivitas kepemimpinan.

1.2 Rumusan Masalah
(1)   Bagaimana pengaruh motivasi bereprestasi terhadap efektivitas kepemimpinan kepala sekolah?
(2)   Bagaimana pengaruh perilaku komunikasi antarpribadi terhadap efektivitas kepemimpinan kepala sekolah?
(3)   Bagaimana pengaruh motivasi berprestasi dan perilaku komunikasi antarpribadi secara bersama-sama terhadap efektivitas
kepemimpinan kepala sekolah?


2.  LandasanTeoretik, Kerangka Berpikir, dan Hipotesis
2.1     Landasan Teoretik
2.1.1     Efektivitas Kepemimpinan Kepala Sekolah

Efisiensi berkaitan dengan cara yaitu membuat sesuatu dengan betul (doing things right) sementara efektivitas adalah menyangkut tujuan (doing the right things). Efektivitas adalah suatu keadaan yang menunjukkan tingkat keberhasilan mencapai tujuan (Prokopenko, 1987: 5).  Dalam menilai keefektifan suatu organisasi terdapat empat model pendekatan yaitu: pendekatan pencapaian tujuan (goal attainment), pendekatan sistem yang menekankan stabilitas, pendekatan konstituensi strategis yang menekankan terpenuhinya tuntutan para stakeholder, dan pendekatan nilai-nilai bersaing yang mempertemukan tiga kriteria yaitu human relation model, open sistem model, dan rational goal model (Robbins, 1994: 58-77).

Kepemimpinan adalah proses menggerakkan seseorang atau sekelompok orang kepada tujuan-tujuan yang umumnya ditempuh dengan cara-cara yang tidak memaksa (Kotter, 1988: 5).  Dari banyak definisi tentang kepemimpinan dapat diidentifikasi bahwa parameter kepemimpinan umumnya diarahkan pada gaya dan perilaku pemimpin, sedangkan orientasinya adalah ketercapaian tujuan/hasil atau efektivitas kepemimpinan.  Kepemimpinan yang efektif dimaknai sebagai kepemimpinan yang mampu menghasilkan gerakan/kegiatan dalam kerangka kepentingan jangka panjang terbaik dari kelompok (Kotter, 1988: 5).

Untuk mengukur efektivitas kepemimpinan pada umumnya peneliti merujuk pada tiga kelompok teori.  Pertama adalah Traits Theory. Teori ini berasumsi bahwa terdapat banyak karakteristik pribadi yang harus dimiliki oleh seseorang untuk menjadi pemimpin yang efektif.  Oleh karena itu, efektivitas kepemimpinan seseorang diukur pada seberapa banyak karakteristik yang dipersyaratkan tersebut dimiliki.  Kedua adalah Behavioral Theories. Teori ini berasumsi bahwa keberhasilan atau efektivitas kepemimpinan dan kepatuhan bawahan terhadap pemimpin ditentukan oleh gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh seorang pemimpin.  Oleh karena itu, efektivitas kepemimpinan seseorang diukur pada seberapa tepat seseorang menerapkan gaya kepemimpinan yang direkomendasikan.  Ketiga adalah Teori-teori Kontingensi.  Teori ini mencoba mengakomodasikan variabel spesifik yang terlibat dalam situasi kepemimpinan.  Teori Kontingensi menitikberatkan analisisnya pada faktor situasi dan menegaskan bahwa kepemimpinan yang efektif adalah penerapan perilaku kepemimpinan yang tepat pada situasi yang tepat.

Dari uraian di atas dapat ditegaskan bahwa efektivitas kepemimpinan adalah derajat keberhasilan seorang pemimpin dalam mencapai tujuan organisasi dengan cara mempengaruhi pengikutnya melalui kombinasi ideal antara orientasi pada tugas dan penekanan pada hubungan kemanusiaan sesuai dengan situasi yang dihadapi. 

Dalam hubungan dengan situasi sekolah, Caplow  menawarkan suatu formula yang dinamai SIVA Variabel, yaitu Stability, Integrity, Voluntarism, dan Achievement.  Stability adalah kemampuan organisasi untuk memelihara atau meningkatkan statusnya dalam hubungannnya dengan lingkungannya.  Integrity ialah kemampuan organisasi untuk mengontrol konflik internal yang ditunjukkan oleh saling penyesuaian, kurangnya friksi, intensifnya komunikasi, dan besarnya konsensus.  Voluntarism secara sederhana dapat disamakan dengan moral/semangat kerja yang ditunjukkan dengan rasa senang, jalinan persahabatan, kepuasan batin, dan keinginan anggota untuk tetap berpartisipasi sebagai bagian dari organisasi.  Achievement ialah hasil dari kegiatan organisasi yang ditandai dengan keberhasilan dan kegagalan dalam mendapatkan tujuan umum dan tujuan spesifik dari organisasi. (Drake, 1986: 95).

Dari serangkaian teori seperti dikemukakan di atas, dapat ditegaskan bahwa efektivitas kepemimpinan kepala sekolah adalah tingkat keberhasilan kepala sekolah dalam  mempengaruhi setiap pengikutnya untuk melakukan aktivitas sehingga dapat mewujudkan tercapainya tujuan kepala sekolah yaitu menciptakan stabilitas, integritas, voluntaritas, dan prestasi (achievement) atas sasaran administratif dan edukatif.

2.1.2.  Motivasi Berprestasi

Motivasi adalah kondisi internal yang  spesifik dan mengarahkan perilaku seseorang ke suatu tujuan.  (Lefton, 1982: 143).  Achievement atau prestasi diartikan sebagai kesuksesan setelah didahului oleh suatu usaha.  Prestasi merupakan dorongan untuk mengatasi kendala, melaksanakan kekuasaan, berjuang untuk melakukan sesuatu yang sulit sebaik dan secepat mungkin. (Lefton, 1982: 156).

Maslow berasumsi bahwa perilaku manusia termotivasi ke arah self fulfillment. Setiap orang mempunyai motif bawaan yang selalu diperjuangkan untuk dipenuhi yang bergerak dari motif yang paling sederhana yaitu kebutuhan fisiologis sampai aktualisasi diri.  Pada awalnya Maslow mengemukakan teorinya dengan hanya menyebutkan 5 hirarki kebutuhan manusia, namun kemudian ia menyempurnakan teorinya dengan menjadikan 7 hirarki kebutuhan manusia yaitu: 1) physiological needs, 2) safety needs, 3) belongingness and love needs, 4) esteem needs, 5) cognitive needs, 6) aesthetics needs dan 7) self actualization. (Lefton, 1982: 168).

Herzberg mengembangkan model dua faktor.  Dijelaskan bahwa ada dua faktor yang terpisah, yaitu higiene factor dan satisfier factor, yang mempengaruhi motivasi.  Higiene factors adalah fakator yang apabila tidak ada dalam kondisi kerja akan menimbulkan rasa ketidakpuasan, namun keberadaannya hanya menimbulkan rasa netral.  Satisfier factors adalah faktor yang keberadaannya sangat membangkitkan motivasi tetapi ketiadaannya jarang mengakibatkan rasa kecewa pada karyawan.  (Davis, 1990: 110).

Alderfer mengemukakan ERG Theory (Existence, Relatedness, dan Growth). ERG merupakan gambaran dari kebutuhan manusia untuk bereksistensi, berhubungan, dan berkembang.  Teori ini  mempunyai banyak persamaan dengan teori Maslow. Perbedaan yang menonjol adalah jika Maslow melihat kebutuhan sebagai jenjang yang ketat di mana kebutuhan tingkat yang lebih tinggi tidak mungkin dipenuhi sebelum terpenuhi tingkat di bawahnya, maka Alderfer lebih bersifat fleksibel, di mana dimungkinkan pemenuhan kebutuhan secara bersamaan bahkan dimungkinkan adanya gerakan menurun apabila seseorang mengalami frustasi dalam upaya memenuhi kebutuhannya di tingkat tertentu.

Dari ketiga teori yang dikemukakan oleh kelompok humanistis di atas, maka posisi motivasi berprestasi dapat diidentifikasi sbagai berikut. Pertama, pada teori Maslow, motivasi berprestasi dimulai dari hirarki ke 3 sampai aktualisasi diri.  Aktualisasi diri  merupakan puncak motivasi dan prestasi dari seseorang.  Kedua, pada teori Herzberg, motivasi berprestasi berada pada faktor satisfier.  Ketiga, pada teori Alderfer, motivasi berprestasi terkandung dalam kebutuhan berinteraksi dan kebutuhan untuk berkembang.

McClelland menyimpulkan dari penelitiannya bahwa motivasi berprestasi adalah faktor penting yang menentukan tingkat pertumbuhan masyarakat.  Ia menemukan tiga karakteristik umum dari orang yang memiliki motivasi berprestasi, yaitu: (1) kepiawaian menetapkan tujuan personal yang tinggi tetapi secara rasional dapat dicapai, (2) lebih komit terhadap kepuasan berprestasi secara personal dari dalam daripada iming-iming hadiah dari luar, dan (3) keinginan akan umpan balik dari pekerjaannya (McClelland http//westrek, 1999: 1).

Sebagai kesimpulan, yang dimaksud motivasi berprestasi dalam penelitian ini adalah keinginan yang kuat untuk mencapai keberhasilan dalam pekerjaan yang ditandai dengan upaya aktualisasi diri, kepedulian pada keunggulan dan pelaksanaan tugas yang optimal berdasarkan perhitungan yang rasional.  Indikator dari aktualisasi diri adalah dedikasi, bertanggung jawab, independensi, percaya diri, dan kepuasan pribadi.

2.1.3 Perilaku Komunikasi Antarpribadi

Secara umum, perilaku dijelaskan sebagai segala aspek dari kegiatan organisme, termasuk pikiran, perasaan, dan aktivitas pisik (Lefton, 1982: 3).  Dalam konteks pendidikan, Bloom mengemukakan taksonomi perilaku dalam wujud kognitif, afektif, dan psikomotorik.  Untuk maksud yang sama Dewantoro menggunakan istilah cipta, rasa dan karsa, sementara di masyarakat saat ini populer istilah penalaran, penghayatan, dan pengamalan.

Untuk lebih memperjelas konsep perilaku ada baiknya dicermati wujud aktivitas sebagai berikut:

Tidak tahu  ==> kognitif  = cipta  =  penalaran
Tidak suka ==> afektif    = rasa   =  penghayatan
Tidak bisa  ==> Sensori
= karsa = pengamalan
Motorik
Tidak mau  ==> Konatif

Dari uraian di atas dapat ditegaskan bahwa perilaku adalah aktivitas manusia yang berupa penalaran, penghayatan dan pengamalan dalam merespon lingkungannya.

Komunikasi adalah suatu pemindahan makna/pemahaman dari pengirim kepada penerima, di dalamnya tercakup tiga bagian penting dari komunikasi yang efektif yakni sang pengirim, sang penerima, dan keberhasilan pengiriman makna (Gibson, 1988: 4).  Dalam konteks kebudayaan, komunikasi didefinisikan sebagai upaya untuk meniadakan kesenjangan sehingga pihak-pihak yang dilibatkan dalam proses komunikasi itu menjadi saling dekat satu dengan yang lainnya.  Dengan demikian, hakikat komunikasi ialah saling  mengakrabkan (Hasan, 1989: 123).

Komunikasi antarpribadi didefinisikan sebagai pengiriman pesan di antara dua atau lebih individu (Liliweri, 1994: 7-8).  Ada pakar yang menyoroti komunikasi antarpribadi dalam konteks a dyadic (relasi dua orang).  Dijelaskan bahwa meskipun terdapat kumpulan 3 orang atau lebih, dyads tetap penting karena dalam kelompok tiga individu (A,B,C) akan tetap muncul dyad antara A-B: A-C; dan B-C.  Jadi, akan terbentuk 3 macam dyads dan demikian seterusnya apabila anggota kelompok semakin bertambah (Devito, 1995: 7).

Ditegaskan lebih lanjut bahwa komunikasi antarpribadi yang efektif meliputi banyak unsur tetapi hubungan antarpribadilah yang paling penting.  Hubungan antarpribadi terdiri atas tiga faktor yaitu saling percaya, sikap suportif, dan sikap terbuka.  Selain itu, konsep diri yang meliputi persepsi pribadi, self image,dan self esteem, menyusul rasa empati, dan simpati merupakan pula faktor yang cukup menonjol dalam komunikasi antarpribadi (Rahmat, 1998: 80 -135).

Berdasarkan uraian di atas, maka yang dimaksud dengan perilaku komunikasi antarpribadi dalam penelitian ini adalah praktik komunikasi (penalaran, penghayatan, dan pengamalan) yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap bawahannya dengan menggunakan media antarpribadi seperti persepsi diri, keterbukaan, citra diri, harga diri, percaya bawahan, simpati, empati, suportif, upaya penyesuaian dan pengakraban untuk membangun dan memelihara hubungan antarpribadi dan antara kepala sekolah dengan setiap bawahannya.

2.2 Kerangka Berpikir
2.2.1 Pengaruh Motivasi Berprestasi terhadap Efektivitas Kepemimpinan Kepala Sekolah

Karakteristik motivasi berprestasi antara lain: peduli pada hasil yang unggul, menetapkan tujuan dengan pertimbangan rasional (tidak nekad atau gambling), kesediaan untuk berkompetisi, dan adanya tanggung jawab dan kehendak untuk mewujudkan aktualisasi diri.   Sementara itu, konsep efektivitas memberi penekanan pada ketercapaian tugas yang maksimal melalui pelaksanaan perilaku yang optimal dengan menggunakan sumber daya yang minimal.  Hal ini mengindikasikan bahwa di antara kedua konsep tersebut terdapat  irisan yang saling bertaut.

Terkait dengan konsep kepemimpinan, banyak ahli yang menempatkan motivasi sebagai salah satu fungsi kepemimpinan yang sangat strategis.  Fungsi motivasi tidak terbatas hanya memotivasi bawahan atau pengikutnya, melainkan juga  memotivasi diri sendiri.  Banyak penelitian yang membuktikan bahwa orang yang memiliki motivasi yang tinggi memiliki peluang untuk berhasil dibandingkan dengan mereka yang memiliki motivasi berprestasi rendah.

Uraian di atas mengindikasikan bahwa salah satu faktor yang memungkinkan tercapainya tujuan organisasi atau efektifnya kepemimpinan adalah adanya motivasi berprestasi dari pemimpin itu sendiri.  Dalam kaitan itulah maka patut diduga motivasi berprestasi mempunyai pengaruh yang positif terhadap efektivitas kepemimpinan kepala sekolah.  Dengan perkataan lain, makin tinggi motivasi berprestasi kepala sekolah maka makin efektif pula kepemimpinannya.

2.2.2 Pengaruh Perilaku Komunikasi Antarpribadi terhadap Efektivitas Kepemimpinan Kepala Sekolah

Esensi dari hubungan antarpribadi antara lain saling pengertian dan kedekatan untuk mencapai tujuan bersama.  Sementara efektivitas kepemimpinan juga memberi penekanan pada hubungan antarpribadi dan upaya pencapaian tujuan.  Faktor-faktor yang berpengaruh pada komunikasi antarpribadi antara lain adalah hubungan antarpribadi (dyad relational), rasa simpati dan empati, keterbukaan dan saling percaya antara setiap personal yang terlibat.  Sementara itu, salah satu orientasi utama dari kepemimpinan yang efektif adalah hubungan antara pimpinan dengan bawahan yang menekankan pada aspek humanistis.

Beberapa hasil studi menunjukkan bahwa keterampilan hubungan antarpribadi yang di dalamnya tercakup kemampuan berkomunikasi adalah penting bagi efektivitas manajerial.  Begitu pentingnya hal ini sehingga Departemen Tenaga Kerja USA menempatkan keterampilan komunikasi antarpribadi sebagai salah satu dari lima keterampilan dasar yang perlu dimiliki oleh warga negaranya untuk dapat berkompetisi secara ekonomi.

Uraian di atas mengindikasikan adanya pertautan secara teoretis antara komunikasi antarpribadi dengan keberhasilan atau dengan efektivitas sehingga patut diduga terdapat pengaruh yang positif dari perilaku komunikasi antarpribadi terhadap efektivitas kepemimpinan kepala sekolah.  Dengan perkataan lain, makin baik perilaku komunikasi antarpribadi kepala sekolah maka makin efektif pula kepemimpinannya.

2.2.3  Pengaruh Motivasi Berprestasi dan Perilaku Komunikasi Antarpribadi secara bersama-sama terhada Efektivitas Kepemimpinan Kepala Sekolah.

Pada setiap diskusi tentang kepemimpinan selalu dilibatkan tiga hal yaitu: pemimpin, bawahan, dan tugas.  Pemimpin adalah penggerak dan pengendali bawahan dan tugas.  Sementara itu, bawahan atau staf adalah pelaksana yang dibebani tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya.  Tugas adalah sejumlah pekerjaan yang harus diselesaikan untuk mencapai tujuan organisasi.  Sinergi ideal di antara ketiga faktor tersebut, yaitu pemimpin, staf, dan tugas terletak pada sebuah kata kunci yaitu efektivitas.

Pemimpin berkepentingan untuk bekerja efektif dalam mewujudkan tujuan organisasi.  Untuk itu, ia harus menyelesaikan tugasnya secara optimal dengan melibatkan partisipasi maksimal dari bawahan atau staf.  Syaratnya adalah ia harus memiliki  motivasi berprestasi yang tinggi dan perilaku komunikasi antarpribadi yang berkualitas.  Motivasi berprestasi diperlukan dalam wujud tanggung jawab, penghargaan terhadap nilai keunggulan, dan kesediaan untuk berkompetisi.

Dari sisi bawahan, setiap orang pada dasarnya dapat bekerja efektif yaitu menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.  Bawahan juga memiliki keinginan untuk berhasil tetapi mereka tidak ingin diperlakukan sebagai mesin atau benda mati dalam organisasi.  Dalam konteks bawahan seperti inilah sentuhan perilaku komunikasi antarpribadi yang berkualitas dari pimpinan diperlukan.  Bawahan ternyata memiliki kebutuhan psikologis, kebutuhan sosiologis di samping kebutuhan fisiologis.  Pimpinan harus memiliki motivasi berprestasi yang tinggi sementara bawahan menuntut sentuhan perilaku komunikasi antarpribadi yang berkualitas dari pimpinan.

Dari uraian-uraian sebelumnya tampak indikasi bahwa masing-masing variabel: motivasi berprestasi, perilaku komunikasi antarpribadi, dan efektivitas kepemimpinan kepala sekolah tidaklah merupakan variabel yang berdiri sendiri dalam konteks kekepala-sekolahan.  Dengan demikian, dapat diduga terdapat pengaruh positif secara bersama-sama dari motivasi berprestasi dan perilaku komunikasi antarpribadi terhadap efektivitas kepemimpinan kepala sekolah.  Dengan perkataan lain, makin tinggi motivasi berprestasi dan makin baik perilaku komunikasi antarpribadi yang berlangsung secara bersama-sama, maka makin tinggi  pula efektivitas kepemimpinan kepala sekolah.

2.3  Perumusan Hipotesis

Berdasarkan kerangka berpikir tersebut di atas maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut: Pertama, terdapat pengaruh positif dari motivasi berprestasi terhadap efektivitas kepemimpinan kepala sekolah.  Artinya, makin tinggi motivasi berprestasi kepala sekolah, makin efektif pula ia memimpin sekolahnya.  Kedua, terdapat pengaruh positif dari perilaku komunikasi antarpribadi terhadap efektivitas kepemimpinan kepala sekolah.  Artinya, makin baik perilaku komunikasi antarpribadi kepala sekolah makin efektif pula ia memimpin sekolahnya.  Ketiga, terdapat pengaruh positif secara bersama-sama antara motivasi berprestasi, perilaku komunikasi antarpribadi terhadap efektivitas kepemimpinan kepala sekolah.  Artinya, makin tinggi  motivasi berprestasi, makin baik perilaku komunikasi antarpribadi yang berlangsung secara bersama-sama, maka makin tinggi pula efektivitas kepemimpinan kepala sekolah.

3.  Metodologi Penelitian

Penelitian dilakukan pada kepala SLTP di Sulawesi Tenggara dengan menggunakan metode survei.  Populasi penelitian ialah seluruh Kepala SLTP, sementara kerangka sampel (sampling frame) berjumlah 247 orang.  Jumlah sampel penelitian ditetapkan 50 orang dengan teknik pengambilan sampel cluster random sampling.

Penelitian menggunakan 3 buah instrumen yang berbentuk angket untuk mengukur masing-masing: (1) motivasi berprestasi, (2) perilaku komunikasi antarpribadi, dan (3) efektivitas kepemimpinan kepala sekolah.  Motivasi berprestasi, yang terdiri dari 13 indikator, dikembangkan menjadi 44 butir pertanyaan. Perilaku komunikasi antarpribadi, yang terdiri dari 10 indikator, dikembangkan menjadi 35 butir pertanyaan.  Efektivitas kepemimpinan kepala sekolah, yang terdiri dari 16 indikator/4 dimensi, dikembangkan menjadi 59 butir pertanyaan.

Setelah divalidasi dengan menggunakan rumus product moment dan dihitung  reliabilitasnya dengan rumus Alpha Cronbach dalam uji coba terhadap 30 responden, maka didapatkan dari instrumen motivasi berprestasi, yang valid adalah sebanyak 32 butir dengan relialibilitas 0,89; dari perilaku komunikasi antarpribadi, yang valid adalah 28 butir dengan reliabilitas 0.91,  sementara dari efektivitas kepemimpinan, valid 43 butir dengan reliabilitas 0.94.

Untuk menguji hipotesis penelitian dan mengetahui kadar hubungan antara motivasi berprestasi, perilaku komunikasi antarpribadi dengan efektivitas kepemimpinan, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama, digunakan teknik analisis analisis regresi sederhana dan analisis regresi jamak.  Sebelum pengujian hipotesis, dilakukan uji persyaratan analisis yaitu: uji normalitas dengan menggunakan uji lilliefors, uji homogenitas menggunakan uji Bartlett dan uji linieritas dengan menggunakan tabel ANAVA.

4.  Hasil Penelitian

Pada bagian ini dibahas hasil analisis data yang meliputi deskripsi data, pengujian persyaratan analisis, pengujian hipotesis, dan pembahasan hasil penelitian.

4.1  Deskripsi Data

Tabel 1  Rangkuman Deskripsi Data

No Statistik X1 X2 Y
1 Skor Maksimum 153 138 205
2 Skor Minimum 102 85 155
3 Rerata 130,58 107,98 180,78
4 Simpang Baku 11,73 11,95 11,73
5 Median 133,17 105,68 181,50
6 Modus 131,17 104,90 182,09

Catatan : X1 = Motivasi Berprestasi
X2 = Perilaku Komunikasi Antarpribadi
Y  = Efektivitas Kepemimpinan Kepala Sekolah

4.2.  Pengujian Persyaratan Analisis

Pengujian persyaratan normalitas data menggunakan teknik uji Lilliefors dan pengujian persyaratan homogenitas varians populasi menggunakan teknik uji Bartlett. Rangkuman pengujian persyaratan analisis termuat dalam Tabel 2 dan 3.

Tabel 2  Rangkuman Uji Normalitas Galat Taksiran Regresi

Galat Taksiran Regresi N Lo Lt pada

a = 0.05

Kesimpulan
Y atas X1 50 0,0685 0,125 Normal
Y atas X2 50 0,0586 0,125 Normal

Keterangan:    X1 = Motivasi Berprestasi
X2 = Perilaku Komunikasi Antarpribadi
Y      = Efektivitas Kepemimpinan
Lo =  Harga L hitung
Lt =  Harga L tabel Lilliefors
Tabel 3  Rangkuman hasil Uji Homogenitas variansi Y atas Xi

Variabel Dk X2 hitung X2 tabel Kesimpulan
Y atas X1 14 8,3030 23,7 Homogen
Y atas X2 14 3,1300 23,7 Homogen

Kesimpulan:
Y atas X1 14      8,3030     23,7    Homogen
Y atas X2 14      8,1300     23,7    Homogen

Keterangan:    X1 = Motivasi Berprestasi
X2 = Perilaku Komunikasi Antarpribadi
Dk         = Derajat Kebebasan
X2hitung = Harga khi-kuadrat hasil pengamatan
X2tabel = Harga khi-kuadrat tabel Bartlett

4.3.  Pengujian Hipotesis
4.3.1  Pengaruh motivasi berprestasi terhadap efektivitas kepemimpinan

Dari hasil perhitungan regresi sederhana efektivitas kepemimpinan atas motivasi berprestasi diperoleh persamaan regresi Y = 96,19 + 0,65 X1.  Pengujian signifikansi dan linearitas hubungan antara motivasi berprestasi dengan efektivitas kepemimpinan digambarkan dalam Tabel 4 berikut.

Tabel 4  ANAVA uji signifikansi dan linieritas regresi Y = 96,19 + 0,65 X1

Sumber Variansi Db JK RJK Fhitung Ftabel
a = 0,05 a = 0,01
Total 50 1640815 - - - -
Regresi a

Regresi (b/a)

Regresi (R.)

1

1

48

1634070,42

2314,3059

4430,2741

1634070,42

2314,3059

92,2972

-

25,0744**

-

-

1,97

-

-

4,01

-

Tuna Cocok (Tc)

Galat (G)

21

27

381,74

4048,53

18,1781

149,9457

0,1212ns 1,97 4,01

Keterangan:
** = sangat signifikan
ns
= regresi berbentuk linier
db = derajat bebas
JK = jumlah kuadrat
RJK = rata-rata jumlah kuadrat

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa model regresi  Y = 96,19 + 0,65 X1 sangat signifikan dan linear.  Besarnya pengaruh motivasi berprestasi (X1) terhadap efektivitas kepemimpinan (Y) adalah 0,65.  Artinya, bila motivasi ditingkatkan sebesar satu satuan maka efektivitas kepemimpinan akan meningkat sebesar 0,65 satuan.  Uji signifikansi koefisien korelasi menghasilkan (th = 4,96 > tt = 1,68), berarti koefisien korelasi sangat signifikan.  Dengan koefisien determinasi = 0,3432 mempunyai makna bahwa 34,32% variasi efektivitas kepemimpinan kepala sekolah dapat dijelaskan oleh motivasi berprestasi melalui persamaan regresi Y = 96,19 + 0,65 X1.

4.3.2 Pengaruh perilaku komunikasi antarpribadi terhadap efektivitas kepemimpinan

Dari hasil perhitungan regresi sederhana efektivitas kepemimpinan atas perilaku komunikasi antarpribadi diperoleh persamaan regresi Y = 114,68 + 0,61 X2. Pengujian signifikansi dan linearitas  hubungan antara perilaku komunikasi antarpribadi (X2) dengan efektivitas kepemimpinan digambarkan dalam Tabel 5.

Tabel 5  ANAVA uji signifikansi dan linieritas regresi Y = 114,68 + 0,61 X2

Sumber Variansi Db JK RJK Fhitung Ftabel
a = 0,05 a = 0,01
Total 50 1640815 - - - -
Regresi a

Regresi (b/a)

Regresi (R.)

1

1

48

1634070,42

2620971,035

4123,60897

1634070,42

2620971,035

85,9085

-

30,509**

-

-

1,95

-

-

4,04

-

Tuna Cocok (Tc)

Galat (G)

22

26

1924,6923

2198,9167

87,4860

84,5737

1,034ns 1,95 4,04

Keterangan:
** = sangat signifikan (Fh = 30,509 > Ft = 4,04 pada a = 0,01)
ns
= regresi berbentuk linier (Fh = 1,034 < Ft = 1,95 pada a = 0,05)
db = derajat bebas
JK = jumlah kuadrat
RJK = rata-rata jumlah kuadrat

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa model regresi Y = 114,68 + 0,61 X2 sangat signifikan dan linear.  Besarnya pengaruh perilaku komunikasi antarpribadi (X2) terhadap efektivitas kepemimpinan (Y) adalah 0,61.  Artinya, bila perilaku komunikasi antarpribadi meningkat satu satuan maka efektivitas kepemimpinan meningkat sebesar 0,61 satuan.   Uji signifikansi koefisien korelasi menghasilkan (th = 5,47 > tt = 1,68), berarti korelasi sangat signifikan.  Dengan koefisien determinasi = 0,3986, mempunyai makna bahwa 39,86% variasi efektivitas kepemimpinan kepala sekolah dapat dijelaskan oleh perilaku komunikasi antarpribadi melalui persamaan regresi Y = 114,68 + 0,61 X2.

4.3.3 Pengaruh motivasi berprestasi dan perilaku komunikasi antarpribadi secara bersama-sama terhadap efektivitas kepemimpinan.

Pengaruh motivasi berprestasi (X1) dan perilaku komunikasi antarpribadi (X2) secara bersama-sama terhadap efektivitas kepemimpinan (Y) ditunjukkan oleh persamaan regresi jamak Y = 100,48 + 0,52 X1 + 0,25 X2.  Dari hasil regresi jamak ini dapat disimpulkan bahwa bila motivasi berprestasi meningkat satu satuan maka efektivitas kepemimpinan meningkat sebesar 0,52 satuan dengan anggapan perilaku komunikasi antarpribadi adalah konstan.  Demikian juga, perilaku komunikasi antarpribadi meningkat satu satuan maka efektivitas kepemimpinan meningkat sebesar 0,25 satuan, dengan anggapan motivasi berprestasi adalah konstan.    Koefisien determinasi (r2y.12) diperoleh sebesar 0,5651.  Hal ini berarti 56,51% variasi efektivitas kepemimpinan (Y) dapat dijelaskan oleh motivasi berprestasi (X1) perilaku komunikasi antarpribadi (X2) secara bersama-sama.

Uji signifikansi persamaan regresi jamak disajikan pada Tabel 6.  Berdasarkan uji signifikansi tersebut dapat disimpulkan bahwa persamaan regresi jamak Y = 100,48 +  0,52 X1 + 0,25 X2 sangat signifikan.  Hal ini berarti bahwa terdapat pengaruh positif dari motivasi berprestasi (X1) dan perilaku komunikasi antarpribadi (X2) secara bersama-sama terhadap efektivitas kepemimpinan (Y).

Tabel 8  Analisis ANAVA untuk uji signifikansi regeresi jamak

Sumber Variansi Db JK RJK Fhitung Ftabel
a = 0,05 a = 0,01
Regresi 3 3624,9496 1208,317 19,992** 2,81 4,24
Sisa 46 3119,6304 67,818 - - -
Total 49 - - - - -

** Regresi jamak sangat signifikan (Fh = 19,92 > Ft = 4,24)

4.4  Pembahasan hasil Penelitian

Hasil analisis dan pengujian hipotesis menunjukkan bahwa ketiga hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat diterima.  Hal ini berarti bahwa terdapat pengaruh positif dari motivasi berprestasi dan perilaku komunikasi antarpribadi terhadap efektivitas kepemimpinan kepala sekolah.  Lebih rinci hasil analisis dan pengujian tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, terdapat pengaruh positif dari motivasi berprestasi terhadap efektivitas kepemimpinan yang ditunjukkan oleh koefisien regresi sebesar 0,65. Dengan kekuatan hubungan seperti itu terkandung arti bahwa makin tinggi motivasi berprestasi kepala sekolah maka akan efektif pula kepemimpinannya.  Kedua,  terdapat pengaruh positif dari perilaku komunikasi antarpribadi terhadap efektivitas kepemimpinan yang ditunjukkan dengan koefisien regresi sebesar 0,61.  Dengan kekuatan hubungan seperti itu berarti bahwa makin positif perilaku komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh seorang kepala sekolah maka semakin efektif pula memimpin sekolahnya.  Ketiga, terdapat pengaruh positif dari motivasi berpresatasi dan perilaku komunikasi antarpribadi secara bersama-sama terhadap efektivitas kepemimpinan, dengan besarnya pengaruh masing-masing adalah 0,52 dan 0,25.

Temuan hasil penelitian ini mendukung teori motivasi yang disimpulkan oleh McLelland sebagai faktor yang menentukan pertumbuhan ekonomi, dan juga  memperkuat kesimpulan Devito yang menyatakan keberhasilan komunikasi interpersonal memberi kekuatan seseorang untuk mencapai tujuan.  Dengan temuan ini maka untuk meningkatkan efektivitas kepemimpinan kepala sekolah upaya-upaya strategis yang dapat dilakukan adalah menciptakan kondisi yang memungkinkan kepala sekolah memiliki motivasi berprestasi yang tinggi.  Di samping itu komunikasi antarpribadi perlu menjadi keterampilan dasar bagi calon kepala sekolah.

5.  Simpulan dan Saran
5.1.  Simpulan

Temuan penelitian mengungkapkan bahwa terdapat pengaruh positif dari motivasi berprestasi terhadap efektivitas kepemimpinan.  Ini berarti bahwa semakin tinggi motivasi berprestasi yang dimiliki oleh seorang kepala sekolah yang ditandai dengan upaya aktualiasasi diri, kepedulian kepada keunggulan, dan kerasionalan dalam bertindak maka akan semakin efektif pula ia memimpin sekolahnya.  Penelitian juga menemukan bahwa terdapat pengaruh positif dari perilaku komunikasi antarpribadi terhadap efektivitas kepemimpinan.  Hal itu berarti bahwa semakin positif perilaku komunikasi antarpribadi dari seorang kepala sekolah yang ditandai dengan pemilikan konsep diri yang tepat, adanya pengertian yang dalam (percaya, simpati, dan empati) terhadap bawahan dan adanya kedekatan/keakraban dengan bawahan maka akan semakin efektif pula ia memimpin sekolahnya.  Selain itu, penelitian menemukan bahwa terdapat hubungan positif antara motivasi berprestasi dan perilaku komunikasi antarpribadi secara bersama-sama terhadap efektivitas kepemimpinan dengan koefisien determinasi bersama yang lebih besar dibandingkan dengan koefisien determinasi parsial.  Hal ini berarti bahwa kontribusi yang diberikan oleh motivasi berprestasi dan perilaku komunikasi dalam satu paket terhadap efektivitas kepemimpinan akan lebih besar dibandingkan dengan apabila variabel tersebut bekerja sendiri-sendiri.  Dengan demikian, apabila efektivitas kepemimpinan kepala sekolah ingin dioptimalkan dalam wujud semakin mantapnya stabilitas lingkungan sekolah, kokohnya integritas warga sekolah, tingginya voluntaritas/semangat kerja para karyawan dan optimalnya pencapaian sasaran (achievement), maka perlu peningkatan motivasi berprestasi secara bersama-sama dengan upaya peningkatan keterampilan/perilaku komunikasi antrapribadi.

5.2  Saran
5.2.1  Peningkatan motivasi berprestasi

Motivasi berprestasi terbukti memberi pengaruh positif yang berarti bagi peningkatan efektivitas kepemimpinan kepala sekolah.  Untuk lebih meningkatkan kontribusi motivasi berprestasi terhadap efektivitas kepemimpinan kepala sekolah yang pada gilirannya akan berpengaruh pada kualitas produk pendidikan, maka diperlukan program-program berikut:

(1) Menjadikan jabatan kepala sekolah tidak sebagai terminal terakhir.  Selama ini terkesan bahwa jabatan kepala sekolah merupakan terminal terakhir bagi karier seorang guru.  Dengan sistem pembinaan tenaga kependidikan seperti sekarang, kecil sekali peluang bagi seorang kepala sekolah untuk mendapatkan promosi ke posisi yang lebih tinggi.  Kondisi seperti itu kurang menguntungkan bagi guru dan kepala sekolah maupun kinerja sistem pendidikan nasional secara keseluruhan.  Mengapa demikian? karena tidak akan pernah ada seorang kepala sekolah apalagi seorang guru biasa yang terpacu untuk mengejar prestasi setinggi mungkin sebab mereka menyadari bahwa sehebat apa pun prestasi yang mereka raih karier mereka akan berakhir sebagai pengawas.  Di sisi lain, kondisi semacam ini tidak merangsang putera-puteri bangsa yang memiliki potensi keunggulan (excellence) untuk menjadi guru dan berkiprah di sekolah, karena lembaga sekolah tidaklah menjanjikan perjalanan karier yang mengarah ke prestasi puncak dalam kehidupan sosial.  Sebagai akibatnya, sekolah tidak akan pernah mendapatkan tenaga unggul.  Oleh karena itu, kinerja dan efektivitas sekolah pun tidak pernah bisa optimal.  Untuk menghindari dampak seperti diuraikan di atas maka jabatan kepala sekolah hendaknya dijadikan sebagai laboratorium penyiapan kader pendidikan yang handal.  Kepala sekolah yang berprestasi diberi peluang untuk menjadi kepala dinas di kabupaten/kota ataupun di provinsi dan bahkan pejabat di tingkat pusat.

(2) Pendidikan motivasi berprestasi. Motivasi berprestasi adalah salah satu motivasi yang dapat dipelajari (learned motive).  Oleh sebab itu, materi pelajaran motivasi berprestasi hendaknya dimasukkan ke dalam kurikulum pelatihan tenaga kependidikan dan kurikulum perguruan tinggi yang menyelenggarakan pengadaan tenaga kependidikan (LPTK).

Pada LPTK materi pelajaran motivasi berprestasi hendaknya diintegrasikan ke dalam mata kuliah yang relevan.  Selain itu,  pada kegiatan ekstrakurikuler perlu diprogramkan aktivitas yang mengkondisikan mahasiswa untuk berpikir, berbicara, dan berbuat sebagaimana layaknya orang berprestasi.  Organisasi kemahasiswaan seyogyanya dirangsang untuk berkompetisi menyalurkan bakat dan meraih prestasi.  Panggung atau forum untuk berprestasi bagi mahasiswa LPTK perlu difasilitasi dan diaktifkan.

Pada pelatihan tenaga kependidikan utamanya kepala sekolah perlu dialokasikan waktu khusus semacam dinamika kelompok yang materi dan kegiatannya dititikberatkan pada perangsangan motivasi berprestasi seperti: apresiasi pada keunggulan, penumbuhan rasa percaya diri, pemupukan dedikasi yang tinggi, dan kesiapan untuk berkompetisi.

(3) Inventarisasi, dokumentasi, dan publikasi nilai-nilai motivasi berprestasi. McClelland menemukan bahwa dari masyarakat yang memiliki banyak cerita rakyat atau dongeng yang memuat nilai-nilai motivasi berprestasi lebih dinamis, lebih produktif, dan lebih sejahtera daripada masyarakat yang kurang memiliki cerita seperti itu.  Untuk kepentingan kepala sekolah dan tenaga kependidikan pada khususnya dan masyarakat pada umumnya diharapkan setiap lembaga pendidikan utamanya sekolah dapat aktif menginventarisir dan mendokumentasikan cerita-cerita rakyat, riwayat hidup tokoh, motto, adagium, dan pepatah petitih yang mengandung pesan-pesan berprestasi.  Hasil inventarisasi dan dokumentasi kemudian diseleksi, dipilih yang relevan dan aktual dengan kondisi masyarakat saat ini untuk kemudian dipublikasikan agar dapat menjadi penggugah dan inspirator bagi masyarakat.  “Kualleanna tallanga na toalia” yang berarti “Lebih baik perahu tenggelam daripada kembali dengan tangan yang hampa”, “Sekali layar terkembang pantang dan haram kembali haluan pulang” adalah beberapa dari sekian banyak contoh pepatah milik bangsa ini yang ternyata berhasil menempatkan pelaut Bugis Makassar berjaya di laut nusantara di masa lalu sebelum terusik oleh kekuasaan kolonial.

(4) Tes motivasi berprestasi. Dalam rekruitmen kepala sekolah selain dilakukan tes kemampuan, perlu pula dilakukan tes motivasi berprestasi.  Di dalam tes motivasi berprestasi tersebut diharapkan dapat terungkap dari calon kepala sekolah tentang rasa percaya dirinya, tanggung jawabnya, dan komitmennya terhadap keunggulan, rasionalitasnya dalam menetapkan tujuan, serta keterbukaannya dalam memberikan evaluasi terhadap hasil pekerjaannya.

5.2.2  Peningkatan perilaku komunikasi antarpribadi

Penelitian menemukan bahwa perilaku komunikasi antarpribadi memberi kontribusi yang lebih besar terhadap efektivitas kepemimpinan kepala sekolah dibandingkan dengan motivasi berprestasi.  Untuk lebih menjamin terciptanya perilaku komunikasi antarpribadi yang positif di sekolah, maka perlu dilakukan upaya-upaya sebagai berikut.

(1) Pelatihan komunikasi antarpribadi bagi kepala sekolah dan calon kepala sekolah. Untuk membentuk perilaku komunikasi antarpribadi yang positif bagi kepala sekolah hendaknya pada setiap pelatihan yang melibatkan kepala sekolah dialokasikan waktu untuk materi pelajaran komunikasi antarpribadi.  Dasar-dasar penting bagi perilaku komunikasi antarpribadi yang positif seperti pembentukan konsep diri yang benar, melalui persepsi diri yang objektif, citra diri yang proporsional dan harga diri yang rasional, pemupukan rasa simpati dan empati, penciptaan kondisi suportif, penyesuaian dan upaya pengakraban adalah bagian yang mutlak harus diberi perhatian dalam pelatihan.

(2) Memasukkan komunikasi antarpribadi sebagai salah satu mata kuliah di LPTK. Sebagaimana telah dimaklumi bahwa salah satu faktor yang membentuk perilaku adalah pengetahuan.  Perilaku komunikasi antarpribadi terbentuk dari suatu proses yang panjang yang diawali dengan pemilikan pengetahuan dan sikap.  Untuk menyiapkan  perilaku komunikasi antarpribadi yang positif bagi kepala sekolah di masa yang akan datang maka diharapkan agar secara lebih dini pada setiap LPTK pencetak guru yang pada saatnya dapat menjadi kepala sekolah membekali mahasiswanya dengan pengetahuan komunikasi antarpribadi.  Untuk maksud tersebut, materi komunikasi antarpribadi hendaknya dimasukkan sebagai MPB (Matakuliah Perilaku Berkarya).  Sudah saatnya LPTK tampil sebagai pelopor dalam mempromosikan pentingnya kecerdasan emosional bagi bangsa ini di samping kecerdasan intelektual.  Komunikasi antarpribadi adalah salah satu wujud  dari kecakapan sosial yang menurut Daniel Goleman adalah bagian dari kecerdasan emosional.

5.2.3.  Peningkatan motivasi berprestasi dan perilaku komunikasi antarpribadi secara bersama-sama

Motivasi berprestasi dan perilaku komunikasi antarpribadi yang tampil secara bersama-sama tampak memberi kontribusi yang lebih besar terhadap efektivitas kepemimpinan kepala sekolah dibandingkan apabila variabel-variabel tersebut tampil secara sendiri-sendiri.  Hal ini mengandung implikasi bahwa upaya peningkatan efektivitas kepemimpinan kepala sekolah akan lebih optimal apabila peningkatan variabel-variabel yang mempengaruhinya dilakukan dalam satu paket.  Dengan demikian, untuk meningkatkan motivasi berprestasi dan perilaku komunikasi antarpribadi secara bersama-sama maka selain melakukan hal-hal sebagaimana disebutkan di atas dapat pula mengupayakan hal berikut:

(1) Paket latihan terpadu. Penyusunan paket program latihan yang di dalamnya terakomodasi substansi pengelolaan sekolah disertai materi motivasi berprestasi dan perilaku komunikasi antarpribadi perlu dipertimbangkan.  Untuk hal ini, Balai Penataran Guru di Provinsi (BPG) dan Pusat Penataran Pendidikan Guru Kependidikan (P3GK) Jakarta bekerja sama dengan LPTK diharapkan dapat mengambil inisiatif mendesain paket latihan terpadu sebagaimana dimaksud.  Paket latihan terpadu tersebut perlu bersifat dinamis dalam pengertian bahwa secara berkala dapat direvisi dan dikembangkan sesuai dengan tuntutan dan dinamika kinerja pendidikan nasional.

(2).  Pembentukan Laboratorium Manajemen Sekolah (School Management Laboratory). Seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah, di mana manajemen berbasiskan sekolah akan menjadi suatu fenomena  baru dalam pengelolaan persekolahan, maka diperlukan suatu lembaga keahlian yang dinamai Laboratorium Manajemen Sekolah disingkat LMS.  Fungsi LMS ini adalah menginventarisir permasalahan dan kesulitan kepemimpinan yang dihadapi kepala sekolah, melakukan kajian, menemukan solusi dan selanjutnya memberikan pencerahan kepada kepala sekolah melalui publikasi dan pelatihan.

Dalam kaitan langsung dengan jabatan kepala sekolah maka perlu dipertegas saran-saran berikut:

Pertama, Rekruitmen kepala sekolah dilakukan melalui seleksi yang bersih dari praktik KKN.  Untuk hal ini, maka proses seleksi harus dilakukan secara terbuka, melibatkan unsur masyarakat yang direpresentasi oleh pakar pendidikan, orang tua siswa, unsur guru dan unsur siswa.  Dalam proses pengangkatan kepala sekolah sebaiknya dominasi pemerintah dikurangi, bahkan cukup sebagai fasilitator saja.

Kedua, Jabatan kepala sekolah dijadikan sebagai jabatan pengkaderan.  Jabatan kepala sekolah merupakan wahana pengkaderan untuk mendapatkan calon manajer pendidikan tingkat menengah dan tinggi.  Sistem pembinaan karir tenaga kependidikan hendaknya membuka peluang yang memungkinkan seorang kepala sekolah bisa meraih posisi puncak pada manajemen pendidikan nasional.  Jabatan seperti Kepala Dinas Pendidikan Propinsi dan Kabupaten/Kota serta jabatan manajemen pendidikan di tingkat pusat harus terbuka dan dapat diakses oleh kepala sekolah.

Pustaka Acuan

Davis, Keith dan John W. Newstrom. 1990. Human Behavior at Work: Organizational Behavior. New York: McGraw – Hill Book Company.

Devito, Joseph A. 1995. The Interpersonal Communication Book. New York: Harper Collins College Publishers.

Drake, Thelbert L. dan William H. Roe. 1986. Principalship. New York: Macmillan Publishing Company.

Feldman, Daniel C. dan Arnold, J. Hugh. 1998. Managing Individual and Group Behavior in Organization. Auckland: McGraw- Hill Book Company.

Gibson, Jane W. dan Richard M. Hodgetts. 1988. Organizational Communication: A Managerial Perspective. Orlando, Florida: Academic Press Inc.

Hasan, Fuad. 1989. Renungan Budaya. Jakarta: Balai Pustaka.

Kotter, John P. 1988. The Leadership Factor. New York: Free Press.

Lefton, Lester A. dan Laura Valvatne. 1982. Mastering Psychology. Boston: Allyn and Bacon.

Liliweri, Alo. 1994. Perspektif Teoritis Komunikasi Antarpribadi: Suatu Pendekatan ke Arah Psikologi Sosial. Bandung: Citra Aditya  Bakti.

McClelland, David. 1999. Motivational Research Achievement. 1999 http://westrek,hypermort. net/ Maslow/ od.hr07.htm.

Prokopenko, Joseph. 1987. Productivity Management: A Practical Handbook. Geneva: ILO.

Rakhmat, Jalaluddin. 1998. Psikologi Komunikasi. Bandung: Penerbit Remaja Rosdakarya.

Robbins, Stephen P. 1994. Teori Organisasi: Struktur Desain dan Aplikasi. Jakarta: Penerbit Arcan.

___________________

*) Dr. Abdullah Alhadza adalah Rektor pada Universitas Muhammadiyah Kendri dan Dosen PPs. UHAMKA

Tulisan ini dipublikasikan di informasi, informatika, kesehatan, komunikasi, matematika, pendidikan, sosial, spiritual, teknologi, Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s